Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 438. Kerja Sama!


__ADS_3

Jansen tahu mereka berdua tidak memercayainya, karena itu dia berkata kepada para bawahan Adam, "Siapa pun yang ingin mencoba obat ini, silakan buat sebuah luka goresan di telapak tangan kalian!"


"Aku mau!"


Seorang tentara gemuk melukai telapak tangan sendiri dengan pisau belati, darahnya langsung bercucuran deras.


Jansen mengeluarkan sebotol Bubuk Giok Api dan memintanya untuk mengoleskannya di telapak tangannya. Setelah mengoleskan bubuk itu, pendarahan segera berhenti dan luka goresan itu langsung menutup dalam sekejap.


Tentara gemuk itu sedikit terkejut. Dia menggerakkan telapak tangannya dan menyadari bahwa lukanya itu telah sembuh.


"Kecepatan pemulihan luka ini sungguh dahsyat!" Pria gemuk itu terkejut.


Jansen mengangguk, "Bubuk ini juga dapat menjadi penawar racun tertentu, juga memiliki efek anti-inflamasi, ditambah lagi komposisi ramuan obat tradisional sehingga tidak memiliki efek samping pada tubuh manusia!"


Arthur dan Adam sontak terkejut.


Pria gemuk itu adalah orang yang kejam. Sayatan pada telapak tangan tadi setidaknya butuh beberapa jahitan. Namun, dengan bubuk yang diberikan Jansen ini, lukanya malah bisa sembuh dengan sangat cepat.


Ini adalah obat mujarab yang sangat langka.


"Apakah obat luka luar seperti ini bisa diproduksi massal?" Adam mulai tertarik.


Tentara bertugas mempertahankan negara, terutama saat berada di medan perang, sedikit luka saja dapat mempengaruhi keselamatan negara dan berpotensi membahayakan keselamatan bahkan nyawa tentara. Obat luka luar yang bisa menyembuhkan luka dengan sangat cepat ini dapat menjadi obat ampuh penyelamat nyawa tentara di medan perang.


"Bisa!"


Jansen mengangguk.


"Baiklah, atas nama kesatuan militer, aku akan bekerja sama dengan kamu untuk membeli Bubuk Giok Api ini dalam jumlah besar. Bagaimana menurut kamu?"


"Tentu saja, aku sangat senang dengan kerja sama ini. Tidak hanya obat luka luar ini, aku masih ada Salep Giok Sambung Tulang, Obat salep ini cocok digunakan saat tulang patah atau keseleo. Orang bilang butuh seratus hari untuk sembuh dari patah tulang. Dengan kehebatan salep ini, waktu yang dibutuhkan untuk sembuh kembali hanya setengah dari biasanya."


Jansen sangat gembira bisa bekerja sama dengan tentara. Ini juga berarti sekarang dia sudah punya landasan yang kuat untuk berdiri kokoh di Ibu kota.


Jansen juga kemudian menceritakan tentang aula Xinglin, dan membahas tentang kerja sama dengan Grup Dream Internasional.


Setelah berbicara sebentar dengan Adam, Jansen pun meninggalkan rumah Keluarga Carson. Saat baru keluar dari pintu rumah, telepon dari Elena berdering. Mereka berdua berjanji akan pergi jalan-jalan bersama.


"Jansen, dalam beberapa hari lagi, aku sudah harus mulai masuk kerja. Selama periode waktu ini, mari kita beli sesuatu untuk keluarga kita. Oh ya, aku baru saja berbicara dengan orang tuaku di telepon!"


Setelah berjumpa Jansen, Elena sangat bahagia. Namun, saat saja membicarakan tentang Keluarga Lawrence, wajah Elena kembali berbeda.


Jansen juga diam-diam merasa bersalah. Ketika Jansen sudah datang ke Ibu kota, Jansen tidak punya waktu untuk menyapa kedua orang tuanya.


Keduanya mengobrol sambil berjalan, dan saat ini, telepon Elena berdering. Elena melihat sekilas nomor telepon yang masuk, dan langsung merasa kesal.

__ADS_1


Jansen tahu itu adalah telepon dari Keluarga Miller.


Benar saja, panggilan telepon datang dari Naomi yang berpesan kepada Elena bahwa nenek akan mengundang semua orang untuk pulang makan malam di rumah malam ini. Elena juga harus hadir.


Sebenarnya, Keluarga Miller tidak berniat memanggil Elena pulang untuk ikut makan malam, hanya saja nenek bersikeras ingin Elena ikut. Mereka khawatir Elena akan mendapatkan perhatian nenek. Akan tetapi, Naomi merasa bagaimanapun Elena adalah anggota Keluarga Miller, jadi dia pun terpaksa menelepon Elena.


"Aku akan berjumpa dengan orang-orang Keluarga Miller lagi!"


Elena sangat tidak berdaya.


"Orang-orang Keluarga Miller sangat sombong dan tidak sopan, mereka juga keras kepala. Saat para kerabat berkumpul, mereka akan saling menyindir dan saling menghina!" Jansen juga merasakan hal yang sama, tetapi tekanan yang dihadapinya mulai berkurang. Apalagi, waktu enam bulan masih tersisa banyak, tetapi Jansen telah berhasil memantapkan fondasi di ibukota.


"Bagaimanapun juga, Nenek pernah membantu kita. Kita harus menyiapkan hadiah untuknya karena telah diundang makan!"


Jansen membawa Elena berjalan ke depan sambil menghela napas dan berkata kepadanya, "Bagi Keluarga Miller, seberapa bagus pun hadiah yang kita berikan ini, tidak ada artinya bagi mereka. Kita entah harus menyiapkan hadiah apa untuk nenek!"


"Betul!"


Jansen seketika merasa kesal, ternyata teleponnya juga berdering. Setelah melihat sekilas, itu adalah telepon dari Gracia. Jansen merasa canggung.


Ini telepon dari Gracia.


"Kenapa kamu tidak menjawabnya?"


Elena sedikit penasaran. Setelah melihat namanya di telepon, Elena pun kesal.


"Aku harap kalian berdua benar-benar hanya sebatas kerja sama saja, jangan macam-macam di belakangku. Kamu sudah punya aku dan Kakak Natasha, jangan tambah lagi seorang pengacau!" ucap Elena dengan cemberut.


"Tenang saja, kami berdua cuma bekerja sama!"


Setelah berkata demikian, Jansen langsung menjawab telepon.


"Jansen, apa kamu punya waktu? Aku ingin membahas sesuatu denganmu!" kata Gracia dengan nada datar.


"Mohon maaf, malam ini aku ada jamuan makan dengan Keluarga Miller, jadi aku rasa besok baru ada waktu luang!"


Jansen melirik Elena.


"Besok juga boleh, oh ya, istrimu ada di samping kamu, kan? Begini saja, aku akan menyuruh orang mengantarkan hadiah untukmu. Anggap saja itu juga hadiah perkenalan untuk Nenek Miller. Kamu boleh memberikan hadiah ini kepada Nenek Miller atas nama kalian berdua suami-istri!"


Gracia yang sepertinya telah menebak sesuatu, lantas menutup telepon.


"Memang Gracia ini pantas menjadi seorang bos. Tidak ada sesuatu pun yang bisa disembunyikan dari dirinya!"


Elena bertanya dengan heran, "Jansen, kamu bekerja sama dengannya demi memenuhi janjimu dalam enam bulan, aku harap enam bulan kemudian, kamu tidak perlu lagi berhubungan dengannya!"

__ADS_1


"Tentu saja!"


Jansen menepuk dada dan meyakinkan Elena.


Tak lama kemudian, ada sebuah mobil Mercy datang, beberapa orang pria berpakaian jas turun dari mobil tersebut, dan menyerahkan dua buah hadiah kepada Jansen sambil berkata dengan tersenyum, "Tuan Jansen, ini hadiah yang dititip nona Gracia untuk Anda. Kalau yang ini adalah The Star Premium Collection dari nona Gracia untuk istri Tuan muda Jansen!"


Tuan muda Jansen?


Mendengar panggilan ini, Jansen merasa agak aneh, tapi dia tidak terlalu peduli. Jansen membuka salah satu kotak hadiah itu, ternyata isinya adalah sepasang sepatu hak tinggi kristal yang bila disorot terang cahaya lampu akan tampak sangat glamor.


Elena langsung kaget. Meskipun dia tidak mau menerima hadiah ini, sebagai seorang wanita, dia pasti menyukai sepatu hak tinggi.


Apalagi, ada liontin platinum di sepatu hak tinggi ini, dan di atasnya terdapat tulisan The Star Premium Collection.


Setelah memeriksa harganya di internet, Jansen baru tahu bahwa sepasang sepatu ini dibuat oleh seorang desainer terkenal asal Italia. Sepatu ini diproduksi terbatas dengan hanya ada dua puluh dua pasang di seluruh dunia. Harga sepasang sepatu mencapai 30 juta yuan, dan terus meningkat bahkan seorang putri raja dari sebuah negara kaya minyak di Timur Tengah pernah membelinya dengan harga 100 juta yuan.


Nona Gracia ini orangnya memang sangat loyal.


"Jansen, aku tidak mau sepatu ini!"


Meskipun Elena sangat menyukai sepatu The Star Premium Collection ini, dia takut kalau Jansen harus berkorban sesuatu setelah menerima pemberian hadiah dari Gracia ini.


"Terima saja, aku ini mitra bisnis nona Gracia. Sebenarnya, dia memberimu hadiah sepatu hak tinggi ini sebagai tanda ketulusan kerja sama kami!" ucap Jansen sambil tertawa.


Mendengar perkataan ini, Elena akhirnya mengangguk, dan mereka berdua kemudian melanjutkan pergi ke tempat jamuan makan malam Keluarga Miller.


Hari ini, nenek mengundang anggota Keluarga Miller untuk jamuan makan malam. Lokasi jamuan makan sangat mewah dan berada di hotel bintang lima.


Ketika Jansen dan Elena tiba, terlihat pintu depan lokasi jamuan dipenuhi dengan mobil mewah, sepertinya tempat tersebut sudah disewa penuh untuk jamuan makan malam ini.


Keluarga Miller adalah keluarga yang besar. Karena Nenek Miller mengadakan jamuan, tokoh-tokoh terkenal dari berbagai bidang datang memberi muka dengan menghadiri jamuan.


Namun, Jansen menggunakan jas sederhana hari ini. Hanya sedikit orang yang memperhatikannya. Sebaliknya, Elena yang mengenakan gaun terusan dipadankan dengan stoking sutra, menarik perhatian banyak orang, terlebih lagi sepatu hak tinggi yang sangat cocok dengan kaki panjangnya membuat Elena terlihat seperti seorang selebriti.


"Kak Elena!"


Naomi menghampiri Elena dengan tawa bahagia. Naomi mengenakan gaun malam ungu, penuh dengan keanggunan bak seorang putri raja.


"Kenapa Elena ada di sini? Siapa yang menyuruhnya datang?"


Di kejauhan, sekumpulan anggota Keluarga Miller berjalan melewati dengan tatapan benci kepada Elena dan Jansen.


"Penciuman mereka tajam juga, mereka tahu nenek akan mengundang makan hari ini, tanpa diundang pun mereka cepat-cepat datang kemari untuk cari perhatian kepada nenek!"


"Dasar tak tahu malu!"

__ADS_1


"Sudah ku bilang, mereka ini biasanya sok tinggi menganggap uang bukan segalanya. Di waktu yang penting ini, bukankah mereka sama saja datang menjilat nenek!"


__ADS_2