
"Kamu tidak akan mengerti!"
tegur Kakek Devon kemudian dan menatap Jansen penuh bersemangat, "Terima kasih, Pak Jansen. Terima kasih!"
Jansen pun mengangguk. "Kehidupan sembilan Foniks ini meski dikatakan akan mengalami 9 kali nirwana keberuntungan di dalam marabahaya, tapi sering kali setelah mengalami keberuntungan dan marabahaya yang ke-8, tidak akan terjadi lagi hal-hal yang rumit dan bisa hidup dengan tenang selamanya. Tapi, jika keberuntungan dan marabahaya yang ke-9 bisa terlewati, maka kehidupannya akan jauh lebih tenang sampai hayat!"
"Baik, Pak Jansen, aku mengerti!"
Kakek Devon tak hentinya mengangguk. Jika Widya bisa melalui sembilan kali marabahaya yang dimaksud, maka nantinya sosok gadis itu akan menjadi pilar utama Keluarga Devon.
"Katarak yang ada di mata kakek, bila sempat gunakan air mata sapi dan anjing yang dicampur menjadi satu untuk membersihkannya. Tidak sampai satu bulan pasti akan sembuh!"
ucap Jansen sekali lagi.
"Terima kasih, Dokter Jansen!"
Kakek Devon berlutut dan terdengar suara "gedebuk" di sekitar. Tampaknya dia sangat berterima kasih pada Jansen.
Widya yang ada di sampingnya pun tiba-tiba tercengang. Kakeknya ini memiliki watak yang keras. Sekalipun berhadapan dengan kakek Crush, di hati yang terdalam tidak akan pernah menundukkan kepalanya, meski di permukaan tak terlihat. Tapi sekarang, berhadapan dengan orang yang bernama Jansen ini, kakeknya langsung berlutut seperti ini.
"Berdiri, kek!"
Jansen memapah Kakek Devon bangkit berdiri. Sebenarnya, dia juga tidak terkejut melihat sikap Kakek Devon. Orang seperti Kakek Devon yang mampu memimpin Keluarga Devon hingga seperti ini pasti tahu apa yang menjadi paling penting dalam hidupnya.
Jansen kembali menatap ke arah Widya, "Widya, urusanku di kota Alerka ini sudah selesai, sudah waktu aku kembali ke Ibu kota. Kalau membutuhkan bantuanku, pergi saja ke Aula Xinglin mencariku!"
"Pak Jansen sudah mau pergi!?"
Widya tampaknya enggan berpisah dengan Jansen. Meski hubungan mereka belum lama terjalin, tapi pria yang ada di hadapannya ini meninggalkan kesan yang dalam di hatinya.
"Kapan aku bisa makan makanan obat herbal Pak Jansen lagi!?" ucap Widya dengan sedih.
Pesona keindahan seperti ini membuat Jansen sedikit kewalahan. Tanpa sadar dia teringat akan adegan Widya basah kuyup di bawah guyuran air hujan. Bagaimana jika kamar ini benar-benar sepi tak ada orang selain mereka berdua!?
Meski belum tumbuh dewasa, tapi perawakan tubuh Widya sangat memesona. Mungkin saja, jika sering berhubungan dengan wanita ini, cepat atau lambat Jansen akan kehilangan pengendalian hawa nafsu dalam dirinya.
"Kalau ada waktu, main-mainlah ke Ibu kota, aku pasti akan membuatkannya untukmu!"
Jansen tersenyum kaku. Karena tak ingin berlama-lama lagi, dia pun segera berpamitan untuk pergi.
"Pak Jansen, biarkan aku mengantarmu!"
Widya segera menemani Jansen menuruni tangga.
Wajah Kakek Devon penuh dengan penyesalan. Awalnya dia mengira cucunya ini bisa menahan Pak Jansen untuk sementara waktu. Tapi seorang master tetaplah seorang master, bagaimana mungkin sebuah kecantikan mampu mengikatnya begitu saja!
"Monitor, monitor! Apa semua CCTV yang ada di hotel sudah diurus? Bagaimana dengan isi ponsel para tamu, apa sudah beres? Kemudian untuk semua mayat, apa semua sudah clear?"
"Semua sudah clear, Tuan!"
__ADS_1
"Cari cara untuk menelan semua aset keluarga Crush dan beri sejumlah uang pada Roger agar keluar dari kota Alerka. Satu lagi, cari cara untuk mengusir Seira, Aldi dan lainnya dari kota Alerka!"
Kakek Devon adalah seorang yang tegas dan berpikiran jauh ke depan. Dia tahu jika membiarkan mereka-mereka tetap berada di kota Alerka, mungkin akan ada gelombang serangan di kemudian hari yang menimpanya.
"Siap, Tuan!"
Saat ini, semua kendali berada di bawah Keluarga Devon, cukup mudah untuk mereka menghandle semuanya dengan aman.
Pada saat ini, Seira dan Aldi tak tahu menahu dengan adanya bencana yang akan menimpa keluarga mereka. Tidak peduli dari segi bisnis ataupun dari segi pergaulan dengan orang-orang di pemerintahan, semua pasti ada.
Saat ini, tampak Widya sedang berjalan memasuki aula dengan wajah yang kusut.
"Kamu sudah mengantar Pak Jansen?"
tanya Kakek Devon penuh semangat pada Widya.
"Iya, entah apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi atau tidak!" ucap Widya sembari menundukkan kepala.
"Gadis bodoh! Bukankah kamu bisa pergi ke Ibu kota mencarinya?"
"Tapi aku kan masih kuliah, Kakek!"
"Persetan dengan kuliah mu, tidak masalah jika kamu tidak kuliah. Kalau kamu ingin pergi, kakek bisa bantu buka jalan untukmu. Universitas mana pun kamu bisa langsung masuk di dalamnya. Yang terpenting, hubunganmu dengan Pak Jansen jangan sampai terputus!"
Widya dibuat terkejut saat mendengar ucapan kakeknya barusan. Sebelumnya, kakek selalu menasihatinya pendidikan adalah hal yang paling penting. Tapi sekarang, kakek justru menyuruhnya berhenti belajar dan mendekati Pak Jansen?
tanya Kakek Devon sembari tersenyum saat melihat Widya seolah tak mengerti dengan apa yang barusan dia ucapkan.
"Baik, Pak Jansen orangnya sangat peduli dan perhatian. Selain itu, wawasannya juga luas, merasa nyaman kalau ada di dekatnya. Aku tidak menemukan hal ini saat bersama Roger saat itu!" jawab Widya.
"Roger? Membersihkan sepatumu saja dia tak pantas!" cibir Kakek Devon.
"Bagaimana dengan Kak Wade?"
tanya Widya penasaran, "Kakek pernah bilang, Kak Wade adalah seseorang yang paling menjanjikan, masa depannya pun akan cerah. Kakek sudah berumur, pastinya bisa melihat potensi dari generasi penerus keluarga!"
Berbicara mengenai Wade, raut wajah Kakek Devon pun seketika berubah.
Wade merupakan pewaris dari keluarga besar yang menjadi salah satu dari 4 keluarga elite terbesar di kota Alerka. Dia juga salah satu pemula di dunia jianghu. Beberapa tahun lalu, Kakek Devon membawa Widya berkunjung ke rumah salah satu teman dekatnya. Dan di sanalah mereka bertemu.
Harus dikatakan, sosok Wade adalah seorang pemuda yang kuat dan sempurna di mata Kakek Devon jika dibandingkan dengan pemuda lainnya.
Sosok Wade juga merupakan perwakilan dari generasi pemuda yang ada di Huaxia. Banyak sekali orang yang mengidolakannya.
"Kek, kenapa malah diam!?"
tanya Widya saat melihat Kakek Devon malah terdiam tak bersuara. "Melihat apa yang telah dicapainya selama ini, Wade memang terlihat luar biasa. Tapi jika dibandingkan dengan Pak Jansen... !"
Kakek Devon tampak merenung sejenak, lalu berkata, "Berdasarkan intuisi kakek, Wade hanya bisa menatap Pak Jansen tanpa bisa melampauinya!"
__ADS_1
"Hah!?"
Widya pun terpaku saat mendengarnya.
"Widya, kamu sudah tumbuh dewasa, ada beberapa hal yang memang harus kamu ketahui. Di permukaan, dunia ini memang terlihat aman dan damai, tapi faktanya kesenjangan antara yang kaya dan miskin sangat jelas. Karena 80% kekayaan yang ada sebenarnya berada dalam kendali 20% orang saja. Dan 20% orang ini layaknya gunung yang tiada tanding. Bagi mereka, kita hanyalah cecunguk kecil dan rakyat biasa!"
"Tapi, Pak Jansen berbeda. Orang-orang kuat seperti mereka justru cecunguk kecil dan rakyat biasa!"
"Kalau kita menggambarkan orang-orang kuat ini layaknya gunung yang kokoh, maka Pak Jansen bagaikan langit yang luas dan raja dari mereka semua!"
Mendengar hal itu, hati Widya terus bergemuruh, matanya pun bergetar.
Meski tahu Pak Jansen memiliki kemampuan, tapi dia tidak menyangka jika kemampuan Pak Jansen begitu tinggi hingga diibaratkan sebagai langit yang luas!
Keberuntungan apa yang sebenarnya dia alami! Dari banyaknya manusia yang ada, kenapa dirinya bisa berjodoh dan bertemu dengan seorang raja seperti Pak Jansen!
Di sisi lain, Jansen bertekad kembali ke Ibu kota meski hari sudah larut. Dia pun tiba di Ibu kota tepat jam 2 dini hari.
Setelah membuka pintu rumahnya, Jansen pun berjalan masuk. Awalnya dia tidak ingin mengganggu Natasha yang sedang tertidur, tapi entah kenapa dia malah melihat wanita itu berjalan keluar dengan masih menggunakan baju tidurnya.
Natasha yang baru saja terbangun pun tampak cantik meski hanya mengenakan baju tidur, sandal berbulu dan rambut yang acak-acakan.
"Jansen, kamu sudah pulang? Sudah makan belum?"
"Sudah!" jawabnya.
Jansen menekan dorongan yang bergejolak di dalam hatinya. saat ini. "Maaf mengganggu tidurmu, kak. Aku akan membayar semuanya nanti!"
"Membayar semuanya? Nanti?"
Natasha pun mematung setelah mendengarnya. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang membuat wajahnya memerah.
Pasti Jansen akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Namun, dia merasakan perbedaan dari nada bicara Jansen saat ini. Bagaimanapun, semenjak Veronica terluka, Jansen berubah menjadi seseorang yang pendiam. Tapi Natasha tahu, itu semua karena masalah Veronica yang diibaratkan seperti sebuah gunung raksasa yang menekan pikiran Jansen.
Dan sekarang, nada bicara Jansen sudah mulai berubah rileks, apa mungkin...?
"Aku sudah mengumpulkan semua ramuan obat herbal yang dibutuhkan Veronica!"
Ternyata sesuai dengan dugaan. Jansen pun tersenyum dengan santai.
"Bagus kalau memang seperti itu. Terus kapan pengobatannya dimulai?"
"Kalau sekarang, bagaimana? Tidak baik menundanya terlalu lama. Lagi pula, aku juga perlu menyempurnakan pil ramuanku. Apa ada kompor induksi atau kompor listrik?"
"Tentu saja ada!"
Natasha pun bergegas pergi untuk menyiapkan semuanya.
__ADS_1