Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 662. Dia Bisa Diandalkan!


__ADS_3

"Kalian bicara omong kosong. Kakak iparku tidak seburuk itu!" kata Diana kesal.


"Tidak peduli seberapa baik kakak iparmu di matamu, tetap saja dia tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan Keluarga Miller. Apa lagi sebutannya kalau bukan menempel pada orang yang kaya?"


Irish berkata sambil melengkungkan bibirnya.


"Aku tidak akan segan-segan dengan kalian kalau kalian bicara seperti itu lagi!"


Diana berseru dengan marah. Irish dan yang lainnya pun akhirnya tidak berani mengatakan apa-apa.


Akan tetapi, wanita-wanita itu masih menatap Jansen dengan sorot menghina. Jansen yang berasal dari Kota Asmenia dan merupakan seorang pecundang miskin tentu saja tidak sebanding dengan mereka yang sekarang bekerja sebagai pegawai di Grup Dream Internasional yang terletak di kota kelas atas!


"Irish, aku sudah sampai!"


Tepat pada saat itu, dua orang pemuda berjalan menghampiri dari kejauhan. Mereka berdua terlihat sangat tampan, yang satu memakai setelan jas ala Inggris dan yang lainnya memakai mantel ala Korea.


"Kenalkan, ini kekasihku, Maxime Mutof . Dia bergelar master!"


Irish memeluk pemuda berjas itu dengan senang, "Dia sekarang menjabat sebagai manajer divisi di Grup Dream Internasional. Dialah yang mengenalkanku pada pekerjaanku saat ini!"


"Bukankah kamu ingin bekerja di Grup Dream Internasional, Diana? Kamu bisa meminta bantuan Maxime!" ujar Irish sambil menatap Diana.


"Kamu Diana kan? Aku sering mendengar tentangmu dari Irish. Tenang saja, serahkan semuanya padaku!"


Pemuda bernama Maxime itu berjanji, lalu memperkenalkan temannya, "Kenalkan, ini Anzel. Dia adalah teman sekelasku. Dia sekarang bekerja di sebuah perusahaan kecil yang dia rintis sendiri dan menghasilkan keuntungan jutaan yuan per tahun!"


"Wah, kamu memulai bisnis tidak lama setelah kamu lulus, ya! Hebat sekali!"


Lila dan para gadis lainnya berseru kagum.


"Hahaha.... Aku hanya beruntung!"


Anzel tersenyum elegan dan menyapukan pandangannya ke semua wanita yang hadir. Tatapannya tertuju pada seorang gadis pendiam yang merupakan Laras.


Tujuan utama Anzel ikut datang bersama Maxime hari ini adalah karena Maxime ingin memperkenalkan kekasihnya kepadanya.


Semua gadis ini terlihat cantik, terutama Laras. Perawakan dan penampilannya sangat sesuai dengan keinginan Anzel.


"Lalu, orang ini adalah?"


Jansen adalah satu-satunya pria yang hadir di situ, jadi Maxime mau tidak mau bertanya.


"Dia adalah kakak ipar Diana, Jansen Scott!"


Irish memperkenalkan dengan jijik.


"Ah, aku pernah mendengar tentangmu! Kamu adalah menantu pecundang yang menumpang hidup!"


Maxime berseru, lalu buru-buru mengubah perkataannya, "Maaf, aku terlalu lancang. Halo, Tuan Jansen!"


"Halo!"


Jansen sama sekali tidak peduli. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa menyingkirkan julukan 'menantu pecundang yang menumpang hidup' yang sudah mengikutinya dari Kota Asmenia ke Ibu kota itu.


Lagi pula, dia tidak perlu merasa kesal dengan para bocah ini.

__ADS_1


"Di mana Tuan Jansen bekerja sekarang? Kalau kamu tidak memiliki pekerjaan, aku bisa merekomendasikan lowongan kerja untukmu!" Maxime pun menambahkan, "Aku datang lebih dulu ke Ibu kota, jadi aku memiliki koneksi yang cukup luas. Membantumu bukanlah sebuah masalah bagiku!"


"Tidak usah memberikannya pekerjaan! Kakak iparku adalah seorang dokter!"


Diana membalas sambil mendengus dingin. Dia tidak tahu dari mana berita itu berasal yang menyebabkan teman-teman sekelasnya tahu bahwa kakak iparnya adalah menantu yang menumpang hidup di keluarganya dan bahkan menempel pada kekayaan Keluarga Miller!


"Oh, ternyata kamu seorang dokter. Sarjana atau sudah bergelar master?"


"Ah, tapi Tuan Jansen tidak membutuhkan ijazah apa pun untuk menikah dengan Keluarga Miller. Tidak peduli apakah dia mampu atau tidak, Keluarga Miller pasti akan menutupi kekurangannya!" sambung Maxime sambil menyunggingkan seulas senyuman yang terlihat ganjil.


Maksud tersiratnya adalah Jansen hidup dengan bergantung pada istrinya! Jadi meskipun dia tidak memiliki kemampuan apa-apa, dia tetap akan terlihat seperti seseorang yang bisa diandalkan!


"Aku tidak seberuntung itu. Setelah lulus, aku datang merantau ke Ibu kota tanpa bantuan, koneksi, maupun dana. Aku benar-benar memulai dari nol dan mengandalkan diriku sendiri untuk meraih segalanya!"


Maxime berkata dan terlihat jelas dia sedang berpura-pura.


"Maxime memang cukup hebat. Dia masih muda, tapi sudah menjadi manajer divisi di Grup Dream Internasional. Gaji tahunannya bahkan mencapai jutaan Yuan! Aku sangat kagum padanya!" Anzel juga ikut menimpali.


"Anzel, kamu juga hebat. Bagaimanapun juga, kamu sendiri yang merintis PT Cantika Cosmetics!"


Kedua pria itu saling memuji dan menyombongkan diri.


"Pria sejati itu tidak boleh mengandalkan orang lain dan harus mengandalkan diri sendiri!"


Pada akhirnya, Jansen malah disindir bukan seorang pria sejati karena menggantungkan hidupnya pada kekayaan Keluarga Miller.


"Ya, ya, ya, kalian memang hebat!"


Bahkan Diana bisa mendengar maksud tersiratnya dan merasa sangat kesal.


"Diana, kurasa ucapan mereka ada benarnya!"


"Kalau memang begitu, ya sudah tidak usah!"


Amarah Diana juga tersulut.


Suasana pun menjadi sedikit canggung.


Wanita yang dipanggil Laras buru-buru berkata, "Sudah, sudah, tidak usah membicarakan tentang ini lagi. Kita sudah susah payah berkumpul di Ibu kota, jadi bagaimana kalau kita pergi makan?"


Semua orang mengangguk menyetujui. Mereka pun pergi ke sebuah restoran mahal di Mall Prisma.


Maxime dan Anzel-lah yang menguasai topik pembicaraan sepanjang mereka makan. Mereka berbicara tentang sejarah kehidupan mereka yang gemilang, tentang betapa mereka harus bekerja dengan keras dan tekun pada awalnya sebelum akhirnya bisa memegang posisi tinggi dan berdiri teguh di Ibu kota serta membawa nama baik bagi keluarga!


Tatapan Irish dan teman-temannya dipenuhi rasa iri.


Jansen hanya diam menyaksikan kedua pria itu menyombongkan diri, raut wajahnya terlihat bosan.


Irish yang selalu memiliki keluhan tentang Jansen pun sontak mencemooh begitu melihat Jansen yang diam saja sedari tadi "Kamu ini.... Kamu harus belajar dari orang lain bagaimana menjadi seorang pria sejati!"


"Irish, menurutku Jansen juga sangat hebat. Dia bisa diandalkan dan tulus kepada orang lain!"


Laras membela Jansen.


"Dia itu bisa diandalkan?"

__ADS_1


Tatapan Irish dan yang lainnya bahkan terlihat semakin menghina. Pria satu itu hanya bisa diandalkan oleh orang miskin!


Anzel diam-diam merasa kesal. Dia menyukai Laras di antara semua wanita cantik ini, tapi gadis itu bahkan sepertinya tidak menganggapnya ada. Sebaliknya, Laras malah menyukai karakter Jansen yang pecundang.


Semua orang terus mengobrol. Setelah mereka selesai, Maxime pun berdiri dan berkata, "Kalian sudah kenyang, kan? Biar aku saja yang bayar, setelah ini akan ku ajak kalian keliling Ibu kota. Kalian turun saja ke tempat parkir mobil dan tunggu aku!"


Mereka pun mengikuti Anzel ke tempat parkir mobil bawah tanah.


Melihat Laras yang pendiam, Anzel pun berinisiatif mendekat kepadanya dan memulai percakapan, "Laras, mobil seperti apa yang kamu suka?"


Laras menjawab dengan sopan, "Maaf, aku tidak tahu banyak tentang mobil!"


"Oh, sayang sekali. Aku sangat menyukai mobil. Ada beberapa mobil yang sekarang menjadi koleksiku karena karirku sudah sukses. Mereka semua kuparkirkan di tempat parkir mobil bawah tanah Mall Prisma!" kata Anzel sambil tersenyum dengan elegan.


"Benarkah? Nanti tunjukkan pada kami, ya!"


Gadis bernama Alea menyahut dengan tatapan yang berbinar-binar. Gadis mana yang tidak suka dengan mobil sport mewah?


"Tentu saja. Nanti pilih saja mobil mana yang ingin kalian naiki dipakai jalan-jalan!"


Anzel berpura-pura berkata dengan santai. Faktanya, dia hanya memiliki sebuah mobil Mercedes-Benz E-Class yang harganya sekitar 500 ribu yuan. Namun, dia bisa dengan mudah mengelabui para gadis ini karena mereka tidak tahu paham tentang mobil.


"Aduh!"


Mereka baru saja tiba di tempat parkir bawah tanah ketika Irish tiba-tiba menabrak seorang pria tua saat sedang berbelok di tikungan.


Kotak makan yang ada di tangan orang tua itu terjatuh dan dia pun terduduk di atas tanah.


"Pengemis ini datang dari mana? Membuat pakaianku kotor saja!"


"Satpam! Mana satpamnya? Cepat usir pengemis ini!"


Irish mengumpat dengan geram sambil menunjuk-nunjuk pria tua itu.


Orang tua itu terduduk di atas tanah dengan ketakutan, tubuhnya bahkan sampai gemetaran. Tatapannya terlihat kebingungan dan kosong.


"Irish, sudahlah!"


Laras segera membantu orang tua itu untuk berdiri.


"Pergi dari sini! Seluruh tubuhku jadi bau sekali! Mana satpamnya!"


Irish masih sangat kesal, tetapi dia menendang orang tua itu lagi, menyebabkan orang tua itu berteriak sedih.


Raut wajah Lila, Alea, dan gadis-gadis lainnya juga terlihat jijik.


Beberapa orang satpam pun segera datang menghampiri mereka dan langsung meminta maaf begitu melihat penampilan Irish dan yang lainnya yang terlihat berkelas.


"Bagaimana cara kalian mengurus sesuatu? Ini adalah tempat parkir bawah tanah! Kenapa malah memperbolehkan pengemis untuk masuk dan bukannya segera mengusir mereka!"


"Kuberitahu, ya! Temanku punya mobil sport yang mewah! Kalian tidak akan sanggup menggantinya kalau sampai mengotori mobilnya!"


Irish memarahi sambil menunjuk-nunjuk para satpam itu.


Ternyata para satpam mengenal orang tua itu, "Nona, lihatlah! Di luar sangat dingin, jadi kami mengizinkannya untuk tinggal di sini karena kami kasihan padanya!"

__ADS_1


"Kalian masih ingin omong kosong lagi? Cepat usir dia!"


Irish memarahi sambil berkacak pinggang seolah-olah Mall Prisma ini adalah rumahnya, "Lihat saja nanti begitu kekasihku turun! Kalian semua akan dipecat!"


__ADS_2