
Kerabat Keluarga Miller memandang Jansen dengan sindiran pedas, "Lihat apa kamu! Dasar pecundang! Yang kami bilang itu kalian berdua!"
Kali ini orang Keluarga Miller semakin tidak segan lagi terhadap Jansen, apalagi Jansen telah berulang kali mempermalukan Keluarga Miller.
"Sudah digigit anjing masih bisa begitu senangnya, oh ya, ini memang gejala penyakit rabies!"
Jansen balas mencibir. Mereka boleh saja menghina dirinya, tetapi tidak istrinya. Jansen sedang menyindir Martha dengan keras.
"Kamu yang digigit anjing! Bu, Jansen ini sudah keterlaluan!"
Silvia sontak marah dengan ucapan Jansen. Silvia menatap wajah Martha dan mengira ibunya itu juga akan ikut marah, tetapi wajah Martha yang sebelumnya galak malah berubah pucat dan Martha pun tidak berani bersuara.
"Bu, ada apa denganmu?"
Silvia cemas karena merasa ibunya sendiri kini sudah takut dengan Jansen.
"Silvia, jangan bicara lagi, kamu harus belajar memaafkan kesalahan orang lain!"
Anehnya, alih-alih kehilangan kesabaran, Martha malah seperti sedang membela Jansen.
Orang-orang Keluarga Miller merasa sangat terkejut.
Kali ini Jessica juga sudah pulang. Jessica ditemani Renata, ibunya. Mereka berdua berjalan melewati Jansen dan Elena dengan tatapan dingin.
Jansen pun tak mau menghiraukan mereka, dan langsung membawa Elena masuk ke hotel.
Di dalam hotel dipenuhi para tamu yang berpakaian mewah, membuat suasana terkesan seperti komunitas kelas atas Ibu kota.
Masuknya Elena dan Jansen langsung menarik perhatian banyak orang.
"Itu sepertinya putri Keluarga Miller yang dulu terbuang, dia memang sangat cantik!"
"Tetapi aku dengar wanita ini bukan wanita baik-baik. Dia hanya menginginkan harta Keluarga Miller. Apalagi, dia sudah menikah, tetapi masih saja menerima pertunangan Tuan Woodley, memang seperti satu kaki injak dua perahu!"
"Itu harusnya adalah Jansen, beritanya cukup heboh, dia itu pecundang yang pernah berlutut kepada istrinya!"
Banyak tamu yang sedang gosip sambil memandang Jansen dan Elena dengan penuh penghinaan.
Naomi menghela napas dan berkata, "Kak Elena, aku rasa kalian berdua sebaiknya bercerai saja. Coba pikirkan, setelah kamu menikah dengan Jansen, semua orang memandangmu rendah. Kamu ini sebenarnya putri kesayangan Keluarga Miller, tetapi sekarang kamu malah dijadikan objek penghinaan oleh orang-orang!"
"Mereka bebas mengatakan apa pun yang mereka suka, tapi aku hanya mencintai Jansen seorang!" kata Elena dengan pelan.
Naomi tampak cemberut. Dia terus menatap Jansen dan semakin tidak suka dengan Jansen, "Jansen, kalau kamu memang punya hati nurani, seharusnya kamu sudah tinggalkan Kak Elena. Apakah kamu tidak tahu betapa besar tekanan yang Kak Elena pikul karena dirimu?"
Jansen sama sekali mengabaikan Naomi. Dia membawa Elena duduk di dalam dan menyantap hidangan di atas meja.
"Dasar pecundang ini!"
__ADS_1
Naomi tampak sangat kesal.
Saat ini, semua kerabat Keluarga Miller juga sudah masuk dan duduk di meja yang paling besar. Semua tamu menyapa mereka dengan sopan.
Keluarga Miller memang tidak menonjol dalam hal bisnis, tetapi mereka sangat berkuasa di bidang politik dan militer. Hal itu pula yang membuat keluarga seperti Silvia bisa mendapatkan penghormatan yang begitu besar, meskipun Silvia ini bukan anggota inti Keluarga Miller.
Sebaliknya, meja Jansen jarang didatangi para tamu yang menyapa, sama sekali jauh dari meriah dan ceria.
Faktanya, banyak orang yang mengenal Elena, tetapi mereka menganggap Elena adalah anak haram yang seharusnya tidak memiliki kedudukan di Keluarga Miller, mereka semua malas datang mencari perhatian kepada Elena.
Jessica, yang kini memegang tampuk kepemimpinan Keluarga Miller, tentu menjadi perhatian banyak orang.
Jessica juga bersikap ramah dengan terus menyambut tamu yang datang menyapa, tentu saja, sekali-kali Jessica tetap memandang ke arah Jansen dengan diliputi kesombongan.
"Abaikan saja sampah itu, dia tidak akan bisa senang lama-lama!"
Renata berkata demikian di samping Jessica, "Mungkin saja Nenek kali ini mengundang kita makan malam untuk merayakan keberhasilan masalah panti asuhan. Dia ingin berterima kasih kepada kita!"
"Ternyata begitu!"
Paman Kedua dan kerabat lainnya baru paham setelah mendengar perkataan Renata.
"Namun, aku dengar kabar bahwa Nenek juga mengundang orang-orang dari Grup Aliansi Bintang kali ini dengan maksud ingin bekerja sama dengan mereka. Jika rencana kerja sama dengan Grup Aliansi Bintang ini berhasil, maka bisnis keluarga kita akan semakin maju!" ucap Renata menambahkan.
"Apakah Grup Aliansi Bintang sudah bersedia kerja sama dengan kita?"
"Sekarang aku masih belum tahu, tetapi karena Nenek sendiri yang berbicara, aku rasa Grup Aliansi Bintang akan memberinya muka dengan menyetujui kerja sama ini!"
Renata tersenyum percaya diri dan menatap wajah Jessica dengan gembira, "Jika rencana kerja sama antara Keluarga Miller dengan Grup Aliansi Bintang ini berhasil, maka kamu harus menindak lanjuti masalah kerja sama ini dengan baik!"
"Jangan khawatir!"
Jessica sangat berharap kerja sama ini berhasil karena semua ini akan menjadi catatan prestasinya. Saat itu, dia akan menjadi pemimpin Keluarga Miller yang sebenarnya, dan menjadi orang yang sangat berkuasa.
Jessica merasa wajib berterima kasih kepada nenek karena telah membantunya diam-diam.
"Keluarga Miller akan segera bekerja sama dengan Grup Aliansi Bintang. Sepertinya, bisnis Keluarga Miller akan semakin besar!"
"Betul, Keluarga Miller punya kekuasaan besar, tetapi dalam bisnis, mereka selalu kekurangan sekutu. Jika Grup Aliansi Bintang bersedia bekerja sama, maka sumber keuangan Keluarga Miller akan meningkat lima kali lipat, dan diperkirakan nilainya akan mencapai lima miliar yuan!"
"Sepertinya, kita harus berlindung pada kekuatan Keluarga Miller ini!"
Para tamu seakan mengetahui sesuatu, dan mereka semakin memperhatikan Jessica.
Saat ini, datang lagi tamu terhormat lainnya. Ternyata mereka adalah orang-orang Keluarga Woodley.
Keluarga Woodley juga merupakan salah satu dari delapan keluarga elit di Ibu kota, dan status mereka lebih tinggi daripada Keluarga Miller. Mereka juga jauh lebih berpengalaman dalam dunia bisnis.
__ADS_1
Kali ini, orang-orang dari Keluarga Woodley dipimpin oleh Veronica Woodley, putri kedua Keluarga Woodley, dan di sampingnya adalah Jasper Woodley, putra ketiga Keluarga Woodley.
"Wah!"
Suasana aula menjadi heboh.
Orang-orang menatap Veronica dan terpesona dengan kecantikannya. Veronica terlihat memakai gaun berwarna krim, sederhana tapi elegan, dipadukan dengan liontin biru tua di lehernya yang semakin menambah keanggunan.
Veronica adalah salah satu dari empat wanita cantik di Ibu kota dan merupakan desainer terkenal di Prancis.
Tentu saja, ada desas-desus bahwa di antara ketiga anak Keluarga Woodley, yang memiliki kecerdasan paling tinggi adalah Veronica.
"Benar, itu dia!"
Raut wajah Jansen sedikit berubah karena Jansen mengenali Veronica yang ternyata adalah wanita cantik bersepatu bot kemarin.
Setelah Veronica masuk, dia menyapa Jessica dengan sopan dan kemudian membahas masalah bisnis.
Jasper adalah anak yang paling tidak berguna di antara ketiga anak Keluarga Woodley. Dia sangat malas mengurus bisnis. Setelah dia menyapa orang-orang, Melihat sekilas ke arah Jansen.
Hanya Melihat Jansen sekilas, Jasper langsung marah seketika.
Terakhir kali, Jasper diinjak-injak oleh Jansen dan kakinya patah, sehingga dia terpaksa berjalan pulang dengan kaki pincang. Jasper sudah lama ingin membalas dendam ini kepada Jansen.
"Lho, bukankah ini menantu yang numpang ke Keluarga Miller, si pecundang Jansen!"
Jasper berjalan menghampiri Jansen sambil berteriak keras.
Suara teriakan itu menarik perhatian seluruh hadirin. Semua percakapan di ruangan itu terhenti, minum pun terhenti. Mereka semua tertawa sambil memandang wajah Jansen.
Orang-orang Keluarga Miller merasa sangat terhina karena bagi mereka, itu adalah sebuah aib.
Namun, tidak demikian dengan Renata dan Jessica. Mereka berdua sedang menantikan kehebohan selanjutnya.
"Kak Elena, kenapa kamu bisa mencari suami seperti ini?"
Jasper melanjutkan ucapannya, "Hari ini adalah hari jamuan makan Nenek Miller, sebagai generasi muda, kamu seharusnya berpakaian lebih bagus sedikit. Lihat suami kamu ini, jam tangan juga tidak pakai, bajunya pun jas murahan seribu yuan, sungguh memalukan!"
"Tentu saja, tidak cukup kamu sendiri yang malu, istrimu pun sama memakai baju murahan seribu yuan. Sebagai seorang pria, apa kamu tidak merasa gagal? Lebih baik kamu pergi mati saja!"
"Coba lihat jas aku ini, buatan Edward desainer terkenal Swedia, harganya delapan juta yuan."
Jasper berbicara kasar seperti ini memang bertujuan untuk mempermalukan Jansen.
Semua tamu yang datang kemari hari ini merupakan orang terkaya di Huaxia. Jansen sepertinya memang sedang berkecil hati.
Benar saja, banyak orang menertawakan mereka berdua.
__ADS_1
Elena bukanlah tipe wanita yang percaya diri. Saat ditatap seperti ini, Elena pun diam-diam merasa sangat malu, tetapi dia juga merasa kasihan dengan Jansen.