Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 503. Berita Duka!


__ADS_3

Di dalam mobil, Joshua menatap Jansen untuk waktu yang lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang terjadi hari ini sungguh membuat hati Joshua terpukul.


Semua ini terjadi seperti mimpi, sangat tidak nyata.


Sulit membayangkan seorang bos besar yang memiliki puluhan ribu anak buah ini ternyata sangat ramah dan bersahabat kepada orang lain.


"Bos Jansen, sejak kapan kamu bisa jadi sehebat ini? Ini Ibu kota, bukan Kota Asmenia!"


Setelah diam sekian lama, Joshua akhirnya bertanya


dengan heran.


"Bos kepalamu! Aku adalah Jansen, bukan bos!"


Jansen memarahinya sambil tertawa, "Itu karena terpaksa dengan keadaan dan terkadang juga karena tidak ada jalan lain!"


Jansen merasa menyesal karena jika bisa memilih, dia tentu lebih memilih menjadi seorang dokter di Kota Asmenia. Dia sama sekali tidak ingin menjadi bos besar.


"Kalau aku dengar dari nada bicaramu, aku percaya kamu ini tetap Jansen yang dulu!"


Joshua menepuk dadanya tanda merasa lega karena dia khawatir Jansen benar-benar telah berubah. Dia lantas tertawa dan berkata, "Baguslah, sekarang Tuan Muda Jerry sudah mendapatkan pelajaran. Lain kali, dia tidak akan berani sombong lagi. Cathy juga rasanya tidak akan berani menggangguku lagi!"


"Cathy hanyalah orang biasa, dia pasti tidak berani, tapi Tuan Muda Jerry bisa saja berani!"


Jansen menggelengkan kepalanya, dia tahu karakter tuan muda seperti mereka ini. Mereka tidak mungkin melupakan masalah dengan mudah.


"Tuan Jansen, karena sudah begitu!"


Michelle tiba-tiba menoleh dan berniat menyayat leher sendiri.


"Tidak usah, dia tidak akan bertahan hidup sampai tiga hari!" Jansen menjawab dengan sinis..


Mata Michelle terbelalak. Dia bingung kenapa Jansen begitu yakin dengan pernyataan ini.


Panah tidak merasa heran karena dia tahu sejauh mana keterampilan medis Jansen.


Di RS Rakyat, Tytus dan yang lainnya sedang menunggu dengan cemas di depan ruang bedah.


Tiba-tiba, lampu di ruang bedah padam dan seorang dokter berjalan keluar.


"Dokter, bagaimana kondisi anak aku?"


"Jangan khawatir, operasinya sukses. Selain luka pisau di kedua tangan, hal yang sangat ajaib terjadi karena cedera di kepalanya tidak begitu parah, tidak sampai retak tulang. Dia hanya gegar otak ringan!"


"Syukurlah, terima kasih Dokter!"


Tytus akhirnya merasa lega. Dia kemudian bertanya apakah bisa bertemu dengan Jerry.


Dokter mengangguk tanda setuju. Lagi pula, pasien hanya terluka di tangan dan kaki, tidak ada luka fatal.


Di dalam ruang perawatan, Jerry terbaring dan sedang diinfus. Kepalanya juga diperban. Kondisi kesadaran Jerry juga lumayan bagus.


"Ayah!"

__ADS_1


Jerry langsung berteriak saat melihat Tytus datang.


"Syukurlah tidak ada masalah, syukurlah tidak ada masalah!"


Tytus benar-benar bisa tenang.


"Jangan khawatir, aku tidak begitu mudah mati!"


Jerry tersenyum bangga, tetapi matanya tiba-tiba memandang dengan sinis, "Jansen, oh Jansen, kamu pasti tidak menyangka aku akan baik-baik saja. Orang baik seperti aku ini pasti dilindungi. Tunggu saja, cepat atau lambat aku pasti akan membunuhmu!"


"Jerry, meskipun aku tidak tahu alasan kenapa Tuan Hilton membantu Jansen, tapi aku yakin Jansen bukanlah orangnya Tuan Hilton. Lain kali, cari kesempatan untuk habisi Jansen. Tuan Hilton pasti tidak akan ikut campur urusan ini!"


Tytus tahu bahwa orang besar seperti Tuan Hilton kenal banyak bos besar lain sehingga tidak akan menganggap Jansen itu penting.


Tuan Hilton mungkin saja membantu Jansen tadi karena tidak ingin masalah menjadi besar.


"Kamu istirahat yang baik, jangan nakal lagi!"


Setelah selesai berbicara dengan Jerry, Tytus terpikir dengan masalah bisnisnya. Dia lalu pergi dengan para pengawal.


Setelah ayahnya pergi, Jerry menggoda perawat. Karena merasa bosan, dia ingin minum minuman keras.


"Tuan Muda Jerry, Anda mau pergi ke mana?"


Ketika kedua pengawal itu melihat Jerry bangkit dari tempat tidur dan duduk, mereka langsung mengerutkan kening.


"Aku ingin pergi minum. Ingat, jangan beritahukan ayahku atau aku akan buat kalian menderita!"


"Kalian bodoh! Kalau Jansen berani membunuhku, tadi dia pasti sudah melakukannya. Dia hanya menggertak aku. Kalian minggir dulu!"


Jerry tidak mau mendengarkan mereka. Setelah menendang pengawalnya, dia kabur dari ruang perawatan lalu menuju ke tempat parkir dan pergi mengendarai mobil.


Jerry mengendarai mobil Bugatti dengan tangan yang agak kesulitan karena terluka.


Mobil itu melaju meninggalkan Ibu kota melalui jalan tol. Kecepatan mobil itu semakin bertambah.


"Seru, benar-benar seru!"


"Lebih cepat lagi!"


Jerry tampak asyik seolah baru meminum minuman keras.


Bang!


Seperti yang diduga, kecelakaan parah terjadi di jalan tol. Mobil itu hancur berkeping-keping.


Kabar duka ini segera sampai ke telinga Tytus. Dia langsung lemas dan hampir terjatuh dari duduknya. Dia seperti orang kebingungan.


"Jerry!"


Tytus berteriak sedih.


"Bos, laporan dari polisi lalu lintas, kecepatan tuan muda mencapai tiga ratus km/jam. Dia gagal mengendalikan kemudi saat berbelok di tikungan dan mengalami tabrakan dengan kecepatan tinggi!" Pengawal itu melaporkan sambil menjawab telepon.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi? Jerry mengalami kecelakaan mobil ketika dia masih kuliah dan kakinya patah. Sejak itu, dia tidak pernah lagi mengendarai mobil balap!"


Mata Tytus merah dan dia tidak sanggup menerima kabar duka atas kematian putranya.


Semua pengawal tidak berani bicara. Kecepatan mobil mencapai tiga ratus km per jam, sebanding dengan kecepatan dari kereta cepat. Dia pasti mati bila terjadi kecelakaan dengan kecepatan mobil seperti itu.


"Periksa Jansen, meskipun masalah ini tidak ada sangkut paut langsung dengannya. Mungkin ini terjadi karena dia menghajar Jerry, sehingga Jerry menjadi sedih dan emosinya berubah tidak stabil lalu pergi mengendarai mobil balap!"


Tytus tiba-tiba mengangkat kepalanya, matanya penuh dengan niat membunuh.


"Bos, Jansen adalah menantu Keluarga Miller, tapi dia tidak diterima di Keluarga Miller. Kabarnya, dia akan diusir dari Keluarga Miller dalam beberapa bulan lagi!"


"Beri aku nomor telepon orang Keluarga Miller!"


Di tempat lain, dua orang wanita sedang bermesraan di sebuah kamar pribadi yang dipenuhi dekorasi berwarna merah muda.


"Sheila, kamu adalah gadis paling lembut yang pernah saya temui, aku akan baik padamu seumur hidupku!"


Jessica menatap wanita cantik itu di pelukannya dan mengangkat dagunya.


"Jessica, aku dan kamu sama-sama tidak percaya dengan laki-laki. Mulai sekarang juga, mari kita jalani hidup ini bersama-sama!"


Wanita cantik itu tampak larut dalam pelukan Jessica.


Jessica membelai pipi wanita cantik itu dan tiba-tiba bertanya, "Kamu ini kerja di PT. Senlena, tugas yang aku suruh kamu kerjakan sudah kamu kerjakan?"


"Sudah beres, jangan khawatir, tidak ada orang lain yang bisa mengetahuinya!"


Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk.


Setelah mereka berdua selesai bermesraan, Jessica merapikan pakaian dan keluar untuk minum minuman di aula utama.


Seluruh ruang aula utama sudah disewa, musik terus berputar, tetapi tidak ada orang yang menari.


Jessica menggoyang-goyangkan gelasnya. Tatapan matanya sangat datar. Dia berbicara sendiri, "Jansen, oh Jansen, pernikahan Elena berpengaruh dengan masa depanku, aku tidak bisa membiarkanmu merusak rencanaku!"


"Kak Jessica, ada kabar baik!"


Seorang pemuda yang memakai jas krem dan jam tangan mewah datang dan masuk ke dalam. Pemuda itu adalah Jasper.


"Aku dengar Tytus Harper yang berasal dari keluarga kaya dan berkuasa, ingin membunuh Jansen. Dia menyalahkan kematian putranya sendiri kepada Jansen!"


Jessica menggoyang-goyangkan gelas minuman sambil mengamatinya dengan serius. Dia lalu berkata sambil tersenyum, "Dia meneleponku hari ini, aku tidak angkat. Aku tak menyangka ternyata karena masalah ini. Kalau masalah sudah begini, kelanjutannya pasti seru!"


"Aku sudah mencari informasi tentang Jansen. Dia berencana membuka cabang aula Xinglin di Ibu kota. Dia memang bodoh. Hanya membuka satu klinik saja sudah berpikiran mengubah nasibnya!" Jasper berkata sambil menuang minuman sendiri ke dalam gelas.


"Jansen ini selalu memiliki kemampuan yang unik, entah itu saat menjalankan klinik atau saat menjadi direktur perusahaan, bahkan kalau dia hanya menjadi seorang satpam, aku akan berusaha mati-matian untuk menekannya!"


Jessica berkata dengan sinis, "Aku dapat informasi bahwa sekarang dia masih punya satu perusahaan, yaitu PT. Senlena!"


"Buat dia hancur, buat dia jadi bangkrut!"


Jasper berkata dengan penuh kebencian.

__ADS_1


__ADS_2