
Satu jam kemudian.
Bang!
Seorang anggota Tim Serigala yang maju pun tertembak dan jatuh tergeletak di tanah.
"Gawat, ada penembak jitu!"
"Medan di sini sangat luas tanpa ada sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pelindung. Jika kita buru-buru menyerang, kita akan menjadi sasaran empuk!"
Semua orang langsung bersembunyi.
Bang!
Pria yang jatuh tergeletak itu ditembak lagi.
"Wakil Ketua!"
Mata para anggota Tim Serigala langsung memerah.
"Aku akan pergi menyelamatkannya!"
Seseorang menyelinap melewati cahaya redup malam. Dia memang sangat pintar karena terpikir ide untuk bergerak maju sambil berlindung di balik batu besar.
Bang!
Namun, dia juga tertembak. Peluru masih saja bisa menembus batu yang sangat tebal.
"Gawat, peluru penembak jitu punya daya tembus yang dahsyat!"
"Jangan keluar, mereka hanya ingin melukai kita tanpa maksud membunuh kita. Mereka hanya ingin memancing kita keluar. Seandainya, kita semua keluar, kita semua akan mati tertembak!"
Semua orang berbicara dengan radio komunikasi.
Bang! Bang! Bang!
Pada saat bersamaan, anggota pasukan tim khusus yang sedang dibidik akhirnya tertembak satu per satu. Akan tetapi, orang ini sangat tangguh. Dia bahkan tidak terkejut sedikit pun.
Dia tahu bahwa tujuan pihak musuh adalah menjebak rekan-rekannya masuk ke dalam perangkap.
"Wakil Ketua!"
Anggota Tim Serigala menerobos ke sana dan berhasil menghampiri Wakil Ketua dengan selamat.
Bang! Bang!
Penembak jitu yang sedang bersembunyi langsung melepaskan dua tembakan berturut-turut. Kedua orang yang maju langsung tertembak dan jatuh tergeletak seketika. Kaki mereka patah.
Pihak musuh sengaja mengutus penembak jitu untuk membidik lebih banyak mangsa.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Jika kita tidak membunuh penembak jitu mereka, kita akan tertahan di sini!"
Para anggota Tim Operasi Khusus pun merasa sangat cemas.
Sebelumnya, waktu mereka telah terbuang banyak. Jika mereka masih membuang waktu di tempat ini, mereka akan menemui kesulitan.
Seiring berlangsungnya pertempuran, jumlah anggota tim mereka pun semakin sedikit.
Kalaupun pasukan kompi yang sedang dalam perjalanan akhirnya tiba, Barrack sepertinya telah keluar dari wilayah perbatasan.
"Mereka hanya ada seorang penembak jitu. Jika kita semua maju dan menghajarnya, kita lihat apakah dia masih bisa memberikan perlawanan!"
"Benar sekali!"
Waktu tugas yang tersisa sangat singkat, sehingga ada pengorbanan yang harus dilakukan.
__ADS_1
Semua orang saling memandang lalu bergegas keluar menyerang satu per satu.
Bang! Bang! Bang!
Namun, saat mereka baru hendak keluar menyerang, beberapa orang langsung tertembak dan jatuh tergeletak.
"Gawat! Cepat bersembunyi, ada tiga orang penembak jitu di pihak musuh!"
Rencana dan strategi pertempuran yang baru dibentuk akhirnya kembali gagal. Mereka menghitung jumlah penembak jitu pihak musuh dengan keliru.
Di markas, wajah semua orang juga terlihat murung. Resimen Tentara Bayaran SKY Axe memang bukan pasukan sembarangan. Pasukan mereka kaya akan pengalaman bertempur di dalam hutan.
"Ketua, sebaiknya kita mendatangkan Raja prajurit Huaxia Utara lalu menurunkan beberapa Tim Operasi Khusus untuk datang membantu!" Kepala Komandan Strategi berkata dengan cemas.
"Sudah terlambat!"
Pria tua itu menggelengkan kepalanya, "Suruh mereka mundur saja!"
"Mundur? Kita telah berjuang sekian lama, target kita semakin dekat. Kalau kita mundur sekarang, bukankah pengorbanan kita akan menjadi sia-sia?"
Ketua Tim Serigala mendesak.
“Apa lagi yang bisa kita lakukan? Banyak korban jatuh di ketiga tim kecil kita. Lagi pula, setelah bertempur semalaman, tubuh mereka sudah mencapai batas kemampuan!" Pria tua itu berkata dengan dingin.
Wajah beberapa ketua tim tampak murung.
"Suruh mereka mundur saja. Mereka adalah para tentara yang luar biasa. Mereka telah membuat seluruh rakyat Huaxia bangga!"
Pria tua itu menghela napas.
"Coba kalian lihat, ada seseorang yang keluar menyerang lagi!"
Arthur tiba-tiba menunjuk ke layar.
"Sembarangan! Apa masih tidak cukup banyak korban berjatuhan?"
"Dia... dia adalah Dokter!"
Raut wajah Macan Hitam sontak berubah.
Saat ini, Jansen maju menyerang seperti seekor macan tutul. Jansen memegang senapan sniper dan bergerak dengan kecepatan tinggi.
Anggota ketiga tim kecil juga melihat Jansen. Mereka semua langsung memarahi Jansen dan menganggap Jansen telah berbuat gila.
Sebelumnya, mereka semua telah menguji berbagai metode, tetapi pihak musuh sangat berpengalaman dan sama sekali tidak masuk ke dalam perangkap. Meskipun mereka tahu di mana penembak jitu sedang bersembunyi, jarak tembak senjata mereka tidak dapat menjangkau tempat yang jauh.
Benar saja, ketika Jansen semakin dekat dengan anggota tim yang terluka, peluru datang menerjang dalam kegelapan dan membuat Jansen terjatuh.
"Dokter!"
Semua orang berteriak dengan tegang.
"Tidak apa-apa, aku masih hidup!"
Suara Jansen terdengar di radio komunikasi, membuat semua orang akhirnya merasa tenang.
"Dokter, kamu jangan sembarangan! Pihak markas telah memerintahkan mu untuk mundur. Siapa yang menyuruhmu keluar menyerang?" Macan Hitam sangat mengkhawatirkan Jansen. Dia pun terpaksa menegur Jansen.
Bang!
Namun, pada saat ini, terdengar lagi suara tembakan, semua orang kembali dibuat terkejut.
Tak lama berselang, semua orang pun sadar bahwa ternyata tembakan ini bukan ditembak oleh penembak jitu, tetapi tembakan ini dilepaskan oleh Jansen.
"Satu orang terbunuh!"
__ADS_1
Pada saat bersamaan, suara Jansen terdengar di radio komunikasi.
Semua orang sontak terdiam.
Apakah Jansen telah menemukan titik persembunyian penembak jitu saat Jansen berlari keluar menyerang tadi?
Pada saat bersamaan, Jansen kembali berlari keluar sambil menggunakan pelindung untuk menolong anggota tim yang jatuh terluka.
Bang!
Dalam kegelapan, penembak jitu kedua mulai melepaskan tembakan.
Namun, Jansen sepertinya dilindungi oleh para dewa karena sebelum tembakan itu dilepaskan, Jansen sudah terlebih dahulu tiarap sehingga peluru yang hendak ditembakkan pun kosong.
Bang!
Jansen berhasil menemukan tempat persembunyian penembak jitu setelah tembakan ini. Jansen pun langsung balas menembak.
"Satu orang lagi terbunuh!"
Jansen bergumam dengan nada sinis.
Di dalam radio komunikasi, semua orang mendengar suara Jansen.
"Orang ini adalah penembak jitu dengan bakat alami. Hanya dalam waktu satu detik, dia tidak hanya menghindari peluru, tetapi juga berhasil menemukan lokasi musuh!"
"Selain itu, dia sepertinya juga mengetahui sudut mati dan arah lari penembak jitu, sehingga memaksa hanya seorang penembak jitu yang bisa membidiknya dengan tepat. Dua orang penembak jitu lainnya malah membidik dari sudut mati."
"Benar, dia mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan mereka satu per satu, menyisakan seorang penembak jitu!"
Semua orang saling berkomentar. Mereka semua benar-benar terkejut.
Pria tua itu tersenyum sambil berkata kepada Macan Hitam, "Dokter di tim kalian memang hebat!"
Macan Hitam sontak terkejut. Namun, hatinya ikut merasa senang.
Dua orang penembak jitu berhasil dibasmi, sedangkan penembak jitu ketiga masih belum melepaskan tembakan. Jansen menunggu sebentar dan menduga bahwa pihak musuh telah mundur. Tentara bayaran itu sangat pintar. Dia sadar bahwa dirinya seorang tidak akan sanggup memberikan perlawanan.
Anggota tim kecil juga keluar menyerang sambil menjaga area di sekeliling mereka. Mereka pun menemukan bahwa jumlah anggota tim mereka ternyata hanya tersisa sembilan orang dari sebelumnya yang berjumlah tiga puluh enam orang.
Ada yang telah tewas dan ada juga yang terluka parah.
"Lapor!"
Suara dari markas pun masuk. Setelah mendapatkan laporan jelas mengenai situasi terkini, pria tua itu berkata dengan datar, "Perintahkan pasukan untuk mundur. Pihak musuh berjumlah tiga puluh tiga orang dan memiliki tiga belas orang penembak jitu. Lagi pula, perang yang kalian jalani adalah perang sporadis. Upaya kalian cukup membanggakan kami. Selanjutnya, serahkan sisanya kepada pihak markas!"
"Ketua!"
Mereka semua tidak terima dengan perintah ini karena mereka semua ingin membalaskan dendam saudara-saudara mereka yang telah tewas.
"Mundur sekarang juga! Kalian semua adalah tentara kebanggaan Huaxia. Kalian semua adalah tentara unggulan Huaxia. Kami tidak boleh kehilangan kalian!" Pria tua itu berkata dengan datar, "Kalian tidak perlu khawatir, pesawat pengebom telah disiapkan. Sebelum matahari terbit besok pagi, wilayah perbatasan akan dihancurkan hingga luluh lantah. Mereka tidak akan bisa meninggalkan wilayah Huaxia!"
Meskipun semua anggota tim kecil merasa tidak rela, mereka tetap harus mematuhi perintah.
Mereka satu per satu mengepalkan tangan. Meskipun pihak markas telah memiliki rencana dan strategi pertempuran baru, tampak jelas bahwa kekuatan pasukan khusus masih kalah jauh dibandingkan kekuatan resimen tentara bayaran internasional.
Jika kabar itu tersebar hingga dunia internasional, seluruh dunia akan menertawakan pasukan khusus negara kita.
Saat ini, Jansen pun pergi dengan membawa senapan.
"Dokter, ke mana kamu hendak pergi? Pihak markas telah menyuruh kita mundur!"
Seorang anggota Tim Serigala bertanya sambil mengerutkan kening.
"Aku akan membalaskan dendam saudara-saudaraku!"
__ADS_1
Dalam kegelapan, mata Jansen seperti mata serigala kesepian di tengah cahaya malam. Hati Jansen benar-benar diliputi dengan rasa dendam, kemarahan, dan kebrutalan.