
Raja Kelelawar akhirnya takluk dalam pertarungan. Muncul lagi seorang master ternama di dunia Jianghu.
Tidak ada satupun dari mereka yang berani bergerak. Mereka semua seperti melihat datangnya kematian saat berpapasan dengan Jansen.
Sepuluh menit setelah Jansen pergi pun, mereka masih belum berani bergerak.
Setelah berhasil menaklukkan Raja Kelelawar, Jansen melihat jam dan memutuskan untuk tidak lanjut menghadapi orang berikutnya.
Bagi Jansen, semua orang yang tersisa di Keluarga Avram maupun keluarganya Fuller bukanlah orang-orang hebat. Orang yang benar-benar hebat adalah Justin dan Isabella.
Apalagi, Jansen masih merasa kecewa dengan pertarungan sebelumnya saat melawan Raja Kelelawar. Setelah berhasil mencapai Teknik kaisar manusia Tingkat Ketujuh, master yang menempati peringkat ke-tiga puluh dalam daftar peringkat dunia Jianghu seperti lawan yang sangat mudah dikalahkan oleh Jansen.
Jansen juga penasaran dengan batas kemampuan dirinya sendiri dan seberapa hebatnya para master lain di dunia Jianghu.
Setelah kembali ke ibu kota, Jansen langsung pergi menuju kediaman Keluarga Miller. Jansen sudah lama tidak mengunjungi mereka. Dia pun sudah tidak tahu bagaimana kondisi Keluarga Miller sekarang.
Ketika tiba di kediaman Keluarga Miller, Renata dan Maia baru saja pulang setelah membeli sayuran di luar. Mereka berdua sangat senang melihat Jansen datang.
"Jansen, kamu sudah datang!"
Mereka menatap Jansen dengan perasaan lega sekaligus kagum.
"Ya!"
Jansen mengangguk kepada mereka. Meskipun Jansen dulu sangat membenci Renata, sejak kepergiaan Elena, semua dendam di antara mereka pun telah sirna.
"Apakah kamu mau makan malam di sini?"
Renata ragu sejenak lalu bertanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Paman Danial. Jadi, aku akan makan malam di sini!"
Jansen berpikir sejenak dan mencari alasan.
Renata dan Maia merasa sangat senang. Mereka berdua buru-buru pergi membeli sayuran untuk dimasak. Mereka berdua sadar bahwa persaingan di ibu kota sangatlah sengit dan yang dapat diandalkan oleh Keluarga Miller saat ini hanyalah Jansen seorang.
Selain itu, Keluarga Miller kini tidak hanya mampu kembali ke kejayaan dulu, tetapi juga lebih baik dari masa-masa itu.
Semua keluarga elit di ibu kota kini juga sangat segan dengan Keluarga Miller.
Keluarga yang baru bergabung dalam jajaran keluarga elit bahkan harus terlebih dahulu mengunjungi dan mendapatkan persetujuan dari Keluarga Miller.
Setelah memasuki halaman kediaman Keluarga Miller, Jansen mendapati bahwa jumlah pengawal di sana makin bertambah. Kejayaan masa lalu sepertinya telah kembali.
"Lho, Adik Ipar sudah datang!"
Saat Jansen ingin memasuki ruang tamu, seseorang berjalan di koridor sambil terbatuk-batuk. Orang itu adalah Jessica.
Jansen diam-diam merinding saat dipanggil dengan sebutan adik ipar. Dia sangat tidak nyaman dengan panggilan ini.
"Kenapa ekspresi wajahmu begini? Sikapmu sangat dingin saat berjumpa dengan kakakmu ini?"
__ADS_1
Jessica berjalan menghampirinya dan berkata dengan kesal.
Jansen pun berkata dengan wajah kesal, "Kamu sepertinya bakal bilang bahwa kamu mencariku karena ingin aku memeriksa kondisimu yang sedang sakit flu!"
Jessica terbatuk dan mengangguk, "Benar, entah kenapa, jantungku berdetak sangat kencang beberapa waktu belakangan ini. Betisku juga sering mengalami kram. Apa kamu bisa memeriksa kondisiku?"
Sambil berbicara, Jessica memegang bagian jantungnya dan ingin Jansen membantunya memeriksa detak jantung.
"Jangan bercanda!"
Jansen berkata demikian dan langsung memasuki ruang tamu.
"Kamu ini memang tidak peka dengan maksudku!"
Jessica mengentakkan kakinya dengan kencang.
Jessica sebenarnya merasa bahwa Jansen bersikap makin dingin terhadap dirinya beberapa waktu ini. Meskipun demikian, Jansen terlihat makin jantan dan punya daya tarik.
Namun, Jessica tahu bahwa Jansen yang sekarang tidak sama dengan Jansen yang dulu.
Jansen pasti merasa sangat tertekan dengan masalah Elena.
"Paman Danial!"
Setiba di ruang tamu, Jansen melihat Danial sedang menonton opera dan terpaksa diam sejenak. Danial benar-benar melewati harinya dengan santai.
"Wah, Jansen sudah datang. Ayo, silakan duduk!"
Danial pun terbangun dan membuka kedua matanya. Dia sangat senang, senang melihat Jansen dan langsung menuangkan teh untuknya.
"Aku baru pulang, aduh! Jangan diungkit lagi, jalan-jalan di luar sungguh tidak menyenangkan. Aku tidak terbiasa dengan makanan dan tempat tinggal di sana. Orang bilang, jauh lebih baik di rumah sendiri daripada di luar! Kawan-kawanku bahkan mengajak aku pergi ke Kutub Selatan. Karena harus naik kapal selama setengah bulan, aku pun malas dan tidak jadi ikut dengan mereka!" Danial pun kesal saat bercerita tentang perjalanan liburannya.
"Itu karena Paman Danial belum terbiasa. Paman sepertinya tidak pernah melihat orang yang pergi berwisata ke daerah pedalaman. Seberapa sulit dan melelahkan pun, mereka tampak sangat bahagia di sana!"
Jansen tiba-tiba tertawa. Pada saat ini, Ricky dan yang lainnya juga telah kembali. Saat melihat Jansen, mereka semua segera datang menyapanya.
"Jansen, aku punya beberapa botol Anggur Feitian yang diberikan pelangganku. Aku tidak habis meminumnya. Nanti kamu bawa pulang minum saja!"
Rowen mengeluarkan beberapa botol minuman keras yang enak dari dalam kamar dan meletakkannya di atas meja.
Jansen sebenarnya tidak terlalu suka minuman keras, tetapi karena teringat dengan kakeknya sendiri yang suka minuman keras, Jansen pun menerima pemberiannya.
"Bagaimana kondisi perusahaan selama beberapa waktu ini?"
Jansen kembali bertanya.
"Kondisi perusahaan masih baik-baik saja dan sudah berada di jalur yang tepat. Hanya saja, perusahaan masih sangat sulit berkembang!"
Ricky tahu bahwa Jansen juga sesekali merokok. Dia lalu menyerahkan sebatang rokok untuk Jansen sambil berkata dengan cemas, "Kakak Ipar, kamu punya relasi yang luas. Apakah kamu punya kenalan yang bergerak di usaha industri pakaian?"
"Ricky, kamu lagi-lagi merepotkan kakak iparmu?"
__ADS_1
Danial yang berada di samping menegur Ricky, sehingga Ricky pun tidak berani mengatakan apa-apa dan hanya bisa terdiam.
"Ayah, Jansen adalah keluarga kita sendiri, jangan sungkan dengan dirinya!"
Saat ini, Jessica juga masuk ke dalam dan langsung menatap Ricky sambil berkata, "Ricky, kalau kamu ada masalah, katakan saja. Kakak iparmu pasti akan membantumu!"
Jansen langsung memelototi Jessica dengan tajam. Sebenarnya, Jansen bukan tidak ingin membantu Ricky. Dalam berbisnis, kita tidak boleh terlalu mengandalkan kekuatan koneksi dan relasi, contohnya saja Keluarga Miller yang memiliki koneksi dan relasi luas. Saat Kakek Miller tidak mengurus bisnis lagi, Keluarga Miller sudah tidak memiliki figur pemimpin yang dapat diandalkan.
Sekarang, Keluarga Miller harus bergantung pada Jansen. Lantas bagaimana kalau suatu hari Jansen pergi?
Oleh karena itu, semua kembali bergantung pada kemampuan serta upaya keluarga mereka sendiri.
Jansen pun terpaksa membantu karena Jessica telah memohon bantuan kepada dirinya.
"Ricky, kalau kamu memiliki masalah, katakan saja!"
"Kakak Ipar baik sekali terhadap diriku!"
Ricky pun langsung merasa senang.
Danial dan Rowen saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua pun mengerutkan kening karena merasa kebingungan. Awalnya, mereka berdua memiliki pemikiran yang sama dengan Jansen, yaitu mendidik Ricky hingga sukses kelak.
Namun, kenapa Jansen malah menyetujuinya?
Mereka langsung menatap Jessica dan Jansen. Sepertinya, ada sesuatu di antara mereka berdua.
Danial juga merasa sangat aneh dengan sifat putri sulungnya yang seolah telah berubah drastis. Putri sulungnya itu kini mulai memakai pakaian feminin serta stoking berwarna hitam dan krem. Terkadang, dia bahkan mulai gemar berkaraoke.
Jessica sebelumnya selalu berpakaian khas seorang presiden direktur perusahaan. Wajahnya pun selalu tampak serius dan berwibawa.
Mungkinkah putri sulungnya Danial ini sedang jatuh cinta?
Suasana hati orang yang sedang dimabuk asmara memang sangat berbeda.
Ricky mengeluarkan korek api dan menyalakan rokok untuk Jansen. Ricky tersenyum dan berkata, "Begini ceritanya, aku sedang bekerja sama dengan salah satu grup perusahaan di ibu kota. Grup perusahaan ini sangat besar. Awalnya, pembahasan mengenai kerja sama kami berlangsung lancar. Akan tetapi, di tengah jalan, ada yang mengacau. Aku sangat frustrasi karena hal ini!"
"Grup perusahaan apa?"
"Dutch Textile!"
Jansen merasa sedikit familier dengan nama perusahaan itu dan tiba-tiba teringat bahwa itu adalah perusahaan produksi pakaian milik Raja Kelelawar Jansen pun tersenyum dan berkata, "Begini saja, aku akan menemanimu pergi bertemu dengan bos perusahaan itu dan membahas masalah kerja sama!"
"Baiklah, kapan Kakak Ipar punya waktu senggang?" Ricky bertanya dengan perasaan gembira.
"Ayo kita pergi sekarang. Lagi pula, sekarang masih pagi. Kita akan selesai dalam waktu satu atau dua jam!"
Jansen akhirnya makan di kediaman Keluarga Miller karena tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu. Lalu bagaimana dengan rencananya besok?
Jansen masih harus pergi membalas dendam!
"Sekarang? Satu atau dua jam saja sudah bisa selesai?" Ricky menatap dengan terkejut.
__ADS_1
Rowen dan yang lainnya juga merasa sangat terkejut.
Dutch Textile adalah sebuah merek ternama. Merek ini menempati urutan ketiga dalam peringkat teratas industri pakaian nasional. Reputasi merek ini juga sangat bagus. Ricky ingin memanfaatkan nama besar merek Dutch Textile dan mulai merambah ke bidang pembuatan pakaian militer. Hanya saja, tantangan yang harus dilewati sangatlah besar. Apalagi, ada banyak pengusaha di berbagai tempat di Huaxia yang ingin memanfaatkan nama besar Dutch Textile demi meraup keuntungan. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu melakukan hal ini.