Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 691. Menggores Pena Di Atas Kertas!


__ADS_3

"Cukup, Jansen! Kamu memicu perselisihan di depan mataku, mereka semua adalah kerabatku. Apakah kamu memikirkan perasaanku ketika kamu menentang mereka seperti ini?" Mata Elena meneteskan air mata lalu dia kembali berujar, "Dan sekarang, kamu berbicara buruk tentang sahabatku. Apa hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini yang benar dan orang lain semuanya salah?"


"Aku sudah muak. Kamu telah berubah, kita tidak bisa bersama lagi. Kita bercerai hari ini juga!"


"Di masa depan, aku akan menangkapmu dan membalas dendam Kakek!"


Saat Elena mengucapkan kalimat terakhir itu, dia melihat Jansen, menatapnya dengan jijik, benci, dan dingin, sangat berbeda dengan masa lalu.


Jansen mengepalkan tinjunya, dia seperti tidak sadarkan diri.


"Tanda tangani surat pernyataan cerai ini!"


"Aku akui aku berutang banyak padamu, tapi hari ini aku akan mengembalikan semuanya padamu!"


"Apa kamu ingat saat itu di Kota Asmenia aku pernah bilang aku ingin bercerai? Kamu berlutut, ditampar tiga kali olehku tetapi kamu tetap tidak pergi. Hari ini aku akan mengembalikannya padamu!"


Setelah Elena selesai berbicara, dia berlutut di depan Jansen, mengangkat matanya dan menatap Jansen dengan penuh air mata.


Jansen sangat marah!


Mengembalikannya padanya?


Setelah kejadian berlutut di Kota Asmenia, Jansen dikenal sebagai seorang pecundang!


Dia tidak menyesal!


Hari ini, Elena akan mengembalikan semuanya kepadanya!


Cinta telah hancur, hati telah mati!


Plak!


Jansen mengangkat tangan dan menamparnya!


"Setelah tamparan ini, Aku, Jansen, tidak ada hubungannya denganmu lagi!"


Plak!


"Setelah tamparan ini, bahkan jika aku mati di ujung dunia, kamu tidak boleh ikut campur!"


Plak!


"Setelah tamparan ini, kehidupan masa lalu dan cinta kita akan berakhir!"


Setelah tiga tamparan, Jansen tiba-tiba mengambil surat pernyataan cerai!


Ia menggoreskan pena di atas kertas itu!


Matanya basah tapi dia menahan semua air matanya!


Dia menatap Elena untuk terakhir kalinya dan pergi!


"Dalam satu bulan aku akan memberi penjelasan kepada Kakek. Jika aku tidak sanggup melakukannya, aku akan mati sebagai permohonan maaf!"


Seluruh anggota Keluarga Miller mendengar kalimat ini!


Pada saat itu, Diana dan Naomi meneteskan air mata, keraguan mereka terhadap Jansen sedikit terguncang.


Elena masih berlutut, dia menggigit bibirnya sambil melihat pria itu pergi!


Dia tahu bahwa kali ini tidak sama seperti sebelumnya. Cinta ini benar-benar telah hancur.

__ADS_1


Dia melihat sosok punggung secara perlahan pergi dan menghilang dari pandangan.


Sosok itu terbang ke cakrawala yang amat jauh dan sangat sulit untuk bertemu dengannya lagi!


Dia melihat kembali surat pernyataan cerai di atas lantai!


Dia dan Jansen sudah beberapa kali mengajukan gugatan cerai, tetapi tidak ada yang berhasil. Tak disangka akhirnya kali ini semua telah mencapai batasnya.


Terkadang, berbalik hanya sekali dapat berarti Selamanya.


Ketika Jansen baru saja keluar dari halaman Keluarga Miller, sudah ada beberapa mobil polisi di luar. Ketika melihat Jansen keluar, seorang polisi datang dengan membawa borgol


"Saudara Jansen, kamu dicurigai melakukan pembunuhan yang disengaja, mohon ikut bersama kami untuk melakukan penyelidikan!"


Jansen bersikap kooperatif dan mengulurkan tangannya, dia masuk ke dalam mobil polisi lalu meninggalkan tempat itu.


"Nah, kali ini kita harus menuntut Jansen, pelaku kejahatan tidak bisa lari dari hukum!"


"Jansen adalah penjahat yang keji, dia harus dihukum mati!"


"Jangan khawatir, hukum akan memberikan jawaban yang adil!"


Di aula berkabung, Renata sekeluarga sangat senang ketika mendengar suara mobil polisi di luar.


Mobil polisi membawa Jansen ke kantor polisi. Tanpa diduga, dia langsung dimasukkan ke dalam penjara tanpa interogasi.


Faktanya, Jansen sudah dua kali masuk penjara.


Wajah Jansen dingin dan dia terus-menerus berpikir ketika duduk di kursi besi sel tahanan.


Siapa yang membunuh Kakek


Motif pembunuhan itu pasti adalah Harta Karun Kultivasi.


Tapi apakah bisa mereka mendapatkannya dengan membunuh Kakek? Apakah orang-orang di belakang layar ini tahu di mana Harta Karun Kultivasi disembunyikan?


Sepertinya tidak mungkin kecuali jika Keluarga Miller memiliki orang dalam yang bisa membantu menemukannya!


"Apakah kamu Jansen?"


Tiba-tiba, beberapa tahanan yang berwajah ganas memasuki sel.


"Seseorang membayar kami untuk memberimu pelajaran!"


"Jangan melawan, jangan salahkan kami kalau kami bertindak kasar!"


Para tahanan datang dan mengerubungi Jansen.


Ekspresi Jansen tidak berubah sama sekali, dia bertanya dengan ringan, "Orang dari Keluarga Miller yang menyuruh kalian?"


"Jangan bertanya yang tidak-tidak!"


ujar seseorang yang besar dan berotot.


"Oh, bukankah ini Jansen?"


Tiba-tiba, seseorang lewat di luar sel, orang itu adalah kenalan Jansen, Jordie.


Ayah Jordie, Darius, dipenjara karena meracuni kakek Palmer. Jordie datang mengunjunginya setiap bulan dan dia melihat Jansen ditahan ketika sedang melewati sel.


"Haha, memang sudah sepantasnya kamu di sini, Jansen!"

__ADS_1


Jordie terlihat sangat gembira, dia bertanya pada penjaga penjara di sebelahnya, "Bocah ini melakukan kejahatan apa?"


Dia tahu latar belakang Jansen, pada umumnya akan sangat sulit untuk bisa memenjarakannya!


"Pembunuhan yang disengaja, orang yang ia bunuh adalah orang yang berkedudukan tinggi, yaitu Kakek Miller!" jawab penjaga penjara.


"Cih, kamu sungguh sangat cukup berani!"


Jordie terkejut ketika tahu bahwa akan sulit bagi Jansen untuk bebas, bagaimanapun juga, orang yang dibunuh adalah seorang Tuan Besar dari keluarga elit!


Ini artinya dia juga bisa balas dendam!


"Pukul dia dengan keras, Tuan Muda ini akan memberi kalian hadiah yang besar!" Jordie berteriak kepada para tahanan tersebut.


"Tanpa perlu kamu suruh juga kami akan memberinya pelajaran!"


Para tahanan meninju dan menendang Jansen, bahkan ada yang menghantamkan kursi besi ke punggung Jansen.


Bruk!


Jansen jatuh tersungkur, banyak darah mengucur dari dahinya!


Ketika kepalanya dipukul oleh pengawal Keluarga Miller, dia tidak melawan sama sekali!


Entah kenapa, dia merasa banyak berutang budi pada Kakek Miller. Peristiwa pemukulan ini akan dia balas nanti!


"Orang-orang dibelakang layar ini bergerak kepada Keluarga Miller demi mendapatkan Harta Karun Kultivasi, tapi mengapa mereka harus menjebakku?"


"Apakah mereka ingin aku memutus hubungan dengan Keluarga Miller?"


"Ada sesuatu yang salah. Akhir-akhir ini hubunganku dengan Elena menegang dan aku sudah tidak lagi memiliki muka di hadapan Keluarga Miller. Sepertinya ada seseorang di balik layar!"


Jansen terus berpikir.


Brak!


Sebuah kursi besi menghantam pipinya dan dia kembali jatuh tersungkur.


Jansen tampak tidak sadarkan diri.


"Pukul dia dengan keras!"


Para tahanan masih meninju dan menendang Jansen.


Sebenarnya, cukup mudah bagi Jansen untuk membayangkan siapa yang memanggil orang-orang ini, kemungkinan besar adalah Paman Ketiga, Lucky.


Paman Ketiga adalah anggota Keluarga Miller yang memiliki hubungan yang cukup baik dengan Jansen. Akan tetapi, hubungan mereka berdua menjadi kaku setelah Paman Ketiga ikut menduga Jansen sebagai pembunuh Kakek Miller. Karena alasan itulah Jansen tidak melawan.


"Pukulan yang bagus. Sombong sekali kamu Jansen!"


"Haha, seorang Kakek Miller saja bisa kamu bunuh. Walaupun kamu tidak dihukum mati, setidaknya kamu tetap harus dipenjara!”


"Kamu pantas mendapatkannya!"


Jordie terlihat sangat bahagia, namun dia juga merasa ada yang tidak beres karena Jansen tampak terlalu tenang!


Tidak ada perlawanan dan tidak ada tangis kesakitan. Orang itu benar-benar tidak bergerak.


Jordie sangat marah dan berteriak kepada tahanan, "Kalian belum makan ya? Pukul lebih keras lagi. Seratus ribu yuan, kalau belum cukup, satu juta yuan. Hari ini kalian harus menghajarnya sampai babak belur!"


Dia tidak menyangka orang yang sedang dipukuli itu tidak marah sama sekali, sedangkan orang yang menonton adegan tersebut tidak kuasa untuk menahan amarahnya!

__ADS_1


__ADS_2