Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 570. Jansen Sadarkan Diri!


__ADS_3

"Siap!"


Macan Emas dan yang lainnya menjawab dengan serentak.


Semangat mereka berapi-api.


Barrack memang sangat gila karena telah membunuh begitu banyak saudara mereka di Huaxia. Barrack sama sekali telah meremehkan keberadaan mereka.


Barrack jelas pernah mendengar tentang legenda Huaxia. Apakah Barrack memang sengaja memprovokasi legenda Huaxia secara terbuka?


Pom! Pom! Pom!


Saat ini, sebuah helikopter mendarat. Ada banyak peralatan yang dijatuhkan dari atas helikopter itu.


Macan Emas dan yang lainnya memasang peralatan dan langsung bergerak sesuai perintah.


Di saat bersamaan, dua tim lainnya juga bergerak cepat.


Namun, pengejaran lebih sulit dibandingkan bertahan karena pengejaran menguji ketahanan fisik dan mental mereka.


Mereka semua berjuang dengan penuh keyakinan demi menjaga kehormatan Huaxia.


"Dokter dan yang lainnya sudah ditemukan. Mereka muncul di jalan yang dilalui oleh para tentara bayaran. Sepertinya, mereka terlibat baku tembak dengan orang-orang Barrack. Belum jelas apakah mereka mati atau terluka sekarang!"


Di saat bersamaan, informasi dari tempat Macan Hitam pun tiba.


Macan Hitam melihat titik cahaya di layar. Ketiga titik cahaya itu berkumpul bersama. Namun, tidak ada laporan masuk dari sana dan tidak terlihat sedikit pun pergerakan. Ini menunjukkan ada masalah yang sedang terjadi.


"Kami akan segera pergi ke sana!"


"Hubungi markas cadangan, bersiaplah untuk melakukan pertolongan kepada korban yang terluka!"


Setengah jam kemudian, beberapa mobil berhenti di tepi sungai. Mereka semua turun dari mobil dan langsung marah sambil mengepalkan tangan setelah melihat kondisi di depan mereka yang sudah porak-poranda.


Ada asap membumbung di depan, bekas tembakan peluru dan ledakan meriam memenuhi segala tempat, situasinya mirip seperti gedung bertingkat tinggi yang telah runtuh.


Gunung itu juga diledakkan hingga hancur.


"Sialan!"


Macan Hitam marah besar sambil menggertakkan giginya.


Arthur mengepalkan tangannya dengan kuat. Mereka bertiga sepertinya telah mati.


Setelah berpikir sejenak, Arthur pun mengirimkan kabar melalui radio komunikasi kepada pria tua itu, "kami menemukan 3 rekan kita lagi yang terbunuh . Mereka adalah Dokter, Macan Tutul, dan Putri!"


"Apa?"


Terdengar suara marah dari radio komunikasi.


Putri adalah Amanda yang juga merupakan putri kesayangan Keluarga Carson.


"Ayah!"


Mata Arthur mulai berkaca-kaca, "Izinkan aku keluar bertempur!"


"Diam, tidak peduli siapa pun yang harus dikorbankan, kalian adalah anak-anak kami. Laksanakan sesuai rencana dan strategi pertempuran!" Pria tua itu berkata dengan tegas dan diliputi kemarahan, "Di saat matahari terbit, kalau kita belum dapat menangkap Barrack, ledakkan semua wilayah perbatasan hingga rata. Kita buat mereka tinggal di Huaxia untuk selamanya!”


"Siap!"


Arthur menjawab. Akan tetapi, Arthur sendiri pun tahu bahwa meskipun pria tua itu yang juga adalah ayah Arthur terlihat sangat tegas, pria tua itu sebenarnya juga merasa sangat sedih.

__ADS_1


Karena, Amanda adalah putri dari pria tua itu.


Namun, tidak peduli siapa pun yang meninggal, mereka semua adalah putra-putri Huaxia yang harus diperlakukan sama. Rencana dan strategi pertempuran tidak bisa diubah hanya karena Amanda seorang.


"Lapor, ada yang tidak beres di sini!"


Saat ini, seseorang tiba-tiba melapor dengan cemas.


Semua orang bergegas pergi melihat ke sana dan kemudian menemukan bahwa ada batu yang sepertinya sedang didorong di antara tumpukan reruntuhan batu besar.


"Mustahil! Begitu banyak batu besar yang menimpa, beratnya puluhan ton, orang yang dikubur hidup-hidup pun tidak akan mungkin bisa bertahan hidup!" Macan Hitam mengerutkan kening.


"Cepat singkirkan batu besar itu!"


Arthur mengeluarkan perintah.


Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil crane pun tiba. Dengan bantuan semua orang, batu yang paling besar akhirnya berhasil diangkat dan dipindahkan.


Berat batu besar itu mencapai puluhan ton. Beratnya hampir sama dengan berat bangunan dua lantai.


Krek! Krek! Krek!


Pada saat ini, batu di bawah tiba-tiba bergerak dan perlahan terangkat naik.


Semua orang pun terdiam. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Bang!


Suara raungan terdengar. Seorang pria menahan batu besar itu dengan punggungnya lalu mengangkat batu besar itu dengan kedua tangannya.


Pria ini berlumuran darah segar, pakaiannya pun compang-camping. Wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas.


Masih ada dua orang yang berada di bawah pria itu. Kondisi mereka berdua masih lumayan sehat meskipun tubuh mereka berdua penuh dengan lumpur.


Wajahnya berlumuran darah dan lumpur, tetapi tatapan matanya malah terlihat dingin dan datar tanpa ekspresi sama sekali.


"Tolong, Tolong!"


Arthur langsung bereaksi dan berteriak dengan cemas.


Petugas medis bergegas datang untuk memberikan pertolongan pertama kepada dua orang yang sedang tergeletak. Sementara itu, pria yang berdiri juga dibawa dengan tandu lalu dikirim untuk mendapatkan pertolongan.


Tak lama berselang, identitas ketiga orang ini akhirnya jelas. Mereka bertiga adalah Jansen, Amanda dan Glenn.


Macan Hitam dan Arthur sontak tercengang. Mereka ternyata tidak mati!


Lagi pula, Jansen melindungi Amanda dan seorang lainnya.


Macan Hitam dan yang lainnya pun terdiam menyaksikan betapa heroiknya aksi Jansen mengangkat batu besar agar mereka semua bisa keluar dari reruntuhan.


Meskipun mereka bertiga tertimpa bebatuan, mereka bertiga masih bisa menyelamatkan diri melalui celah di antara reruntuhan bebatuan. Bahkan, batu besar yang diangkat oleh Jansen ternyata memiliki berat hingga beberapa ton.


"Bagaimana kondisi mereka?"


Arthur langsung bertanya kepada petugas medis.


"Mereka semua terluka parah, tetapi nyawa mereka tidak berada dalam bahaya untuk saat ini.”


"Oke, cepat pindahkan mereka sekarang juga!"


Arthur akhirnya merasa tenang.

__ADS_1


Di tempat lain, Tim Operasi Khusus bergerak sangat cepat dan dalam waktu singkat berhasil mendekati Barrack dan komplotannya.


Mereka muncul di dalam hutan yang lebat, sehingga menyulitkan pesawat tak berawak untuk mengintai kondisi mereka.


Duar! Duar! Duar!


Ledakan terdengar terus-menerus. Pertempuran berlangsung sangat sengit.


"Macan, Elang, Serigala, kalian semua telah dihadang oleh sekelompok pasukan kecil. Barrack dan komplotannya telah pergi. Mereka berjumlah dua puluh satu orang. Di dalam hutan, ada sebelas orang penembak jitu yang bersiap menembak kalian. Atasan memerintahkan kalian untuk segera menumpas mereka semua!"


Radio komunikasi milik setiap anggota pasukan menerima informasi masuk.


"Lapor, ada ranjau yang terkubur di dalam hutan dan ada beberapa orang penembak jitu. Kami kesulitan bergerak maju dengan cepat!"


"Cepat singkirkan ranjau!”


"Siap!"


Kedua pasukan saling bertempur di dalam hutan. Mereka tidak hanya baku tembak dan beradu keahlian, tetapi juga beradu daya juang dan kesabaran.


"Lapor, tiga orang di pihak kita terluka oleh ledakan ranjau!"


"Lapor, Tim Serigala ada dua orang!"


"Satu orang dari pihak musuh mati tertembak!"


Situasi pertempuran sangat mengkhawatirkan. Pihak musuh sedang menunggu kesempatan untuk melakukan penyerangan. Sementara itu, mereka sedang melakukan pengejaran terhadap pihak musuh, sehingga pasti akan kesulitan menerobos pertahanan pihak musuh dalam waktu singkat.


Hal yang paling mengerikan adalah di dalam hutan itu terdapat banyak sekali ranjau yang akan langsung meledak bila didekati.


"Tentara Bayaran SKY Axe memang hebat!"


Di dalam markas, wajah pria tua itu tampak muram, "Mereka tahu tujuan kita, sehingga mereka mengulur-ulur waktu dan membiarkan Barrack melarikan diri dari wilayah perbatasan. Sudah berapa lama pertempuran berlangsung?”


"Sudah tiga jam berlalu!”


“Hari mulai gelap, pertempuran di malam hari lebih tidak menguntungkan bagi kita. Perintahkan Tim Operasi Khusus untuk menerobos hutan secepat mungkin!"


Ledakan pun terjadi.


Anggota tim mengepung dari area tepi, tetapi mereka malah terkena ranjau. Seorang anggota tim pun mati dan dua lainnya terluka.


Selain itu, ada penembak jitu yang sedang membidik mereka dalam kegelapan. Begitu seseorang menyerang, penembak jitu langsung menembak.


Pertempuran mengalami kebuntuan.


Semakin lama waktu diulur, semakin dekat pula Barrack dan komplotannya ke wilayah perbatasan.


Saat ini, di atas mobil ambulans, Jansen perlahan membuka matanya. Dia merasakan sakit parah di sekujur tubuhnya yang sedang dalam kondisi sangat lemah.


"Dokter, kamu sudah siuman!"


Suara Macan Hitam terdengar di sampingnya.


Jansen mengangguk, "Ketua, bagaimana dengan Putri dan yang lainnya?"


"Mereka terluka parah, terutama Macan Tutul. Dia terkena peluru dan mengalami luka tembakan di banyak tempat, terutama di paru-paru yang membuat dirinya sedang berada dalam kondisi kritis!" Macan Hitam berkata.


Jansen buru-buru duduk, tetapi tangannya langsung terasa sakit.


"Pak, tulang lengan Anda patah. Anda tidak boleh mengeluarkan tenaga!" Seorang perawat berkata dengan cemas.

__ADS_1


Jansen menggelengkan kepalanya. Jansen sendiri adalah seorang dokter, sehingga Jansen tentu tahu bagaimana kondisi tubuhnya sendiri.


Barrack meledakkan gua hingga runtuh. Jansen menggunakan Profound Qi untuk melindungi Amanda dan Glenn. Tenaga Jansen terkuras setelah menggunakan Profound Qi. Selain itu, Jansen juga terluka karena tertimpa bebatuan besar, terutama di kedua lengan. Tulang langannya patah setelah menahan beban batu besar.


__ADS_2