
Widya menatap Jansen di kejauhan dan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa kok. Aku hanya meminta materi pelajaran padanya!"
Dia tahu karakter Roger dan yang lainnya. Jika dia mengatakan perkataan Jansen yang tadi, Jansen pasti akan bernasib buruk.
Ia berharap bisa memberikan kesempatan bagi Jansen untuk pergi.
Roger mengerutkan kening dan merasa bahwa sepertinya telah terjadi sesuatu. Tapi, saat ini seseorang berteriak dari jauh, "Roger, pertandingan basket telah dimulai. Cepat kemari!"
Roger harus menahannya dulu untuk sementara, dia membawa Widya dan yang lainnya pergi ke lapangan basket.
Melihat Widya pergi, Jansen menggelengkan kepalanya. Dia hanya membutuhkan beberapa tetes darah, mengapa begitu merepotkan?
Apakah dia harus menggunakan kekerasan?
"Pak Jansen, Departemen Sastra dan Seni kita akan mengadakan pertandingan basket dengan Departemen Olahraga. Apakah kamu ingin datang dan menontonnya?"
Saat dia hendak beranjak pergi, dia melihat dua anak muda memegang sekardus air mineral berlari keluar kantin. Yang satu pendek dan yang satunya lagi kurus, mereka sepertinya kewalahan membawa sekardus air mineral.
"Pak Jansen, ini adalah pertandingan basket Departemen Sastra dan Seni kita. Sebagai seorang dosen, tidak ada alasan bagimu untuk tidak membantu!"
Pemuda pendek itu berkata sambil terengah-engah.
Jansen tidak memiliki ingatan tentang mereka dan bertanya, "Apakah kalian dari kelas kami?"
"Tentu saja, siang tadi aku baru mengambil kelasmu. Aku dipanggil Mondi!" ucap pemuda kurus itu.
"Aku dipanggil Karl!"
Mahasiswa pendek di sampingnya juga ikut menyapa.
Jansen baru saja menghadiri satu kelas, tentu saja dia tidak mengenal mereka. Akan tetapi, melihat betapa antusiasnya mereka, mungkin mereka ingin dirinya membantu membawa air mineral itu.
"Ayo pergi dan lihat!"
Melihat kerja keras mereka, Jansen juga berencana untuk membantu. Dia seorang diri membawa tiga kardus air mineral dan berjalan menuju lapangan.
"Pertandingan ini di selenggarakan oleh Seira. Orang-orang dari Departemen Basket juga ikut bertanding. Katanya bila tidak memenangkan 20 poin, mereka dianggap kalah!"
"Sejujurnya, ini cukup aneh. Hanya ada lima anak laki-laki di kelas kami. Selain Tobi, kemampuan dua lainnya hanya rata-rata. Bagaimana bisa mereka dibandingkan dengan departemen basket?!"
"Mondi, jangan menaikkan moral orang lain dan menghancurkan kekuatanmu sendiri!"
Keduanya berjalan sembari berbicara.
Jansen menggelengkan kepalanya diam-diam. Satunya adalah Departemen Sastra dan Seni, dan yang lainnya adalah Departemen Basket. Sekali lihat juga mereka tidak perlu bertanding. Dia tidak mengerti mengapa Seira menyetujuinya.
Setelah mendekati lapangan, terlihat spanduk yang tergantung di lapangan dengan tulisan "Tantangan Basket Departemen Sastra dan Seni dengan Departemen Basket" di atasnya.
Pertandingan yang cukup besar!
Apalagi ada banyak orang yang menonton pertandingan itu. Ada beberapa penggemar basket sedang menyemangati tim Departemen Basket.
__ADS_1
Sebenarnya, alasan utama mengapa ada begitu banyak orang adalah karena ada begitu banyak gadis cantik yang terkenal di Departemen Sastra dan Seni. Kebanyakan orang datang untuk melihat gadis cantik.
Sementara itu, beberapa mahasiswa perempuan mendatangi Departemen Basket.
Departemen Basket dipenuhi dengan pria tinggi dan tampan, melihat mereka bermain dapat memuaskan mata.
"Kapten untuk Departemen Sastra dan Seni kami adalah Tobi, dan kapten Departemen Basket adalah Roger. Aku dengar mereka berdua sangat terkenal. mereka menarik perhatian Asosiasi Basket Huaxia dan bahkan mereka diundang untuk berpartisipasi dalam kamp pelatihannya. Tapi, mereka tampaknya tidak tertarik dengan basket profesional, mereka telah beberapa kali menolaknya!"
"Pak Jansen, kamu lihat orang berkacamata itu. Dia adalah seorang pengamat basket!"
"Sejujurnya, pihak kita pasti akan kalah. Semua orang bergegas mendukung Roger. Selain itu aku mendengar bahwa Roger tidak berencana untuk kalah dan akan bermain serius."
Setibanya di sisi lapangan, Mondi dan Karl tidak henti memperkenalkan Jansen.
Jansen melihat sebentar dan tahu bahwa kebanyakan orang tidak optimis dengan Departemen Sastra dan Seni. Bagaimanapun, Tobi adalah satu-satunya yang jago di sini
Dia mengalihkan pandangannya dan menemukan Widya yang sedang menjadi pemandu sorak. Sosok gadis ini yang mengenakan seragam tim pemandu sorak terlihat cukup bagus.
Tak lama kemudian, Jansen menatap Roger lagi dan melihat Roger sedang menatap Widya. Kemungkinan karena adanya Widya makanya dia ingin menggunakan kekuatan penuhnya.
"Mondi, Karl, kenapa kalian diam saja? Cepat bawa air mineralnya!"
Saat ini, Seira berteriak dari sisi seberang.
"Pak Jansen!"
Baik Mondi dan Karl menatap Jansen dan memberi isyarat agar Jansen membantu.
Karena sudah berencana membantu, Jansen pun membantu mereka sampai akhir dan membantu mereka untuk membawa air mineral.
"Pak Jansen?"
Seira kaget saat melihat Jansen datang. Kemudian wajahnya berubah menjadi bangga. Sudah waktunya bagi penipu ini untuk melihat betapa kuatnya Kak Roger'
"Kalian Cepatlah pergi menjadi pemandu sorak!"
Seira berkata pada Mondi dan Karl lagi.
"Ah, kami jadi pemandu sorak?"
Mondi dan yang lainnya menunjuk diri mereka sendiri dengan ketidakpercayaan di wajah mereka.
"Para perempuan di kelas kita semua bersorak untuk Departemen Basket. Kelas kita tidak bisa kehilangan tim pemandu sorak. Kalau kalian tidak melakukannya, siapa yang akan melakukannya?" Seira memarahinya sambil bertolak pinggang.
Kedua orang itu tidak berani melawan. mereka memegang pom-pom dan berlari pergi untuk menjadi pemandu sorak.
Jansen terdiam untuk beberapa saat. Setelah lulus, kedua orang ini mungkin akan takut pada perempuan mereka dan hidup bergantung pada perempuan.
Saat ini, pertandingan basket telah dimulai.
Karena jumlah laki-laki dari Departemen Sastra dan Seni tidak cukup, mereka bermain tiga lawan tiga. Akan tetapi, ketika kedua tim berjalan ke lapangan, kesannya mereka seperti langsung terbagi antara yang kuat dan yang lemah.
__ADS_1
Di sisi Departemen Sastra dan Seni, Tobi bertubuh tinggi dan berotot, sementara dua orang lainnya memiliki tinggi yang biasa.
Kemudian melihat Departemen basket, ketiganya sangat tinggi, terutama Roger. Dia tinggi dan tampan seperti selebriti
Bahkan pengamat dari Asosiasi Basket Huaxia yang menonton dari sisi lapangan juga merasa bahwa Roger memiliki kualitas seorang pemain basket profesional.
"Ada begitu banyak gadis cantik. Ini adalah panggung untuk Tobi. Biar kuberi tahu kalian, kita harus memenangkan pertandingan Gadis-gadis cantik itu milikku, dan tepuk tangan itu milikku. Aku akan membawa Departemen Sastra dan Seni mengalahkan Departemen Basket!"
Saat ini, Tobi berteriak dan berlagak.
"Tobi, dasar narsis, diamlah. Kalau kamu tidak kalah 20 poin barulah kamu menang!"
Seira memarahinya dari kejauhan.
"Seira, kamu terlalu meremehkanku. Aku pernah ke kamp pelatihan NBA dan kembali. Stephen Curry mengatakan bahwa aku memiliki potensi untuk bermain di NBA!"
Tobi menyahutinya dengan tidak rela.
Akan tetapi hanya suaranya yang saling berbalasan dengan ejekan dari sejumlah besar mahasiswa perempuan. Semua mahasiswa perempuan memandang Roger dengan antusias.
Ekspresi Roger sangat tenang. Dia mengabaikan sekitarnya dan mendiskusikan taktik dengan rekan satu timnya.
"Pak Jansen!"
Ketika Jansen sedang menonton, terdengar suara dari sampingnya dan dia melihat Widya berjalan mendekat.
Dia perawakan yang bagus, kedua kakinya ramping, mengenakan rok pendek dan yang paling utama adalah tubuh bagian atasnya juga montok.
"Ada apa?"
Jansen masih ingin mengatakan kondisinya, namun pada kesempatan kali ini, dia berpikir untuk membiarkannya.
Namun, perawakan Widya benar-benar bagus. Ketika dia dewasa, dia mungkin tidak akan kalah dengan kecantikan Elena.
"Kamu jangan mendekatiku lagi, kalau tidak aku tidak dapat menahan Roger!"
Widya berkata dengan ragu.
Jansen tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku mendekatimu tanpa niat apa pun. Aku hanya ingin sesuatu darimu!"
"Ah, kamu!"
Widya mundur tanpa sadar. Dia menginginkan sesuatu darinya? Apa dia penjahat?
"Sudah dimulai!"
Saat ini, pertandingan basket telah dimulai. Terlihat bola dilempar dan didapatkan oleh pria besar setinggi 1,9 meter. Tobi ada di pihak Departemen Sastra dan Seni, tapi Tobi jelas tidak bisa melewatinya.
Bola segera mendarat di tangan Roger dan dia segera mengoper bola tersebut. Selain memiliki tinggi 1,78 meter, meskipun tampaknya tidak tinggi, tapi keterampilan bermainnya sangat hebat dan sosoknya juga fleksibel!
Setelah beberapa kali mengoper, bola kembali ke tangan Roger. Roger melompat tinggi dan melakukan dunk yang elegan!
__ADS_1