
Orang-orang ini semuanya adalah penjahat, artinya apa yang telah mereka lakukan pasti sudah merugikan banyak orang. Jansen sama sekali tidak akan menahan dirinya lagi.
Sepuluh menit berlalu, selnya kini dipenuhi dengan darah. Hanya Jansen seorang yang masih berdiri di sana. Dia menghancurkan pelat baja paduan ke lantai dan bersandar di atasnya untuk beristirahat.
Dua puluh menit kemudian, sejumlah besar orang tiba dan membeku ketika mereka melihat pemandangan di depan mereka.
Mayat-mayat berserakan di lantai dan mereka semua mati mengenaskan. Beberapa usus dari mayat tersebut bahkan sampai keluar dari tempatnya. Begitu melihat Jansen, dia tampak seperti sedang bersandar di sana dan sedang tersenyum sinis pada orang yang baru saja masuk itu.
Semua orang di sana bergidik seketika. Segera, seorang pria masuk dan berkata dengan ketakutan, "Tuan Jansen, ini murni kesalahpahaman. Aku mengumumkan hal ini atas nama kepolisian sektor ini bahwa kamu dibebaskan dari penjara!"
"Siapa kamu!"
Jansen menatap pria itu dengan dingin.
"Trona Vindes, wakil kepolisian sektor ini!" sebut pria itu.
"Bermarga Vindes? Aku tiba-tiba mengerti semua ini. Apakah kamu mencoba menyakiti aku dengan mengandalkan orang-orang pribadimu?" Jansen tertawa.
"Aku tidak berani melakukan semua hal itu, ini semua murni salah paham!"
Pria itu tertawa dengan kaku, "Sekarang, kamu bisa keluar dari penjara!"
"Kenapa aku harus dibebaskan dari penjara? Apa kamu tidak jadi menangkap ku? Kamu harus mencobanya!" Jansen menggelengkan kepalanya, "Terus, tadi kamu bilang ini semua kesalahpahaman? Ada apa dengan penjahat di sel ini? Ada apa dengan pembunuhnya? Kamu memperlakukan penjara sebagai rumah bermain mu, ternyata sembarang orang boleh saja masuk kemari? Atau kamu pikir akulah yang bodoh?"
Benar saja, Jansen bukanlah orang biasa yang bisa mereka bereskan!
Pria itu menatap Miko dan tidak bisa menahan diri untuk tersenyum pahit.
Miko datang dan berkata, "Tuan Jansen, aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan mu dari penjara."
"Katakan siapa orang di balik semua ini!"
Jansen menatap pria itu dengan tenang. "Pertama-tama, aku dapat memastikan bahwa Keluarga Vindes terlibat!"
Miko menatap pria tadi dan menghela napasnya, "Tuan Jansen, Keluarga Vindes juga dipaksa dan sama sekali tak berdaya. Kamu memiliki kekuatan besar. Kamu harus tahu bahwa Keluarga Vindes sebenarnya adalah anak buah Keluarga Williams di belakang layar. Masalah hari ini semua adalah rencana dari Keluarga Williams sendiri!"
"Apa itu karena wanita yang bernama Hailey?"
"Sejujurnya, memang dia yang merencanakan semua ini!"
Pria itu tidak berani mengatakan apa pun, tapi dia tahu jika Jansen sudah menduga sesuatu.
Bagaimanapun juga, Keluarga Williams tidak berada di Huaxia dan mereka tidak akan mau berurusan langsung dengan Jansen. Hanya Hailey yang telah menghubungi Jansen belum lama ini.
"Baiklah, mari kita lupakan saja ini semua!"
Jansen akhirnya mengangguk, "Tapi biar kuperingatkan, Keluarga Vindes, kalian harus berhenti ikut campur dalam perseteruan ku dengan Hailey. Mungkin sebelumnya karena kamu tidak tahu siapa aku, jadi aku telah memaafkan mu. Kali ini, karena kalian sebenarnya hanya dijadikan boneka, aku masih akan memaafkan kalian. Tapi tidak akan ada kata 'lain kali' lagi!"
"Tuan Jansenlah yang paling mengerti situasi yang kami hadapi. Aku berjanji hal ini tidak akan terulang kembali."
__ADS_1
Dengan cepat pria itu meminta seseorang untuk membawa kunci dan membuka borgolnya.
Jansen menyentuh pergelangan tangannya yang agak mati rasa dan akhirnya pergi meninggalkan sel.
Melihat Jansen yang pergi dengan tenang dan melihat sel yang penuh kekacauan, Miko dan pria itu saling memandang. Senyum masam di bibir mereka menjadi lebih kuat.
Mereka sudah mengetahui bahwa Jansen memiliki identitas lain, Dewa Perang Huaxia!
Tak mudah untuk memenjarakan seorang Dewa Perang Huaxia, benar-benar mustahil!
Setelah Jansen keluar dari penjara, ada sebuah mobil Alphard yang terparkir di gerbang. Fiscal sudah menunggu di sana dan berkata dengan getir, "Tuan Jansen, itu adalah kecerobohan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu saat itu!"
"Tidak apa-apa. Bahkan jika kamu tidak pergi, mereka akan mencari alasan untuk membuat mu pergi!"
Jansen berkata dengan tidak peduli, "Omong-omong, ada pakaian bersih di dalam mobil?"
"Sudah siap untuk Tuan Jansen!"
"Oke, ayo kita pulang. Omong-omong, ayo kita makan tumisan kerang dahulu sebelum kita pulang!"
Setelah Jansen selesai berbicara, dia mengganti pakaiannya dan mengenakan yang lebih bersih, kemudian berbaring di kursi dan mengistirahatkan matanya.
Semua kejadian hari ini membuatnya kelelahan. Ia tidak menyangka wanita bernama Hailey itu sangat berkuasa.
Bagaimanapun, Hailey sendiri tidak berada di Huaxia, tetapi dia bisa mengatur rencana sedetail itu. Jika bukan karena sistem intelijen Jansen yang sangat kuat yang berada di Dragon Hall, Jansen sudah pasti akan berada di jalan yang buntu.
"Sayangnya, Hailey itu sudah kabur dari Huaxia!"
"Baik, Tuan Jansen!"
Fiscal lantas segera membawa mobil mereka menuju kedai tumisan kerang terdekat. Jansen tidak ingin mengganggu sang pemilik kedai dan memutuskan untuk berjalan saja ke dalam sana.
"Rupanya Jansen datang!"
Raul menyambutnya dengan hangat.
"Di mana Loki? Apakah dia sedang pergi bersekolah?"
Jansen menoleh sekilas. Hari sudah beranjak pagi. Tidak ada banyak pelanggan di sini, para pelanggan yang datang juga kemari untuk sarapan.
"Iya, sudah pergi sekolah. Dia bilang kalau dia sedang tertarik untuk bergabung dalam kelas minat menggambar komik. Dia pergi terburu-buru tadinya."
Raul meletakkan semangkuk tumisan kerang di atas meja saat sedang berbicara. Pada saat ini, seorang wanita masuk ke toko. Dia terlihat sangat muda, mengenakan pakaian lengan pendek berwarna oranye dan celana pendek. Dia memiliki selera yang sangat bagus dan paling cantik.
Setelah wanita itu masuk, para tamu yang tersebar di toko semua melihat ke atas dan kagum.
"Jansen!"
Wanita itu duduk berhadapan dengan Jansen. Itu adalah Veronica.
__ADS_1
"Tsk tsk, rupanya Jansen mengenal begitu banyak wanita cantik, ya!"
Raul diam-diam meratapinya.
"Wajar jika orang masih muda dan populer, tidak seperti kamu yang sudah sangat tua. Memangnya kamu masih ingin memiliki simpanan?" Nyonya pemilik kedai pun berjalan mendekat dan menjewer telinga Raul.
"Duh, sakit. Dilihat sama tamu!"
Raul merasa malu.
"Ke sini dan bantu aku!"
Kedua pasangan itu tampak berisik, tetapi sebenarnya mereka sangat penyayang.
Jansen tersenyum, tetapi dia iri dengan hari-hari mereka yang biasa saja. Dia memandang Veronica dan berkata, "Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?"
"Aku bisa mendengar suaramu begitu kamu keluar dari penjara."
Veronica juga memesan tumisan kerang dan memakannya bersama Jansen.
"Telingamu itu terlalu kuat, ya!"
Jansen menebak bahwa itu adalah kemampuan khusus Veronica.
"Aku tidak bisa mendengarnya setiap saat. Aku hanya bisa mendengarnya ketika aku memikirkannya dengan sangat dalam hati aku, dan aku tidak bisa mendengarnya ketika aku mendengarkannya secara khusus, tetapi aku bisa mendengarnya ketika tidak sengaja!" Veronica melengkungkan bibirnya.
"Berarti kamu belum ahli dalam kemampuanmu itu!"
Jansen menghiburnya, "Di mana Elena dan yang lainnya?"
"Kurasa mereka baru saja bangun. Jangan khawatir, mereka baik-baik saja, dan mereka tidak mengkhawatirkanmu!" Veronica mengedipkan mata besarnya. "Bagaimana masalahnya? Apakah sudah diselesaikan?"
"Sudah selesai!"
Jansen mengangguk.
"Aku tahu hal kecil ini tidak akan menghentikanmu!" Veronica tampak lega.
Jansen menggelengkan kepalanya."Awalnya, aku pikir itu adalah masalah kecil, tetapi aku secara bertahap menyadari bahwa itu tidak sesederhana itu!"
"Apakah Keluarga Gibson? Atau Grup Teknologi Global?"
Wajah Veronica sedikit berubah.
"Aku tidak yakin apakah Keluarga Gibson terlibat, tapi aku yakin bahwa Grup Teknologi Global pastinya terlibat. Keluarga Williams adalah orang dari dalang dari kejadian kali ini!" ucap Jansen.
Veronica bertanya, "Keluarga Williams? Tidakkah kamu punya murid yang berasal dari sana? Kenapa kamu tidak menelepon dan bertanya?"
"Tadi aku sudah meneleponnya, tapi tidak diangkat. Kurasa, ada sesuatu yang sudah terjadi. Selain itu, Elena juga sedang hamil dan janinnya masih belum terbentuk seutuhnya. Aku tidak bisa pergi begitu saja!" Jansen menghela napas.
__ADS_1
Veronica juga menghela napas, "Kukira, kita akhirnya dapat hidup tenang setelah datang ke wilayah selatan. Pada akhirnya, begitu banyak hal terjadi hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Tahu begini, akan lebih baik kalau kita menetap di Ibu kota saja!"