
"Mereka telah menebak arah secara keseluruhan. Yeni Miller mengendalikan situasi dengan menyeluruh, kemampuan pengamatan terhadap peluang dalam pertempuran yang dimilikinya sangat Bagus!" Pria tua itu berkata sambil menyipitkan mata.
Komandan Strategi masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi di saat bersamaan seorang pengintai datang melaporkan situasi.
"Lapor, Tim Macan ditemukan sedang berada di arah angin barat laut yang berjarak kurang lebih lima ribu meter dari kita. Mereka langsung menuju markas kita!"
Kepala Komandan Strategi sontak terkejut. Pasukan mereka ternyata benar-benar sedang menuju ke markas divisi. Komandan Strategi berkata dengan cemas, "Ketua, kirimkan satu brigade tentara untuk menumpas mereka!"
"Semua anggota Tim Operasi Khusus adalah tentara pilihan. Mereka memiliki kelincahan dan kemampuan bersembunyi yang sangat hebat. Jika kita ingin mengepung mereka dalam skala besar, waktu yang dibutuhkan sangatlah lama!"
Pria tua itu menggelengkan kepalanya, "Lagi pula, Yeni Miller adalah gadis yang licik. Mungkin saja dia memang menginginkan kita mengepung mereka dengan skala besar. Buka penjagaan, biarkan mereka masuk menyerang"
"Apa?"
Raut wajah Kepala Komandan Strategi berubah drastis.
"Tim mereka tidak bertempur secara gabungan, setiap tim kecil mereka terdiri dari masing-masing tiga orang dan ada empat hingga lima tim kecil secara keseluruhan. Jika kita ingin menangkap mereka semuanya, kita sebaiknya membuka pintu besar-besar lalu menutup pintu dan menghajar mereka habis-habisan!" Pria tua itu tersenyum sinis, "Kita buat markas divisi palsu sebagai umpan dan tunggu saja sampai mereka masuk perangkap!"
"Siap!"
Kepala Komandan Strategi pun pergi melaksanakan perintahnya.
Saat ini, Tim Macan sedang bentrok dengan pengintai. Karena itulah, keberadaan tim itu akhirnya terungkap.
Setelah berhasil menumpas pengintai, mereka pun menunggu perintah dari Macan Hitam.
"Lanjutkan penyerbuan!"
Macan Hitam membuat keputusan cepat dengan percaya padaintuisinya sendiri.
...........
Di tempat lain, di atas sebuah puncak gunung, seorang pria bergigi emas sedang melihat pemandangan di kejauhan dengan teleskop, "Sungguh beruntung! Ada tentara yang sedang latihan militer!"
"Bos Barrack, kita tidak boleh mencari masalah dengan orang Huaxia. Kita lebih baik keluar dari wilayah perbatasan melewati sisi lain!"
Seorang pria gemuk menyarankan.
"Apa yang kamu takutkan? Saat latihan militer berlangsung akan ada suara yang bising, sehingga kita dapat leluasa mengangkut barang keluar!"
Pria yang sedang memegang senjata AK berkata dengan wajah yang terlihat sangar.
"Perintahkan Korps Artileri Kedua bersiap-siap untuk keluar dari wilayah Huaxia, bunuh saja semua orang yang ditemui di jalan. Selama latihan militer masih berlangsung, mereka tidak akan tahu apakah ini semua nyata atau hanya
rekayasa!"
Pria itu mengeluarkan perintah kepada bawahannya. Kemudian, beberapa mobil Jeep berjalan kencang menyusuri lereng gunung. Pria itu memandang kotak di tangannya dan menepuknya sambil berkata, "Ini semua adalah uang. Beberapa buah saja sudah bisa dijual dengan harga miliaran, jauh lebih berharga daripada racun jenis apa pun!"
"Tentara? Aku tidak takut sama sekali dengan mereka. Aku ini adalah Barrack, aku bebas pergi ke mana pun aku mau!"
"Sayang sekali, aku masih belum menemukan pembunuh yang membunuh adik laki-laki-ku!"
Dia berbicara sambil menembakkan senjata ke udara.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan memekakkan telinga. Para tentara bayaran merasa panik karena khawatir akan menarik perhatian.orang-orang
__ADS_1
Bagaimanapun juga, mereka tahu bahwa tempat ini adalah tempat terlarang bagi tentara bayaran.
Namun, jelas sekali tidak ada orang yang memerhatikan keberadaan mereka.
Latihan militer sedang berlangsung di kejauhan, tembakan meriam melambung ke langit. Suara senjata mereka tak terdengar ditutupi suara ledakan meriam.
Saat ini, Tim Macan masih bergerak maju. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok kecil pengintai. Setelah beradu tembakan senjata, Glenn pun terluka, tetapi Glenn masih belum terbunuh(eliminasi).
"Macan Emas, ada yang tidak beres!"
Jansen memapah Glenn sambil mengerutkan kening, "Aku pikir jalan kita terlalu mulus. Semua yang kita jumpai hanyalah pengintai kecil, sama sekali bukan pasukan dalam skala besar. Aku rasa ini adalah jebakan!"
"Dokter, kamu terlalu banyak berpikir. Kita mendarat dengan parasut ke wilayah jantung pertahanan musuh ditambah dengan pergerakan kita yang sangat cepat, sehingga pihak musuh tidak akan sempat bereaksi!" Macan Emas berkata sambil tertawa. Jansen memang punya kemampuan menembak jitu yang lumayan hebat, tetapi ini adalah pertama kalinya Jansen mengikuti latihan militer, pengalaman yang dimilikinya masih kurang
"Kita telah membunuh tiga orang pengintai, pihak musuh tidak akan mungkin sempat bereaksi!"
Jansen menggelengkan kepalanya dan berkata, "Mereka sepertinya ingin memancing ikan besar sekaligus. Mereka ingin menangkap kita semua.
Macan Emas juga merasa ucapan Jansen masuk akal. Dia baru hendak melapor, tetapi dia tiba-tiba menemukan markas musuh di sebuah jurang di depan mereka.
Markas musuh itu terletak di bawah jurang yang sangat dalam.
"Lapor, ditemukan markas musuh yang tidak dijaga ketat di dekat sini. Namun, dari tampak luar, markas itu sepertinya hanya markas tingkat divisi!"
Macan Emas menyampaikan laporan dengan penuh semangat.
Sekujur tubuh Macan Hitam pun bergetar, "Ayo serang sekarang, hancurkan markas musuh!"
"Tapi, Dokter bilang bahwa ini mungkin saja adalah sebuah jebakan!" Macan Emas kembali melaporkan.
Macan Hitam mengerutkan kening sambil berpikir keras.
Di sebelahnya, Arthur tiba-tiba tersenyum sambil berkata, "Lagi pula, ayahku adalah orang yang lihai menyusun strategi, mungkin saja dia sedang merencanakan perangkap untuk menjebakmu!"
Meskipun Arthur tidak ikut latihan militer, Arthur hanya mampu mengemukakan pandangannya sendiri karena sama sekali tidak mengetahui situasi pertempuran yang sebenarnya.
Tentu saja, keputusan terakhir tergantung pada Macan Hitam.
"Karena kita sudah ada di sini, kita tidak boleh kembali dengan tangan kosong. Jika itu memang benar adalah markas musuh, kita akan melewatkan kesempatan menang hanya karena berpikir terlalu banyak!"
Macan Hitam menganalisis, "Lagi pula, aku menerima informasi bahwa pertempuran di garis depan sangat sengit. Beberapa markas musuh telah dimusnahkan. Karena itu, pasukan musuh seharusnya berada di garis depan sekarang!"
"Terus laksanakan perintah!"
Setelah menerima perintah, Tim Macan pun terus bergerak maju.
"Macan Tutul, Putri, ikuti aku!"
Jansen telah melihat ada sesuatu yang tidak beres. Jansen langsung menduga bahwa tidak ada seorang pun di dalam markas itu. Namun, Jansen malu untuk mengungkapkannya.
Lagipula, ini kelihatan mencurigakan!
Jansen mengajak Glenn dan Amanda diam-diam mencari jalan untuk mundur.
Macan Hitam melihat tiga titik cahaya di layar sedang berjalan mundur dan marah besar, "Siapa yang tidak mematuhi perintah?"
"Sepertinya... sepertinya Dokter, Macan Tutul, dan Putri!"
__ADS_1
Macan Emas menoleh ke belakang dan tidak bisa berkata apa-apa melihat mereka melanggar perintah di medan perang.
"Dasar Bajingan, kalau dia kembali, aku akan membuatnya menderita!"
Macan Hitam menggertakkan giginya dengan marah dan memerintahkan, "Segera serang markas mereka!"
"Serang!"
Macan Emas juga terpaksa tidak menghiraukan Jansen dan yang lainnya. Dia mengayunkan tangan sambil mengeluarkan perintah.
Namun, sebelum mereka sempat memasang bom, para tentara dalam jumlah besar tiba-tiba bergegas mengepung mereka sambil memegang senapan mesin ringan dan langsung menembaki mereka.
Selain itu, di tengah jalanan yang mereka lalui saat datang, para tentara dalam jumlah besar pun langsung datang melakukan penyerbuan.
"Kita sudah tertipu!"
Macan Emas diam membatu.
Bang!
Sebuah peluru cat melesat di kepala, orang itu pun mati terbunuh seketika.
Bang! Bang! Bang!
Kemudian, Macan Tanah, Macan Terbang dan anggota pasukan lainnya juga mati terbunuh.
"Kita sudah tertipu, seluruh pasukan kita telah mati terbunuh!"
Macan Hitam melihat ke layar dengan wajah sedih.
Mereka yang pergi ke markas divisi benar-benar mengambil risiko hidup dan mati.
Setidaknya, tim Elang dan tim Serigala berada dalam keadaan aman karena mereka pergi ke markas tingkat batalion dan markas tingkat resimen.
Dengan ini, Tim Macan pun kalah dari tim lain.
"Tunggu, lihat ke layar, masih ada tiga orang yang hidup, mereka sedang mundur untuk melarikan diri dari kepungan musuh!"
Tiba-tiba, Arthur menunjuk ke sudut layar.
Macan Hitam sontak terkejut. Dia teringat bahwa ketiga orang yang menjadi pembelot adalah Jansen dan dua orang lainnya.
Macan Hitam pun langsung terdiam. Mereka bertiga telah menjadi pembelot dan merupakan anggota Tim Macan yang masih hidup.
"Dokter, Macan Tutul, Putri, segera temukan cara untuk mendekati markas dan langsung hancurkan markas itu!" Macan Hitam buru-buru mengeluarkan perintah.
Kemenangan sudah ada di depan mata, Macan Hitam tidak boleh menyerah.
Namun, di layar, Jansen dan yang lainnya terlihat sudah berlari semakin menjauh.
"Bajingan!"
Macan Hitam berulang kali mengumpat.
Arthur diam-diam tersenyum getir. Saat pertama kali bertemu dengan Jansen, data telah menunjukkan bahwa Jansen ini adalah seorang tentara keras kepala. Sekarang, data itu ternyata memang benar.
Di tempat lain, pria tua itu melihat ke layar sambil mengangguk dengan perasaan puas.
__ADS_1
"Lapor, dua belas anggota Tim Macan telah berhasil ditumpas!"
"Tunggu sebentar, ada tiga orang lagi yang sudah kabur!"