
Jansen terbaring di kamar, matanya terus berkedip. Terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini. Semua kejadian ini sulit untuk dicerna.
Jansen mengingat kembali serpihan kenangan di Kota Asmenia, meskipun dia dan Elena sering berselisih, mereka masih saling mencintai dan menjalani kehidupan yang sederhana dan bahagia.
Namun setelah datang ke Ibu kota, jarak di antara mereka semakin jauh, pada akhirnya mereka berubah menjadi musuh!
Konon katanya setelah perceraian 80 persen pasangan berubah menjadi musuh. Kenyataan memang tidak berbohong.
Jansen menarik napas dalam-dalam, menekan perasaan ini, dan kembali memikirkan masalah yang dia hadapi saat ini!
Jansen masih belum menemukan petunjuk mengenai pembunuh, kaki tangan lawan terlalu kuat, mereka melakukan semuanya dengan bersih tanpa jejak. Jika mereka tahu Harta Karun Kultivasi ada pada dirinya, mereka pasti akan menemukannya.
Jansen mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, "Panah, cari semua rekaman CCTV di sekitar waduk malam itu!"
"Tuan Jansen, tidak banyak CCTV yang ditemukan di sana, ada yang rusak, ada juga yang tidak bisa merekam. Kami curiga seseorang merusaknya!"
"Tunggu, Ellisa menemukan rekaman CCTV minimarket yang berjarak sekitar tiga kilometer dari waduk, tapi aku tidak tahu apakah orang itu dekat dengan waduk, dari rekaman bisa dilihat orang ini sedang membawa alat pancing!"
"Kirimkan videonya kepadaku dan awasi semuanya!"
Jansen menutup telepon dan melihat video yang dikirim oleh Panah.
Terlihat seorang pria berpakaian santai membawa alat pancing dan membeli rokok di video tersebut. Meskipun dia terlihat seperti orang biasa, Jansen bisa melihat dia sangat gugup, telapak tangannya gemetar saat sedang membayar.
"Itu dia!"
Jansen tiba-tiba teringat, bukankah orang ini yang bertabrakan dengan Tuan Hilton dan hampir bentrok di luar Rumah Sakit Rakyat!
Jansen segera menelepon Tuan Hilton, "Tuan, apakah kamu masih ingat pria yang bertabrakan denganmu di Rumah Sakit Rakyat? Tolong bantu aku temukan dia secepat mungkin!"
Kemudian Jansen lanjut berbaring di tempat tidur.
Sekarang Keluarga Miller telah runtuh, yang kaya dan berkuasa pun melemah, dan delapan keluarga elit telah berombak!
Tunggu, apabila Keluarga Miller runtuh, lantas siapa yang menjadi keluarga elit baru?
Jansen menelepon Alexander untuk bertanya, ternyata yang naik menjadi keluarga elit baru adalah Keluarga Bermoth.
Keluarga Bermoth?
Jansen tiba-tiba teringat pada Kepala Sanatorium Desta Bermoth dari Rumah Sakit Rakyat. Pria ini juga anggota Keluarga Bermoth. Tuan Hilton pernah mengingatkan bahwa Keluarga Bermoth mendapat dukungan kuat dari orang-orang di dunia Jianghu.
Dia segera menelepon Panah dan Memintanya untuk mencari semua informasi tentang Keluarga Bermoth.
Dia memiliki perasaan yang samar bahwa Keluarga Bermoth adalah pihak yang diuntungkan saat ini dan mungkin masalah ini ada kaitannya dengannya.
__ADS_1
Selain itu, ada plutokrat yang mengambil kesempatan untuk mengakuisisi perusahaan Keluarga Miller. Mereka tampaknya sudah mendengar kabar burung sejak lama, dan mereka takut ada informasi yang tersembunyi.
"Bos Jansen, aku menemukan orang itu. Nama pria itu adalah Kim Daffa. Dia adalah seorang gelandangan yang menganggur dan dia ada di sini sekarang!"
Saat itu, telepon Tuan Hilton berdering, dia sangat bersemangat.
Tuan Hilton mengetahui dengan jelas masalah Jansen, dia langsung bersemangat begitu menerima telepon dari Jansen. Dia merasa membantu Jansen adalah sebuah berkah yang besar.
Setelah menerima alamat yang dikirim oleh Tuan Hilton, Jansen segera berkemas dan pergi. Jansen melihat seorang wanita yang mengenakan jaket berdiri di gerbang ketika dia baru saja keluar rumah. Setelah melihat Jansen, wanita itu tampak kusut.
"Naomi!"
Jansen mengerutkan keningnya.
"Jansen, kamu benar-benar bebas!"
Naomi mengerutkan kening dan menatap Jansen. Dia sebenarnya tahu Jansen akan segera bebas. Bagaimanapun juga, Jansen memang sangat hebat.
"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya satu kalimat saja, aku tidak membunuh Kakek dan ayahmu!"
Singkat cerita, Jansen ingin bertemu Daffa secepat mungkin.
"Tapi, tidak ada yang melihat Kakek dan yang lainnya malam itu selain kamu!" ujar Naomi sambil menggigit bibirnya.
"Apakah kamu percaya padaku?" tanya Jansen.
"Aku percaya"
Naomi ragu-ragu sejenak lalu mengangguk.
"Kamu adalah orang pertama yang mempercayaiku!"
Jansen tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya, "Jangan khawatir, aku akan menemukan pembunuhnya dalam waktu satu bulan dan akan memberi tahu Kakek yang sudah ada di surga!"
Jansen segera pergi.
"Kamu mau kemana?"
Naomi terus mengikuti Jansen walaupun sudah berkali-kali diusir.
Jansen terus cemberut, dia seperti dikejar oleh waktu, Pria bernama Daffa itu mungkin mengetahui sesuatu, ada kemungkinan selanjutnya dia lah yang akan terbunuh. Akan tetapi, Naomi mengikutinya!
"Kamu ingin melarikan diri?"
Naomi tiba-tiba bertanya.
__ADS_1
Jansen berhenti sejenak dan mencibir, "Bukankah kamu baru saja bilang kalau kamu percaya padaku?"
"Aku!"
Naomi tidak bisa menjawab, hatinya sangat kacau.
"Ya sudah lah, aku telah menemukan saksi dan sekarang aku ingin melihat informasi apa yang bisa aku dapatkan!"
Jansen tidak ingin membuang-buang waktu dan kembali berjalan.
Begitu Naomi mendengar kata "saksi", dia semakin ingin terus mengikuti Jansen. Jansen tidak punya pilihan selain membiarkannya, dia menyuruh Naomi untuk tidak mengatakan apa pun.
Kedua orang itu mengendarai mobil menuju alamat yang diberikan Tuan Hilton. Mereka tiba di suatu bar di timur Ibu kota. Tempat ini disebut bar, tetapi sebenarnya ini adalah distrik lampu merah.
Setelah melalui banyak belokan, mereka akhirnya tiba disebuah rumah bobrok yang disewakan untuk orang luar kota, Harganya tidak mahal, tetapi memang agak kotor.
Jansen berdiri di lantai bawah, dia segera bergegas ketika tiba-tiba melihat sosok yang dikenalnya di lantai tiga sedang mengeringkan pakaian. Orang itu adalah Daffa.
Naomi ingin mengikuti Jansen, tetapi baru saja ada yang meneleponnya sehingga dia harus berhenti dan menjawab telepon tersebut.
Jansen langsung ke lantai tiga. Daffa sedikit terkejut ketika melihat Jansen, dia mencoba melihat dengan jelas lalu berseru, "Kamu!"
Dia mengingat Jansen dengan jelas, Jansen adalah pemuda yang membantunya di Rumah Sakit Rakyat.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!"
Jansen melihat sekeliling dan berbisik.
Raut wajah Daffa berubah, dia mengangguk, membuka kamarnya, dan mengajak Jansen masuk.
"Apakah Anda ingin bertanya tentang waduk juga?"
Setelah duduk, Daffa menarik napas dalam-dalam, wajahnya sedikit pucat, dia berkata, "Masalah ini sangat ramai diperbincangkan, saya melihatnya di berita. Saya dengar yang meninggal saat itu adalah tokoh besar dari keluarga elit. Saya sangat takut malam itu, saya tidak berani pulang, karena itulah saya bersembunyi di sini."
Jansen dan Daffa hanya pernah bertemu sekali, jadi Daffa sudah bisa menduga Jansen datang karena alasan itu.
Jansen tahu Daffa sangat ketakutan, Jansen menghiburnya "Jangan khawatir, aku akan memikirkan cara agar kamu bisa meninggalkan Ibu kota jika kamu mau memberitahu segala informasi yang kamu tahu!"
Daffa teringat saat itu Jansen menyuruh Tuan Hilton untuk menuruti dirinya, dia tidak meragukan Jansen, "Saya tidak akan semudah itu percaya pada orang lain, tapi Anda adalah orang yang baik. Saya sedang memancing di waduk malam itu, saya mendengar suara ledakan lalu saya melihat seseorang melompat dari tebing, benar-benar mengerikan!"
"Melompat dari tebing?"
Jansen mengerutkan keningnya.
"Ya, pria paruh baya itu jatuh di waduk dan itu hanya berjarak belasan meter dari saya. Saya pikir itu adalah sesuatu, saya juga menggunakan lampu untuk menyinari sesuatu tersebut. Ternyata itu adalah pria paruh baya yang mengenakan jaket krem!" ujar pria itu.
__ADS_1
Jansen berpikir sejenak, dia ingat Danial juga mengenakan jaket krem malam itu. Mungkinkah Danial tidak terbunuh oleh ledakan, tetapi mati karena jatuh dari tebing?
"Apa yang terjadi selanjutnya?"