Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 661. Tanya Jalan!


__ADS_3

Keesokan harinya, Jansen bangun kesiangan, rupanya tidurnya sangat nyenyak Sepertinya dia perlahan mulai terbiasa tanpa keberadaan Elena.


"Kakak ipar, apakah kamu ada di sana? Aku sudah tiba di Ibu kota."


Telepon Diana berdering, "Katamu ingin memperkenalkan kerjaan itu untukku."


"Apakah kamu tidak menyuruh Leimin untuk pindah sekolah juga?" tanya Jansen.


"Proses pindahan sedang berlangsung, tapi aku ingin magang dulu. Bisakah kamu mencarikanku pekerjaan?"


"Oke, kamu di mana? Aku akan menemukanmu sekarang."


Setelah menutup telepon, Jansen hendak bergegas.


"Jansen, aku sudah membawa Lamborghini-mu di Kota Asmenia. Selain itu, aku juga sudah membeli belasan supercar, sedan, dan SUV, semuanya ada di garasi bawah tanah Mall Prisma. Sekretarisku menaruhnya di sana, langsung bunyikan saja kuncinya."


Natasha tiba-tiba melempar banyak kunci, dan berpesan, "Ingatlah untuk datang ke perusahaan besok, jangan lupa!"


"Baik."


Setelah menerima kuncinya, Jansen meninggalkan rumah komunitas. Penatua Jack sudah membantunya mengurus SIM, jadi dia tidak perlu naik kereta bawah tanah lagi di masa mendatang.


Letak Mall Prisma cukup dekat. Jansen mencari sepeda sewaan dan bergegas pergi ke sana.


"Kakak ipar, apakah kamu sudah tiba? Aku sudah di Mall Prisma."


Saat ini, panggilan dari Diana berdering lagi. Ternyata dia juga di Mall Prisma. Jansen menjawab dengan cepat dan langsung mengendarai sepeda menuju ke sana.


"Hei, apa kau tahu jalan menuju Mall Prisma?"


Saat ini, sebuah Mercy E-class berhenti di dekatnya. Ada beberapa wanita di dalamnya, menatap Jansen dengan santai.


Ketika melihat Jansen menyewa sepeda, mereka bahkan lebih menghina.


"Irish, tanyakan padanya apa yang dia lakukan?


Berhati-hatilah karena dia bisa saja mengganggumu. Pria seperti ini suka mengambil kesempatan untuk memulai percakapan."


Seorang gadis di dalam mobil merasa jijik


"Maaf, mereka semua adalah teman sekelasku, bicaranya memang biasa ceplas-ceplos. Jangan diambil hati."


Gadis lain yang tampak pendiam itu cukup sopan.


Wanita-wanita ini selalu menilai orang dari penampilan awalnya. Diperkirakan mereka sangat populer di universitas, pantas saja karakter suka menghina semacam itu semakin


berkembang.


Jansen tanpa sadar teringat akan Elena, gadis-gadis cantik selalu memiliki hak istimewa? Seolah-olah menjawab kata-kata mereka, ini merupakan kehormatannya sendiri.


"Lupakan saja, tanyakan saja jalannya, lalu abaikan pecundang malang ini."


Pengemudi wanita yang mengenakan setelan jas tersebut, menjatuhkan kata-katanya yang cukup pedas.


"Lurus saja ikuti jalan ini sejauh 500 meter, lalu belok kiri, kemudian belok kanan, setelah dua lampu lalu lintas, ketika melihat tempat yang banyak orangnya, kalian pergilah ke sana dan tanyakan ke mereka."

__ADS_1


Jansen meninggalkan sepatah kata, lalu pergi.


Beberapa wanita cantik ini sama bangganya bak seorang putri, seolah-olah mereka tahu bahwa Jansen akan menjawabnya.


Tetapi setelah berpikir sejenak, dia menyadari bahwa kata-kata Jansen di awal cukup normal, tetapi kalimat terakhirnya kurang jelas. Ke mana mereka harus pergi ke tempat yang banyak orangnya?


Hal ini sama sekali tidak dijelaskan!


Sepuluh menit kemudian, Jansen tiba di gerbang Mall prisma dan melihat Diana dari kejauhan.


Diana mengenakan celana jins longgar berwarna putih di kakinya serta dibalut dengan serangkaian gelang di pergelangan kakinya. Tampilannya sangat unik dan membuat dirinya terkesan awet muda dan bersemangat.


"Kakak ipar!"


Setelah melihat Jansen, Diana berlari dengan gembira dan langsung melilit tangan Jansen.


Tindakan mesra ini membuat Jansen tanpa sadar mengerutkan kening.


Diana tidak terlalu memikirkannya. Di Kota Asmenia dia terbiasa begini, menarik lengan Jansen untuk menyentuh dadanya.


"Apakah kamu belum mengurusi pindahan?"


Jansen berusaha melepas diri beberapa kali tetapi gagal, jadi dia mengabaikannya begitu saja.


"Kami masih harus menunggu beberapa hari. Sebenarnya, sekarang sudah bebas masuk sekolah atau tidak, dan kami semua juga bisa keluar untuk magang."


Diana terkekeh, "Kelas kami memiliki banyak siswa yang keluar untuk magang, di Ibu kota juga ada beberapa orang."


"Lalu jalur mana yang akan kamu hubungi?"


Diana cemberut, "Tapi ibuku tidak mengizinkan, dia ingin aku kerja kantoran, katanya lebih stabil. Kulihat-lihat, sepertinya akau akan berencana ikut wawancara di Grup Dream Internasional."


"Grup Dream Internasional?"


Jansen menatap.


"Benar, grup kosmetik terbesar di Huaxia, pelayanannya sangat bagus, beberapa teman sekelasku sudah diwawancarai. Mendengarkan cerita mereka, aku juga ingin mencobanya."


Diana sedikit ragu, "Namun, aku tidak tahu apakah bisa lulus wawancara atau tidak. Lagi pula, jurusanku tidak sesuai."


"Jangan khawatir, kamu pasti bisa lulus."


Jansen langsung tersenyum, Diana tidak tahu kalau Persdir Grup Dream Internasional adalah Natasha, dengan begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Bagaimana kamu tahu aku bisa lulus?" Diana menyipitkan matanya.


"Aku hanya menebak. Beri tahu aku kalau kamu akan wawancara."


Jansen tahu bahwa dia tidak bisa memberitahu tentang itu, jadi dia hanya menunggu sampai saatnya tiba.


"Oke."


Diana mengangguk, "Omong-omong, bagaimana kabarmu dan kakakku? Terakhir kali saat kamu membawakanku air, kakakku sangat senang. Selain itu, anggota keluarga Miller lainnya sangat heboh sampai-sampai mereka bilang kalau kamu sudah panik dan menunggu kakak memaafkanmu."


"Kakakku juga begitu, memiliki telinga yang lembut. Dia selalu mendengarkan keluarga Miller menabur perselisihan. Meskipun Danial adalah ayah kandungnya yang harus dia hormati, tetapi masalahnya, istrinya itu bermulut besar."

__ADS_1


"Kakak ipar, jangan biarkan kakakku terlalu berlebihan. Kakakku telah menjadi fokus sejak usianya sejak dia masih kecil. Dia memiliki karakter seperti seorang putri. Semakin


kau biarkan, dia akan semakin bangga."


"Aku ada di pihakmu kali ini."


Mendengar ini, hati Jansen terasa hangat. Tetap saja, meskipun adik iparnya ini baik, dia sama seperti keluarga Miller yang tidak tahu malu itu.


Jansen hanya bermaksud tidak ingin menyia-nyiakan hujan dan embun pada saat itu, bukan berniat untuk menjilat.


Dia jelas telah mengenali orang yang dengan bodohnya berlutut dan menjilat beberapa kali. Jika dia berlutut lagi, maka dia tidak akan dipandang sebagai laki-laki.


"Diana!"


Saat ini, beberapa wanita modis datang, mengenakan celana pendek dan rok mini di cuaca dingin seperti ini. Dengan kaki panjang yang terbuka, mereka hanya ingin menampilkan keanggunan, bukan kehangatan.


"Dasar bajingan! Kau telah menipu kami untuk berbelok ke kiri lalu ke kanan, dan ternyata itu adalah lokasi konstruksi. Bagaimana mungkin ada orang?".


Tiba-tiba, salah satu wanita berbaju kulit berkata dengan marah.


Jansen sedikit terkejut. Bukankah ini gadis yang mengendarai Mercy sebelumnya? Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Maaf, aku juga tidak akrab dengan Ibu kota!"


"Tidak akrab, kenapa malah menujukkan jalan?"


Wajah wanita itu penuh keluh.


"Irish, ada apa?" Diana sibuk bertanya.


Beberapa wanita memperindah masalah dan mengatakannya dengan penuh keluhan.


Hihihi!


Tapi bukannya marah, Diana malah merasa lucu.


"Kakak ipar, izinkan aku memperkenalkan padamu, ini Irish, ini Alea, Lila, dan yang pendiam ini namanya Laras."


Setelah diperkenalkan oleh Diana, Jansen mengangguk. Selain Laras, karakter yang lainnya tidak terlalu bagus.


"Diana, siapa dia?"


Gadis bernama Irish bertanya.


"Kakak iparku, juga dikenal sebagai pak Jansen di Universitas Asmenia, rektor memberikan citra baik padanya." Diana berkata dengan bangga.


"Ah, kukira siapa. Aku pernah mendengar nama kakak iparmu ini. Dia sepertinya dosen di jurusan kedokteran, tapi dia juga seorang menantu yang menumpang di rumah mertuanya?"


"Diana, awalnya kupikir kakak iparmu tampan dan kaya, tapi sekarang sepertinya tidak sebaik yang kau katakan."


Irish dan yang lainnya berkata satu demi satu, wajah mereka penuh dengan penghinaan.


Awalnya Jansen mempermainkan mereka, sehingga membuat mereka kesal. Melihat bahwa Jansen hanya seorang menantu yang menumpang di rumah mertuanya, mereka bahkan lebih tidak memperhatikan.


"Selain itu, kamu bilang kakakmu adalah putri dari Keluarga Miller yang kaya raya di Ibu kota. Rupanya Kakak iparmu berkulit tebal,? Demi naik ke keluarga kaya, bahkan jika kakakmu menampar wajahnya pun dia tetap tidak akan pergi."


Wanita bernama Lila tersebut ternyata tahu lebih banyak.

__ADS_1


__ADS_2