
Semua orang sedang duduk di ruang keluarga sambil memakan kuaci dan menonton televisi. Ketika mereka mendengar helaan napas Paman Kedua, mereka merasa kesal. Sebenarnya saat Jessica akan menjadi pemimpin keluarga, mereka sudah melihat kemampuan Jansen!
Namun, mereka berpikir bahwa Jansen tidak akan bisa meninggalkan Elena, jadi mereka merasa sombong, Akan tetapi, ternyata Jansen tidak memohon dan menjilat lagi, yang mengakibatkan tragedi ini. Kini, keluarga mereka sudah tidak ada hubungannya dengan menantu hebat itu lagi!
Ini adalah penyesalan besar bagi mereka!
Jika ada yang bilang tidak menyesal, itu pasti bohong!
"Kami salah tentang dia!"
Paman Keempat, Rowen, juga menghela napas dan berkata.
"Sudah kubilang kalau Kakak Ipar bukan pembunuh, tapi kalian tetap menyalahkannya. Sekarang, apa gunanya menyesal lagi!" Naomi sedang memakan kuaci, dia sedang bersenang-senang di atas penderitaan keluarganya.
"Gadis sialan, apa kamu ini masih menjadi bagian dari Keluarga Miller!"
Renata tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahinya.
"Kamu yang memperpanas keadaan. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita bisa mencurigai Kakak Ipar!" Naomi melemparkan kuacinya ke tanah dan mengomel.
Renata kesal dan langsung berdiri. "Astaga, kamu berani melawanku. Apa kamu pikir karena kamu sudah dewasa, jadi aku tidak berani memberimu pelajaran?"
"Renata, Naomi benar!"
Mai tiba-tiba menyela, perkataan Mai membuat Renata tidak bisa mengelak lagi.
Melihat semua orang di Keluarga Miller, mereka semua menatapnya dengan kesal.
"Baik, ini salahku, tapi dari mana aku tahu kalau Jansen ternyata membantu kita? Kamu tidak bisa menyalahkan aku. Kalau Jansen mengatakannya dengan jelas, semua pasti akan
baik-baik saja!" ucap Renata dengan tidak tahu malu.
"Lanjutkan saja omong kosongmu itu!"
Naomi melanjutkan perkataannya, "Aku pikir bahkan jika Kakak Ipar mengatakannya, mungkin saja kamu tetap tidak akan percaya. Apa kamu tidak dengar kalau kemarin Kakak
Ipar sudah menjelaskannya lagi? Apa ada yang percaya? Kalau bukan karena Kakak tiba-tiba kembali dan bersaksi, sampai mati pun kamu tidak akan percaya!"
Renata merasa kesal sampai ingin menghajar Naomi. Gadis ini pasti sengaja membuatnya malu. Dia terus berbicara dengan kesal, "Tidak bisa aku terus yang meminta maaf, 'kan? Aku
tidak akan melakukannya. Bahkan jika aku mati kelaparan, dipukuli sampai mati, atau dimarahi sampai mati pun, aku tidak akan meminta maaf padanya!" kata Renata dengan kesal.
"Mereka sudah bercerai. Kalau memang harus minta maaf, seharusnya sudah dilakukan sejak awal!"
Paman Kedua, Leimin, menegur, "Apa kalian tidak lihat ada berapa banyak orang besar yang datang menjemput Jansen saat dia pergi? Sampai ada helikopter yang datang ke sini. Dia
dihargai oleh orang lain, tapi diinjak-injak di sini. Jika dia memiliki harga diri, dia tidak akan datang ke sini lagi!"
"Bu, barusan bawahan Aidan datang. Mereka bilang kalau besok Aidan ingin mengajak Kak Elena makan malam!"
Saat ini, Kakak Kedua, Irene, berlari masuk.
Mata Renata berbinar. "Oh ya, masih ada Tuan Muda Aidan. Kalau Jansen tidak menginginkan Elena, masih ada banyak orang yang menginginkannya. Keluarga Tuan Muda Aidan ini
kaya dan menjanjikan. Tidak buruk kalau Elena menikah dengannya!"
__ADS_1
Dia memandang Irene dan berkata, "Irene, cepat kasih tahu Elena. Suruh dia agar besok dandan yang cantik!"
Tiba-tiba, ruang tamu terasa dingin. Renata merasa ada yang tidak beres. Dia melihat bahwa semua orang di Keluarga Miller menatapnya dengan murung.
"Kenapa kalian melihatku seperti ini? Aku tidak keberatan kalau Jansen dan Elena bersama, tapi kalau Jansen tidak menginginkan Elena, aku juga tidak bisa memaksa. Kalian tidak bisa membiarkan Elena menjanda seumur hidupnya!" ucap Renata dengan perasaan sedikit bersalah.
"Keluar kamu!"
Dengan adanya Leimin yang memimpin, semua orang ikut marah dan memarahi.
Dia benar-benar tidak tahu malu!
Kemarin, Jansen baru pergi, tapi hari ini dia sudah ingin menjodohkan Elena. Apa dia gila?
Jansen membunuh pembunuh itu demi Kakek. Dia juga memberikan dua miliar untuk meringankan kesulitan Keluarga Miller. Meski sekarang mereka sudah bercerai, tapi Jansen tetaplah menantu Keluarga Miller!
"Renata, biar kuberi tahu kamu, Jansen adalah menantu terbaik dalam sejarah Keluarga Miller!"
Leimin berdiri dan berkata dengan marah, "Kecuali Elena bilang sendiri kalau dia ingin menikah, kalau tidak, tidak ada seorang pun di Keluarga Miller yang boleh ikut campur dalam pernikahannya. Kalau ada yang berani melakukannya, orang itu akan berurusan denganku!"
"Benar. Saat Ayah pergi, Ayah menyerahkan Keluarga Miller pada Jansen. Kalau begitu, Jansen adalah pemimpin keluarga!" ucap Paman Ketiga sambil ikut berdiri.
"Aku juga menantu Keluarga Miller, tapi aku percaya padanya!"
Bahkan suami Irene juga angkat bicara.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian mau memberontak? Aku juga memikirkan nasib Keluarga Miller!" Suara Renata menjadi semakin kecil.
"Kalau kamu masih bicara, aku akan menghabisimu!"
Renata tidak berani melawan begitu banyak orang, jadi dia mengedipkan mata pada putrinya dan menyuruh Irene menyapa Elena.
Irene mengerucutkan bibirnya. Dia bahkan sudah melakukan hal bodoh seperti ini, apa dia masih berani tinggal di sini?
Namun, dia tidak berani melanggar perintah ibunya, jadi dia tetap pergi menghampiri Elena.
Ketika dia tiba di depan kamar Elena, Irene sudah bersiap akan mengetuk pintu.
"Irene, Elena tidak ingin diganggu. Jangan ganggu dia!"
Saat itu juga, seorang wanita berambut putih datang menghampirinya. Itu adalah Jessica.
"Kak, Ibu yang memintaku untuk datang, dia bilang Aidan ingin mengajak Elena berkencan!" Irene tetap masih merasa takut pada kakaknya itu.
"Tidak boleh!"
Jessica dengan dingin menolak. "Beri tahu bawahan Aidan bahwa suami Elena adalah Jansen. Jangan mendekati Elena lagi!"
"Tapi ini akan menyinggung Aidan!"
Irene berkata dengan cemas, "Keluarga kita sudah tidak berjaya seperti dulu!"
"Apa yang kamu takutkan?"
Jessica berteriak dingin, "Kakek bisa mati karena
__ADS_1
pecundang-pecundang Keluarga Miller seperti kalian! Pergi!"
Irene hanya bisa menundukkan kepalanya dan pergi.
Jessica menghela napas. Lagi-lagi dia ingin memperbaiki keadaan Keluarga Miller, tapi dia sudah merasa sangat malu. Jadi, dia hanya membantu dalam diam. Sebenarnya dia
sangat setuju agar Jansen menjadi pemimpin Keluarga Miller, tapi Jansen menolak!!
"Elena!"
Dia mengetuk pintu
Terdengar alunan musik dari dalam kamar. Ini adalah lagu Korea berjudul "If" dan lagu pengantar film Korea berjudul "The Hero". Lagunya sedikit sedih dan menceritakan tentang
perpisahan sepasang kekasih.
Elena sangat menyukai lagu ini ketika dulu dia masih berada di bangku sekolah, kemudian dia sudah tidak pernah mendengarkan lagu ini lagi.
Sekarang, ketika dia mendengarkan lagu ini, dia mengingat memori-memori masa mudanya dulu, yang lebih cocok dengan suasana hatinya saat ini.
Dia duduk di depan meja dan menatap Mutiara Merlot di tangannya. Mutiara ini pernah pecah, tapi diperbaiki oleh Jansen. Permukaannya bahkan lebih berkilau.
Katanya, Jansen menyematkan jimat pada mutiara ini untuk melindunginya.
"Masuk!"
ucapnya sambil menatap ke arah pintu.
Suasana hatinya sedikit rumit. Dari lubuk hatinya, dia sangat membenci Jessica. Itu juga karena Jessica adalah penyebab dirinya berpisah dengan Jansen!
Tentu saja, ini hanya penyebab eksternal, penyebab internalnya tetap saja karena dia tidak memercayai Jansen.
Jessica melihat Elena yang tampak lesu. Dia merasa tidak nyaman dan berkata, "Elena, Kakak datang untuk meminta maaf padamu. Ini salahku karena telah menyebabkan kalian bercerai!"
Dia sudah lama ingin meminta maaf kepada Elena, tapi dia tidak punya kesempatan. Dia juga malu menghadapi Elena.
"Semuanya sudah berlalu!"
Elena berkata dengan acuh tak acuh.
Jessica tidak terkejut dengan sikap Elena. Dia melihat mutiara di tangan Elena. "Jansen yang memberikan ini padamu, 'kan?"
"Sebenarnya, aku bisa merasakan bahwa Jansen sangat mencintaimu. Kalau tidak, dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap si pembunuh. Selain memberi penjelasan pada Kakek, dia memberikan hatinya untukmu!"
Jessica menasihati, "Organisasi ini sangat besar dan ada banyak orang kuat. Tidak mudah bagi Jansen untuk menemukan pembunuhnya!"
"Aku tahu, makanya aku juga merasa sangat malu untuk bertemu dengannya!" kata Elena dengan suara yang dalam.
"Kenapa malu?"
Jessica menggeleng, "Kamu juga mencintainya. Penyebab kesalahpahaman di antara kalian sebenarnya adalah karena kemajuan Jansen yang terlalu cepat, mengakibatkan banyak
kesalahpahaman!"
Elena terkejut.
__ADS_1
Sebenarnya, dia juga sudah mencari penyebab permasalahan ini.