Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1476. Pedang Roh


__ADS_3

"Bang Dungu? Tidak mungkin dia orangnya!"


Semua orang sontak terkejut.


Bang Dungu adalah seorang pengungsi yang tinggal di atas perairan. Entah karena kecelakaan apa, dia terbawa arus air laut beberapa tahun lalu. Dia kemudian ditolong oleh orang-orang Sekte Wan'an. Namun, karena melihat dirinya memiliki kecerdasan rendah dan kewarasan yang kurang stabil, mereka pun membuangnya ke area tambang dan memaksanya bekerja di sana.


Lantas, apakah Bang Dungu yang tampak seperti seorang idiot sebenarnya merupakan mata-mata?


Semua orang merasa hal ini sangatlah mustahil.


"Bang Dungu, aku sedang memanggilmu. Kamu adalah mata-mata. Kalau kamu masih tidak menjelaskan yang sebenarnya, kamu akan mati!"


Orang-orang langsung menatap seorang pria paruh baya berbadan tinggi. Mulut pria itu terus meneteskan air liur. Penampilannya sangat kacau dan tidak terurus. Wajahnya terlihat sangat kebingungan.


Tak lama kemudian, seseorang di sebelah mendorong pria paruh baya itu hingga membuat pria paruh baya itu tersadar dan berkata, "Mata-mata? Aku suka mata-mata!"


Dari penampilannya, dia terlihat seperti orang idiot, sama sekali tidak mirip seorang mata-mata.


"Kepala Tambang, sepertinya kamu keliru. Orang lain mungkin saja adalah mata-mata, tetapi Bang Dungu tidak mungkin menjadi mata-mata!"


Seseorang membela pria paruh baya itu.


Jansen menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Kamu memang pandai bersandiwara, tetapi tebakanku tidak salah. Kamulah dalang di balik kejadian penampakan hantu di gua itu!"


Mulut Bang Dungu terus meneteskan air liur. Dia berpura-pura seakan tidak mendengar ucapan Jansen.


"Kepala Tambang, lihat!"


Orang-orang di samping Bang Dungu tampak tak berdaya. Mereka merasa aneh bila Bang Dungu yang tampak seperti orang idiot mampu mengerti pembicaraan orang lain.


Jansen pun berkata dengan santai, "Kalian sepertinya tertipu dengan kondisinya yang terus berpura-pura idiot. Baiklah kalau begitu, aku akan memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya. Lagi pula, orang idiot tidak akan bisa bertahan hidup di area tambang. Apabila gua tambang mengalami longsor, orang idiot sepertimu tidak mungkin sempat bereaksi untuk menyelamatkan diri!"


"Dia selalu mengikuti kami. Setiap kali tambang runtuh, kami akan mengingatkannya!" Seorang budak pekerja berkata.


"Saat gua tambang runtuh, kalian sendiri pun tidak akan sempat menyelamatkan diri. Bagaimana caranya kalian bisa mengingatkan dirinya? Apakah mungkin seorang idiot seperti dia bisa bertahan di area tambang selama sepuluh tahun?" Jansen berkata.


"Jadi, maksud Kepala Tambang, karena dia adalah seorang idiot yang bisa bertahan hidup selama sepuluh tahun di sini, dia sebenarnya adalah mata-mata?"


"Benar, pulau ini sangat berbahaya dan sering terjadi bencana. Jangankan kalian para budak pekerja, master Sekte Tersembunyi pun bakal mati di tempat ini. Akan tetapi, si idiot ini malah bisa bertahan hidup begitu lama. Dia memang pantas dicurigai!"


Jansen lanjut menjelaskan, "Awalnya, itu adalah alasan kecurigaanku. Tapi, setelah memperhatikan dengan cermat, aku mendapati bahwa si idiot ini ternyata juga memiliki kemampuan dasar energi sejati. Hanya saja, energi sejati yang dia latih sangatlah aneh dan tergolong ke dalam energi negatif. Orang awam akan sulit mendeteksinya, tetapi sayangnya aku malah berhasil mendeteksi energi negatif dalam tubuhnya!"


"Karena aku sendiri juga paham cara kerja Teknik Xuan!"


Jansen berkata demikian lalu tersenyum sinis.


Semua budak pekerja langsung menjauhi Bang Dungu. Setelah kejadian Dudung dan dua orang sebelumnya, mereka semua akhirnya lebih percaya dengan ucapan Jansen.


"Aku sudah bilang, di sini bukan pengadilan. Tidak ada hukum yang mengikat ataupun pembuktian perkara di sini. Kalau aku mencurigai seseorang, aku pasti akan membunuh orang itu. Tidak ada gunanya kamu terus berpura-pura bodoh!" Jansen lanjut berkata.


"Hehe, kamu memang punya pengamatan yang tajam, Anak Muda. Di tengah ribuan orang pekerja tambang, kamu malah berhasil mencari orang yang kamu buru. Aku salut padamu!"

__ADS_1


Dalam sekejap, Bang Dungu akhirnya mengakhiri penyamarannya. Dia merasa tidak ada gunanya lagi menyamar seperti ini karena bagaimanapun juga, Jansen tidak akan mungkin melepaskan dirinya.


"Apakah kamu mau menyerahkan diri atau terpaksa aku yang bertindak?"


Jansen menatapnya dengan wajah serius.


"Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku jika aku ingin pergi. Kamu memang berhasil menemukanku, tetapi bukan berarti kamu bisa menangkapku!"


Bang Dungu hanya mencibir dan sama sekali tidak panik meskipun kebohongannya telah terungkap.


Setelah berkata demikian, asap hitam mengepul di sekujur tubuhnya. Satu per satu hantu menyeruak keluar dari dalam tubuhnya disertai suara raungan yang membuat semua orang ketakutan. Hantu-hantu itu mulai gentayangan berjalan ke sana kemari, sedangkan Bang Dungu telah menghilang.


Gracia pun sangat terkejut saat melihat Bang Dungu kabur dengan cara yang aneh. Gracia sama sekali tidak bisa membedakan hantu mana yang merupakan jelmaan dari Bang Dungu.


"Sepertinya kamu tidak mengerti kata-kataku. Aku sudah bilang, aku juga paham tentang Teknik Xuan!"


Jansen langsung berdiri lalu melemparkan sebuah pedang patah ke arah tertentu.


"Ah!"


Suara jerit kesakitan pun terdengar. Bang Dungu muncul di arah timur. Dadanya tertusuk oleh pedang yang patah itu. Dia menatap Jansen dengan tatapan tajam lalu jatuh terlentang.


Begitu Bang Dungu meninggal, hantu-hantu di sekeliling langsung berlarian sambil meraung keras dan menghilang.


Suasana di sekitar yang awalnya mencekam kini berangsur tenang.


Semua orang menatap Jansen seolah sedang melihat seorang pengusir roh jahat yang sangat kuat.


Jansen berkata kepada semua orang yang ada di sana.


"Siap, Kepala Tambang!"


Tidak ada seorang pun yang berani membantah perintah Jansen. Mereka semua diam-diam menundukkan kepala.


Meski Jansen baru sehari berada di tempat itu, Jansen bekerja dengan cekatan dan sigap dalam menyelesaikan masalah. Hal ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang.


Jansen kemudian mengangguk kepada Gracia.


Gracia masih sangat terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa masalah rumit yang menimpa Sekte Wan'an selama bertahun-tahun ini malah berhasil diselesaikan oleh Jansen dalam waktu sehari saja.


Meskipun Jansen memang ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat agar dapat kembali ke dunia Sekuler secepatnya, di luar dugaan, masalah ini benar-benar selesai dalam waktu yang luar biasa singkat.


Gracia pun pergi meninggalkan tempat itu bersama Jansen dengan hati yang masih sangat terkejut.


Tak lama kemudian, mereka berdua pun kembali ke markas Sekte Wan'an.


Penatua Geisha pun tertegun cukup lama saat mendapatkan laporan tentang kejadian tadi dari Jansen.


Wanita tua yang berada di samping Penatua Geisha juga merasakan hal sama. Dia seolah tidak percaya dengan kejadian tersebut dan bahkan merasa sangat malu.


"Jansen, kamu telah memberikan kontribusi yang besar untuk Sekte Wan'an. Utang Budi mu terhadap Sekte Wan'an sudah lunas!" Penatua Geisha berkata demikian kepada Jansen.

__ADS_1


"Penatua Geisha, aku hanya ..."


Jansen merasa bahwa keberhasilannya menyelesaikan masalah ini masih belum cukup untuk membalas kebaikan Penatua Geisha. Apalagi, Penatua Geisha telah memberinya banyak sekali ramuan obat langka.


"Sudahlah, aku sudah putuskan masalah ini, kamu tidak perlu mengungkitnya lagi!"


Penatua Geisha mengalihkan topik pembicaraan dengan berkata, "Aku tahu kamu punya masalah yang lebih penting di dunia Sekuler. Karena itu, aku sudah menyuruh orang menyiapkan kapal untukmu agar dapat pergi dari tempat ini!"


"Terima kasih, Penatua Geisha!"


Jansen juga mengkhawatirkan masalah di Kota Yanba dan ingin segera pulang ke sana.


Setelah berpamitan, Jansen pergi ke rumah yang ditempati Barry. Setiba di sana, ada dua orang murid wanita yang menyapanya dengan hormat.


"Halo, Kak Jansen!"


Sikap mereka berdua sangat sopan. Mereka berdua bahkan tidak berani bertanya banyak kepada Jansen dan langsung mempersilakan Jansen masuk.


Jansen mengangguk dan langsung masuk ke dalam.


"Jansen, aku sudah menempa ulang pedangmu. Aku juga telah menambahkan banyak bijih besi langka. Pedangmu ini sudah setara dengan Pedang Roh!"


Barry begitu semangat saat mendengar bahwa Jansen telah datang mengunjunginya. Barry langsung menyerahkan pedang bayangan yang telah ditempa ulang itu kepada Jansen.


Jansen pun menerima pedang itu dengan semangat. Ukuran dan panjang pedang masih sama seperti sebelumnya. Bahkan, gagang pedangnya pun sama persis.


Namun, mata pedang itu kini lebih tebal. Selain itu, pedang tersebut juga makin berkilau dan tajam.


Saat memegang pedang itu, Jansen merasakan keanehan, seolah-olah manusia dan pedang adalah satu kesatuan. Dia pun mendengar suara nyaring pedang itu dengan jelas.


"Ini pedang bagus!"


Jansen sangat gembira. Dia mengerahkan Profound Qi ke pedang itu sambil mengarahkan pedang ke depan.


Siu!


Pedang bayangan itu meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi dan tak terbendung.


"Ayo kembali!"


Dengan sedikit gerakan jari tangan Jansen, pedang bayangan itu berputar-putar di udara sebelum akhirnya terbang kembali ke arah Jansen.


Pedang itu sepertinya memiliki roh di dalamnya.


Apalagi, Jansen belum pernah berlatih teknik pengendalian pedang. Namun, setelah pedang bayangan itu berubah menjadi pedang roh, Jansen seolah telah menguasai teknik pengendalian pedang dengan mahir.


Pedang roh ini memang luar biasa.


"Master Barry, terima kasih!"


Jansen menatap Barry dengan penuh rasa terima kasih. Dengan adanya pedang tersebut, kekuatan Jansen telah meningkat daripada sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2