
Mobil polisi itu adalah jenis mobil sport yang besar . Cocok sekali bagi Jansen untuk bisa melakukan perawatan .
Setelah masuk ke bagasi mobil , Jansen menyuruh Elena untuk mencari beberapa permen untuk anak itu . Ia mengambil handuk untuk membersihkan muka dan seluruh tubuh anak itu hingga bersih .
Anak itu duduk di sampingnya dengan muka yang agak suram . Anak itu sedang dalam masa pertumbuhan , tapi wanita itu mematahkan kaki anak ini berulang kali dengan kejam untuk membuatnya benar - benar cacat . Mungkinkah wanita itu sudah tidak waras ?
" Nak , kamu tahanlah sebentar karena ini akan terasa agak sakit . "
" Kakak , aku baik - baik saja . "
Anak itu menjilat permen yang ada di tangannya dan berperilaku dengan baik .
Jansen mengangguk . Kedua tangannya membelai kaki kanan anak itu dengan lembut untuk mengetahui bagian mana tulang yang patah itu . Ia mengeluarkan jarum peraknya lagi dan menyalurkan Profound Qi ke dalam jarum . Ia menusuk belasan jarum ke titik akupuntur untuk meringankan rasa sakit anak itu .
Klak .
Terdengar suara yang patahan . Jansen mematahkan tulang kaki anak itu karena panjang struktur tulangnya tidak seimbang . Jika itu tidak diperbaiki , maka anak itu pasti akan cacat .
" Jansen ! "
Elena berseru saat ia mendengar Jansen memintanya untuk mengambil tripleks . Ia tidak terkejut dan menyerahkan tripleks yang sudah ia siapkan . Setelah itu , ia menyaksikan Jansen membalut kaki anak itu . Ia merasa ini tidak nyata . Sejak kapan tulang itu bisa tersambung kembali ?
Kemudian Elena melihat anak itu . Meskipun wajah anak itu penuh dengan keringat , tapi mungkin anak itu telah sangat menderita sejak kecil , jadi ia masih menjilati permen itu tanpa berkata sepatah kata pun . Anak itu sangat kuat dan lebih kuat di luar ekspetasi Jansen Beberapa saat , setelah Jansen meluruskan tulang anak itu , ia tersenyum dan berkata ,
" Sip . Untuk sementara ini kamu jangan berjalan menggunakan kakimu. "
Elena menatap Jansen dan tiba - tiba tersadar kalau Jansen tampak cukup tampan saat merawat pasien dengan hati - hati . Elena seolah - olah pertama kali mengenal Jansen .
Semua hal di tubuh Jansen begitu misterius , membuatnya tiba - tiba merasa penasaran tentang Jansen . Lagi pula sebelumnya Jansen telah dianiaya dan tidak pernah membicarakan tentang dirinya .
Sebaliknya , setelah ia menangkap kriminal ini , hal pertama yang ia lakukan bukanlah menyombongkan diri , melainkan mengingat tentang anak itu . Karena kelakuannya itu , membuat Elena jadi tersentuh .
" Apakah sudah selesai ? "
Di luar mobil polisi , pria paruh baya itu berdiri di sana dengan gugup .
" Oke . Aku serahkan anak ini pada kalian , "
ucap Jansen seraya tersenyum .
__ADS_1
" Tenang saja . Kami akan mengantarkan anak ini ke rumah sakit . Selain itu , kami juga akan menemukan orang tua kandungnya . "
Pria paruh baya itu memasang ekspresi bersalah .
" Maaf , sebelumnya aku salah paham padamu . Jika bukan karena kamu , sampai sekarang kami pasti masih dalam kegelapan . Oh ya , kamu telah membantu kami menangkap buronan , jadi kami akan memberimu hadiah di kantor polisi . Entah apakah kamu ada waktu luang besok untuk datang ke kantor ? "
" Tidak apa - apa . Orang - orang sering salah paham padaku . Aku sudah terbiasa . Untuk hadiah atau apa pun itu , lupakan saja . Jika ada penghargaan atau apa pun itu , berikan saja pada Elena . "
Jansen tersenyum lalu meninggalkan mereka . Elena tiba - tiba merasa sakit hati saat mendengar dia sudah terbiasa dengan hal ini . Setahun pernikahan ini , seolah - olah dia sering salah paham terhadap Jansen. Namun , karena sifatnya yang keras kepala , ia tidak mau mengakui kesalahannya itu .
Jansen sepertinya tahu apa yang dipikirkan Elena , lalu ia menghiburnya dengan berkata ,
" Awalnya kami menikah atas perintah dari para tetua . Kita tidak begitu akrab dan tidak percaya padaku , itu adalah hal yang normal . "
Jansen terdiam sejenak , lalu berkata dengan sedih lagi ,
" Namun , perasaan tidak dipercayai oleh orang memang sangat tidak menyenangkan . "
Langkah kaki Elena terhenti , lalu menggigit bibir . Ia adalah seorang aries yang suka melakukan hal - hal yang agak impulsif . Contohnya seperti sekarang ini , ia menyesali kelakuan impulsifnya tadi .
Memang benar , perasaan tidak dipercayai oleh orang memang sangat tidak menyenangkan , apalagi orang ini adalah suaminya . Karena hal ini membuatnya bisa melihat suasana hati Jansen . Elena mengejar Jansen dan ingin meminta maaf . Akhirnya ia membuka mulutnya . Ia tersenyum dan berkata ,
" Aku bisa membantumu . "
Tiba - tiba Jansen sadar kalau Elena mulai mempercayainya dan memberi tahu padanya apa yang ada di pikirkannya .
" Baiklah . Selanjutnya aku akan memintamu untuk bergabung denganku . "
Elena memikirkan kehati - hatian Jansen sebelumnya , tapi ia merasa kalau Jansen benar - benar bisa membantunya . Mereka berdua berjalan berdampingan tanpa merasa asing lagi . Mereka jadi lebih akrab satu sama lain .
" Jansen , kamu bisa memperbaiki tulang ? Ditambah lagi , sebelumnya apa yang terjadi pada wanita itu ?Mengapa ia seperti terkena hipnotis ? "
" Kakekku adalah seorang dokter di pedesaan . Sejak kecil aku belajar ilmu medis darinya , jadi aku sedikit tahu . Untuk wanita itu , begini saja , di cuaca yang sepanas ini sebenarnya wanita itu sudah sangat lelah . Ditambah lagi dengan kemunculan para polisi . Ia akan jadi emosional . Aku menusuk jarum perak untuk merangsang titik akupunturnya sehingga ia mengendurkan kewaspadaannya . Metode ini seperti pijatan yang bisa merilekskan seluruh tubuh , "
ucap Jansen menjelaskan .
" Jansen, aku selalu berpikir kalau kamu orang yang biasa saja . Aku tidak menyangka kalau kamu memiliki banyak ketrampilan . "
Jansen tidak bisa menahan senyumnya . Melihat Elena yang tersenyum itu , Jansen jadi tertegun . Senyuman Elena sangat indah .
__ADS_1
Selama setahun pernikahan ini , Elena jarang sekali tersenyum . Ini pertama kalinya ia bisa tersenyum tanpa dibuat - buat .
" Ini hanyalah keterampilan medis biasa , tidak bisa dibandingkan dengan dirimu yang polisi secara profesional . Selanjutnya , kamu bisa mengarahkanku untuk menginvestigasi kasus . Aku selalu penasaran tentang detektif polisi . "
" Ya , memecahkan kasus itu sangat menarik . "
Ledakan tawa Elena seolah - olah membuat hatinya jadi terbuka . Ia tanpa henti menceritakan apa yang ia pernah temui .
Di malam hari , setelah Jansen selesai makan , ia memberi penjelasan pada Elena , lalu ia pergi . Di persimpangan Jalan New Bond Street , mobil BMW Zacky sudah berhenti di sana . Selain itu , di sana juga ada mobil Ferrari merah . Jendela mobil Ferrari itu terbuka dan sebuah kepala menongol ke luar . Dia adalah Nico!
" Kakak Jansen ! "
Mereka berdua tertawa bersamaan . Mereka turun dari menyapa Jansen. mobil mereka dan
" Kalian berdua benar - benar mahasiswa ? "
Jansen tidak bisa berkata apa - apa . Ia melihat mereka berdua dari atas hingga ke bawah , tapi penampilan mereka sama sekali tidak seperti mahasiswa . Dengan mengendarai mobil Ferrari , mereka pun bisa sampai ke Universitas Asmenia dengan cepat .
Namun , karena mobil Ferrari terlalu mempesona , jadi Jansen turun dari mobil sebelum sampai di kampus .
Sekarang adalah jam pulang kuliah . Satu demi satu para mahasiswa dan mahasiswi keluar dari gerbang kampus . Terutama para mahasiswi , mereka mengenakan rok pendek dan memperlihatkan kaki panjang mereka yang putih nan mulus . Mereka berjalan dengan begitu ceria , memberikan suasana yang begitu hidup .
Jansen menatap kaki panjang gadis - gadis itu dan diam - diam menggelengkan kepala mereka . Kampus itu memang bagus . Setiap hari bisa melihat kaki yang panjang dan besar .
Dibandingkan zaman Jansen kuliah dulu , ini jauh lebih baik . Saat ia masih kuliah , mereka masih konservatif sehingga pada mengenakan celana panjang . Kampus bisa masuk dengan sesuka hati , apalagi penampilan Jansen yang masih muda . Semua orang akan mengira kalau ia adalah mahasiswa kampus itu .
" Eh , kakak ipar ? "
Tiba - tiba terdengar seruan dari jauh . Terlihat beberapa orang berdiri di tepi lapangan olahraga . Seseorang yang memanggil Jansen ada seorang gadis yang mengenakan rok pendek , stoking jaring hitam , make - up smoky , dan berpakian yang cukup modis . Penampilan gadis itu cukup cantik . Hanya saja dandanannya agak jarang terlihat di kalangan kampus .
" Diana? "
Jansen tercengang dan hampir salah mengenal gadis itu . Keluarga ayah mertua Jansen adalah keluarga yang terpelajar . Elena dan Diana adalah gadis yang baik di mata orang - orang .
Namun sekarang , apakah dandanan Diana masih seperti gadis yang baik ?
" Kakak ipar , kok kamu di sini ? "
Diana tampak seperti gadis rumahan , tapi ia sudah lama membuang sifatnya itu saat di bangku kuliah . Jika ayahnya tahu ia berpenampilan seperti itu , ayahnya pasti akan marah dan terkena serangan jantung . Jadi , Diana tidak akan membiarkan Jansen melaporkan hal ini pada ayahnya .
__ADS_1