Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 576. Iblis di Malam Hari!


__ADS_3

Di kejauhan, Artes dan yang lainnya tiba-tiba tersenyum dingin. Mereka sepertinya telah berhasil.


"Penembak jitu macam apa dia itu, setelah didekati, dia malah ketakutan seperti seorang wanita!"


Mereka bertiga semakin lama semakin merasa senang. Mereka telah menantikan ini sekian lama demi rekan mereka yang telah tewas.


"Siapa bilang penembak jitu tidak bisa bertarung dalam pertempuran jarak dekat!"


Suara ini tiba-tiba muncul dari belakang seorang tentara bayaran.


Tentara bayaran itu kaget dan langsung menoleh ke belakang. Dia melihat seberkas cahaya yang silau.


Itu adalah pisau belati yang khusus digunakan oleh tentara.


Bruk!


Dia pun jatuh dan ada bekas goresan pisau di lehernya.


"Kamu tidak mati?"


Meskipun di sekelilingnya sangat gelap, dia masih bisa melihat Jansen dengan samar-samar.


Salah satu dari mereka mengarahkan senapan AK ke Jansen dan hendak menembaknya.


Siu!


Dalam kegelapan, pisau belati melesat dengan cepat, menancap di dahinya.


Bang!


Dia jatuh telentang, senapan AK tertembak ke atas langit tanpa arah yang jelas.


Raut wajah tentara bayaran yang masih tersisa itu berubah drastis. Dia tidak berani menembak lagi. Dia pun akhirnya melarikan diri.


Dia merasa bahwa kekuatan anggota pasukan khusus ini seperti kekuatan iblis di malam hari yang sangat misterius, sangat kejam, dan sangat mengerikan.


Bang!


Baru saja berhasil kabur beberapa langkah, lehernya pun langsung dibuat patah oleh Jansen.


Jansen muncul di belakangnya lalu menyayatnya dengan pisau.


"Alfa, Bruce!"


Artes memanggil mereka berdua dengan berteriak di radio komunikasi karena suara tembakan tiba-tiba berhenti dan mereka menemukan ada yang tidak beres.


"Selanjutnya, giliran kalian bertiga!"


Kemudian, terdengar suara yang mirip dengan suara hantu di radio komunikasi.


"Sialan!"


"Astaga, siapa yang sedang kita hadapi?"


Artes dan yang lainnya akhirnya merasa ketakutan.


Kenapa Huaxia adalah tempat terlarang bagi tentara bayaran?


Mereka semua akhirnya paham.


Karena tentara Huaxia itu menakutkan seperti iblis.


Mereka buru-buru mundur dan hanya ingin segera keluar dari Huaxia. Mereka bahkan tidak ingin masuk ke Huaxia lagi.


Mereka awalnya masuk ke wilayah Huaxia tanpa sedikit pun rasa takut. Sekarang, mereka tampaknya sudah tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menginjakkan kaki di wilayah Huaxia.


Lebih tragisnya lagi, mereka semua dihajar hanya oleh satu orang saja.

__ADS_1


Di markas, sorak-sorai terus terdengar.


Resimen tentara bayaran yang terkenal di dunia telah dihabisi oleh satu orang. Mereka semua melarikan diri dalam kekalahan dan telah kehilangan semangat juang. Hal ini semakin membuktikan kehebatan pasukan tentara Huaxia yang berhasil menunjukkan kedigdayaan.


"Bagus! Bagus! Bagus!"


Pria tua itu memuji tiga kali berturut-turut. Dia teringat kembali dengan semangatnya yang menggelora saat zaman perang dulu.


Kepala Komandan Strategi menyaksikan kegembiraan di antara kerumunan itu. Wajahnya tampak masam. Dia tiba-tiba berkata dengan dingin, "Masih ada tiga orang yang tersisa. Mereka semua berada dalam jangkauan penembak jitu. Mengapa Dokter tidak menembak? Apakah dia sengaja ingin melepaskan musuh pergi?"


"Dasar idiot, tiga tembakan Jansen sebelumnya tidak mengenai sasaran. Jansen sekarang hanya memiliki dua butir peluru yang tersisa. Jansen mencoba mengandalkan dua butir peluru itu untuk membunuh tiga orang!" Macan Hitam menegur Kepala Komandan Strategi dengan sinis. Kepala Komandan Strategi seperti tidak memihak rekannya sendiri karena Kepala Komandan Strategi selalu saja mencoba menjatuhkan Jansen.


Pria tua itu juga berkata dengan tegas, "Kepala Komandan Strategi, kalau kamu masih terus menjatuhkan semangat Jansen dan mempermalukan dirimu sendiri, aku akan mengirim dirimu ke pengadilan militer!"


Kepala Komandan Strategi hanya bisa menggertakkan gigi dengan kesal dan akhirnya terdiam tanpa bersuara lagi.


Jansen sekarang memang terpikir untuk menerapkan ide ini. Lagi pula, masih ada tiga orang yang tersisa, sedangkan dia sendiri hanya memiliki dua peluru tersisa. Dia harus memiliki kepercayaan diri penuh untuk melepaskan tembakan.


Artes dan dua orang rekannya yang kini lari kocar-kacir setelah diserang, masih merasa ketakutan meskipun di belakang mereka sudah tidak terdengar lagi suara tembakan karena mereka bisa saja tertembak sewaktu-waktu.


Sejauh ini, mereka masih belum tahu seperti apa wajah penembak jitu yang mirip dengan Dewa Kematian ini.


"Buang perlengkapan tak berguna di tubuh kalian dan berpencarlah!"


Artes tiba-tiba meraung.


Angsan pun buru-buru kabur mengikuti Artes.


Dorka juga terlihat panik. Awalnya, Dorka ingin mengikuti Artes yang lebih kuat, tetapi setelah dipikir-pikir, Dewa Kematian pasti mengincar pimpinan. Dorka pun akhirnya memutuskan untuk kabur sendirian.


Dorka mungkin saja kabur.


Saat itu, Dorka akan menjadi orang terkenal di dunia, seorang tentara bayaran papan atas.


Hal itu karena Dorka berhasil menjadi tentara bayaran pertama yang melarikan diri dari wilayah Huaxia, wilayah terlarang bagi para tentara bayaran.


Setengah jam pun berlalu. Waktu menunjukkan pukul empat pagi.


"Seharusnya dia masih sanggup, Ketua. Di mana pasukan kompi sekarang?


" Macan Hitam bertanya sambil mengerutkan kening.


"Mereka berada di dalam hutan tempat pertempuran sebelumnya. Di sana ada banyak ranjau yang terpasang. Mereka masih butuh sedikit waktu lagi. Lagi pula, Dokter dan yang lainnya bergerak dengan sangat cepat. Jika ingin mengejar mereka, dibutuhkan waktu setidaknya dua jam lagi!" Pria tua itu berkata.


"Dua jam lagi, langit sudah terang. Dengan kecepatan Barrack, dia pasti sudah tiba di wilayah perbatasan!"


Macan Hitam tampak khawatir.


"Ketua, bagaimana jika Dokter tidak mengejar Barrack? Jika pesawat pengebom tidak bersiap, Barrack akan berhasil kabur dari negara kita!" Kepala Komando Strategi akhirnya bersuara setelah menahan diri sejenak.


Pria tua itu hanya diam.


Di tempat lain, Dorka merangkak di atas rerumputan dengan sangat cepat.


Dorka pernah menjalani pelatihan khusus dan telah lama terbiasa dengan cara bergerak maju seperti ini, sehingga dirinya dapat menghindari pengejaran pihak lawan dengan efektif.


"Sudah setengah jam berlalu, Dewa Kematian itu sepertinya masih berada di tempat Artes!"


Dorka pun tersenyum dengan penuh semangat.


Namun, tiba-tiba, bayangan sekilas muncul di depannya dan menghalangi jalannya, seperti Dewa Kematian.


Dorka pun gemetar ketakutan dan tanpa sadar langsung mendongakkan kepalanya. Dorka seperti melihat sesosok hantu.


"Pasukan Khusus Huaxia?"


"Penembak jitu itu?"

__ADS_1


Dia akhirnya berhasil mengejar dan menemukan Dorka.


Selain itu, rerumputan di sana setinggi tubuh manusia.


"Ini benar-benar tidak terduga!"


Orang yang menghampirinya adalah Jansen. Jansen pun berkata dengan datar, "Saat kamu merangkak di atas rumput, kamu membuat burung-burung terkejut. Burung-burung itu telah mengkhianatimu karena dengan bantuan mereka yang terbang pergi, aku bisa menemukanmu!"


Bang!


Setelah berkata demikian, Jansen melepaskan tembakan lalu pergi menghilang.


Masih ada dua orang tersisa.


Profound Qi Jansen kini telah pulih seperti sebelumnya saat Jansen berada dalam kondisi terbaik.


Kecepatan gerakan Jansen juga meningkat pesat.


Namun, waktu yang tersisa untuk Jansen tidaklah banyak.


"Ada suara tembakan, sisi timur!"


Di tempat lain, Artes dan Angsan berhenti bergerak maju.


"Aku rasa Dorka sudah terbunuh. Mari kita berhenti dan berjaga-jaga di sekeliling!"


"Siapkan senjata! Anggota pasukan khusus itu telah mengejar kita dari jarak jauh, kekuatan fisiknya telah mencapai batas. Mungkin kita bisa mengambil kesempatan untuk membunuhnya!”


Artes menganalisis dengan tenang. Dia dikelilingi oleh rerumputan lebat. Selama dia tidak bergerak, pihak lawan akan sulit menemukan dirinya.


Meskipun Angsan merasa sangat ketakutan, Angsan adalah seorang yang bengis. Kematian semakin dekat. Mereka terpaksa saling beradu nasib.


Mereka hanya bisa menunggu kesempatan emas tiba.


Waktu pun berlalu. Suasana di sekeliling berangsur tenang.


Jansen seolah-olah tidak menemukan mereka.


Keringat dingin mengucur di dahi kedua orang itu. Waktu menunggu adalah waktu yang paling sulit dilewati. Mereka pun jongkok dengan membelakangi satu sama lain menantikan kehadiran Dewa Kematian.


Satu jam berlalu.


Situasi di sekeliling mereka masih tenang.


Mereka berdua akhirnya merasa tenang. Satu jam adalah waktu yang cukup bagi Dewa Kematian untuk mengejar mereka, tetapi lingkungan sekitar masih sepi. Ini menunjukkan bahwa Dewa Kematian belum juga menemukan mereka.


Satu setengah jam telah berlalu.


Mereka berdua akhirnya menghela napas lega.


Sepertinya, Dewa Kematian tidak dapat menemukan mereka dan telah pergi ke tempat lain. Mungkin saja, Dewa Kematian sedang pergi mengejar Barrack!


"Dilihat dari waktu sekarang, Bos Barrack sebentar lagi akan mencapai wilayah perbatasan!"


"Kebetulan sekali, dia pergi mengejar Barrack. Kita bisa keluar dari perbatasan melalui sisi lain. Huh, legenda terkenal sedunia apa yang mereka maksud? Aku lihat ini semua hanya omong kosong!"


Mereka berdua saling berbisik. Hati mereka berdua pun semakin tenang. Mereka berdua berdiri lalu pergi melihat apa yang terjadi di sekeliling.


Bang!


Tiba-tiba, terdengar suara tembakan saat mereka berdua baru saja hendak berdiri. Dahi mereka berdua terkena tembakan peluru.


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!


Eh salah, seharusnya, satu tembakan dua target pun terbunuh sekaligus!


Mereka berdua perlahan jatuh, tetapi pada saat jatuh, mereka berdua akhirnya dapat melihat wajah Dewa Kematian yang sedang bersembunyi di antara rerumputan di kejauhan.

__ADS_1


Ternyata, Dewa Kematian selalu berada di dekat mereka. Hanya saja, Dewa Kematian masih terus menantikan waktu yang tepat.


Penantian ini pun berakhir setelah satu jam setengah berlalu.


__ADS_2