Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 855. Kerja Sama!


__ADS_3

Alexa tidak langsung berjanji, "Biar ku pertimbangkan dulu. Lagi pula, lebih baik bekerja sama dengan orang lain daripada melakukannya sendiri!"


Kemudian, dia menatap Jansen lagi. "Dokter Jansen, kamu kan sangat hebat, apa kamu tidak berencana untuk memulai sebuah perusahaan?"


"Aku ini orang yang malas, aku jadi dokter saja!" Jansen menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Lagi pula, aku sudah memiliki dua perusahaan. Yang satu bergerak di bidang kosmetik dan yang satu lagi di bisnis teh herbal. Oh ya, aku juga masih memiliki banyak properti di Kota Asmenia, jadi pendapatanku sebagai pemberi sewa juga tidak buruk."


"Kamu tidak perlu turun tangan mengurus perusahaanmu, kamu cukup menjadi investor dan konsultan!" Alexa terus menasihati.


Jansen sontak menyadari bahwa Alexa sangat berbeda dari gadis lain seumurannya. Dia lebih mandiri dan tangguh, serta suka mengatur-atur orang lain!


Kekuatan seperti ini berbeda dengan apa yang Elena miliki. Elena tidak suka mengatur orang lain, tapi dia juga tidak suka diatur orang lain!


Kemandirian seperti ini juga tidak sebanding dengan Natasha. Lagi pula, Alexa tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki Natasha.


"Dokter Jansen, kurasa dia benar. Kamu cukup


bersenang-senang saja!"


Charlie juga ikut menimpali.


Jansen merenung dan berkata, "Aku juga bukannya tidak memiliki proyek apa-apa. Aku berencana untuk membuka restoran yang berfokus pada obat tradisional dan memiliki


menu yang khusus untuk makanan obat herbal."


"Itu ide yang bagus!"


Mata Charlie terlihat berbinar. "Bagaimana kalau begini saja? Resepnya berasal dari Dokter Jansen sedangkan investasinya dari aku. Sebagai gantinya, aku meminta 30% saham!"


"Aku juga akan berinvestasi dan meminta 30% saham!"


Alexa ikut berseru.


Jansen terkekeh. "Aku hanya perlu berpikir dan kalian yang akan menerapkannya?"


"Berbisnis itu harus memerhatikan efisiensi. Kalau suatu proyek nya bagus, maka harus langsung bergerak!"


Charlie berujar sambil tertawa dan menelepon. Dia melakukan segala sesuatunya dengan sangat cepat.


Sebenarnya, dia cukup optimis dengan proyek restoran ini. Lagi pula, resep yang Jansen gunakan sudah pasti belum tersedia saat ini. Proyek ini adalah sebuah peluang bisnis yang sangat besar.


Bahkan jika mereka bisa melakukannya dengan baik dan menjadi restoran papan atas di Huaxia, mungkin mereka bisa melebarkan sayap ke luar negeri.


"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk mendaftarkan merek dagang dan mengajukan permohonan lisensi. Sebagai permulaan, aku akan menginvestasikan 200 juta!"


Charlie menutup telepon dan berkata kepada Jansen sambil tersenyum.


"Aku juga akan menginvestasikan 200 juta!"


Alexa ikut berseru.


Restoran bernilai 400 Juta sudah pasti merupakan proyek yang sangat besar.


Jansen terheran-heran menatap mereka. Memang alur pikiran orang kaya itu berbeda. Pantas saja yang kaya menjadi lebih kaya.


Namun, orang kaya memiliki modal dan tidak takut kehilangan uang mereka karena menggunakan uang orang lain seumur hidup mereka.

__ADS_1


Oleh karena itu, bisnis online sup ayam itu hanya digunakan untuk menghibur orang. Tanpa dukungan apa pun dan modal, kemungkinannya sukses hanya 1 dari 10.000.


"Aku akan menuliskan resep makanan obat herbal untuk kalian nanti malam!"


Jansen tidak memiliki pilihan lain karena mereka semua sudah memutuskan.


"Dokter Jansen, kalau namanya belum ada, gunakan saja Chef Jansen!" usul Charlie sambil tersenyum.


Jansen mengangguk. Sepertinya mereka berdua bisa mengurus segala sesuatunya seperti lokasi restoran, karyawan yang bekerja di dalamnya, dan sebagainya. Jansen hanya perlu memberikan mereka dukungan teknis.


Namun, Jansen percaya diri dengan menu makanan obat herbal. Bagaimanapun juga, resep itu berasal dari leluhur dan telah diturunkan secara turun-temurun. Ada banyak resep yang jumlahnya cukup bagi restoran untuk mengubah menu makanan mereka secara berkala.


"Aku akan menyuruh bawahanku untuk mengurus tentang pembangunan restoran ini. Dokter Jansen, tolong penuhi undangan ibuku!"


Charlie menatap Jansen dengan penuh harap.


"Baiklah, aku akan datang besok!"


Mereka berbincang-bincang lagi sebentar sebelum akhirnya pulang. Keesokan paginya, Charlie sudah menunggu Jansen di gerbang rumah komunitas.


Jansen pun mandi, lalu pergi mengikuti Charlie.


Mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi. Mereka mendarat di ke kediaman Levana, lalu melaju bersama.


Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi ketika mereka tiba di kediaman Levana. Levana sudah menunggu di depan gerbang sedari tadi karena dia mengetahui rencana kedatangan Jansen.


"Dokter Jansen, kamu sudah datang!"


Setelah mobil berhenti, Levana pun secara pribadi


Di belakang Levana, berdirilah Chyntia Lankester yang merupakan kakak perempuan Charlie. Dia berpakaian sangat cantik hari ini. Auranya tidak terlihat seperti seorang direktur, dia tampak sangat lembut.


Tatapannya terutama menyorotkan sinar yang aneh setelah melihat Jansen.


Nyonya Levana!"


Jansen menyapa Levana, "Apa kondisimu sudah baik-baik saja akhir-akhir ini?"


Levana terlihat baik-baik saja, jadi seharusnya kondisinya tidak begitu serius.


"Aku baik-baik saja! Aku tidak pernah pingsan lagi semenjak melakukan apa yang Dokter Jansen katakan sebelumnya!"


Levana berkata dengan sopan pada Jansen, "Kali ini aku mengundang Dokter Jansen datang karena ada temanku yang sedang mencari makam. Kami sudah menjadi mitra bisnis selama bertahun-tahun dan saat dia bertanya apakah aku memiliki kenalan yang hebat di bidang ini, orang pertama yang terlintas dalam benakku adalah Dokter Jansen!"


"Makam?""


Jansen mengerutkan keningnya.


Levana mengangguk, "Dia berasal dari keluarga yang kaya dan sudah tua. Dia ingin kembali ke pencipta saat usianya mencapai 100 tahun, jadi dia ingin mencari makam dengan Feng shui yang baik!"


Jansen paham bahwa ada banyak orang tua dari keluarga kaya yang sudah menyiapkan pemakaman sebelum kematian mereka. Mereka juga sangat mementingkan Feng shui,


karena berharap makam itu akan bermanfaat bagi generasi penerus mereka.


Jansen balas mengangguk, "Sebenarnya, Feng shui itu tidaklah mutlak, tapi aku bisa membantumu menemukan tempat pemakaman yang baik!"

__ADS_1


Suatu makam terkadang tidak ada hubungannya dengan Feng shui. Kualitas tanah, lokasinya, dan sebagainya juga merupakan faktor yang sangat penting.


"Syukurlah! Kalau begitu, aku akan segera meneleponnya dan ayo kita bergegas pergi!"


Levana menjawab dengan sangat gembira. Setelah selesai menelepon, dia mengajak Jansen dan yang lainnya pergi lagi dengan pesawat.


Tujuan mereka kali ini masih terletak di daerah selatan, yaitu Kota Alarka yang dianggap sebagai kota tingkat empat.


Setelah turun dari pesawat, Levana pun memberitahu Jansen,"Nama keluarga temanku adalah Yiwon dan Kota Alarka ini adalah tempat kelahiran mereka. Dia sangat menekankan ingin kembali ke kampung halaman, jadi dia ingin dimakamkan di kampung halamannya!"


Selagi mereka berbicara, Jansen bisa melihat belasan mobil mewah di depannya. Setelah itu, sejumlah besar pria berjas hitam berjalan turun. Mereka melindungi seorang lelaki tua di


tengah.


Dari perawakannya, orang tua itu terlihat berusia sekitar 80 tahunan. Meskipun begitu, semangatnya masih tampak membara. Dia mengenakan pakaian olahraga berwarna coklat


dan sedang bersandar pada tongkat berjalannya. Di sebelahnya, ada seorang gadis muda yang menjadi lawan bicaranya.


"Cindy?!"


Jansen sontak bertanya dengan terkejut saat melihat gadis muda itu.


"Jansen?!"


Gadis itu juga secara spontan berseru kaget.


Orang tua itu menatap mereka dengan sorot pandangan yang aneh dan bertanya, "Cindy, siapa orang ini?"


"Kakek, pria ini namanya Jansen Scott! Dia adalah seorang dokter terkenal di Aula Xinglin Ibu Kota!" jawab Cindy menjelaskan sambil tersenyum.


Jansen menggelengkan kepalanya tak berdaya. Dia tidak menyangka ternyata Cindy berasal dari keluarga yang sedemikian kaya. Anehnya, Cindy malah sering pergi ke tempat-tempat yang berbahaya.


"Oh, ternyata dia Dokter Jansen!"


Jelas sekali orang tua itu tidak mengenal Aula Xinglin. Dia hanya mengangguk dengan sopan dan menatap Levana, "Kamu yang mengundangnya ke sini, ya, Nyonya Levana!"


Levana mengangguk kepada lelaki tua itu, "Penatua Yiwon, ini adalah Dokter Jansen yang pernah kukatakan. Dia memiliki keahlian pengobatan dan Teknik Xuan yang hebat!"


"Ternyata kemampuanmu boleh juga, Anak Muda!"


Pria tua itu menatap Jansen dengan saksama, tatapannya terlihat sangat kagum.


Dia tahu bahwa pemuda itu pasti sangat hebat karena Levana sendiri yang mengatakannya dan bersikap sangat sopan terhadapnya.


"Dokter Jansen, ini adalah Penatua Yiwon!"


Levana kembali memperkenalkan Jansen.


Meski Levana tidak menceritakan asal usul Penatua Yiwon, Jansen tahu pria itu pasti bukan orang sembarangan. Dia pun tidak banyak bertanya dan menyapa dengan sopan, "Halo, Penatua Yiwon!"


"Bagus, bagus!"


Pria tua itu tersenyum, "Karena kamu berteman dengan cucuku dan Nyonya Levana, berarti kamu adalah temanku juga!"


Ekspresi orang-orang di belakang Penatua Yiwon menjadi sedikit berubah saat mendengar basa-basi orang tua itu.

__ADS_1


Bagaimanapun juga, mereka tahu berapa banyak emas yang dibutuhkan untuk bisa berteman dengan Penatua Yiwon.


__ADS_2