Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1475. Rahasia Yang Tidak Boleh Diungkapkan


__ADS_3

Budak pekerja lainnya pun mengangguk satu demi satu. Mereka sudah mengenal Tose selama sepuluh tahun dan sama sekali tidak percaya bahwa Tose ternyata adalah seorang mata-mata.


"Aku berani berkata begitu tentu karena aku ada bukti!"


Jansen tersenyum dan berkata, "Tose, warga Desa Askara, usianya tiga puluh lima tahun, sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Dia pernah menerobos masuk ke markas Sekte Wan'an sepuluh tahun yang lalu dan melanggar aturan Sekte Tersembunyi. Dia pun dikurung selama lima belas tahun. Kejadian itu telah berlalu sepuluh tahun. Dia bahkan kehilangan lengan kanannya karena tertimpa reruntuhan batu di area pertambangan."


Para budak pekerja saling memandang dengan bingung, tetapi belum merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Jansen. Lantas, apakah Kepala Tambang hanya menuduh tanpa bukti jelas?


Gracia juga merasa sangat aneh. Apakah Jansen buru-buru pergi karena ingin mengurus masalah ini?


Namun, Jansen sendirilah yang mengajukan diri untuk mencari mata-mata itu dan bukan ibunya Gracia yang meminta Jansen melakukannya.


"Kepala Tambang, inikah bukti yang kamu maksud?" Tose bertanya dengan sinis.


Jansen mengangguk dengan wajah yang tenang, "Ini memang barang bukti. Aku tanya kamu dulu, kamu adalah nelayan di desa terdekat yang mencari nafkah dengan menangkap ikan, tetapi di tubuhmu sekarang sudah ada energi sejati. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Apa ada yang aneh? Meskipun aku orang dunia sekuler, aku telah bekerja di tambang milik Sekte Tersembunyi selama bertahun-tahun. Aku pasti belajar banyak saat bekerja di sana!" Tose membantah.


"Ini masuk akal juga. Kalau begitu, aku anggap kamu lolos."


Jansen mengangguk sambil berkata, "Sekarang, lepaskan pakaianmu dan biarkan aku periksa tubuhmu!"


Jantung Tose berdebar kencang karena merasa gelisah. Namun, Tose tetap melepas pakaiannya.


Jansen memandang lengan Tose yang tinggal satu sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Penyamaran yang bagus, tetapi sayang kamu malah berjumpa denganku. Mungkin kamu tidak tahu, aku ini juga seorang dokter!"


"Lengan kananmu putus tertimpa batu saat kecelakaan kerja di area tambang. Dilihat dari peluang pemulihan luka, meskipun lukamu itu sembuh, kulit bekas lukamu akan berlubang-lubang. Tapi, bekas lukamu juga tidak mirip bekas luka tertimpa batu dan malah lebih mirip bekas luka dipenggal pedang. Permukaan bekas luka juga tampak rapi. Setelah sepuluh tahun berlalu, bekas lukamu masih sama seperti ini. Bagaimana penjelasanmu akan hal ini?"


Semua orang langsung menatap satu lengan Tose.


Bentuk lengan Tose memang berbeda. Bagian lengan yang patah itu terlihat sangat rapi, seolah-olah dipenggal dengan pedang.


Kebanyakan dari mereka semua adalah orang-orang terlatih yang mahir membedakan antara luka tertimpa benda dan luka karena dipenggal dengan pedang. Ketika lengan Tose putus, mereka sendiri yang membantu mengobati luka Tose. Saat itu, bagian lengan Tose yang patah tampak penuh dengan bekas luka berlubang serta memiliki permukaan kulit yang tidak rata.


"Kamu pasti Tose palsu. Tose yang asli sudah kamu bunuh. Meskipun aku tidak tahu dari sekte mana kamu berasal, kamu pasti adalah seorang berhati kejam karena sanggup memenggal satu lenganmu sendiri hanya demi menerobos masuk ke tempat ini!"


Jansen lanjut berkata. Jansen tak punya banyak waktu untuk ikut campur dalam konflik di Sekte Tersembunyi karena ingin menemukan mata-mata itu dengan cepat.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Tose yang awalnya bersikap sungkan kini langsung menatap Jansen dengan sinis.

__ADS_1


Beberapa waktu lalu, Tose mendengar kabar bahwa Sekte Wan'an akan mengangkat seorang kepala tambang baru. Namun, kepala tambang yang baru ternyata adalah seorang pemuda. Karena itu, Tose pun sama sekali tidak menghargai kepala tambang yang baru ini.


Tose bahkan berpikir bahwa pemuda ini akan tinggal di area tambang untuk waktu yang lebih lama sambil mencari kesempatan untuk menghabisi Tose.


Tak disangka, hanya butuh waktu sehari, kepala tambang yang baru berhasil menemukan Tose.


"Tose, kamu telah tinggal bersama kami selama sepuluh tahun. Kenapa kamu bertindak ceroboh seperti ini?"


Pada saat ini, seorang pria tua menunjuk Tose sambil memarahinya.


Begitu dia berucap, semua orang yang awalnya memiliki hubungan baik dengan Tose langsung merasa kecewa dengan Tose.


"Paman Bon, aku memang berutang budi kepadamu atas bimbinganmu selama bertahun-tahun ini. Tapi, jangan salahkan aku bila aku bertindak kejam. Hari ini, siapa pun yang berani menangkap ku, pasti akan kubunuh!"


Tose langsung beranjak dan menghampiri pria tua itu lalu mencekik lehernya dengan satu tangan sambil mengancam, "Menyingkirlah, kalau tidak, aku akan membunuhmu, Paman Bon!"


"Kamu!"


Semua budak pekerja sontak marah besar. Tak disangka, Tose bahkan berani mencekik Paman Bon.


"Kepala Tambang, dia adalah seorang pengkhianat, jangan biarkan dia pergi. Aku sudah tua. Tidak apa-apa bila aku mati. Yang terpenting, kalian harus menangkapnya!" Paman Bon yang awalnya tercengang lalu berkata dengan tegas.


Jansen lalu menyalakan rokok dan mengisapnya dengan santai. Setelah merokok sejenak, Jansen pun berkata dengan tenang, "Paman Bon, kalau nanti kamu mati, aku akan mengurus pemakamanmu dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan Tose pergi dari sini!"


Semua orang langsung tercengang, begitu pula dengan Paman Bon. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Dia bermaksud mengorbankan sandera?


Tose akhirnya berkata sambil tertawa keras, "Kepala Tambang, sepertinya kamu hanya sedang membual. Haha, semua orang juga tahu bahwa ternyata Kepala Tambang berdalih menangkap mata-mata agar dapat membunuh orang lain sesuka hatinya!"


Sementara itu, wajah Paman Bon terlihat sangat pucat. Dia tidak menyangka bahwa Jansen begitu tega terhadap dirinya.


"Sudah waktunya akting kalian selesai. Kalian malah saling bekerja sama memainkan peran. Karena kalian, aku dapat menemukan mata-mata kedua dengan mudah!"


Jansen pun langsung berkata dengan datar, "Benar kan, apa yang aku bilang itu? Paman Bon adalah mata-mata kedua yang bersembunyi di area tambang!"


"Hah? Apa? Aku bukan mata-mata!"


Paman Bon yang merasa difitnah langsung membantah.


Jansen pun mencibir, "Berdasarkan data catatan internal sekte, Paman Bon adalah seorang warga Desa Goyashan yang jujur, baik hati dan penakut yang selalu bersikap hati-hati. Tapi, sikap kamu tadi sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang penakut. Kamu bahkan berani memarahi Tose. Ini bukanlah sifatmu yang sebenarnya. Sepertinya, kamu sengaja berbuat demikian agar dirimu dijadikan sandera, sehingga Tose dapat leluasa meninggalkan kepulauan ini!"

__ADS_1


"Kamu sembarang menuduh!"


Paman Bon sontak merasa cemas.


"Hehe, kamu sendiri telah diculik, tetapi yang kamu khawatirkan bukanlah nyawamu melainkan reputasi dan kredibilitasmu. Selain itu, data diri yang kamu sebutkan tadi juga tidak sesuai dengan data yang sebenarnya. Ini karena kamu tahu bahwa Tose tidak mungkin bisa membunuhmu!" Jansen berkata sambil tersenyum.


Setelah mendengar ucapan ini, para budak pekerja di sekitarnya juga mulai merasa curiga.


"Kamu bukan anggota Sekte Wan'an, tetapi kamu malah lebih hebat dibandingkan dengan semua anggota Sekte Wan'an. Siapa sebenarnya kamu ini?"


Merasa Jansen telah mengendus kebohongannya, Paman Bon pun langsung menghela napas dengan tubuh gemetar ketakutan. Tubuhnya yang renta tiba-tiba bangkit dan berubah kuat.


"Aku benar-benar ingin tahu, dari mana kamu tahu bahwa aku adalah mata-mata, apakah semua hanya berdasarkan dugaanmu saja?" Paman Bon kembali bertanya.


Jansen menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Benar, itu memang hanya dugaanku saja. Aku juga bukan seorang hakim dan di sini bukan pengadilan. Asalkan aku merasa curiga, aku dapat memutuskan dirimu bersalah, sesederhana itu. Sebenarnya, kalau kamu sendiri tidak mengakuinya, aku juga tidak dapat memastikan bahwa kamu adalah mata-mata!"


"Kau!"


Paman Bon pun sangat marah karena merasa dirinya telah dipermainkan.


"Baiklah, jangan buang-buang waktu lagi, aku sudah bilang, barang siapa yang membuat onar pasti akan dipenggal. Aku malas melakukannya. Kamu bunuh diri saja!" Jansen melambaikan tangan sambil berkata demikian.


Paman Bon dan Tose langsung menatap ke arah Gracia. Mereka berdua pun tahu bahwa Gracia bukanlah orang yang bisa mereka kalahkan. Karena itu, mereka berdua pun menghela napas dan berkata, "Kami berdua berbesar hati menerima kekalahan atas dirimu, tetapi sebelum kami mati, kami ingin tahu siapa namamu!"


"Maaf, itu rahasia yang tidak boleh diungkapkan!"


Jansen merentangkan kedua tangannya sambil berkata demikian.


Mereka berdua menatap Jansen dengan marah karena tidak menyangka bahwa Jansen akan menjawab seperti itu.


Setelah itu, seluruh tubuh mereka pun gemetar seperti keracunan. Mereka sedang berada di ambang kematian.


Mata Jansen melirik sekilas dan menyadari bahwa sudah ada racun di mulut mereka. Jika terjadi sesuatu yang memaksa mereka bunuh diri, mereka akan langsung meminum racun tersebut. Sepertinya, ini adalah aturan ketat yang diterapkan oleh sekte mereka.


Jansen lanjut berkata, "Apa kamu juga ingin aku menangkap mata-mata yang ketiga?"


Suasana di sekeliling berubah hening.


Mereka sudah memercayai sepenuhnya perkataan Jansen, tetapi siapa sebenarnya yang menjadi mata-mata ketiga?


"Mata-mata yang ketiga tidak memiliki nama. Orang-orang biasa memanggilnya Bang Dungu persis seperti tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Berdasarkan data yang tertera, dia adalah Bang Dungu yang dimaksud, keluarlah sekarang juga!" Jansen berkata dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2