
"Berhenti! Kalian berasal dari Cabang mana?"
Begitu Jansen dan yang lainnya mendekat, terdengar sebuah teriakan dari arah pertempuran.
"Soni!"
Preston mengenali salah seorang dari mereka. Dia pun tersenyum menyapa pria itu.
"Preston?"
Pria itu juga mengenali Preston. Karena tahu Preston berasal dari Cabang Gunung Salju Peri, dia pun mencibir, "Cepat pergi dari sini, wilayah ini dikhususkan untuk kami, Cabang Rizhao!"
Preston pun mengerutkan keningnya. Meski tidak terlalu akrab, tapi mereka bisa dianggap sebagai teman seperjuangan. Pertemuan awal dengannya, Soni selalu bersikap sopan padanya. Bahkan, Soni terus memanggilnya kakak senior.
Tapi sekarang, justru berbanding terbalik, seolah mereka berdua tak saling kenal.
"Kamu tenang saja, kita hanya kebetulan saja melewati daerah ini. Kita tidak akan mengganggu kalian!" ucap Preston.
"Aku tidak peduli, bagaimanapun mayat hidup yang ada di area ini adalah milik Cabang Rizhao, siapa tahu kalian diam-diam merebut dan membunuh mereka. Siapa pun tahu, posisi kalian berada yang paling bawah saat ini, lebih baik kalian ambil jalan memutar saja, kalau tidak jangan salahkan kami bersikap keras pada kalian!" bentak pria bernama Soni itu.
Selesai mengatakannya, dia menebas mayat hidup menggunakan pedangnya.
Raut wajah Jansen berubah dingin. Dia merasa sikap orang-orang ini terlalu arogan. "Tidak masalah, aku ingin lihat seberapa keras sikap kalian pada kami!"
"Siapa kamu!? Kamu tidak punya hak ikut campur di sini!"
Soni sedikit kesal saat ini. Namun, pria yang ada di sebelahnya terlihat membujuknya. "Tidak perlu repot-repot mengurusi mereka. Makin kamu mengurusi mereka, itu hanya akan membuatmu makin terhina. Sudah, biar aku saja yang mengurus mereka!"
Selesai mengatakannya, pria itu bergegas menghalangi langkah Jansen dan yang lainnya. Kekuatannya berada di Ranah Celestial tingkat tiga.
"Aku akan mempermalukan seluruh keluargamu!"
Melihat sikap arogan orang itu, Jansen pun tak akan berbelas kasih. Dia langsung melesatkan pukulan Amarah Naga.
Preston dan Deliza pun bergidik saat melihat kekuatan Jansen!
__ADS_1
Faktanya, Preston juga merasa kesal saat ini, tapi situasi benar-benar tidak menguntungkan untuknya. Itu sebabnya dia ingin meredam kekesalannya.
Namun, hal itu tak berlaku untuk Jansen.
Prang! Brak!
Dua pukulan pun saling menghantam satu sama lain. Radiasi yang kuat pun menyembur ke sekitar. Pria yang beradu pukulan dengan Jansen pun terpental hingga beberapa meter jauhnya.
Saat ini, Jansen menguasai pukulan Amarah Naga. Hanya sedikit kultivator dengan tingkatan Ranah Celestial tingkat keempat yang mampu menahan serangannya.
Pria itu menghantam tanah dengan keras, darah segar pun menyembur dari dalam mulutnya. "Gunung Salju Peri Sialan! Kalian cari mati rupanya!"
Seolah tak memedulikan ucapan pria itu, Jansen kembali menyerang dan menarik kaki pria itu kemudian melemparnya seperti sampah yang tak berguna.
Brak! Brak!
Pria itu jatuh di antara kerumunan murid sekte Cabang Rizhao. Murid lainnya pun nampak kesal.
"Kamu bukan murid dari Cabang Gunung Salju Peri, siapa kamu!?"
"Sepertinya dia suami dari Elena. Desas-desus yang beredar, suami Elena mempunyai hak istimewa untuk keluar masuk sekte tersembunyi!"
Murid sekte Cabang Rizhao menatap Jansen dengan aura pembunuh yang luar biasa.
Bibir Preston dan Deliza bergetar. Lagi-lagi masalah datang menghampiri mereka. Kali ini, mereka seolah sedang mengganggu sebuah sarang lebah.
"Kalian cukup pintar juga, tahu kalau aku adalah suami Elena!" cibir Jansen.
Tanpa basa-basi, dia kembali mengeluarkan pukulan Amarah Naga dan menyerang mereka semua.
Bum! Brak! Slash!
Udara sekitar seolah bergetar, Profound Qi nan kuat meledak seketika. Dengan hanya satu pukulan saja, Jansen mampu mengalahkan mereka satu persatu.
Sepuluh menit kemudian, semua murid sekte Cabang Rizhao pun terkapar tak berdaya. Mereka menderita luka yang tidak sedikit.
__ADS_1
"Apa tempat ini rumah kalian yang mengharuskan ku meminta izin terlebih dulu untuk melewati tempat ini? Kalian terlalu menyombongkan diri sendiri!"
ucap Jansen sembari menghadap ke arah mereka semua. Saat ini, dia terlihat seperti sosok Dewa Perang.
Wajah murid sekte Cabang Rizhao pun memerah saat dihina, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani membantahnya.
Dan pada saat ini, muncul mayat hidup dalam jumlah besar dari celah gunung di kejauhan. Mereka semua menuju tempat Jansen dengan kecepatan yang luar biasa.
"Sebenarnya, aku hanya ingin lewat saja, tapi kalian malah takut aku akan merampok dan membunuh mayat hidup dari tangan kalian. Baiklah, kalau begitu, aku berubah pikiran dan akan mengambil seluruh mayat hidup ini!"
Jansen menatap ke arah kedatangan mayat-mayat hidup. Tanpa pikir panjang, dia langsung bergerak menyerang. Satu tangan sudah siap dengan jarum perak, sedangkan satu tangan yang lain sudah siap dengan pedang bayangan!
Jarum perak pun yang pertama kali dia gunakan menyerang. Saat mendarat di tubuh mayat hidup, efeknya tidak terlalu besar!
Namun, saat pedang bayangan diayunkan, setiap serangan yang dia lakukan langsung membuat mayat hidup terpotong.
Mayat hidup tak sebanding dengan Zombie yin kebencian. Mereka tidak mampu menghentikan serangan pedang Jansen.
Pantas saja murid-murid sekte tersembunyi berani melintas di istana dengan santainya, ternyata mayat-mayat hidup ini tidak terlalu kuat.
Coba saja mereka berjalan melalu jalan utama istana dan bertemu dengan Zombie yin kebencian, pasti mereka sudah mengompol di celana.
"Kak Jansen!"
Di saat yang bersamaan, terlihat Preston sedang berlari menghampiri Jansen. Dia lantas mencari sesuatu di tubuh mayat hidup yang sudah ditebas oleh Jansen. Tak lama, dia menemukan sebuah batu kecil berwarna hitam mengkilat.
"Batu minyak mayat?"
Jansen sedikit mengernyitkan alisnya. Dia tahu jika batu jenis ini terbentuk dari minyak mayat. Biasanya hanya muncul pada tubuh mayat yang sudah mengering.
Dia juga mengamati mayat hidup yang sudah tergeletak di tanah. Dia penasaran dari mana datangnya makhluk seperti ini. Kenapa bisa muncul dalam jumlah sebanyak ini!?
Lagi pula, pakaian yang dikenakan mayat hidup berbeda satu sama lain. Ada yang mengenakan jubah panjang, pakaian istana atau juga baju zirah. Itu membuktikan jika mereka memiliki status yang berbeda semasa hidup. Jansen lagi-lagi memikirkan tentang gerbang perunggu. Jika mereka semua berasal dari sana, apa mungkin gerbang perunggu sebenarnya adalah sebuah peti mati yang sangat besar!?
Alasan kenapa orang-orang ini berubah menjadi mayat hidup setelah masuk ke dalam gerbang perunggu adalah salah satu penyebabnya karena dekat dengan urat naga!
__ADS_1
"Kak Jansen, batu minyak mayat inilah yang kita cari. Cabang yang mendapatkan batu minyak mayat lebih banyak maka akan mendapatkan hadiah dari sekte pusat!" sahut Preston dengan gembira.
Jansen tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata batu minyak mayat yang menjadi rebutan selama ini. Selera mereka benar-benar buruk!