Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1497. Tidak Layak


__ADS_3

Veronica tercengang sejenak, matanya sedikit basah!


Jansen tercengang!


Mereka tidak menyangka bahwa Elena, seseorang yang keras kepala dan kuat, benar-benar mengejarnya ke bandara dan meminta maaf secara langsung kepada Veronica.


Sepertinya Elena benar-benar paham bahwa dia salah.


"Kak Elena, aku tidak menyalahkanmu!"


ujar Veronica sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu memang tidak menyalahkan ku, jangan pergi. Aku benar-benar tahu bahwa aku salah. Kamu tahu kepribadianku, aku sangat kaku dan kecerdasan emosional ku rendah. Kamu dan Jansen menemaniku tapi kalian malah dianiaya!" ujar Elena tulus. Setelah ditegur oleh Jansen, meskipun Elena marah, dia dengan hati-hati memikirkannya kembali dan akhirnya sadar bahwa itu memang kesalahannya.


Belakangan ini Elena agak egois karena sedang hamil, dia hanya memikirkan anaknya dan mengabaikan perasaan orang lain.


"Kak Elena!"


Air mata Veronica terus mengalir dan dia memegang tangan Elena dengan erat.


Elena juga sangat tersentuh dan menarik Natasha. Mereka bertiga saling berpegangan tangan dan tidak berbicara untuk sementara waktu.


Jansen menatap mereka bertiga dan merasa lega, inilah pemandangan keluarga harmonis yang dia inginkan.


"Maaf, aku masih berencana untuk pergi jalan-jalan, alasannya tidak ada hubungannya denganmu, kok!"


Veronica menyeka air matanya dan berkata sambil tersenyum, "Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya ingin bersantai dan mencari inspirasi untuk mendesain."


"Kamu benar-benar sudah tidak marah lagi sama aku?"


Elena masih merasa bersalah.


"Kita semua adalah satu keluarga!"


Veronica memegang tangan Elena lebih erat lagi, lalu dia menatap Jansen dan berkata, "Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan kembali paling lama tiga bulan lagi, aku masih harus melihat bayi keluarga kita lahir!"


Setelah mendengar itu, Jansen tidak bisa membujuknya lagi. Meskipun Veronica sudah mengatakan dia pergi untuk mencari inspirasi desain, dia masih merasa Veronica pergi karena menyalahkan dirinya sendiri.


Gadis ini baik hati, Jansen sudah beberapa kali mengatakan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan dia, tapi dia tidak mau mendengarkannya.


"Baiklah kalau begitu, tapi kamu harus menelepon ke rumah setelah sampai di sana dan kamu tidak boleh berkeliaran, kondisi di sana cukup kacau!"


Meskipun Elena enggan, dia tidak mencoba menghentikannya lagi.


"Jangan khawatir, aku paham seni bela diri, tiga sampai lima orang biasa tidak akan bisa mendekatiku!" Veronica tertawa dan melihat tiket itu, "Sudah hampir waktunya aku naik pesawat, aku pergi dulu!"


"Hati-hati di jalan, hubungi Jansen kalau ada masalah!"


"Ingat, cepat pulang!"

__ADS_1


Elena dan Natasha melihat Veronica pergi dan wajah mereka penuh dengan keengganan.


Jansen menghela napas, sekarang dia hanya bisa menghormati pilihan Veronica.


"Jansen, tolong jaga Kak Elena dan Kak Natasha!"


Veronica melambaikan tangannya pada Jansen dan akhirnya pergi.


"Veronica, bukankah kamu bilang akan pergi ke Kutub Selatan? Tunggu aku!"


Jefri mulai bangkit dari lantai dan melihat tiket pesawat di tangannya, dia terdiam untuk beberapa saat.


Kemudian, dia menatap Jansen dengan marah, "Kamu! Aku akan membunuhmu!"


Tidak mudah bagi Jefri untuk memanfaatkan kesempatan itu, tapi Jansen malah mengganggunya, bahkan menendangnya. Pria pun tidak akan tahan.


Kring kring kring!


Sebuah telepon berdering, Jefri bingung dan berpikir siapa yang meneleponnya pada saat itu.


Jefri mengangkat telepon itu dan wajahnya sedikit berubah. "Presdir Max? Saya sekarang ada di bandara untuk bepergian ke luar negeri selama sebulan, saya sudah mengajukan cuti tahunan dari perusahaan. Apa ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?"


"Kamu dipecat, ambil barang-barang mu dan pergilah!" ujar lawan bicaranya di telepon tanpa sopan santun.


Jefri tercengang dan berkata dengan cemas, "Presdir Max, apa yang terjadi!"


"Kamu tahu siapa yang kamu sakiti, jangankan kamu, bahkan aku dalam bahaya sekarang!" ujar Presdir


Jefri masih memegang telepon dan pikirannya berantakan. Apa yang terjadi?


Tiba-tiba, dia menatap Jansen dan seluruh tubuhnya mulai bergetar, dia menebak-menebak apa yang terjadi.


Jansen mengabaikan Jefri dan pergi bersama Elena.


Elena dan Natasha berjalan sambil berbicara dan tertawa, mereka mengabaikan Jansen. Terlihat bahwa Elena masih marah memikirkan Jansen yang mengusirnya tadi.


Jansen menyentuh hidungnya, wanita kalau sudah marah benar-benar merepotkan.


Faktanya, Jansen tahu bahwa Elena sudah tahu kalau dia salah, tapi Jansen menolak untuk menundukkan kepalanya karena harga dirinya.


Jansen sebenarnya sudah tidak peduli lagi, selama Elena meminta maaf kepada Veronica, itu sudah cukup.


Setelah berpikir-pikir, Jansen kembali menelepon seseorang, tidak lama kemudian, radio bandara berbunyi.


"Seorang pria bernama Jansen ingin meminta maaf kepada seorang nona muda bernama Elena. Dia berkata bahwa dia seharusnya tidak berbicara sekasar itu. Dia benar-benar tahu bahwa dia salah dan berharap Nona Elena bisa memaafkannya!"


"Yang terakhir, dia ingin mengatakan kepada Nona Elena bahwa dia mencintainya!"


Suara itu terdengar di setiap sudut terminal dan menyebabkan banyak orang melihat sekeliling. Radio bandara digunakan untuk menginformasikan waktu penerbangan dan bisa juga untuk meminta maaf serta menunjukkan rasa cinta. Orang ini cukup berani!

__ADS_1


Langkah kaki Elena tiba-tiba berhenti, dia merasa malu dan sedikit marah. Dia kembali menatap Jansen dan berkata, "Jansen, ada apa denganmu? Banyak orang yang menonton!"


"Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan, aku hanya tahu bahwa aku mencintai istriku!"kata Jansen sambil tersenyum.


"Bajingan!"


Elena menghentakkan kakinya dengan marah dan melangkah pergi.


Natasha diam-diam mengacungkan jempolnya pada Jansen, kemudian mengejar Elena.


Meskipun Elena marah, dia pasti sangat tersentuh. Wanita memang makhluk emosional!


Oleh karena itu, seorang pria harus tidak tahu malu ketika membujuk wanita.


Jansen melihat kemarahan Elena sebagian besar sudah menghilang, dia pun menghela napas lega, konflik keluarga akhirnya berakhir.


Semoga tiga tahun penderitaan cepat berlalu dan semua benar-benar berjalan dengan baik pada akhirnya.


Jansen mengingat kata-kata Penatua Jack bahwa pria harus memiliki sedikit temperamen, tetapi setelah kehilangan kesabaran, mereka juga harus membujuk wanita dengan menggunakan cara yang keras maupun lembut agar keluarga senantiasa bahagia.


Benar saja, orang tua itu sudah sangat berpengalaman!


Di sisi lain, Linda dan yang lainnya masih menunggu ketika mereka tiba-tiba mendengar suara radio bandara. Mereka semua terdiam, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Jansen ini suka membuat hal-hal yang sensasional, terlalu mencolok!


Affan mengingat kata-kata ayahnya, jangan seperti Jansen, lalu dia bertanya, "Ayah, mengapa mereka belum datang?"


"Kenapa harus terburu-buru? Yang penting mereka tetap datang!"


Gallant dari luar terlihat tenang, tetapi sebenarnya dia cukup gugup. Bagaimanapun juga, mereka semua adalah para kultivator yang lebih bermartabat dan cakap dari ayahnya. Dia takut tidak bisa menyapa mereka dengan baik dan membuat orang-orang itu tidak senang.


"Affan, saat para senior itu datang nanti, kamu tidak boleh mengatakan apa pun selain menyapa mereka. Jangan berbicara sembarangan dan jangan sampai kamu membuat orang lain kesal!"


"Omong-omong, apakah anggur dan teh yang ku minta sudah siap?"


"Jangan khawatir, semuanya sudah siap di dalam mobil!"


Linda sudah mengingatkan Affan beberapa kali. Dia mengangguk puas ketika melihat kakak laki-lakinya melakukan pekerjaan dengan baik.


Saat itu, Linda kebetulan melihat Jansen berjalan keluar bersama dua wanita cantik dan dia langsung tersenyum jijik.


Beberapa hari yang lalu di Keluarga Vindes, dia masih merasa Jansen adalah seorang tokoh, tapi sekarang dia merasa Jansen adalah katak di dasar sumur.


Kakeknya memberi tahu bahwa orang-orang dari perguruan semuanya adalah makhluk abadi, mereka tidak memikirkan uang, ketenaran dan kekayaan, yang mereka kejar adalah reinkarnasi.


Bahkan meskipun kakeknya adalah orang hebat, dia hanya akan menjadi murid biasa dengan status terendah di perguruan dan sama sekali tidak diizinkan untuk berlatih kultivasi di perguruan.


Sedangkan Jansen?

__ADS_1


Mereka sangat tidak layak untuk dibandingkan. Inilah perbedaan antara katak dan angsa.


__ADS_2