Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1488. Kecurigaan


__ADS_3

"Tuan Roman kemarin merayakan ulang tahunnya, orang-orang terkemuka di seluruh kota diundang untuk bersenang-senang. Akhirnya dia mengingatku hari ini!"


ujar Ghalinus tersenyum, dia mengikuti kepala pengurus ke arah Rolls Royce tersebut dan tiba-tiba bertanya, "Kamu adalah kepala pengurus Tuan Roman, 'kan? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?"


"Bos Ghalinus, saya biasanya bertanggung jawab atas urusan internal Keluarga Vindes. Saya jarang mengikuti Tuan Roman. Tuan Joki yang mengikuti Tuan Roman minum terlalu banyak kemarin dan masih tidur sampai sekarang!"


Pria tua itu mengemudikan mobil dengan cermat dan berkata sambil tersenyum, "Tuan Joki ini, dia jelas-jelas tidak bisa minum, tetapi masih saja minum. Bukankah itu memalukan, pagi tadi dia ditertawakan oleh Tuan Roman!"


Ghalinus tidak terlalu memikirkannya dan berkata dengan ringan, "Tuan Roman sangat senang akhir-akhir ini, aku bisa paham kalau dia minum beberapa gelas lagi!"


"Bos Ghalinus tadi membicarakan tentang Dokter Jansen?" tanya pria tua itu.


"Tentu saja, Dokter Jansen adalah orang yang hebat, setelah datang ke wilayah selatan, dia menekan Tuan Roman. Sekarang Jansen sudah mati dan seluruh Kota Yanba adalah milik Keluarga Vindes, bagaimana mungkin Tuan Roman tidak bahagia!"


Ghalinus berpikir bahwa pria tua ini tidak tahu alasannya.


"Bos Ghalinus, saya dengar Jansen cukup kuat. Bagaimana Anda bisa yakin bahwa dia sudah mati?" tanya pria tua itu.


"Haha, sebagai anggota Keluarga Vindes, kamu tidak memercayai Tuanmu sendiri?" ujar Ghalinus menyipitkan mata.


Pria tua itu buru-buru berkata, "Saya tidak khawatir dengan Tuan Roman, saya hanya takut dia tertipu!"


"Kamu mengkhawatirkannya!"


Ghalinus tertawa dan berkata, "Sebenarnya, berdasarkan apa yang baru saja kamu katakan, aku ragu kamu adalah anggota Keluarga Vindes atau bukan, tetapi kamu mengatakan bahwa kamu mengkhawatirkan Tuan Roman, itu bisa dimengerti. Jangan khawatir, Jansen diracuni oleh Grup Teknologi Global biarpun Dewa kembali, dia tidak akan bisa menyelamatkan Jansen!"


"Kalau begini saya merasa lega!" ujar pria tua itu sambil mengangguk senang.


Namun, Ghalinus mengingatkan, "Kamu bisa mengatakan apa yang baru saja kamu katakan kepadaku. Jangan beri tahu orang lain, kalau tidak, orang akan curiga bahwa kamu adalah mata-mata!"


"Kalau nanti kamu dicurigai, jangan merentangkan tangan, lalu beri tahu semua orang, 'Sebenarnya aku adalah bawahan Jansen!"


Canda Ghalinus , makin banyak dia berbicara, dia makin senang.


"Hahaha!"


Wajah pria tua itu sedikit canggung dan dia ikut tertawa.


Rolls Royce segera berhenti di kediaman Keluarga Vindes. Ghalinus menyalakan sebatang rokok dan tanpa sadar melihat ke arah gerbang.


Bukannya dia curiga, tapi itu memang kebiasaan yang dia lakukan selama bertahun-tahun.


Ghalinus melihat orang-orang dari Keluarga Vindes menjaga gerbang. Mereka semua masih sangat muda dan mengenakan baju tradisional. Terdengar suara tawa keras dari waktu ke waktu, sepertinya suasana perayaan ulang tahun kemarin masih sama.


"Tuan Roman makin tua dan makin suka bersenang-senang!"


Tiba-tiba, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "Buaya, apakah keluargamu datang ke Keluarga Vindes untuk merayakan ulang tahunnya kemarin? Bagaimana perayaannya?"


"Bos Ghalinus, kenapa kamu tidak datang kemarin? Perayaan ulang tahunnya sangat meriah, kamu bisa minum anggur terkenal dari pagi hingga malam, bahkan Chateau Lafite Rothschild juga tersedia!"


"Ayahku minum terlalu banyak kemarin, jadi aku membawanya pulang!"

__ADS_1


"Apakah ada masalah?"


Ketika lawan bicaranya berbicara tentang Tuan Roman, dia juga merasa sangat bersemangat.


Setelah mendengar lawan bicaranya di telepon, Ghalinus tersenyum dan berkata, "Bukan ара-ара, aku hanya ingin melihat apakah Tuan Roman pelit pada hari ulang tahunnya!"


Ghalinus menutup telepon, lalu dia kembali menelepon beberapa kenalannya.


Kenalan Ghalinus semuanya adalah orang terkemuka di Kota Yanba dan mereka juga diundang oleh Keluarga Vindes, jadi dia mendengarkan pendapat-pendapat mereka.


Bukannya dia curiga!


Kerja samanya dengan Roman sejak awal sudah penuh kecurigaan satu sama lain.


Misalnya, pertama kali saat Roman mengajaknya bertemu di taman, Roman bahkan menggunakan Master untuk mengujinya, dia sepertinya ingin mengujinya kembali hari ini.


Setelah beberapa kali menelepon, semua hasilnya sama. Perayaan ulang tahun Tuan Roman terkenal di seluruh kota. Bahkan foto berjabat tangan dipost secara diam-diam dan menyebabkan banyak penggemar menghela napas karena dunia orang kaya sulit dimengerti.


"Tuan Roman sudah melepaskan dirinya sejak dia memimpin Kota Yanba lagi!"


Roman tidak lagi mencurigakan, lalu Ghalinus memasuki kediaman Keluarga Vindes.


Pada saat memasuki rumah, dia mengerutkan kening, bertahun-tahun menjilati darah membuatnya merasa bahwa Keluarga Vindes memiliki aura berdarah.


Tiba-tiba, dia ingat bahwa seorang kenalan baru saja mengatakan bahwa Tuan Roman menangkap pemilik toko tumisan kerang untuk melampiaskan amarahnya.


Ini pasti darah orang-orang itu.


Saat ini, dia tidak tahu bahwa kenalan yang baru saja dia telepon semuanya pisau digantung di lehernya mereka.


Orang-orang ini ada di rumah atau di hotel, sauna, bar dan lainnya.


Orang yang menculik mereka adalah Dragon Hall.


Dapat dikatakan bahwa mereka yang menghadiri perayaan ulang tahun Keluarga Vindes hari itu semuanya diculik.


Ghalinus memegang rokok dan berjalan dengan angkuh ke depan. Para pelayan Keluarga Vindes yang dia temui di jalan juga menyapanya satu demi satu.


"Di mana tuanmu!" ujar Ghalinus.


"Tuan Ghalinus bisa menunggu di ruang tamu!"


jawab seorang pelayan dengan sopan.


"Kamu lumayan, meskipun sudah tua, kamu memiliki sosok yang baik. Aku akan bicara dengan Tuan Roman nanti dan membiarkanmu mengikuti aku. Mulai sekarang, kamu akan hidup nyaman!"


ujar Ghalinus kepada pelayan itu, lalu dia memasuki ruang tamu sambil tersenyum.


Tidak ada pelayan di ruang tamu itu, hanya ada satu orang yang sedang duduk di kursi utama dengan tenang, yaitu Roman.


"Tuan Roman, apa yang kamu lakukan, duduk di sana hampir sepanjang hari?" kata Ghalinus, dia berjalan menuju Roman.

__ADS_1


Roman masih tidak bergerak, hanya bola matanya yang berkedip dengan sedikit rasa kepanikan, keputusasaan dan kematian.


Ghalinus awalnya tidak peduli, tetapi lama-lama dia merasa ada yang tidak beres. Logikanya, ketika Roman melihat dirinya, Roman seharusnya mengambil inisiatif untuk menyapa!


Apalagi tatapan mata Roman sangat aneh.


Ghalinus berhati-hati, berhenti berjalan, lalu berpikir.


Mungkinkah penyakit orang tua Roman kambuh?


Namun, kalau penyakitnya kambuh, kenapa para pelayan di rumah tidak tahu?


Mungkinkah Roman sedang ditahan?


Tidak mungkin, siapa orang di Kota Yanba yang berani menahan Roman.


Selain itu, Roman saat ini tidak memiliki musuh, kalau adapun itu adalah Jansen yang sudah mati.


"Tuan Roman, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ghalinus berpura-pura santai.


Roman masih tidak bergerak, hanya matanya yang berkedip-kedip.


Jantung Ghalinus berdebar kencang, dia merasa ada yang tidak beres. Dia tersenyum dan bertanya, "Tuan Roman, apakah kamu sendirian di ruang tamu ini? Kenapa tidak ada pelayan yang melayaniku!"


Ghalinus mencoba mencari tahu apakah ada pembunuh yang bersembunyi di ruang tamu.


Mata Roman melotot lebih ganas lagi, seolah-olah dia telah melihat iblis.


Ghalinus tersentak, mengetahui bahwa pasti ada yang tidak beres, dia juga sedikit takut karena bahaya yang tidak diketahui itu biasanya selalu lebih menakutkan.


"Siapa!"


Ghalinus mundur selangkah.


DuarTT!


Pintu dan jendela ruang tamu tiba-tiba tertutup oleh pintu besi. Ruang tamu itu langsung menjadi gelap.


Tidak diketahui!


Takut!


Kedua konsep itu melekat di benak Ghalinus, membuat seluruh tubuhnya gemetar karena ketakutan, kekuatan obat gen juga bekerja pada saat yang bersamaan!


Pada saat itu, tercium bau yang familier.


Bau itu memang sedikit familier!


Kalau dipikir-pikir, Ghalinus tidak bisa mengingat dari siapa bau itu berasal.


Namun, dia yakin pernah mencium bau itu.

__ADS_1


__ADS_2