Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 663. Ayahnya Kekasih!


__ADS_3

"Tidak ada alasan untuk mengusir seseorang dari tempat umum seperti ini. Memangnya kamu tidak mengerti sopan santun dan cara menghormati orang yang lebih tua?"


Jansen tiba-tiba menyela dengan suaranya yang acuh tak acuh dan dia berjalan keluar dari kerumunan.


"Dasar pecundang! Kamu tidak usah ikut campur!"


Irish menjadi semakin kesal melihat Jansen angkat bicara.


Pria itu bahkan tidak berani mengatakan apa-apa saat disindir oleh mereka sebelumnya, tapi sekarang malah berani melawannya?


Apa-apaan ini! Memangnya Jansen pikir dia itu siapa!


"Dia adalah seorang pasien!"


"Apa kamu mencoba membuatnya mati kedinginan dengan mengusirnya keluar? Lihat saja pakaiannya! Dia mengenakan pakaian setipis itu di tengah cuaca yang sedingin ini!" kata Jansen dengan nada bicara yang dingin.


"Lagi pula, ini bukan rumahmu! Hanya mobilmu saja yang ditaruh di sini!"


Amarah Irish semakin tersulut begitu mendengarnya, "Ini juga bukan rumahmu! Setidaknya aku meletakkan mobil di sini, jadi aku adalah pelanggan dan aku punya hak! Memangnya kamu sanggup membeli Mercedes-Benz E-Class dengan uangmu sendiri? Lagi pula, meskipun dia adalah seorang pasien, apa hubungannya denganku! Yang penting, dia membuatku takut dan mengotori pakaianku!"


Ekspresi Jansen berubah menjadi semakin dingin, "Dia tidak bisa menemukan keluarganya karena sudah pikun. Itu sebabnya dia ada di sini untuk menghindari angin dan hujan!"


"Ya, orang tua ini cukup menyedihkan. Dia sudah beberapa kali kembali ke dalam sini karena cuaca di luar sangat dingin!"


Satu per satu satpam pun ikut menimpali.


"Sudahlah, Irish, orang tua itu juga tidak sengaja melakukannya!" bujuk Laras sambil menarik-narik Irish.


Anzel mencibir, "Laras, kamu jangan bersikap terlalu baik hati. Ada banyak orang tua yang saat ini suka menggunakan usia mereka untuk menindas orang lain. Mereka sebenarnya adalah orang jahat yang sudah berusia tua! Bisa saja dia mencuri salah satu mobil yang ada di sini!"


Kemudian, Anzel menatap satpam-satpam itu lagi dan berkata dengan nada yang memerintah, "Satpam, jangan usir dia dulu. Aku menaruh beberapa mobil mewah di sini. Kalau sampai ada mobilku yang tergores dan tidak ada suku cadang untuk menggantinya, maka kalian tidak akan sanggup menggantinya meski bekerja selama seumur hidup!"


Para satpam mengertakkan gigi karena marah, tetapi mereka tidak berani berbicara lagi. Mereka benar-benar tidak mampu membayar ganti rugi mobil mewah orang-orang kaya ini!


"Aku mau lihat siapa yang berani mengusirnya!"


Jansen kembali bersuara. Aura yang keluar dari tubuhnya terasa dingin.


"Hei, pecundang, jangan terlalu sombong. Kamu pikir kamu adalah orang hebat? Kamu itu hanya hidup dengan mengandalkan istrimu!" kata Anzel, dia merasa sangat kesal dengan Jansen. Anzel pun mendengus dingin dan berkata, "Kamu pikir mall ini adalah milik keluargamu!"


"Pak satpam, siapa pemilik mall ini?"


Jansen berbalik dan bertanya kepada para satpam.


"Grup Great Virtue! Pemiliknya bernama Dean!" jawab satpam-satpam itu dengan ketakutan.


Jansen segera menelepon seseorang, "Dean, sekarang aku ada di Mall Prisma milik keluargamu. Segera suruh manajer mall ini untuk menemuiku. Aku mau bertemu dengannya dalam lima menit!"


"Ya ampun, dia masih saja berpura-pura!"

__ADS_1


Irish hampir tidak bisa menahan tawanya.


Tidak sampai lima menit kemudian, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian manajer datang berlari dan berkata dengan hormat kepada Jansen, "Tuan Jansen, kamu mencariku?"


Irish dan yang lainnya langsung membeku!


Anzel merasa malu sekali, tapi dia menduga Jansen sedang mengandalkan kehebatan Keluarga Miller. Kalau tidak, mana mungkin manajer Mall Prisma sampai ketakutan dengannya? Selain itu, apa yang semakin melukai perasaannya adalah Laras yang sama sekali tidak mengacuhkannya!


"Jansen, kamu tidak perlu memperbesar masalah!"


Irish juga menjadi marah. Dia tidak ingin dianggap kalah hebat dari seorang pecundang, "Baguslah kamu ada di sini untuk mengurus masalah ini. Cepat usir pengemis yang mengemis di depan mobil mewah kami ini!"


"Setiap orang yang datang adalah tamu, terlepas dari apakah dia merupakan orang tua atau pengemis. Tidak ada alasan untuk mengusir orang dari Mall Prisma. Kamu tentu saja punya hak untuk pergi, tetapi kamu tidak berhak mengusir orang lain!" sahut Jansen dengan dingin.


Laras menatap Jansen kaget. Sebelumnya semua orang menertawakan Jansen, namun Jansen acuh tak acuh. Laras tidak menyangka pria itu akan membela orang tua yang tidak dikenalnya.


"Pelanggan itu adalah raja, apakah kamu tahu!"


Anzel yang ikut terbakar amarah karena melihat Laras yang terus menatap Jansen pun menimpali.


"Maaf, Mall Prisma tidak akan melayani raja sepertimu. Atas nama Mall Prisma, aku persilakan kalian keluar dari sini!" kata Jansen dengan wibawa yang sangat kuat.


"Kamu!"


Irish menghentakkan kakinya dengan marah, "Dasar sombong! Padahal kamu hanya mengandalkan kehebatan Keluarga Miller! Sudahlah, ayo kita pergi!"


Jansen pun menambahkan dengan dingin, "Ingat, kalian juga akan menjadi tua suatu hari nanti. Kalau kalian tidak mau orang tua kalian diperlakukan seperti ini, kalian harus belajar bagaimana bersikap!"


Setelah berkata seperti itu, Jansen dan Diana membantu pria tua itu untuk berdiri. Jansen bahkan menyampirkan kaus miliknya ke atas tubuh pria tua itu.


Irish dan yang lainnya tidak pergi, mereka menunggu Maxime untuk tiba di sini dan memberi Jansen pelajaran.


"Orang yang bersama dengan pengemis berarti orang yang miskin juga!"


"Irish, jangan marah. Maxime pasti akan membuat perhitungan dengan pecundang itu begitu tahu bahwa dia telah menindasmu!"


Alea dan Lila yang berada di samping pun menasihati.


"Kita diajarkan untuk menghormati yang tua dan mencintai yang muda. Kita tidak bisa memandang rendah orang lain karena merasa kita menjalani hidup yang baik, apalagi kalau orang lain itu sudah pikun!" Laras tiba-tiba berkata, "Lagi pula, apa yang Jansen katakan memang ada benarnya. Bagaimana kalau orang tua kita menjadi seperti ini?"


"Laras, ada apa denganmu? Kenapa kamu terus membela pecundang itu!" Irish menjadi semakin marah.


Jansen menemukan sebuah kartu yang terselip di dalam mantel yang dikenakan oleh pria tua itu. Nama pria tua itu tertera di atasnya beserta sebuah nomor telepon.


"Ini nomor telepon pihak keluarga dari orang tua ini!"


Jansen buru-buru menghubungi nomor tersebut.


Tepat pada saat itu, Maxime sudah berjalan turun.

__ADS_1


"Maxime, kamu harus membantuku! Seorang pengemis sebelumnya menggangguku, ditambah lagi pecundang itu!" Irish langsung mengeluh begitu melihat kekasihnya.


"Pengemis apa? Kurang ajar sekali! Tenang saja, aku akan membereskannya untukmu!"


Maxime baru pertama kali melihat Irish semarah ini. Dia merasa wibawanya sebagai seorang pria terpancing. Dia hendak menginterogasi Jansen, tapi ponselnya mendadak berdering. Setelah dia mengangkatnya, telinganya pun menangkap suara yang dia kenal.


"Halo, apakah ini dengan pihak keluarga dari Rico Joule? Rico sekarang hilang di Mall Prisma. Silakan datang ke sini sesegera mungkin!"


Suara ini terdengar agak familiar!


Ekspresi semua orang sontak berubah. Mereka secara refleks menatap Jansen, lalu ke arah Maxime.


Nomor yang Jansen telepon itu sebenarnya milik Maxime!


Maxime memegang ponselnya dan berbalik. Dia segera melihat orang tua itu dan berseru, "Ayah!"


Irish dan yang lainnya langsung merasa malu!


Terutama Irish! Rasanya seperti habis dipukul tepat di kepala!


Dia membuat keributan dengan pria tua itu untuk waktu yang lama karena merasa tidak suka sekaligus jijik. Siapa sangka pria tua itu sebenarnya adalah ayah dari pacarnya!


Jansen baru saja bertanya apakah mereka akan melakukan hal yang sama seandainya anggota keluarga mereka yang mengalami situasi seperti ini kelak?


Bagaimana dengan sekarang?


"Ayah?! Kenapa kamu ada di sini!"


Maxime segera berlari dan memapah pria tua itu dengan raut wajah yang terlihat agak malu.


ia terlalu sibuk bekerja dan biasanya ayah selalu ada suster yang menjaganya. Ia jarang pulang kerumah ataupun menelepon ke rumah. Dan ia juga tidak pernah mengangkat telepon dari rumah karena dikira tidak penting. Jadi ia benar benar tidak tahu.


Jansen juga terkejut, tapi raut wajahnya berubah menjadi dingin, "Dia adalah ayahmu? Bagaimana kamu berperilaku sebagai anak? Kamu mengendarai mobil yang mewah dan makan makanan yang mahal, tapi ayahmu malah memakan sampah hasil pungutan? Kamu bahkan tidak tahu dia hilang!"


Ekspresi Maxime terlihat semakin kikuk.


Tentu saja dia juga merasa marah. Berani-beraninya seorang pria yang bergantung hidup pada istrinya malah memarahinya?


"Aku akan segera mengantar ayahku pulang!"


Maxime tidak berani tetap berada di situ. Bagaimanapun juga, dia adalah seseorang yang sangat mementingkan citranya. Dia tidak ingin orang-orang tahu bahwa ayahnya adalah seorang pengemis.


"Memangnya kenapa kalau punya kemampuan yang hebat tapi tingkah lakunya buruk!"


Jansen menatap Maxime sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak peduli bagaimana pun, Maxime tetap mengandalkan dirinya sendiri. Sedangkan kamu? Kamu hanya mengandalkan kekayaan keluarga istrimu! Kamu pikir manajer Mall Prisma bersedia bersikap hormat terhadapmu kalau bukan karena kamu memanfaatkan kehebatan Keluarga Miller?"


Anzel dan yang lainnya berjalan mendekat dan berkata dengan sangat tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2