
Elena mengangguk. "H12 adalah varian terbaru. Ramuan gen yang disuntikkan ke Kak Jessica adalah ramuan gen varian lama dan lebih berbahaya. Tapi, kenapa darah kamu bisa memiliki antibodi?"
Jansen tidak punya pilihan lain selain bercerita tentang mayat darah. Lagi pula, kejadian ini adalah sumber dari penyebaran virus.
Setelah mendengar ucapan ini, wajah Elena pun terlihat masam saat mengetahui bahwa Jansen dan Gracia menjelajahi makam dasar laut.
Ketika Elena bertengkar dengan Jansen, gadis lain yang menemani Jansen ke tempat berbahaya seperti itu malah bukan dirinya sendiri.
Tentu saja, Elena tidak menyalahkan Jansen. Elena menyalahkan dirinya sendiri.
"Omong-omong, aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu alamat ibu kandungmu. Ayo kita pergi lihat ke sana saat kita punya waktu!" Jansen lanjut berkata.
Elena pun segera mengangguk dengan hati gembira. Setelah menyepakati waktunya, Elena meminta Jansen tetap tinggal untuk makan bersama dengannya.
Ini juga merupakan pertama kalinya Jansen makan di kediaman Keluarga Miller sejak mereka berdua bercerai.
Selama makan, semua anggota Keluarga Miller hadir. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Jansen bukan lagi seorang pecundang. Dia sudah dianggap sebagai Kepala Keluarga Miller.
"Kakak Ipar, cobalah iga babi cuka ini!"
Naomi dan Diana berebut memberikan makanan kepada Jansen.
Sementara itu, Ricky sedang menuangkan arak untuk Jansen. Setelah selesai, Jansen pun saling bersulang dan minum bersama dengan Leimin.
Meskipun Jansen sering berseteru dengan Keluarga Miller, Jansen tetap harus mengambil hati mereka karena bagaimanapun juga mereka adalah kerabat Elena.
"Aduh, begitulah penderitaan seorang menantu pecundang. Meskipun kesalahan mereka begitu besar, mereka hanya akan bersikap baik kepada diriku sebentar saja!"
"Memang tidaklah mudah menjadi seorang laki-laki!"
Jansen menghela napas sambil makan. Demi sebuah keluarga, seorang laki-laki terkadang harus bersabar terhadap penghinaan.
Meskipun Renata sedang makan dan telah bersabar sekian lama, Renata pun akhirnya buka suara, "Jansen, lihat Keluarga Woodley!"
"Diam kamu!"
Semua orang langsung berhenti bersantap sambil memandang Renata yang sedang menegur.
Jansen langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Di tempat lain, para tetua dan pemangku kebijakan Keluarga Woodley duduk berunding di ruang utama kediaman Keluarga Woodley.
"Ayah, Jansen makin lama makin kurang ajar. Jika kita tidak membunuhnya, dia akan menginjak-injak harga diri keluarga besar kita!"
Brandon berkata demikian sambil menatap seorang tetua Keluarga Woodley.
Pria tua itu kurus, tidak tinggi, pipinya tirus, dan matanya yang panjang dan sipit membuat dirinya terlihat seperti seorang yang berhati kejam.
Dia adalah Kakek Woodley, pemimpin utama Keluarga Woodley.
"Aku masih belum tahu maksud dari pihak atasan, tapi menurut perkiraanku, pihak atasan sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk segera menegur Jansen!"
__ADS_1
Pria tua itu berkata dengan datar, "Masalah yang ditimbulkan Jansen makin lama makin besar. Kita tidak bisa bersabar lagi terhadap dirinya. Tetapi, sebelum pihak atasan mengambil keputusan, tidak ada seorang pun yang boleh bertindak apa pun terhadap Jansen!"
"Dia punya kemampuan Peringkat Surgawi Tinggi. Bagaimana kita bisa bertindak terhadap dirinya?"
Brandon menggelengkan kepalanya dengan perasaan kesal. Peringkat Surgawi Tinggi merupakan tingkatan kemampuan yang setara dengan kemampuan pemimpin lima sekte Menengah dan berada di luar kendali dunia sekuler.
Tanpa bantuan organisasi, Keluarga Woodley tidak akan bisa bertindak apa pun terhadap Jansen.
"Buat dia kalang kabut terlebih dulu. Cepat atau lambat, dia juga akan mati. Ingat! Jangan pernah melawan Jansen secara langsung!"
Wajah pria tua itu terlihat masam. Dia pun berkata, "Oh ya, suruh Keluarga Bermoth bersiap-siap. Dua keluarga kita akan saling bekerja sama untuk merebut harta Jansen. Setelah Jansen ditekan, pihak atasan juga sepertinya akan bertindak terhadap dirinya. Saat itu, kita pun dapat merebut perusahaan Jansen dengan mudah!"
"Dan masih ada lagi Grup Aliansi Bintang. Mereka pasti akan membantu kita!"
Brandon pun langsung mengangguk. Pihak atasan sudah merencanakan untuk bertindak terhadap Jansen, sehingga mereka akan membuat Jansen kalang kabut untuk sementara waktu sambil bersiap-siap merebut kepemilikan perusahaan Jansen.
Ini adalah peluang yang menggiurkan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Jansen langsung pergi ke Aula Xinglin untuk membantu.
Aula Xinglin masih ramai dengan pengunjung seperti biasanya. Sekarang, reputasi Aula Xinglin di Ibu kota telah melampaui reputasi empat sekte klinik tradisional terbesar dan berhasil menjadi pemimpin di dunia pengobatan tradisional. Aula Xinglin kini menjadi salah satu dari lima sekte penguasa klinik tradisional terbesar.
Ernest Alfie dan dokter Timothy juga ikut membantu di sana sambil belajar.
"Jansen, ketika Tuan Desta Bermoth diberhentikan dari jabatan Ketua Asosiasi Medis Nasional karena masalah yang terjadi di sanatorium dan manajemen yang buruk, pihak atasan memintaku untuk merekomendasikan orang baru. Aku rasa kamu adalah orang yang cocok untuk jabatan itu. Apakah kamu berminat?" Ernest Alfie bertanya kepada Jansen.
"Ketua Asosiasi Medis Nasional?"
Sekarang, hubungan Jansen dan Elena telah pulih. Mereka berdua pun tidak lagi memiliki keinginan yang muluk-muluk selain melestarikan pengobatan tradisional.
Jabatan Ketua Asosiasi Medis Nasional adalah jabatan yang strategis.
"Baiklah, dalam beberapa hari ke depan, aku akan membawamu bertemu dengan orang-orang dari berbagai departemen!"
Master Ernest dan yang lainnya merasa sangat senang. Dengan menjabatnya Jansen sebagai ketua asosiasi, pengobatan tradisional di Huaxia pun akan mengalami kemajuan.
.......
Natasha yang baru saja selesai makan langsung datang ke Aula Xinglin dengan mengendarai mobil.
"Natasha, kamu datang juga! Sudah makan belum?"
Kakek Herman dan yang lainnya tersenyum sambil menyapa Natasha yang sudah mereka anggap seperti putri mereka sendiri.
"Aku sudah makan!"
Natasha pun tersenyum manis. Natasha juga merasa sangat senang bisa menikah dengan Jansen karena keluarga Jansen bersikap baik terhadap Natasha dan tidak terjadi hubungan yang rumit antara menantu dan mertua.
"Kak Natasha!"
Jansen juga datang menghampiri Natasha.
__ADS_1
"Ambil ini!"
Natasha memberikan tiket konser kepada Jansen.
"Ini apa?"
Jansen terlihat bingung. Tiket Konser? Itu adalah tiket konser kelas satu seharga 52 ribu yuan.
"Bukankah kamu ingin meminta Alexa untuk menjadi Brand ambassador kita? Konser Alexa akan dimulai jam delapan nanti. Kamu pergi tonton konser Alexa sekaligus bicarakan masalah iklan itu dengan Alexa!" Natasha berkata sambil tersenyum.
Jansen langsung terdiam. 'Bukankah ini bisa dilakukan dengan panggilan telepon saja, untuk apa pergi menonton konsernya?
"Orang lain yang memberiku tiket ini. Lagi pula, Alexa pernah membantu PT Senlena dengan menjadi bintang iklan tanpa menerima bayaran. Kita harus membalas kebaikan Alexa!" Natasha lanjut berkata.
"Kak Natasha, kenapa kamu memaksaku pergi menonton konsernya? Apakah kamu tidak khawatir akan terjadi sesuatu antara aku dengan Alexa?" Jansen berkata sambil tertawa.
Natasha mengangkat bahunya lalu berkata, "Dilihat dari sifatmu, aku pun tidak akan bisa mencegahmu pergi dengan wanita lain. Aku tidak bisa memaksamu hidup bersama dengan orang yang tidak kamu cintai. Tidak ada masalah dengan semua ini!"
"Kamu tidak perlu meragukan kesetiaanku. Terkadang aku bertanya-tanya, bukankah kamu adalah istriku, kenapa kamu malah tidak cemburu?"
Jansen pun menghela napas, merapikan diri lalu pergi.
Sebelum tiba di konser, Jansen melihat bahwa jalanan sudah ramai dipenuhi muda-mudi yang membawa tongkat cahaya sedang berjalan menuju lokasi konser.
"Ini adalah tur konser nasional Alexa. Aku telah melewatkan konser sebelumnya di Magic City!"
"Konser kali ini diadakan di Ibu kota. Aku bahkan sudah memesan tiket enam bulan yang lalu. Untung saja, aku berhasil mendapatkan tiket konser kali ini!"
"Aku suka lagu-lagunya!"
Para penonton konser yang heboh sibuk membahas konser di jalanan.
Jansen menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan kegilaan para penggemar ini. Namun, Jansen teringat kembali masa-masa sekolah saat dirinya gemar mendengar musik pop. Jansen ternyata juga suka dengan musik pop.
Setelah tumbuh dewasa dan terjun di masyarakat, Jansen pun jarang mengikuti berita tentang artis idolanya lagi. Jansen bahkan tidak tahu lagu apa saja yang dinyanyikan oleh Alexa.
"Jane, lihat pria di belakang itu. Dia terus mengikutimu!"
Saat Jansen berjalan, terlihat dua wanita cantik di depannya. Mereka berdua tampaknya adalah pekerja kantoran kelas atas, terutama salah seorang dari mereka yang mengenakan mantel wol putih dan rok pendek. Tubuh wanita itu sangat langsing. Dia benar-benar terlihat anggun.
"Aku paling kesal dengan para pria pecundang ini!"
Wanita dengan rok pendek itu menoleh ke belakang dengan rasa jijik.
Wanita itu adalah primadona di dalam kantor, dan tentu saja dia juga menjadi primadona saat berada di luar kantor.
"Pecundang malang ini selalu mengikutimu sepanjang jalan. Dia pasti ingin mengejarmu. Dia benar-benar tidak tahu malu. Tidak perlu hiraukan dia!"
Wanita berambut pendek di sampingnya juga terlihat menghina pria di belakang mereka berdua.
Wanita itu sudah pasti terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Dia baru akan merasa aneh jika tidak ada seorang pun pria yang melirik ke arahnya.
__ADS_1