
Lagu kanon pada awalnya memiliki arti 'harmoni' di mana melodi sebuah jenis suara dapat dimainkan secara bersesuaian dengan jenis suara lainnya sampai mencapai akord dan irama terakhir dari sebuah lagu yang memberikan kesan sakral bagi pendengar lagu.
Sebenarnya, ada banyak orang yang bisa memainkan lagu kanon. Namun, jarang yang bisa memainkannya dengan konsep artistik.
Suara piano yang indah menggelegar dan menciptakan suasana romantis di lobi mall.
Petugas mall terkejut, namun tak berani menghentikan Jansen. Dia malah ingin Jansen memainkan piano lebih lama lagi.
Pasangan kekasih yang lalu lalang tertarik dengan alunan musik piano membuat semakin banyak orang yang datang mendekat.
"Indah sekali melodinya!"
"Pria itu sangat tampan!"
Orang-orang merekam dengan ponsel mereka dan membagikan video ke Instagram masing-masing.
Jansen benar-benar tenggelam dalam musik yang indah. Dia baru sadar dan terkejut sudah dikerumuni banyak orang setelah selesai bermain. Setelah itu, dia buru-buru
meninggalkan lokasi.
"Tampan sekali!"
Melihat Jansen masih sangat muda, beberapa wanita cantik ingin meminta nomor telepon dengan Jansen.
"Jansen, apa yang kamu lakukan di sini?"
Saat baru keluar dari kerumunan, Elena kebetulan datang dan melihat Jansen.
"Aku tidak melakukan apa-apa, tadi aku hanya berjalan-jalan santai!"
Jansen menjawab seadanya lalu menarik Elena pergi dari lokasi.
Jansen juga tidak menyangka reaksi orang-orang begitu heboh saat melihat dia memainkan piano karena awalnya dia hanya iseng saja.
Elena tidak bertanya lagi dan tersenyum sambil mengikuti Jansen pergi, "Oh ya, aku nanti ingin pergi melihat mobil, kita akan beli mobil baru, menurutmu bagaimana?"
"Tentu saja boleh!"
Jansen sudah lama terpikir untuk membeli mobil baru, "Namun, SIM aku sudah dicabut, sementara terpaksa kamu yang mengemudi."
"Kak Agnes bilang suaminya adalah manajer di dealer mobil Mercedes Benz. Dia suruh aku pergi ke sana melihat mobil. Kebetulan aku ada sedikit tabungan, aku rasa kita beli mobil Mercedes Benz yang murah saja. Kalau kita beli mobil Mercedes Benz, menurutmu bagaimana?" Elena menanyakan pendapat Jansen.
Jansen tentu tidak akan menolak membeli mobil baru. Sebelumnya, Elena yang membayar sendiri Pakaian baru. Sekarang, Jansen sendiri yang akan membelikan mobil baru untuk Elena.
Setelah tahu lokasi dealer Mercedes Benz tersebut, Jansen baru sadar ternyata itu adalah dealer milik perusahaan Tuan Hilton.
"Elena, kamu di sini rupanya, ayo pergi!"
Agnes membawa banyak sekali barang belanja dan bertanya, "Di mana Naomi?"
"Dia pergi ke toilet!"
"Dasar anak itu! Orang malas memang banyak buang air. Ayo pergi, kita ke tempat parkir dulu!"
__ADS_1
Agnes tertawa lalu wajahnya berubah judes saat menatap Jansen, "Jansen, mobilku hanya bisa membawa dua orang, apa kamu akan pulang sendiri? Atau kamu naik kereta bawah tanah saja?"
"Begini, aku ingin pergi ke sana dengan Jansen!"
Elena tampak kesal.
"Untuk apa kamu pergi ke sana dengan dia? Dia tidak punya uang, untuk apa dia ikut?"
Agnes sebenarnya ingin mengusir Jansen, tetapi Elena malah bersikeras ingin pergi bersama Jansen sehingga membuat Agnes semakin kesal dengan Jansen.
Bagi Agnes, pria yang tidak sanggup membelikan baju baru untuk istrinya seperti Jansen, tidak pantas untuk pergi melihat mobil baru.
"Aku naik kereta bawah tanah saja!"
Jansen tidak ingin membuang waktu, dia langsung pergi ke sana setelah menyampaikan kepada mereka.
"Pria pecundang!"
Agnes terus menghina Jansen.
Elena geram dan ingin berterus terang bahwa Jansen sebenarnya adalah orang kaya, tetapi dia tidak ingin merusak rencana Jansen dan membuat keluarga Miller lebih waspada sehingga tidak jadi mengatakannya.
Saat ini, semua orang mengira Jansen adalah pecundang. Jika mereka tahu bahwa Jansen adalah bos dari PT.Senlena, maka semuanya tentu akan bersikap beda terhadap Jansen.
Mereka semua pasti akan menindas Jansen.
Selain itu, PT. Senlena juga tidak mungkin menang melawan Keluarga Miller dan pasti akan ditekan terus hingga bangkrut.
"Kak Elena, Kak Agnes!"
"Naomi, kenapa kamu berteriak-teriak? Kamu ini gadis yang anggun!" Agnes menegurnya.
"Kalian tahu tidak? Tadi ada seorang pangeran bermain piano, dia memainkan lagu kanon. Indah sekali melodinya, aku paling suka pria yang multitalenta seperti dia itu. Dia juga sangat tampan!"
Naomi menari-nari dengan penuh semangat.
"Bukannya kamu tadi pergi ke toilet? Kamu kenapa bisa mendengarnya?" Agnes bertanya dengan heran.
"Aku mendengarkannya di dalam toilet. Aku malah mengira itu hanya suara radio, saat keluar dari toilet, aku baru tahu setelah ada orang mengirimkan aku videonya!"
Naomi mengeluarkan ponsel dengan hati gembira dan memutar video tadi.
Pria dalam video itu membelakangi penonton dan memainkan piano dengan gaya elegan. Dia terlihat hanyut dalam alunan musik piano dan tenggelam dalam suasana artistik. Suara piano yang indah menambah daya tarik orang-orang.
"Wah, bagus juga!"
Agnes pun merasa tertarik, "Pria muda yang tampan ini lebih baik daripada kakak ipar kalian, apalagi dia bisa main piano!"
"Dia tampan, kan?"
Naomi tampak senang, tapi juga sedikit, "Aduh, gara-gara tadi aku dandan, aku tidak sempat berjumpa dengan orang ini! Kalau tidak tadi aku sudah bisa berjumpa dengannya!"
"Apa kamu ingin meminta nomor telepon darinya?" Agnes bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Tentu saja, jarang sekali aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku pasti meminta nomor nya!"
"Kamu mau, tapi belum tentu dia juga mau kasih kamu!"
Mereka sambil berjalan dan berbincang lalu pergi meninggalkan mall.
Naomi masih tampak begitu bersemangat di perjalanan, "Belum tentu, aku ini salah satu dari empat wanita tercantik di Ibu kota. Kalau aku yang berinisiatif mengejarnya, dia pasti mau menerima cintaku. Hanya pangeran piano seperti dia yang cocok jadi pasanganku!"
"Tak tahu malu!"
Agnes merasa geram, tapi tertawa saat melihat Elena tidak bersemangat, "Elena, pria ini begitu tampan, juga pianis yang multitalenta, apa kamu tidak suka?"
"Aku tidak merasakan apa-apa, kalau pun dia tampan, belum bisa dibandingkan dengan Jansen!" Elena menggelengkan kepalanya.
"Puih, dia hanya seorang pecundang yang tidak sanggup membelikan baju baru untuk istrinya sendiri, apa- pantas dibandingkan dengan pangeran piano itu?"
"Betul, Kak Elena. Kamu tidak boleh membandingkan Jansen dengan pangeran berkuda putih milikku!"
Naomi dan Agnes membantah pernyataan Elena.
Agnes tentu sangat memandang rendah Jansen.
Namun, Naomi tidak memandang rendah Jansen. Dia sebenarnya tidak membenci Jansen, hanya saja Jansen pernah menamparnya tiga kali dan mengabaikan paras cantiknya sehingga dia merasa sebal dengan Jansen.
Mereka bertiga naik mobil Ferrari dan pergi dari mall.
Naomi kembali memutar video tadi di dalam mobil dan hampir mencium layar ponsel karena ketampanan pria itu.
Elena merasa geli dan menghela napas, "Naomi, kamu sudah menonton video itu dua puluh kali, apa kamu tidak bosan?"
"Aku tidak bosan menontonnya, pianis yang penuh penghayatan seperti dia ini membuat aku tersentuh. Apalagi, dilihat dari belakang, dia tampak sangat kesepian. Sayang sekali, aku hanya bisa melihat punggungnya. Pasti ada orang yang merekam dia dari depan. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan wajahnya!"
"Sini aku lihat!"
Elena merasa Naomi serius dan mencoba melihat video itu.
Mata Elena terbelalak. Semakin lihat, semakin dia kenal punggung pria itu, "Baju dan potongan tubuh pria ini mirip sekali dengan kakak iparmu!"
"Hah!"
Naomi dan Agnes terkejut lalu berteriak dengan marah.
"Pangeran piano yang tampan seperti dia jangan kamu bandingkan dengan katak yang mirip suamimu!"
"Benar sekali, kalau pun baju mereka sama, lantas apakah kakak ipar bisa memainkan piano?"
Mereka berdua saling bergiliran bertanya.
Elena mencoba mengingat sejenak lalu menggelengkan kepalanya, "Aku belum pernah melihatnya bermain piano. Dia harusnya tidak bisa bermain piano."
"Nah, itu dia! Kakak ipar hanya orang kampung, jangankan main piano, main kecapi saja dia tidak bisa!" Naomi berkata dengan kesal sambil menonton video dengan penuh kekaguman
Elena diam-diam menggelengkan kepalanya, tapi masih merasa punggung pria itu sangat mirip dengan Jansen.
__ADS_1
Di tempat lain, Jansen naik kereta bawah tanah ke dealer Mercedes Benz 4S. Dari kejauhan, showroom dealer itu terlihat sangat besar dan mewah.
Jansen masih beranggapan teh herbal dan mobil Mercedes Benz adalah dua bidang usaha yang sangat berbeda sehingga kerja sama itu akan sulit tercapai.