
Di sisi lain, Ghalinus berhasil kabur dan kembali ke ruang bawah tanah vila dengan kondisi terluka parah.
"Kabin Nutrisi!"
Dia berseru.
Seseorang segera membantunya untuk memasuki Kabin Nutrisi. Cairan obat pun mengalir memasuki tubuh Ghalinus dan memulihkan lukanya.
Tubuh Ghalinus melayang di dalam larutan nutrisi, sorot matanya dingin.
Tulang serta organ dalamnya terlihat jelas karena dadanya ditebas hingga terbuka oleh senjata tajam.
Dia hampir saja mati beberapa waktu yang lalu!
Untung saja dia memiliki kemampuan seperti tokek. Selain itu, wanita berambut putih itu juga mengkhawatirkan Jansen. Setelah membunuhnya, wanita itu pergi tanpa memeriksa kondisi Ghalinus lagi sehingga dia bisa kabur.
"Bajingan! Ternyata Jansen memiliki banyak bala bantuan!"
"Peringatan Roman memang tidak salah. Kita tidak akan pernah tahu di mana batasnya jika tidak memaksanya!"
"Tapi tidak peduli seberapa kuatnya Jansen, dia kali ini pasti akan mati! Ada begitu banyak Master yang mengejarnya!"
Satu jam kemudian, Ghalinus keluar dari Kabin Nutrisi tanpa memedulikan tubuhnya sudah pulih atau belum dan mendatangi layar yang menampilkan sinyal pelacak.
Ada sebuah titik putih yang nampak berkedip-kedip di layar, tapi makin redup. Titik putih itu adalah sinyal pelacak yang dipancarkan dari tubuh Jansen.
"Jansen ada di laut!"
Ghalinus berseru kaget dan buru-buru menelepon Hailey.
"Aku sudah tahu!"
Hailey berkata dengan dingin, "Kalian benar-benar tidak berguna! Jansen tetap saja bisa kabur meski dikejar begitu banyak orang!"
"Jansen juga memiliki banyak Master di pihaknya! Sialan! Kupikir aku hanya perlu berjaga-jaga dari Keluarga Wilbert dan Dragon Hall," jawab Ghalinus dengan kesal.
"Keluarga Wilbert masih belum bergerak. Keluarga Fang dan Keluarga Yiwon hendak bergerak, tapi pada akhirnya mereka tidak jadi datang membantu!"
Hailey berkata, "Jansen mengutus seorang Master misterius yang membunuh semua orang yang kita undang sendirian!"
"Apa?!"
Ghalinus tersentak kaget. Dia tahu seberapa banyak Master yang ada dan seberapa kuat mereka.
Mereka adalah orang-orang dari keluarga elite Keluarga Gibson, manusia modifikasi genetik dari Grup Teknologi Global, Aliansi Cahaya Bulan, bahkan Paviliun Samurai!
Bisa dibilang kekuatan seperti itu adalah kekuatan besar di negara mana pun juga.
Ghalinus tiba-tiba merasa cara pandangnya terlalu sempit. Dia pikir seluruh dunia akan menjadi miliknya dengan mendominasi dunia bawah tanah Kota Yanba!
__ADS_1
Ternyata masih ada dunia yang lebih kuat di Huaxia!
Hal yang paling mengesalkan adalah karena Jansen tahu tentang dunia master ini, tapi tidak dengannya. Pantas saja Jansen menertawakannya.
"Tapi kamu tidak perlu terlalu khawatir. Percuma saja Jansen kabur karena fungsi tubuhnya akan terus dilemahkan oleh racunnya. Dia akan mati dalam sepuluh hari!" Hailey menambahkan.
"Nona Hailey, apa kamu yakin?"
Ghalinus mengerutkan keningnya.
"Tentu saja! Racun ini diteliti oleh Dr. Luke sendiri! Mungkin kamu tidak tahu siapa Dr. Luke itu, jadi biar kuberi tahu. Dia dikenal sebagai ilmuwan gila dan kepala peneliti di Grup Teknologi Global!" kata Hailey, "Sumber ramuan gen yang disuntikkan ke dalam tubuhmu itu memang berasal dari Huaxia, tapi Dr. Luke-lah yang menyempurnakannya agar jumlah kematian akibat ramuan gen menurun sedangkan kekuatannya justru meningkat!"
"Selain itu, ada pula racun gen di dalam nano robot itu yang merupakan racun mematikan yang ada di setiap suntikan obat gen. Itu sudah cukup untuk membunuh Jansen!"
Ghalinus akhirnya merasa lega begitu mendengarnya.
"Awasi terus orang-orang yang Jansen tinggalkan di Kota Yanba, jangan sampai satu pun dari mereka kabur. Aku ingin melihat mereka mati dengan mata kepalaku sendiri!" sambung Hailey.
"Hahaha, aku juga bermaksud begitu!"
Ghalinus tertawa terbahak-bahak, "Meskipun Jansen sudah mati, aku sudah berjanji padanya akan membunuh semua keluarga dan teman-temannya. Bagaimana bisa seorang pria mengingkari janjinya?"
"Kamu memang kejam sekali!"
Hailey juga sontak tertawa, lalu menutup teleponnya.
"Untuk apa?"
Nona Letzia meminum kopinya dan berkata.
"Jansen telah mempermalukan Keluarga Williams dengan membunuh James dan Eddy. Aku tidak berencana untuk membiarkan keluarganya tetap hidup sekalipun dia sudah meninggal!" Hailey berkata dengan dingin dan tersenyum, "Dulu, bukankah di Huaxia Nona Letzia juga dikenal dengan identitas lain, yaitu Tissa? Katanya kamu berteman baik dengan istri Jansen, Elena, dan bahkan kalian berdua sempat terlibat cinta segitiga? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Elena?"
Nona Letzia berhenti meminum kopinya dan berkata, "Kamu mencari tahu tentangku?"
"Nona Letzia selalu tenang sekali dalam melakukan segala sesuatu, tapi aku menyadari emosimu tersulut saat melihat Jansen. Itu sebabnya aku iseng mencari tahu tentangmu. Jangan khawatir, aku ini sedang memedulikan mu," kata Hailey sambil tertawa.
"Nona Hailey, terkadang terlalu pintar itu tidak baik!"
Nona Letzia menyahut dengan dingin.
"Baiklah, aku tahu kamu dan Jansen adalah musuh bebuyutan. Bisa dibilang, apa yang ada di antara kalian itu adalah hubungan cinta dan benci. Selama kamu adalah musuh Jansen, maka kamu adalah temanku!" sahut Hailey, "Jadi, apakah kamu tertarik untuk pergi ke Huaxia bersamaku? Menurutku, kamu pasti sebenarnya ingin bertemu dengan Elena!"
"Tidak tertarik. Setelah Tissa meninggal, namaku adalah Isabella Letzia. Kejadian sebelumnya tidak ada hubungannya denganku!" tolak Nona Letzia.
"Terserah kamu saja, tapi jangan menyesal, ya. Bagaimanapun juga, kurasa kamu memiliki banyak hal yang ingin kamu katakan kepada Elena. Kalau kamu melewatkannya kali ini, kamu pasti tidak mendapatkan kesempatan lain lagi!"
Hailey berkata sambil mengedikkan bahunya, lalu berjalan pergi dengan anggun dalam sepatu hak tingginya.
Nona Letzia masih meminum kopi, jemarinya mengetuk meja dengan irama tertentu.
__ADS_1
Bertemu dengan Elena lagi?
Bukan hanya sekedar ingin, dia bahkan menginginkannya lebih dari siapa pun juga!
Karena dia ingin tahu ekspresi seperti apa yang akan muncul di wajah Elena saat dia muncul di hadapan istri Jansen itu dan memberitahunya bahwa Isabella adalah Tissa!
Apakah Elena akan terlihat marah? Tidak rela?
Atau justru menghela napas? Kecewa?
Sayangnya, semua emosi itu dipendam oleh Isabella!
Hailey memang sangat pintar, tapi Isabella juga tidak kalah cerdas. Dia samar-samar bisa merasakan bahwa masalah ini tidak sesederhana seperti kelihatannya!
Alasannya adalah karena yang berada di pihak lain adalah Jansen!
Demi keamanannya, saat ini Isabella tidak berencana untuk kembali ke Tanah Airnya.
"Hailey, kuharap intuisiku salah. Tapi kalau ternyata benar, berarti rasa percaya dirimu lebih tinggi daripada kecerdasanmu!"
Di sisi lain, kediaman Keluarga Vindes.
Saat ini, suasana di penjuru kediaman Keluarga Vindes terasa sangat sunyi karena mereka sedang berhadapan dengan musuh yang besar.
Hanya ada satu orang yang mondar-mandir di ruang tamu. Ruangan itu dipenuhi asap karena orang itu terus mengisap sebatang demi sebatang rokok.
Dia adalah Roman.
Dia merasa sangat gugup terkait perihal pembunuhan Jansen karena takut akan gagal.
Karena dia tahu Keluarga Vindes mungkin akan binasa seandainya dia gagal.
"Tuan Besar, Nona Hailey baru saja menelepon dan mengatakan bahwa dia akan datang ke Huaxia dalam tiga hari untuk membicarakan bisnis!"
Seorang kepala pengurus berlari masuk dan sontak terlihat kaget saat melihat asbak meja yang penuh dengan puntung rokok, "Tuan Besar, dokter sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh merokok lagi! Kamu kan..."
"Hahaha!"
Roman melempar puntung rokoknya dan tertawa, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Paru-paruku masih bisa bertahan. Kalau Jansen tidak mati, aku tetap akan mati meski tidak merokok. Karena sekarang Hailey ingin datang ke Huaxia, itu berarti Jansen sudah mati!"
Dia tahu betul Hailey yang sangat pintar itu sudah menghitung situasi secara keseluruhan dan melakukan segala sesuatunya dengan sangat berhati-hati. Keberaniannya untuk datang ke Huaxia menandakan bahwa Jansen sudah tidak jadi masalah lagi sekarang.
Kriiing!
Ponsel Roman tiba-tiba berbunyi.
Roman mengangkat panggilan itu dan ternyata yang meneleponnya adalah Ghalinus.
"Tuan Roman, aku punya kabar baik dan kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana?"
__ADS_1