Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1321. Urutan Terbawah


__ADS_3

Buk! Brak!


Pukulan Jansen yang sangat dahsyat membuat api yang ada di sekitar Arson padam. Matanya terbelalak saat menerima tekanan pukulan yang Jansen kerahkan. Apa boleh buat, terpaksa dia mengalirkan energi sejatinya untuk menahan serangan Jansen. Tapi semua terlihat sia-sia, dia terlempar beberapa meter dan terjatuh dari puncak gunung. Tubuhnya pun menghantam tanah dengan keras sembari mengeluarkan suara benturan yang sangat keras.


Akibatnya, lubang dalam berdiameter belasan meter pun terbentuk. Dan nampak Arson terkapar lemah di pusat lubang dengan api yang sedikit menyala di sekitar tubuhnya.


Dia kalah!


Dia yang berasal dari Cabang Hongland serta memiliki kekuatan yang kedua setelah Kak senior Cassia, harus kalah dari orang yang hanya memiliki keanggotaan setengah saja di sekte tersembunyi.


"Sekarang... masih berani merebut benda-benda milik istriku!?"


Jansen nampak melompat dari puncak gunung menuju sekitar lubang di mana Arson terkapar lemah di sana.


Arson merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia nampak berusaha mengatakan sesuatu, namun sayang satu katapun tak sanggup dia ucapkan. Dalam sekejap, dia merasa terhina saat ini.


"Karena kamu masih bagian dari sekte tersembunyi Yuhua, aku akan memaafkanmu! Cepat pergi dari sini!"


Jansen menjulurkan tangannya dan menarik kembali api Yang di tubuh Arson. Termasuk semua batu minyak mayat yang ada, baru kemudian pergi meninggalkan lokasi.


Setelah Jansen pergi, mana mungkin Jiro membuang kesempatan untuk menginjak-injak harga diri Arson.


"Sekarang, siapa yang lemah? Siapa yang pengecut!?" ucap Jiro nampak bahagia menghampiri Arson.


Tubuh Arson bergetar. Lagi-lagi dia mendapatkan penghinaan yang begitu besar!


"Hahaha!"


Jiro pun tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi kejadian.


"Cepat pergi dari sini!"


Para murid sekte Yuhua cabang gunung salju peri yang ada di sekitar lokasi pun mengusir Arson. Entah dari mana mereka mendapatkan keberanian seperti itu.

__ADS_1


Arson merangkak keluar dari lubang. Sambil memegang dadanya yang sakit, dia pergi dari wilayah tenggara dengan wajah yang suram.


Dia akan memberi tahu masalah ini pada Penatua Yohan. Saat ini, muncul seorang master yang datang membantu Cabang Gunung Salju Peri.


Tidak ada yang memedulikan kepergiannya, semua orang terlihat mengerumuni Jansen saat ini. Mereka semua nampak santun dan penuh hormat menyapanya.


"Jansen, kenapa kamu datang ke sini?"


tanya Jiro sembari menatap Jansen dengan sedikit canggung. Setelah kalah dari Jansen, entah kenapa dia kehilangan muka saat berhadapan langsung dengan Jansen.


"Istriku ada di sini, memang seharusnya aku juga ada di sini bukan!?" jawab Jansen agak malas, "Bawa aku pergi ke tempat istriku!"


Semua orang yang ada di lokasi tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka merasa sosok Jansen terlalu misterius. Jelas-jelas bukan termasuk murid dari sekte tersembunyi, tapi kekuatannya sangat luar biasa. Terlebih lagi, dia berasal dari dunia sekuler, entah bagaimana caranya berlatih kultivasi.


Tentu saja, dibalik terdiam nya mereka, ada rasa kagum di hati mereka pada Jansen. Jansen seorang yang sangat peduli pada istrinya, benar-benar seorang pria sejati.


Terutama murid-murid sekte wanita, tatapan mereka berbinar-binar menatap kagum seorang Jansen. Ingin rasanya mereka mempunyai suami idaman seperti Jansen.


"Kalau aku menemukan pria sepertinya, aku rela mati untuknya!"


"Mimpi kali, hehehe! Memangnya kamu secantik Elena!?"


.....


Di sisi lain Elena bersama beberapa murid sekte wanita lain sedang bertempur dengan mayat hidup.


"Jumlah mayat hidup yang ada di sini terlalu sedikit, aku merasa Penatua Yohan sengaja melakukan ini. Jarak dari sini ke Gerbang Perunggu pasti jauh!"


"Aku setuju, kalau seperti ini terus, Cabang Gunung Salju Peri kita pasti akan tetap berada di posisi terbawah. Asal tahu saja, para tetua sekte sangat menaruh perhatian pada tugas kali ini!"


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Apa mungkin kita akan pergi ke Gerbang Perunggu dan membunuh mayat hidup yang ada di sana!?"


"Jangan, sebaiknya urungkan niat kalian itu, di sana sangat berbahaya. Sebelumnya, juga ada orang yang berpikiran seperti itu. Setelah pergi ke gerbang perunggu, dia tidak pernah kembali sampai sekarang!"

__ADS_1


Setelah membunuh beberapa mayat hidup, mereka semua tampaknya sedang bosan.


Faktanya, saat pertama kali tiba di tempat ini, rasa takut di hati mereka terus menghantui. Namun, setelah terbiasa dan tak terjadi apa-apa, mereka justru mengeluh jumlah mayat hidup yang terlalu sedikit.


"Mayat hidup juga ada yang lemah dan kuat. Sebelumnya, yang kita hadapi termasuk mayat hidup yang lemah. Dan berdasarkan desas-desus yang beredar, di sekitar gerbang perunggu banyak mayat hidup yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya saja, entah apakah tahun ini mereka akan keluar atau tidak!"


Sebuah suara nan lembut tiba-tiba terdengar.


Kemudian terlihat seorang wanita berjalan perlahan menghampiri mereka. Usianya kira-kira baru menginjak 25-26 tahun. Parasnya biasa saja, tapi terlihat mempunyai jiwa keibuan sehingga mampu memberikan sebuah perasaan aman saat berada di dekatnya.


Tidak salah lagi, dia adalah Erika, kakak senior mereka.


Dia memiliki kepribadian yang baik, tapi bukan berarti kekuatannya lemah. Sebaliknya, dia memiliki kekuatan terkuat di antara murid inti sekte Yuhua Cabang Gunung Salju Peri, mencapai tingkat Ranah Celestial tingkat kelima.


"Elena, kamu kenapa?"


Kemudian, dia menatap ke arah samping di mana seorang wanita cantik hanya terlihat duduk bersila. Yaps, wanita cantik itu tidak lain adalah Elena.


Elena pun membuka kedua matanya sembari menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, aku hanya merasa sedikit lelah!"


"Apa kamu terluka? Tapi jika aku perhatikan, kamu memang sedikit aneh akhir-akhir ini!" ucap Erika nampak khawatir.


"Mungkin karena aku kurang beristirahat saja!"


jawab Elena sembari menggelengkan kepalanya.


"Penatua Rain bilang, kamu memiliki watak yang sangat keras. Sebenarnya, kalau bisa terbuka sedikit, kamu tidak perlu harus menjadi yang nomor satu!" bujuk Erika. Dia berpikir karena Elena tidak bisa menjadikan Cabang Gunung Salju Peri menjadi yang nomor satu, Elena merasa tertekan saat ini.


Elena justru tersenyum mendengarnya, "Apa Kak senior Erika tidak pernah berpikir seperti itu? Aku kira semua murid sekte pasti akan berpikir seperti itu! Bagaimanapun, Gunung Salju Peri adalah sekte kita, sebuah kebanggaan karena bisa menjadi salah satu murid di sana. Pasti semuanya tidak ingin melihat Cabang Gunung Salju Peri dipermalukan dengan berada di urutan terbawah dalam daftar!"


Beberapa murid sekte wanita yang ada di sana pun tersenyum saat mendengar pernyataan Elena. Sebenarnya, mereka juga mempunyai pikiran yang sama, mereka ingin memenangkan kehormatan untuk Gunung Salju Peri.


Lagi pula, mereka telah lama berada di Gunung Salju Peri, mereka menganggap sekte tersebut sebagai rumah mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2