Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1326. Perhitungan


__ADS_3

Cabang Gunung Salju Peri sangat mendapat perhatian dari sekte pusat, terutama Erika dan Elena. Nama mereka berdua seolah sudah terpatri di hati para tetua sekte pusat. Tapi kali ini, mereka harus menanggung malu di muka umum.


"Aku mewakili cabang Sungai Selatan mengantarkan Batu minyak mayat!"


Baron menyerahkan sebuah tas plastik yang berisikan Batu minyak mayat pada Penatua Yohan.


Saat prosesi ini berlangsung, murid-murid sekte cabang Sungai Selatan nampak berbangga diri sembari menatap tajam ke arah cabang Gunung Salju Peri seolah menantang.


"Mereka seharusnya iri melihat keberhasilan kita!"


"Sudah pasti mereka iri-lah! Jumlah mayat hidup yang kita bunuh lebih banyak dua kali lipat dari mereka!"


"Ada pepatah yang mengatakan, makin besar kekuatan yang dimiliki, maka makin besar tanggung jawab yang dipikul!"


Mereka tanpa malu-malu melemparkan sindiran pada cabang Gunung Salju Peri.


Di sisi lain, murid Gunung Salju Peri nampak menundukkan kepala mereka. Erika yang sedang memapah Elena pun merasa tidak bisa menerima hasil ini. Bagaimana tidak!? Karena sikap yang tidak adil dari para tetua, jumlah batu minyak mayat yang mereka dapatkan terbilang sangat sedikit. Itu disebabkan karena wilayah mereka sangatlah jauh dari gerbang perunggu.


"Coba saja kalian pergi ke wilayah tenggara!"


celetuk Elena sembari menatap ke arah senior cabang yang lain.


"Hanya sedikit jumlah mayat hidup yang ada di sana. Parahnya ... ada seseorang yang justru merebut mayat hidup dari cabang kita! Dasar tak tahu malu!" imbuh Elena.


Elena memang mempunyai tipikal yang keras dan apa adanya. Jika dia membenci sesuatu, maka dia akan langsung mengatakannya.


Para tetua pun mengerutkan keningnya. Tapi saat melihat Elena-lah yang berbicara, mereka tak mengatakan satu patah kata pun.


Hanya Penatua Yohan yang berani menyindirnya, "Seorang kultivator tidak seharusnya mencari alasan untuk diri sendiri, kalau tidak... ketenangan hatinya akan terganggu!"


Elena pun kesal sembari menggertakkan giginya.


Penatua Yohan sengaja mempermalukan Elena. Dia lantas melanjutkan kembali penghitungannya.


"cabang Sungai Selatan total mendapatkan 325 batu minyak mayat!" ucapnya mengumumkan hasil dari cabang Sungai Selatan.


Murid cabang Sungai Selatan pun langsung bersorak bahagia. Meski bukan menjadi yang pertama, tapi mereka berhasil menghancurkan reputasi cabang Gunung Salju Peri.


"Ini adalah batu minyak mayat yang didapatkan oleh cabang Rizhao!"


"433!"


"Dan ini batu minyak mayat yang didapatkan oleh cabang Hongland!"


"Jumlah batu minyak mayat yang mereka dapatkan sangat banyak, dengan total 529!"

__ADS_1


Setelah mengumumkan dua tim terbanyak yang mendapatkan batu minyak mayat, Penatua Yohan terlihat menatap ke arah Cassia dengan penuh kebanggaan.


"Kerja kalian sangat bagus, kami para tetua cabang akan melaporkan hal ini pada sekte pusat. Pastinya, sekte pusat akan segera memberi kalian hadiah yang sudah dijanjikan sebelumnya!" ucapnya.


Selesai mengatakannya, dia menatap ke arah cabang Sungai Selatan dan Rizhao.


"Kalian juga sama, akan mendapatkan hadiah dari sekte pusat. Sedangkan untuk cabang Gunung Salju Peri, mohon maaf karena kali ini kalian tidak mendapatkan hadiah!" imbuhnya.


"Terima kasih tetua!"


sahut tiga senior dari tiga cabang yang nampak bahagia.


Para murid sekte dari tiga cabang tersebut seolah menatap Erika dan yang lainnya penuh dengan penghinaan, sikap arogansi pun terpancar di wajah mereka!


"Penatua Yohan, mengapa kamu tidak lihat punya Gunung Salju Peri?"


ucap Cassia sambil tertawa dan menatap Erika.


"Apa yang perlu dilihat? Paling hanya dua ratus!"


Baron menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik.


"Walaupun hanya seratus, tetap harus dilihat untuk memastikan keadilannya!"


Geofrey yang berada di sampingnya pun ikut menimpali, ucapannya itu menyebabkan semua orang bereaksi.


Orang-orang pun mulai bersorak setuju dengan usulan untuk menghitung hasil panen Gunung Salju Peri.


"Benar, supaya adil!"


Bagaimana mungkin Penatua Yohan tidak tahu apa yang dipikirkan orang-orang di sana? Sebenarnya dia juga terhibur. Dia pun berkata, "Erika, di mana Batu minyak mayat dari Gunung Salju Peri?"


Erika hanya terdiam. Dia sebenarnya tidak ingin menunjukkannya kepada mereka karena dia sudah tahu bahwa dia berada di posisi terendah. Ini jelas-jelas hanya untuk mempermalukan mereka saja.


"Erika, apa kamu tidak mendengar kan ku?"


ujar Penatua Yohan sambil berpura-pura marah.


"Kak Erika, tunjukkan saja. Tidak usah takut dengan mereka!" Elena tiba-tiba berteriak, yang akhirnya membuat Erika terpaksa menunjukkan hasil dari pihaknya.


"Apa menurutmu jumlahnya akan sampai tiga ratus dari Gunung Salju Peri?"


"Lah, jangan meremehkan Gunung Salju Peri! Paling tidak total dari mereka pasti bisa sampai lima ratus!"


"Wah, bukankah ini lebih dari Sungai Selatan dan Rizhao? Kedua setelah Hongland?"

__ADS_1


Para murid seakan-akan bersukacita atas penderitaan mereka dan menatap Jiro serta yang lainnya dengan ekspresi dilebih-lebihkan.


Jiro dan Preston berekspresi dingin, mereka tahu bahwa para murid tersebut sengaja melakukannya.


Yang paling parah adalah ketika Penatua Yohan juga mengikuti permainan mereka dan sengaja mempermalukan semua orang dari Gunung Salju Peri dengan perlahan-lahan menghitung batu minyak mayat yang di tas kulit domba.


"Sepuluh!"


"Lima puluh dua!"


"Seratus dua puluh satu!"


Setiap kali dia menghitung, suaranya makin diperlambat, hal ini membuat murid-murid dari berbagai cabang mengikutinya dengan suara yang serentak dan bercampur dengan tawa. Hal ini menyebabkan Erika dan yang lainnya makin malu.


"Total dua ratus sebelas, cukup lumayan , tetapi jadi peringkat terakhir dari empat cabang Sekte!"


Setelah sepuluh menit, Penatua Yohan selesai menghitung dan menatap Erika dan yang lainnya, dia penasaran apakah mereka akan tersipu karena malu.


"Siapa bilang dua ratus sebelas? Gunung Salju Peri setidaknya punya lima ratus!"


terdengar sebuah suara yang tiba-tiba menyela.


Terlihat seorang pria dengan kaus biasa berjalan perlahan dari bawah pegunungan yang gelap.


"Jansen kembali!"


Melihat dia datang, Elena langsung merasa senang.


Para murid Gunung Salju Peri juga terlihat sangat senang.


Erika pun mengangguk sedikit. Ia merasa lega melihat suami Elena masih hidup. Sebelumnya, dia khawatir bahwa telah terjadi sesuatu pada Jansen.


"Dia adalah suami Elena?"


Melihat kedatangannya, para murid dari berbagai cabang langsung mengerutkan kening.


Terutama Cassia dan Baron, wajah mereka terlihat sangat kesal.


Awalnya, mereka tidak peduli siapa Jansen. Namun, setelah mereka tahu bahwa Jansen telah mengalahkan Arson, mereka langsung mulai waspada dan memperhatikannya.


Pria muda ini jelas datang untuk membantu Gunung Salju Peri. Oleh karena itu, Jansen adalah lawan dan musuh mereka.


Tapi untungnya, orang ini datang terlambat dan keputusan sudah dibuat. Ia sama sekali tidak bisa mengubah apa pun.


"Kamu Jansen, 'kan?"

__ADS_1


Penatua Yohan berteriak dingin, "Asal kamu tahu, kamu bukan sepenuhnya orang dari Gunung Salju Peri. Jadi kamu tidak berhak untuk berbicara. Berani-beraninya menantang keputusanku, jangan banyak omong kosong. Jangan berpikir bahwa aku tidak berani memberimu pelajaran hanya karena kamu suaminya Elena!"


__ADS_2