
Pada saat ini, Jansen kembali menaiki mobil Tuan Dean.
Tuan Dean dan Matthew sama-sama terdiam kali ini. Seni beladiri tingkat tinggi memang sangat berbeda, mampu mengubah dunia bawah dengan cukup mudah.
Khususnya Tuan Dean, saat teringat perseteruannya dengan Lorry yang berlangsung bertahun-tahun, dia justru tidak berani membuat ulah dengan pria ganas itu. Tapi sekarang, pria ganas itu tumbang hanya dalam waktu sekejap saja. Hal ini pun membuatnya tak habis pikir.
Siapa pun bos atau pimpinannya, jika kalah bertarung melawan master beladiri, maka tetap saja bagaikan daun bawang!
Diam-diam Tuan Dean berterima kasih pada Matthew karena telah memperingatkannya di awal untuk tidak membuat ulah dengan Jansen. Jika tidak, dirinya akan bernasib sama dengan Lorry saat ini.
Malam hari di Ibu kota sangat dingin. Perguruan tinju Elang termasuk berada di area pinggiran kota. Tidak ada orang yang terlihat di sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba, muncul sesosok bayangan di hadapan mereka. Orang itu sedang membawa benda berwarna hitam dan berdiri di tengah jalan!
"Apakah mereka cari mati!"
Tuan Dean pun terkejut. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tidak biasa. Sejauh mata memandang, dia akan menabrak orang itu!
Brak!
Pria itu mengulurkan telapak tangannya dan langsung menghantam mobil. Suara "Brak" pun terdengar sangat kencang dan membuat mobil seketika berhenti. Bekas telapak tangan yang dalam pun terlihat di kap mesin!
Keringat dingin Tuan Dean mengalir dengan derasnya. Saat dia melihatnya dengan saksama, ternyata orang yang ada di depannya adalah Jorell.
Hal yang sama dirasakan oleh Matthew. Jorell menghentikan perjalanan mereka sembari membawa sebuah peti mati!
Dia pun langsung mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Sudah pasti kedatangan Jorell adalah untuk membalaskan dendam putranya!
"Turun!"
Di bawah sinar langit malam, suara Jorell terdengar berat.
Tuan Dean dan Matthew tentu saja tidak berani keluar. Namun, saat ingin turun, tiba-tiba terdengar suara Jansen yang menghentikan mereka, "Kalian berdua pergi saja dulu, tunggu aku di persimpangan jalan depan sana!"
Setelah mengatakannya, Jansen pun turun dari mobil.
Tuan Dean tertegun sejenak. Selang beberapa saat, barulah dia menyalakan mesin dan pergi dari lokasi. Sedangkan Jorell sendiri tidak menghentikan mereka, karena tujuan utamanya tentu saja adalah Jansen.
Setelah mobil melaju pergi, kondisi jalan pun nampak lengang, hanya menyisakan mereka berdua di tengah jalan yang terpisah.
Malam semakin larut, angin pun bertiup dengan kencang. Hawa dingin pun merasuk ke dalam tubuh!
Brak!
Jorell melempar peti mati yang dibawanya ke jalan sembari berucap, "Dengar-dengar, konflik yang terjadi antara dirimu dan anakku adalah karena anggur Baimo. Sekarang, akan aku kembalikan anggur itu padamu. Dan juga, semua hutang keluarga Miller aku anggap lunas. Karena memang kamu pemenang hari ini!"
"Sebagai pimpinan Sekte, Master Jorell pasti tidak hanya datang. untuk mengatakan hal itu bukan!?" ucap Jansen sembari tertawa ringan.
"Tentu saja. Perselisihan antara dirimu dan anakku sudah berakhir. Tapi, permasalahan antara kita berdua masih belum selesai!" ucap Jorell, "Kamu telah membuat anakku
cacat, itu artinya aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
Jansen menggelengkan kepalanya, "Aku dan anakmu berada dalam pertarungan antara hidup dan mati, bukankah hal wajar jika aku melakukannya? Bahkan, aku hanya
membuatnya cacat, tanpa langsung membunuhnya. Tapi kamu justru datang untuk membunuhku!"
"Hahaha!"
Jorell tertawa dengan ganas, "Beginilah situasi di dunia Jianghu. Siapa pun yang mempunyai kekuatan besar, maka dia berhak menentukan nasib seseorang. Aku ingin membunuhmu dan tentu saja, tidak ada yang akan menghentikanku!"
"Kamu lihat peti mati itu? Peti itu aku siapkan untukmu!"
__ADS_1
Suara Jorell menyimpan niat membunuh yang sangat kuat. Tatapan matanya seolah ingin mencabik-cabik Jansen sekarang juga.
Tapi segera dia justru tertegun saat ini.
Karena dia melihat Jansen masih tenang sampai detik ini. Setenang seorang kutu buku yang sedang asik membaca buku!
Dalam situasi pelik seperti ini, apa tidak ada perubahan suasana hati pada dirinya?
"Peti mati itu masih belum pasti untuk siapa. Untukku atau justru untukmu sendiri!" Barulah pada saat ini Jansen menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Hentikan omong kosongmu, cepat berikan nyawamu padaku!"
Jorell nampak kesal, di tangannya pun muncul sebuah pisau dengan warna biru di bagian tubuhnya. Dan aura membunuh telah memenuhi suasana dingin malam.
Ilmu pedangnya memang sangat hebat. Saat lima orang penembak melesatkan peluru padanya dengan jarak 10 meter, dia mampu membuat peluru-peluru itu sulit untuk
mendekatinya.
Dan yang paling mengerikan lagi adalah ilmu ringan badan yang merupakan delapan langkah triagram Awan.
Sekte Awan merupakan sekte yang telah lama malang melintang di dunia Jianghu. Didirikan oleh leluhur Tai Bo dan Dahyong. Ilmu ringan badannya menjadi salah satu yang terkuat di masanya. Sangat mudah untuk mereka melakukan perjalanan sejauh 800 mil jauhnya setiap hari.
Jorell seolah lenyap dari pandangan.
Hanya ada salju yang melayang turun dari Surgawi. Tapi jika diamati secara saksama, butiran salju yang turun nampak terbelah menjadi dua.
Jansen tidak bergeming sedikitpun. Dia bahkan masih sempat menundukkan kepala menyalakan rokok.
Jorell semakin geram. Dengan menggunakan ilmu ringan badan dan sebuah pisau di tangannya, Jorell menyerang ke arah leher Jansen.
Ilmu ringan badannya memang sangat mumpuni, begitu juga dengan energi Qi serta ilmu pedangnya. Satu serangannya saja mampu membelah mobil menjadi dua bagian.
Tiba-tiba... angin kencang bertiup ke arahnya.
Hufft!!!
Sosok Jorell akhirnya terlihat, masih dengan posisi menyerang Jansen dengan pisau. Hanya saja, pergerakan pisaunya nampak terhenti oleh jepitan sesuatu!
Betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan ini!
Sekali lagi dia melihat ke arah Jansen. Pemuda ini nampak santai dengan 1 tangan memegang rokok dan 1 tangannya lagi menjepit pisau!
Huh!
Jansen menghembuskan asap rokoknya ke udara sembari berkata, "Jorell, sejujurnya, kedatanganku malam ini ke tempatmu memang untuk melawanmu!"
Jorell pun akhirnya merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Hanya ada setengah dari pimpinan Akademi Tiga Belas yang berani menerima langsung serangannya ini. Tapi, tidak ada satupun yang menerimanya hanya dengan menjepitnya saja.
Dan asal diketahui, serangannya ini mampu membelah mobil menjadi 2 bagian. Apa mungkin tangan Jansen terbuat dari besi?
"Kamu, siapa kamu sebenarnya!" tanya Jorell dengan sungguh-sungguh.
"Aku Jansen, mantan menantu dari keluarga Miller!"
Jansen berkata dengan dingin, "Tahu kenapa aku menunggu kedatanganmu? Karena... kamulah yang membunuh kakek Miller. Dan aku di sini, mewakilkannya untuk mencari sebuah keadilan!"
"Bagaimana kamu tahu semua ini!"
Jorell mulai merasa panik!
__ADS_1
Di malam yang semakin larut dan angin yang bertiup kencang, awalnya dia yang ingin memberikan tekanan psikologis pada Jansen. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Di jalanan yang tampak lengang ini, justru dia sendiri yang
mengalami tekanan.
Seolah-olah orang yang berdiri di depannya saat ini adalah hantu jahat Asyura!
Dan yang lebih mengerikannya lagi adalah tidak banyak orang yang tahu tentang misi itu. Terus bagaimana Jansen bisa tahu berita itu!?
"Kamu bukan menantu keluarga Miller! Siapa kamu sebenarnya!?"
Jorell memiliki niatan untuk mengetahui siapa jati diri Jansen yang sebenarnya.
"Untuk saat ini, aku memang bukan menantu dari keluarga mereka lagi. Jika harus dikatakan, aku adalah seorang dokter!"
Jansen menghembuskan asap rokoknya, profound Qi pun keluar dan terdengar suara klek! Dan ternyata, pisau milik Jorell hancur berkeping-keping.
Jorell pun tersentak. Pisau miliknya mampu memotong besi seperti sedang memotong lumpur. Tapi sekarang hancur dengan begitu mudahnya!?
Energi Qi macam apa yang bisa membuat kekuatan mengerikan seperti ini!
"Jansen!"
Teriak Jorell pada Jansen. Dia pun mengeluarkan segenap kekuatan ilmu ringan badannya untuk menjauh dari Jansen.
Dia bahkan ingin segera memberitahu organisasi jika ada seseorang yang telah menemukan keberadaan mereka!
Tapi pada saat ini, cahaya pedang berkedip dan segera pergerakannya begitu cepat!
Jorell tak lagi berani bergerak. Di depan lehernya, telah nampak sebuah pedang yang siap kapan saja menebas lehernya.
Pupil matanya terus bergetar
Sebelumnya, dia telah menggunakan langkah 8 triagram Awan. Tapi pergerakan Jansen masih saja lebih cepat, seolah-olah pemuda itu sangat familiar dengan ilmu ringan badannya ini.
"Maaf... aku sudah melihat ilmu ringan badan ini saat melawan anakmu tadi. Anggap saja aku sudah paham mengenai ilmu itu," ucap Jansen dengan satu tangannya menggenggam pedang.
Jorell seolah tersambar petir untuk kedua kalinya. Apa mungkin saat melawan anaknya tadi, Jansen kemudian mempelajarinya dan berhasil?
"Tujuanmu bukankah untuk membalaskan dendam kakek Miller? Apa mungkin kamu akan membunuh semua para pembunuh itu?"
Jorell kembali merasa gelisah. Sampai kapan pun dia tidak bisa membayangkan. Di saat keluarga Miller runtuh dan tidak ada yang tahu siapa pembunuh kakek Miller, justru muncul orang yang mengaku-ngaku sebagai menantu keluarga tersebut dan akan menuntut balas. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, orang itu mampu menemukan dirinya.
Pikirannya juga kembali kacau. Teringat akan seseorang yang menjadi kambing hitam dalam kematian kakek Miller, apa mungkin adalah sosok Jansen ini!
Berdasarkan kabar yang beredar, Jansen adalah seorang yang pengecut.
Tapi sekarang?
Keluarga Miller-lah yang saat ini menjadi pengecut. Yang benar-benar mengerikan justru terletak pada sosok menantu ini!
Memikirkan hal ini, dia pun berteriak dengan panik, "Tunggu dulu, masalah ini hanya kesalahpahaman!"
Wuush!
Jansen menebaskan pedangnya dan dilanjutkan dengan sebuah tendangan ke arah Jorell Sebuah goresan muncul di leher, Jorell pun memegang lehernya dengan sangat erat. Hanya saja, tetap tak bisa menghentikan darah yang terus mengucur.
"Kesalahpahaman? Jelaskan pada Kakek Miller di neraka!"
Jansen menarik kembali pedangnya dan berbalik, "Jalan dunia Jianghu sangat jauh, pakai jaketmu dan lebih baik mundur saat ini!"
Jalan dunia Jianghu sangat jauh, kenakan jaket dan lebih baik mundur saat ini!
__ADS_1