
Seluruh orang di restoran juga memandang Joshua.
Beberapa orang menertawakannya, beberapa oang bersimpati padanya. Ada juga yang merasakan hal serupa dengan dirinya.
Di mana pun dan kapan pun itu, seorang pria akan kehilangan martabat saat dirinya tidak punya uang.
"Ini pacarmu, kan? Dia cantik. Katakan padaku apa pekerjaan dia?"
Tuan Muda Jerry tiba-tiba melirik Cathy dan duduk di samping sambil memeluk pinggang Cathy.
"Hai Cantik, aku Jerry Harper boleh dibilang seorang tokoh terkenal di Ibu Kota. Di bawahku ada delapan perusahaan, vila dan rumah mewah. Kamu mau ikut denganku?"
"Jika kamu itu adalah bos perusahaan, maka aku bisa langsung membuat perusahaanmu masuk seratus besar perusahaan top di Huaxia. Namun, jika kamu hanya seorang karyawan, maka aku bisa kasih kamu gaji 100 ribu yuan per bulan!"
Tuan Muda Jerry menggoda Cathy yang lumayan centil sambil tertawa.
"Halo, Tuan Muda Jerry!"
Cathy tersenyum manis dan tidak merasa jijik.
"Bagus sekali! Senyumanmu itu jauh lebih indah dibandingkan senyuman pacarmu si pecundang itu! Ayo mari, kita bersulang!"
Tuan Muda Jerry menuangkan minuman sendiri lalu meneguknya. Setelah itu, dia menuangkan minuman untuk Cathy dengan gelasnya tadi.
"Terima kasih, Tuan Muda Jerry!"
Cathy bahkan tidak berpikir panjang dan langsung meneguk habis minuman itu.
Cathy berani meminum langsung dengan gelas bekas pria itu. Ini juga berarti dia sedang berciuman dengan pria itu.
Melihat Tuan Muda Jerry sedang menggoda pacarnya, Joshua sontak marah dan berkata, "Tuan Muda Jerry, dia adalah pacarku!"
Plak!
Tuan Muda Jerry lantas berdiri dan menampar wajah Joshua hingga pipinya yang gemuk itu terus bergetar.
"Apa masalahnya bila dia adalah pacarmu? Apa minum segelas saja tidak boleh?
"Boleh saja, tapi!"
Joshua tidak berani membantah dan hanya ikut tertawa.
"Bagus! Pelayan, ambilkan aku lima belas botol arak putih tradisional!"
Tuan Muda Jerry berteriak kepada pelayan. Setelah pelayan membawakan arak putih tradisional itu, Tuan Muda Jerry menuangkannya ke satu gelas dan menepuk paha Cathy sambil berkata, "Cantik, habiskan minuman ini. Kalau kamu habiskan, aku janji akan berbisnis denganmu, setuju?"
Melihat tangan Tuan Muda Jerry meraba paha Cathy, mata Joshua berubah merah.
"Ya, tentu saja, dengan senang hati!"
Cathy dengan senang hati mengambil gelas itu dan meminumnya.
"Cathy!"
__ADS_1
Joshua merasa cemas dan sekali lagi mengingatkan, "Tuan Muda Jerry, dia itu pacarku. Mohon jaga martabatku!"
"Martabat?"
Tuan Muda Jerry mencibir, "Martabat apa yang kamu miliki sekarang, Joshua? Apalagi, pacarmu sendiri tidak menolak. Kamu jangan ribut!"
"Joshua, kamu jangan ribut lagi, kamu pulang dulu, aku mau minum beberapa gelas bersama Tuan Muda Jerry!"
Amarah Joshua semakin memuncak karena Cathy malah membela Tuan Muda Jerry. Setelah selesai minum, dia menuangkan segelas lagi untuk dirinya sendiri dan berkata dengan lembut, "Tuan Muda Jerry, menurutmu aku masih harus minum lagi?"
"Haha, aku paling suka wanita pintar seperti kamu ini. Apa pekerjaanmu? Kalau kamu menganggur, ayo kerja di perusahaanku. Aku gaji kamu 100 ribu yuan sebulan!" ucap Tuan Muda Jerry sambil tertawa keras.
"Tuan Muda Jerry, aku punya perusahaan fashion design. Kebetulan sekarang aku belum punya mitra bisnis, apa Tuan Muda Jerry berkenan?"
Cathy terus berbicara karena dia tahu Tuan Muda Jerry ini juga bukan orang sembarangan. Dia pikir jika dirinya bisa membuat Tuan Muda Jerry senang, maka kontrak besar akan mudah didapatkannya.
"Tidak masalah, aku kebetulan kenal banyak orang di bidang fashion design. Aku bisa saja memberimu kontrak jutaan Yuan, itu bukan masalah besar bagiku!"
Tuan Muda Jerry tersenyum dan berkata, "Tentu saja, itu juga tergantung kamu wanita cantik ini bisa melakukannya atau tidak!"
Sambil berkata demikian, tangan Tuan Muda Jerry terus meraba paha Cathy bahkan semakin kurang ajar.
Joshua tak berdaya dan terpaksa hanya bisa berkata dengan cemas, "Cathy, kamu jangan tertipu, dia ini seorang tuan muda yang gemar wanita!"
"Joshua, diam kamu! Kalau kamu tidak bisa bantu perusahaanku, pulang saja kamu! Dasar tidak berguna!" teriak Cathy.
Tuan Muda Jerry memandang Joshua dengan hina,"Apa kamu tidak senang? Aku kasih tahu kamu, jangankan hanya minum, mau pacarmu itu menemaniku pun, kamu tidak punya hak ikut campur!"
Setelah berkata demikian, Tuan Muda Jerry memandang wajah Cathy dan berkata, "Cantik, benar tidak?"
"Bajingan! Bangsat!"
Joshua akhirnya tak bisa menahan emosi lagi. Joshua langsung mengambil botol arak putih tradisional yang ada di meja dan memecahkannya ke kepala Tuan Muda Jerry.
Prak!
Botol arak itu pecah dan isinya mengalir membasahi kepala Tuan Muda Jerry.
"Kamu berani memukulku?"
Jerry memegang kepalanya sendiri dan tiba-tiba berdiri,"Pukul dia sampai mati!"
Beberapa orang anak buah Tuan Muda Jerry mengambil kursi dan menghantamkan ke arah Joshua.
Bak, buk!
Joshua babak belur dihajar mereka. Kepalanya terluka parah dan lengannya juga terkilir.
Cathy hanya menyaksikan kejadian ini. Dia tidak membantu Joshua dan malah mengeluh bahwa Joshua telah mengacaukan urusan bisnisnya.
"Ada darah!"
Tuan Muda Jerry menyeka kepala dengan handuk. Dengan emosi yang tak tertahankan, Tuan Muda Jerry juga maju menendang dada Joshua.
__ADS_1
Duk!
Joshua terpelanting ke belakang.
Tuan Muda Jerry tiba-tiba mengambil botol minuman di atas meja dan menghampiri Joshua, "Hari ini aku pasti akan pecahkan kepalamu!"
Tuan Muda Jerry mengira dengan botol minuman itu sudah bisa memecahkan kepala Joshua.
Namun, kejadian berikutnya tidak sesuai skenario.
Tiba-tiba seseorang datang memegang botol minuman yang hendak dihantamkan ke kepala Joshua. Orang itu kemudian menendang Tuan Muda Jerry hingga terjatuh dan menghancurkan beberapa meja serta kursi.
"Jan, Jansen!"
Joshua mengira dirinya sudah pasti habis. Namun, setelah mengangkat kepalanya, dia baru sadar ternyata orang yang berdiri di samping membantunya itu adalah Jansen.
"Siapa kamu berani-beraninya ikut campur urusan bisnisku?"
Setelah dipapah oleh anak buahnya, Tuan Muda Jerry menatap Jansen dengan marah.
Jansen mengabaikannya dan membantu Joshua berdiri.
"Tuan Muda Jerry, jangan segan dengan dirinya! Dia itu teman kuliah dengan Joshua. Dia datang dari Kota Asmenia!"
Cathy tiba-tiba berteriak lagi dan menunjuk Jansen, "Kamu cepat minta maaf kepada Tuan Muda Jerry, kalau tidak maka kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini!"
Cathy merasa sangat kesal.
Awalnya, Joshua membiarkan Tuan Muda Jerry memukulinya, dan segalanya berlalu begitu saja.
Akan tetapi, teman sekelas Joshua ini malah ikut campur dan semakin menambah kemarahan Tuan Muda Jerry.
Cathy tidak mengkhawatirkan Jansen. Dia hanya takut Jansen merusak rencana bisnisnya dengan Tuan Muda Jerry.
"Hei Bocah, kamu berani menendangku! Kamu tidak tahu Keluarga Harper di Ibu Kota ini keluarga yang seperti apa!"
Tuan Muda Jerry memegang dadanya dan berjalan mendekat dengan wajah bengis, "Di Ibu Kota ini, kami Keluarga Harper adalah penguasa. Raja Surgawi sekali pun tidak berani mencegahku walau aku membunuh mu!"
Jansen menggelengkan kepalanya. Status keluarga kaya dan berkuasa masih berada di bawah keluarga elit. Kalau saja ada orang keluarga elit yang mendengar perkataan Tuan Muda Jerry ini, dia pasti akan dibuat minta ampun dan bersujud di depan mereka.
"Jansen, kita lupakan saja masalah ini!"
Kakek Herman berteriak karena khawatir Jansen akan membuat masalah besar.
Meskipun mereka tidak kenal dengan Keluarga Harper, tetapi mendengar kata kaya dan berkuasa saja, mereka pun sudah takut.
"Jansen, aku telah membuatmu terlibat, kamu pergi saja dulu!"
Joshua juga takut Jansen akan terlibat.
Joshua paham betul betapa menakutkannya Keluarga Harper. Ayah Joshua meninggal juga karena tak tahan dengan perbuatan Keluarga Harper ini.
Dalam berbisnis di Ibu Kota, terkadang tidak hanya diperlukan uang, tetapi juga diperlukan koneksi dan kekuasaan.
__ADS_1
"Pergi? Kamu pikir dia bisa pergi? Aku sudah peringatkan, hari ini kalian berdua harus berlutut kalau masih ingin keluar dari tempat ini!"
Wajah Tuan Muda Jerry terlihat menakutkan.