
"Rasakan pisauku!"
Pisau Knife adalah yang terbaik di Militer. Meskipun energi Qi nya biasa-biasa saja, teknik pisau adalah teknik yang digunakan untuk membunuh. Lihat saja bagaimana
Judge akan mengatasinya.
Judge itu memiliki tubuh yang tidak tinggi dan mengenakan seragam serta topi militer. Dari kejauhan, dia terlihat seperti anak kecil.
Dalam menghadapi Knife, dia terlihat sangat tenang dan seolah mengantuk.
"Bajingan!"
Knife merasa Judge tidak memperhatikannya. Knife mendekatkan pisau kepada Judge sambil menarik turunkan pisaunya. Knife ingin lihat bagaimana Judge menghadangnya.
Pada saat ini, Judge pun bergerak. Satu tangan di depan dan satu tangan di belakang. Ditambah, Judge juga menjaga agar telapak tangannya menghadap ke depan.
Prang!
Jari Judge mengenai bagian terlemah Pisau Militer dan pisau tersebut jatuh. Kemudian, Judge kembali menjentikkan jari dan Pisau Militer yang lain juga terjatuh.
"Ah!"
Knife berdiri tercengang di tempat. Dia menebas kedua buah pisaunya pada saat bersamaan. Namun, Judge berhasil melumpuhkan dan menjatuhkan kedua pisaunya pada waktu yang bersamaan. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini di dalam hidupnya.
Tentu saja, hal ini membuat para ahli dari enam komando daerah militer tercengang. Mereka terkejut, tapi di sisi lain mereka juga merasa biasa saja.
"Aku kalah!"
Knife berkata, lalu meninggalkan arena. Knife berjalan sambil menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak mengerti kenapa dia bisa kalah.
Jansen menatap Judge sambil menyipitkan matanya. Jansen merasa bahwa teknik yang digunakan oleh Judge mirip seperti teknik Aura Qi. Keduanya menggunakan aliran udara untuk menghadapi lawan.
Rata-rata, para ahli menggunakan kemampuan penglihatan atau kekuatan pendengaran. Namun, terkadang mata dan telinga bisa menipu.
Secara keseluruhan, kemampuan yang dimiliki Judge tidaklah biasa. Kemampuan Judge hanya berada sedikit di bawah Ketua sekte Wudang.
Namun, Jansen melihat kemampuan bela diri Judge sangat unik.
"Aku juga mau mencobanya!"
The Light tahu bahwa kesempatan ini langka. Jadi, dia juga maju.
Lagi pula, Judge jarang bergerak. Kecuali, atasan
memberikannya tugas.
"Ayo, maju!"
Judge berkata dengan datar.
The Light menggunakan ilmu ringan badan. Dia tidak menyentuh Judge, tapi mengganggunya terus menerus.
Judge mengerutkan keningnya. Kemudian, Judge juga menggunakan ilmu ringan badan.
Ilmu ringan badan yang digunakan oleh Judge sangatlah mulus, seperti naga yang menerkam burung walet.
"Apa?"
Ke mana pun The Light pergi, Judge mengikuti seperti bayangan.
The Light sangat percaya diri dengan ilmu ringan badannya, tapi kali ini dia merasa terserang. Tidak heran, Judge adalah Raja Prajurit nomor satu. Tak ada yang tak dapat dilakukannya.
Beberapa menit kemudian, The Light terengah-engah dan berhenti, lalu memberi hormat, "Aku kalah!"
__ADS_1
"Tiga jurus, cukup bagus."
Judge berkata dengan datar, tetapi ekspresinya terlihat sedikit bosan.
Sebenarnya, yang dimaksud tiga jurus adalah karena The Light mengandalkan ilmu ringan badan untuk menghadapi Judge. Kalau bertarung secara langsung, The Light mungkin hanya
akan punya kesempatan untuk menggunakan satu jurus.
Seorang Raja Prajurit kuasi kalah lagi. Apalagi, di antara mereka tidak ada yang dapat bertahan lebih dari tiga jurus.
Hasil seperti ini terus bergulir.
Tatapan orang-orang tertuju kepada kelima Raja Prajurit dan berharap mereka akan bertarung. Namun, kelima Raja Prajurit terlihat diam, seolah mereka telah mengetahui kekuatan Judge
Melihat tidak ada yang berani maju, Judge pun menatap Naga Hijau yang berada di samping arena.
Sebenarnya, Naga Hijau tidak kehilangan terlalu banyak energi. Naga Hijau menggunakan kesempatan ini untuk melihat kemampuan Judge dengan jelas.
"Judge, aku sudah selesai istirahat. Mari kita mulai!"
Naga Hijau menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan maju.
Mereka berdua berdiri terpisah sejauh lima meter, seperti pertarungan antara dua prajurit terbaik. Seketika, perasaan tegang suasana.
Semua mata tertuju kepada Judge dan Naga Hijau. Mereka sangat menanti-nanti dan antusias. Darah terasa mendidih dan terbakar.
Pertarungan seperti ini yang disebut pertarungan antara pria.
"Mulai!"
Naga Hijau melihat sejenak, tapi dia tidak bisa menemukan kelemahan Judge. Akhirnya, Naga Hijau pun menyerang.
Naga Hijau menggunakan teknik Tujuh Tapak Bintang. Perbedaan terbesar antara teknik ini dan ilmu ringan badan yang digunakan oleh The Light terdapat pada keanehannya. Teknik
Huh.
Tiba-tiba, Judge menghela napas. Tangan yang berada di belakang punggung, akhirnya ditarik kembali.
Dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya, Judge selalu bertarung dengan menggunakan satu tangan.
Judge berdiri dengan tenang, seperti ukiran batu dan penembak jitu yang sabar. Dia bisa menyerang kapan saja.
"Tidak buruk!"
Jansen terus memperhatikan Judge. Jansen menemukan bahwa semua pernapasan, detak jantung, dan detak nadi Judge telah diturunkan hingga ke titik terendah. Apalagi, telinga dan mata Judge terus bergerak-gerak, seolah sedang
menangkap mangsa.
"Meskipun ilmu ringan badan Naga Hijau sangat hebat, seperti tidak bisa digunakan untuk melawan Judge!"
Sepertinya, dia menebak sesuatu.
"Tidak mungkin! Ilmu ringan badan Naga Hijau lebih hebat dibandingkan The Light." Seketika, Elena mengerutkan keningnya.
"Benar. Ditambah, serangan Naga Hijau juga sangat hebat. Dia berasal dari barat laut. Sepertinya, dia adalah murid dari sebuah kuil."
Knife yang ada di samping ikut menimpali.
Pada saat ini, Naga Hijau muncul di belakang Judge dan mengeluarkan telapak tangannya. Telapak tangannya yang hitam, terlihat sangat menakutkan.
"Tujuh Telapak Iblis?"
Tampaknya Judge mengetahui asal usul seni bela diri Naga Hijau. Yang aneh, melihat bahwa dirinya akan diserang, Judge memutar tubuhnya dan menghindari serangan telapak tangan
__ADS_1
itu. Telapak tangan Naga Hijau hanya menyentuh seragam militer Judge.
"Pukulan Vajra Agung Palm!"
Setelah menghindari serangan Naga Hijau, Judge bergumam kecil dan memukul Naga Hijau dari samping.
Wajah Naga Hijau sedikit berubah, tetapi dia tidak sempat menghindar. Naga Hijau mengatur energi Qi nya, lalu menyerang dengan ganas.
"Tujuh Telapak Mutlak!"
Naga Hijau bahkan menggunakan teknik telapak tangan baru. Seni bela diri ini sangat menyeramkan.
Energi Qi membawa frekuensi bergelombang.
Bang! Bang!
Namun, begitu mengenai Pukulan Vajra Agung Palm, Naga Hijau merasa seperti ditabrak oleh kereta api berkecepatan tinggi.
Seluruh tubuhnya mundur ke belakang.
Energi Qi Judge membuat Naga Hijau merasa tercerahkan.
"Wah!"
Keributan terdengar di sekitar arena. Energi Qi Naga Hijau sangatlah luar biasa, tetapi dia tidak sebanding dengan Judge
"Jansen, bagaimana kamu tahu kalau ilmu ringan badan Naga Hijau tidak bisa melawan Judge?"
Elena dan Knife menatap Jansen dengan kaget.
Jansen tersenyum dan menjelaskan, "Judge sangat peka terhadap udara. Tidak peduli seberapa cepat Naga Hijau, udara tidak dapat diubah. Selain itu, telinga dan mata Judge dilatih secara khusus untuk merasakan jarak lawan melalui cahaya dan suara. Kalau kamu tidak percaya, lihat telinganya."
Elena dan Knife langsung menoleh. Benar saja, mereka melihat telinga Judge bergerak dengan frekuensi yang sangat cepat.
"Jansen, kamu bahkan bisa melihatnya? Hebat sekali!" kata Knife dengan kagum.
"Aku adalah seorang dokter."
Jansen berkata dengan santai.
Saat mereka sedang berbicara, Naga Hijau dan Judge kembali bertarung. Alhasil, ilmu ringan badan Naga Hijau memang tidak berguna. Ke mana pun Naga Hijau pergi, dia selalu dikalahkan.
Naga Hijau tidak bisa menyerang, dia pun merasa sangat kesal. Kemudian, Naga Hijau mengganti jurus lain yang bernama Tujuh Pukulan Maut. Jurus ini bisa menutup titik akupunktur lawan.
Namun, Judge menanggapi dengan tenang dan membalas serangan tersebut.
"Sudah cukup."
Tangan Judge bergerak, tapi tak terlihat. Naga Hijau tidak bisa meraihnya. Setelah serangan Naga Hijau dibalas, dia melangkah mundur dan seteguk darah hampir menyembur keluar dari
tenggorokannya.
"Pengendalian energi Qi yang hebat."
Jansen terkejut melihatnya. Jansen tidak mengerti, Judge ini masih muda, tapi pengendalian energi Qi nya cukup hebat.
"Apa itu pengendalian energi Qi?"
Knife bertanya dengan penasaran, dia merasa Jansen seperti buku seni bela diri yang mengetahui segalanya.
"Keterampilan mengontrol energi Qi. Sebagian besar energi Qi yang dilatih oleh orang biasa, dapat digunakan dalam serangan. Namun, energi Qi itu sulit dikontrol." Jansen
berkata perlahan, "Tapi, Judge tersebut bisa melakukannya. Judge menggunakan energi Qi terkecil untuk menyerang Naga Hijau dan membuatnya terluka kecil."
__ADS_1