Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 559. Atur Pekerjaan Untuk mu!


__ADS_3

"Master Harvey, dia... dia sepertinya adalah pecundang dari Keluarga Miller. Apalagi, anak ini bilang kalau hasil lukisan biasa-biasa saja. Dia juga punya lukisan ini?" Jordie bertanya seakan tidak percaya.


"Kamu panggil dia 'anak ini'? Apa kamu tahu sopan santun?"


Master Harvey menegur, "Tidak ada orang yang bisa menilai lukisan ini, tetapi jika dia mengatakan lukisan ini biasa-biasa saja, maka lukisan ini memang biasa-biasa saja!"


"Kenapa demikian?"


Jordie menanyakan pertanyaan yang ingin ditanyakan juga oleh semua orang.


"Tidak ada alasan yang pasti. Saat lukisan ini belum sempurna, dia membantu aku melukis beberapa goresan tambahan. Wajar kalau dia bilang lukisan ini adalah juga Karyanya sendiri!"


Kalimat pertama ini sudah cukup mengejutkan semua orang "Ternyata, orang di dalam lukisan ini adalah Tuan Jansen!"


Kalimat kedua benar-benar mengoyak hati semua orang.


Naomi menutup mulutnya karena terkejut seakan tak percaya.


Pemuda tampan dalam lukisan ini yang menyerupai tokoh utama dalam film kolosal sebenarnya adalah Jansen.


Lantas apakah orang yang memainkan piano waktu itu adalah juga Jansen?


"Dia? Anak ini?"


Jordie seolah balik dipermalukan. Dia juga terkejut karena Jansen yang dianggapnya tidak berpendidikan dalam waktu sekejap bisa berubah menjadi seorang terpelajar.


"Kamu masih berani panggil 'anak ini'? panggil Master Jansen!" Master Harvey kembali menegur.


Wajah Jordie memerah. Dia menggertakkan giginya dan berkata, "Mas... Master Jansen!"


Jordie tak sanggup menerima kenyataan ini.


"Pintar!"


Jansen tersenyum dan membelai kepala Jordie lalu berkata, "Tadi kamu bilang aku tidak pantas dipanggil dengan sapaan "Tuan', aku memang tidak pantas karena aku seorang Master. Karena kamu lumayan patuh, aku akan kasih kamu tulang untuk kamu makan. Cepat pergi sana bermain!"


Jordie tak bisa menahan emosinya lagi.


Jansen memperlakukannya seperti anak kecil.


Namun, Jordie juga tidak bisa membalas pernyataan Jansen.


Darius juga harus menanggung rasa malu. Awalnya, dia pikir dengan mengundang Master Harvey, dia adalah seorang pahlawan bagi Leimin dan bisa mendapatkan dukungan penuh darinya kelak.


Tak disangka, Jansen adalah bos besar yang sesungguhnya.


Darius yang mempersiapkan hadiah untuk Leimin, tetapi yang mendapatkan pujian adalah Jansen.


Jansen yang awalnya datang untuk makan saja, kini malah menjadi pusat perhatian.


Orang-orang Keluarga Miller tampak tidak bersemangat lagi. Mereka langsung pulang setelah selesai makan, begitu juga dengan Darius dan Jordie.


Setelah Jansen selesai makan, dia memandang Leimin dan berkata sambil tersenyum, "Paman Kedua, aku ada hal penting yang mau dibicarakan, ada waktu?"


Leimin melirik sekilas ke arah Master Harvey dan langsung mengangguk setuju.

__ADS_1


Leimin sadar bahwa ternyata Master Harvey bukan hanya kenal dekat dengan Jansen, tapi juga memperlakukan Jansen seperti seorang senior.


Suasana hati Leimin sangat kacau. Orang yang dianggapnya pecundang kini malah menjadi idola dari idolanya sendiri.


Leimin membawa Jansen masuk ke dalam sebuah kamar pribadi.


Jansen duduk dan berkata, "Paman Kedua selalu berambisi menjadi pemimpin Keluarga Miller, kan?"


Leimin langsung menatap Jansen dengan wajah terkejut.


Dia tidak habis pikir kenapa Jansen yang dia anggap pecundang dan hanya orang luar, bisa tahu hal ini.


"Kamu tidak usah peduli bagaimana aku bisa tahu hal ini. Kamu hanya perlu tahu, aku bukan orang yang sesederhana yang kamu kira!" Jansen berkata dengan pelan.


Leimin bak disambar petir. Dia hanya bisa tersenyum getir.


Itu memang benar adanya.


Jansen memang bukan orang yang sesederhana itu karena dirinya sudah dianggap sebagai senior oleh Master Harvey.


Semua orang Keluarga Miller sudah tertipu dengan penampilan Jansen.


Namun, apa sebenarnya tujuan Jansen berbuat demikian?


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, sederhana saja, jika Jessica tidak mundur dari posisinya, istriku pasti akan menderita. Selama ini, aku selalu ingin Jessica kehilangan posisinya sebagai pemimpin Keluarga Miller, tapi aku belum berterus terang karena tidak ingin membiarkan Jessica punya kesempatan untuk menentangku!"


Leimin semakin terkejut. Ternyata, Jansen bukan seorang pecundang, bukan seorang sampah.


Jansen tidak kalah lihai bila dibandingkan dengan Jessica.


"Apa yang kamu ingin aku lakukan?"


"Saat aku berterus terang soal posisi pemimpin Keluarga Miller, aku ingin Paman Kedua mendukungku. Tentu saja, Paman Kedua juga akan mendapatkan keuntungan. Asalkan


Jessica kehilangan posisinya, kamu punya kesempatan untuk menjadi pemimpin Keluarga Miller!" Jansen berkata dengan datar, "Jika rencanaku gagal, kamu tidak perlu mendukungku secara terang-terangan sehingga kamu juga tidak akan mendapatkan masalah!"


"Oke, aku setuju!"


Leimin mengangguk, "Tapi, aku ingin tahu, rahasia apa lagi yang kamu ketahui tentang aku!"


"Kamu pasti akan tahu saat aku benar-benar bertindak kelak!"


Jansen kemudian pergi bersama Master Harvey.


Leimin menyaksikan Jansen pergi dengan perasaan campur aduk.


Entah kenapa, Jansen tampak seperti sebilah pedang di matanya, pedang yang berdebu.


Meskipun pedang ini berdebu, pedang ini tetap punya kekuatan yang dahsyat saat digunakan.


Jansen tersenyum puas saat pergi meninggalkan Restoran. Dia bisa merasakan bahwa Leimin sangat terkejut


dan akan berpindah menjadi pendukungnya.


Leimin bukanlah orang yang sangat ambisius, juga tidak punya banyak taktik. Dia akan menjadi pemimpin keluarga yang baik. Hanya saja, Keluarga Miller tidak bisa mengandalkannya jika ingin terus berkembang pesat. Setidaknya, dia bisa menjaga agar Keluarga Miller tidak

__ADS_1


mengalami kemunduran.


"Guru, ibuku ingin bertemu denganmu!"


Baru berjalan beberapa langkah, Naomi langsung datang berlari meminta Jansen untuk tidak pergi terlebih dahulu.


Jansen mengerutkan kening karena merasa orang-orang Keluarga Miller sangat menyebalkan.


Setelah sekian lama, Jansen sudah terbiasa dengan sikap orang-orang Keluarga Miller yang selalu menghina dan meremehkan dirinya setiap kali bertemu dengannya.


Jansen secara langsung menolak untuk bertemu dengan ibu Naomi.


"Guru, ini pertama kalinya ibuku mencarimu. Mungkin saja, dia sudah mengubah pandangannya terhadap dirimu dan


menyetujui hubunganmu dengan Kak Elena!" Naomi membujuk Jansen.


"Dia tidak mungkin bisa seperti itu!"


Jansen menggelengkan kepalanya. Dia tahu bahwa dalam hati Renata, Elena hanya seorang anak haram. Renata sama sekali tidak peduli dengan kehidupan Elena.


Selain itu, pernikahan Elena dengan Keluarga Woodley punya hubungan langsung dengan masa depan Jessica. Renata tidak mungkin menolak dan pasti akan terus mendukung pernikahan dengan Keluarga Woodley.


Namun, Jansen setuju dan ingin melihat siasat apa lagi yang dijalankan oleh Renata.


Naomi sangat senang melihat Jansen setuju, "Guru, tenang saja, aku awalnya memang menganggap kamu seorang pecundang, tapi pandanganku sekarang terhadap dirimu juga sudah berubah!"


"Kamu tentu beda dengan Keluarga Miller, tidak peduli apa pun yang aku lakukan, di mata Keluarga Miller, aku hanya orang miskin yang menumpang dengan orang kaya, seorang pecundang!" Jansen sangat paham dengan sikap orang kaya seperti mereka ini.


"Master Jansen, kalau kamu sibuk, kamu boleh pergi dulu. Datanglah ke tempat aku kalau kamu punya waktu."


Master Harvey sedikit kecewa melihat Jansen sibuk karena ada urusan lain.


Master Harvey tahu bahwa Jansen bukanlah orang biasa, melainkan seorang Master Besar yang patut disegani dan dihormati.


Jansen meminta maaf dan pamit dengan Master Harvey. Dia mengikuti Naomi pergi ke sebuah restoran Western Food yang mewah tak jauh dari sana. Setiba di restoran itu, Renata sudah duduk menunggu sambil menyantap salad buah dengan sikap elegan.


"Jansen sudah datang, ayo mari duduk!"


Renata menatap Jansen sekilas dan berkata dengan datar.


Kelihatannya Renata sudah sedikit sopan terhadap Jansen meskipun masih ada sikap arogan yang ditunjukkan kepada Jansen.


"Katakan padaku, bagaimana kamu mengenal Master Harvey!"


Setelah Jansen duduk, Renata kembali bertanya sambil sibuk makan tanpa menatap wajah Jansen. Renata masih memperlakukan Jansen layaknya seorang pelayan


"Kami kenal begitu saja!"


Jansen berkata pelan.


"Apa maksudmu kenal begitu saja? Elena adalah putriku. Meskipun kamu akan bercerai dengannya, kamu sekarang masih menantu Keluarga Miller. Kenapa cara bicaramu terhadap mertua sendiri seperti ini?" Renata berkata dengan sinis.


"Bu, jangan marah, mungkin karakter Jansen memang seperti ini!" Naomi mencoba menenangkan suasana.


"Naomi, kalau aku tidak suruh kamu berbicara, kamu tidak perlu berbicara!"

__ADS_1


Renata menegur Naomi karena ingin menunjukkan seperti apa martabat pemimpin Keluarga Miller. Dia lanjut berkata, "Jansen, aku tak peduli bagaimana kamu bisa kenal dengan Master Harvey. Tapi, jangan sampai kamu membuat Keluarga Miller terlibat atau aku akan membuatmu bertanggung jawab!"


"Kamu sudah datang ke Ibu kota hampir dua bulan. Kamu hanya menumpang makan di Keluarga Miller. Meskipun kamu sudah membuka klinik, biaya hidup di Ibu kota sangat besar, kamu bahkan tidak bisa menghidupi dirimu sendiri. Aku akan atur pekerjaan untuk kamu!"


__ADS_2