
"Ah, Dokter Alfred, apakah Anda ingin belajar kedokteran dengannya? Anda ini adalah dokter paling dihormati di dunia kedokteran se-Huaxia. Anda adalah seorang dokter negara!"
Mata Amanda terbelalak. Bagi Amanda, Jansen memang lihai menggunakan trik. Meskipun Jansen baru saja berhasil menyembuhkan penyakit kakaknya, tetapi itu bukan berarti keterampilan medis yang Jansen miliki lebih unggul dibandingkan Dokter Alfred.
"Nona Amanda, perkataanmu sedikit keterlaluan. Pepatah mengatakan 'di mana pun kita berada, pasti akan bertemu guru yang dapat membimbing kita.' Kemampuan yang aku miliki di dunia kedokteran masih tidak seberapa, apalagi keterampilan medis yang aku kuasai masih biasa-biasa saja. Tidak ada salahnya aku berguru kepada Dokter Jansen!" Dokter Alfred dengan wajah serius berkata sambil menanti jawaban dari Jansen, "Aku hanya khawatir Dokter Jansen menganggap umurku terlalu tua dan tidak ingin menerimaku sebagai muridnya!"
"Dokter Alfred terlalu sungkan. Belajar keterampilan medis tidak mengenal usia, asalkan Dokter Alfred berniat mempelajarinya, saya pasti dengan senang hati saling bertukar pikiran!" Jansen berkata sambil menggelengkan kepalanya.
Dokter Alfred sangat senang. Beliau langsung berlutut kepada Jansen dan menyuguhkan teh untuknya sebagai tanda penghormatan kepada seorang guru.
Dokter Alfred sudah lanjut usia, kepribadiannya sangat konservatif. Beliau tahu betul aturan dunia kedokteran.
Melihat Dokter Alfred berlutut ke arah Jansen, Amanda tercengang.
Meskipun Arthur dan Adam merasa terkejut, mereka berdua hanya tersenyum dan tidak menyela, terutama Arthur. Dia bahkan tertawa dan berkata, "Keterampilan medis Saudara Jansen memang tak tertandingi. Dia juga menyembuhkan penyakit jantung yang aku alami, tak hanya itu, dia juga menyembuhkan ankylosing spondylitis yang diderita Lucky Miller. Kehebatan yang dia miliki ketika menolong orang yang sudah hampir mati membuatnya pantas dijuluki Tabib Hua Tuo masa kini!"
"Betul, betul, betul!"
Dokter Alfred mengangguk dengan penuh semangat, "Guru, terimalah hormat saya sekali lagi!"
Jansen tidak bisa bersuara. Faktanya, Jansen sama sekali tidak suka hal ini, tetapi karena dia melihat ketulusan Dokter Alfred, dia juga tidak enak hati menyela Dokter Alfred.
Selain itu, dalam dunia pengobatan tradisional, tidak ada seorang pun yang berani mengklaim dirinya sendiri sebagai orang nomor satu yang paling hebat, paling bagus hanya berani menyebut sebagai nomor dua terhebat.
"Mereka sudah gila"
Setelah lama menatap mereka, Amanda menghela napas dan menggelengkan kepalanya sambil berkata demikian.
"Sekarang giliran kamu, Pelayan! Cepat tuangkan aku teh!"
Jansen tiba-tiba berkata demikian sambil menatap wajah Amanda.
"Aku ini putri sulung Keluarga Carson, dan juga salah satu dari empat wanita tercantik di Ibu kota. Apa kamu sanggup menyuruhku menjadi pelayan?" Amanda bertanya dengan kesal.
"Aku pasti sanggup, atau apa kamu memang ingin mengingkari perjanjian kita sebelumnya?"
"Aku, aku tentu tidak akan ingkar janji. Kalau begitu, lebih baik kita ganti dengan uang saja, satu juta? Atau lima juta? Atau ya sudah, sepuluh juta, bagaimana?"
"Aku tidak kekurangan uang, aku hanya perlu seorang pelayan untuk melakukan pekerjaan rumah!"
Jansen menggelengkan kepalanya dengan malas, dan kata-katanya membuat Amanda gemetar ketakutan.
"Oh ya, masih ada satu taruhan lagi, aku akan menancapkan jarum perak di wajah cantikmu hingga berbekas. Anggap saja itu cap stempel untuk kamu sebagai seorang pelayan baru!"
Jansen berjalan menghampiri Amanda yang tanpa sadar segera mundur ketakutan. Amanda ingin meminta bantuan Arthur kakaknya itu, tetapi Arthur malah hanya tertawa datar tanpa memberinya pertolongan.
__ADS_1
"Jangan berani-berani mendekat kemari atau aku akan memberimu pelajaran!"
Melihat tidak ada orang lain yang bisa membantu dirinya, Amanda hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Untungnya, Keluarga Carson adalah keluarga militer selama beberapa generasi, sehingga Amanda pun memiliki kemampuan bela diri yang lumayan dan setara master Xuan Tingkat Menengah.
"Dokter Kecil, kita lihat siapa yang tusuk siapa!"
Langkah Amanda terhuyung-huyung. Dia langsung mempercepat langkahnya dan mengarahkan pukulan ke wajah Jansen. Amanda mengira bahwa satu pukulan ini dapat membuat Jansen babak belur dan berlutut minta maaf kepadanya.
Arthur menggelengkan kepalanya karena merasa meskipun adiknya ini menguasai sedikit bela diri dan keras kepala, tetapi cukup sial bila harus berhadapan dengan Jansen.
Saat pertama kali bertemu di pesawat terbang, Arthur sudah tahu kemampuan yang dimiliki Jansen.
Benar saja, Jansen hanya perlu memiringkan kepalanya sedikit dan dengan mudah menghindari pukulan Amanda. Posisi kaki Amanda tidak stabil dan goyah, sehingga dengan mudah Amanda pun terjatuh.
Jansen bergegas menghampiri Amanda, dan naik ke atas perutnya lalu menancapkan jarum perak ke wajah Amanda.
"Siapa suruh kamu sok hebat, hari ini aku akan memberimu sedikit pelajaran supaya kelak kamu bisa jadi istri yang patuh!"
"Dengar, kamu adalah pelayanku, mana boleh pelayan memukul majikan!"
Setelah menancapkan selusin jarum bertubi-tubi ke wajah Amanda, Jansen mencabut kembali jarum-jarum itu dan kemudian pergi.
"Ah !"
Sebagai salah satu dari empat wanita tercantik di Ibu kota, Amanda tentu sangat peduli dengan penampilan wajahnya.
"Apakah kamu sudah cukup menangis? Lihatlah jerawat di dahi kamu itu!"
Tiba-tiba terdengar suara Jansen yang tertawa pelan.
Amanda tanpa sadar menyentuh jerawat di dahinya. Seluruh tubuhnya langsung gemetar dan jerawat di wajahnya pun langsung hilang.
Jerawat di wajah Amanda termasuk jerawat yang mudah membandel. Amanda sudah mencoba mengobatinya dengan berbagai kosmetik dan obat-obatan, tetapi jerawat itu tetap saja muncul. Di antara keempat wanita tercantik di Ibu kota, Amanda menduduki urutan paling bawah akibat jerawat membandel yang muncul di wajahnya itu.
Seluruh jerawatnya sudah hilang sekarang.
"Aku, ada apa denganku? Apa aku semakin cantik!"
Amanda duduk di atas lantai dan mengeluarkan cermin kecil untuk melihat wajahnya. Semakin dia melihat wajahnya, semakin pula dia bersemangat.
"Omong kosong!"
Jansen tiba-tiba memarahi Amanda, "Kamu pikir aku asal tancap jarum perak itu?"
__ADS_1
Mendengar perkataan ini, Amanda tiba-tiba melihat ke atas dan menatap Jansen. Amanda seketika merasa Jansen tidak seburuk yang dibayangkan.
"Oh ya, aku ada bawa Bubuk Giok Es, yang bisa membuat kulit halus dan putih merona. Apa kamu mau mencobanya?" Jansen mengeluarkan sebuah botol kaca yang berisi ramuan bubuk perawatan kulit.
Amanda awalnya sepele dengan ramuan obat yang dikeluarkan Jansen. Dengan status sebagai putri Keluarga Carson, Amanda tentu sudah pernah mencoba semua jenis produk kecantikan terbaik.
Namun, Amanda sedikit goyah hatinya melihat keterampilan medis yang dimiliki Jansen.
Wanita pasti selalu peduli dengan kecantikan wajah sendiri.
"Kamu tidak menipuku, 'kan?"
Amanda menyipitkan mata dan bertanya.
"Apa menurutmu aku perlu menipumu?" Jansen tertawa, "Namun, Bubuk Giok Es aku ini tidak gratis. Kamu harus panggil aku 'Tuan' dulu. Asal kamu panggil aku dengan sebutan "Tuan', maka kamu boleh ambil botol gelas ini!"
"Kamu bermimpi!"
"Tidak apa-apa jika kamu tidak mau. Bubuk Giok Es aku ini dapat menjaga kulit wanita tetap lembut seperti saat usia delapan belas tahun. Selain itu, kandungan kolagen dalam bubuk ini juga sangat tinggi, sehingga dapat memperbaiki sel-sel kulit yang telah rusak!"
"Tuan!"
Begitu Jansen selesai berbicara, Amanda berteriak dengan malu-malu.
Tidak heran jika produk kecantikan adalah industri yang sangat menguntungkan. Demi kecantikan, para wanita ini rela menyerahkan berapa banyak pun uang yang mereka miliki. Bahkan ada yang sampai rela memangggil 'Tuan' demi mendapatkan kosmetik tersebut.
Setelah melemparkan Bubuk Giok Es itu kepada Amanda untuk dicobanya langsung, Jansen pergi menyapa Adam.
"Tuan Adam, situasi tadi lumayan genting, jadi tidak sempat menyapa kamu, mohon maaf!"
"Dokter Jansen, kamu menyematkan hidup ini, kamu tidak perlu terlalu sopan kepadaku!"
Adam tidak terlalu mempermasalahkan formalitas. Dia berkata kepada Jansen, "Karena kamu sudah memanggil adik keduaku sebagai Kakak, maka aku akan menjadi kakak tertuamu, bagaimana kalau kamu juga menjadi adik aku?"
"Tentu saja, bagus sekali!"
Jansen merasa sangat gembira. Dia dari awal sudah tahu kalau Adam memiliki kemampuan yang luar biasa, ditambah tenaga dalam yang sangat kuat. Hanya saja, akibat peristiwa keracunan itu, tubuhnya menjadi sedikit lemah.
Selain itu, Adam adalah seorang Dewa Perang yang memiliki karier militer cemerlang.
"Kak Adam, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, aku ada Bubuk Giok Api. Aku pikir sebagai tentara di luar pasti bisa terluka. Dengan bantuan Bubuk Giok Api ini, pendarahan dapat segera dihentikan dan luka pun cepat sembuh!" Jansen berkata demikian kepada Adam.
"Obat luka luar?"
Adam dan Arthur saling memandang sekilas, mereka berdua lalu menggelengkan kepala.
__ADS_1
Sekarang tentara memiliki tas pertolongan darurat dan kotak P3K. Di dalamnya terdapat semua jenis obat-obatan yang dibutuhkan. Obat luka luar ini tidak begitu dibutuhkan lagi.