
"Daftar peringkat Awan badai dunia Jianghu?"
Jansen juga baru pertama kali mendengarnya. Sampai detik ini, lawan paling tangguh yang pernah dia hadapi adalah Pendekar Pedang Gesun. Entah, berada dalam peringkat berapa orang itu dalam daftar tersebut.
Namun, ketika berhasil mengalahkan Gesun saat itu, Teknik kaisar manusia miliknya baru berada di tingkat keenam. Dan sekarang, dia telah berhasil mencapai tingkat yang ketujuh, tentunya Gesun sudah tak lagi mampu melawannya.
"Suruh Raja Langit Kroya kemari!"
Jansen memantapkan hatinya untuk bertarung. Sekaligus dia ingin tahu berapa urutan kekuatannya dalam daftar peringkat dunia Jianghu.
"Kamu tidak takut mati!?"
tanya kakek Crush tercengang seolah tak percaya.
Jansen tak menggubrisnya, dia lantas menyalakan rokok dan duduk perlahan menikmatinya.
"Kek, undang saja kakek pertama kemari!"
ucap Roger tak lagi mampu menahannya. Matanya pun memerah saat ini. Nama Jansen memang sedikit terkenal. Tapi bukan berarti Jansen pantas untuk memukulnya. Lagi pula, jika Jansen benar-benar memukulnya, bukankah sama saja juga memukul sang kakek.
Tidak membunuh orang ini, maka penyesalan akan menyelimutinya seumur hidup.
Kakek Crush pun mengangguk memberi sinyal pada orang di belakangnya. Kemudian, orang itu segera menelepon seseorang.
Sebenarnya... dia hanya tidak ingin merepotkan kakaknya itu. Bagaimanapun, sang kakak yang telah mengabdikan hidupnya pada seni bela diri sejak awal, sudah tidak ingin ikut campur dalam masalah duniawi. Namun, masalah sekarang ini berkaitan dengan hidup mati keluarga Crush. Mau tidak mau kakaknya itu pun harus muncul di situasi genting ini!
Suasana di sekitar aula pun perlahan menegang, kepanikan muncul di wajah setiap orang.
Tidak ada yang berani meninggalkan lokasi. Mereka tidak ingin menjadi duri di dalam daging.
Lagi pula, mereka semua juga penasaran bagaimana perawakan Tetua tertinggi Keluarga Crush ini. Serta.... apa yang diandalkan pria tua itu untuk menghindarkan keluarga Crush dari kehancuran.
"Pak Jansen!"
Pada saat ini, Widya tampak menatap Jansen seperti ingin mengingatkan sesuatu.
Bagaimanapun... dia pernah mendengar desas-desus yang mengatakan pria tua itu berlatih di Gunung Alahan, persis seperti yang acara TV sering tampilkan di mana seseorang melakukan moksa di sana dan kemudian menjadi Dewa.
Namun, setelah dia menatap Jansen, Jansen justru tampak santai dengan satu tangan memegang rokok dan satu tangannya lagi memegang sendok bersiap untuk makan.
"Pak Jansen!"
Widya pun terkejut. "Apa sekarang waktu yang tepat untuk makan!?" batinnya.
"Sejak sore tadi aku sudah tiba di sini dan belum sempat memakan apa pun, wajar jika aku lapar!"
Jansen pun tersenyum sembari berkata, "Kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan bersama?"
Widya sontak terdiam dan tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Orang-orang sekitar pun menoleh ke arah mereka berdua sembari terkejut.
Tentu saja hal ini membuat semua anggota keluarga Crush kesal. Orang yang bernama Jansen ini terlalu arogan.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria tua berambut putih dengan mengenakan jubah Tao datang mendekat secara perlahan, diikuti dengan beberapa pengawal bersamanya.
__ADS_1
Sekilas, pria tua ini tidak jauh berbeda dengan pria tua pada umumnya. Hanya saja, ekspresi di wajahnya menyimpan sebuah penghinaan yang mendominasi. Tatapan matanya pun terlihat tenang menatap problema kehidupan.
Suasana di aula makin tegang, hawa sekitar pun serasa menekan siapa saja yang berada di sana. Orang-orang menatap ke arah pria tua berjubah Tao itu. Apa ini leluhur keluarga Crush yang berlatih di Gunung Alahan?
"Kak!"
sapa kakek Crush saat melihat kedatangan pria tua itu.
"kakek pertama!"
Roger pun tak ingin kalah. Dia bergegas menghampiri pria tua itu dan menyapanya.
"Anak baik!"
Wajah pria tua itu penuh dengan kasih sayang. Sejak kecil dia telah berlatih ilmu seni bela diri. Sampai sekarang belum pernah menikah dengan siapa pun. Itu sebabnya kasih sayangnya terhadap Roger jauh lebih besar daripada kakek Crush sendiri.
Saat menerima telepon dan mendapatkan kabar Roger dihajar oleh seseorang, amarahnya pun memuncak dan ingin melenyapkan keluarga Devon. Dia tak lagi bisa menahan emosi yang ada di dadanya.
"Keluarga Devon... apa maksudmu ini!"
Setelah mengelus lembut kepala Roger, tatapan pria itu mengarah pada Kakek Devon.
Kalimat singkat itu membuat tubuh Kakek Devon gemetar. Sudah belasan tahun dia tidak bertemu dengan pria tua itu. Tidak disangka jika pria tua itu benar-benar kembali dari Gunung Alahan.
Saat Kakek Devon ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara dingin yang berasal dari pria tua itu. "Aku akan mengurus masalah dengan Keluarga Devon nanti. Sekarang... siapa di sini yang bernama dokter Jansen!"
"Kek, itu orangnya!"
ucap Roger sangat senang sembari menunjuk ke arah Jansen.
Saat pria tua itu menoleh ke arah yang dimaksud, ekspresi wajahnya pun seketika berubah dingin. Dia melihat Jansen dengan santai menyantap makanan sambil merokok tanpa menggubris kehadirannya. Menoleh pun tidak!
"Kek, barusan dia memukulku!" sahut Roger segera.
"Tangan mana yang dia gunakan untuk memukulmu? Kakek tidak segan-segan akan mematahkannya!"
Raut wajah pria tua itu makin suram. "Hei bocah, aku beri kamu satu kesempatan, berlutut minta maaf dan patahkan tanganmu sendiri. Jangan sampai kamu melewatkannya, atau kalau tidak..." ancamnya pada Jansen.
"Berisik!"
Jansen mengembuskan asap rokok dari mulutnya sembari berbalik dan menatap ke arah pria tua itu. "Kekuatan seperti ini bisa berada dalam daftar peringkat nomor 45?" sahut Jansen terdengar meremehkan.
Dia sudah melihat jelas kekuatan pria tua yang ada di hadapannya ini. Di mana hanya sedikit lebih kuat dari Pendekar Pedang Gesun, yaitu berada di tingkatan tengah Trancedent.
"Membual tanpa rasa malu! Daftar Peringkat Awan Badai Dunia Jianghu tidak pantas dibicarakan oleh pemula sepertimu!"
Melihat sikap arogan Jansen yang kian tak terbendung, pria tua itu akhirnya tak lagi bisa menahan kesabaran. Sosoknya bergerak seperti bayangan yang bercampur dengan angin kencang menyapu aula!
Sebuah telapak tangan muncul tepat di hadapan Jansen dengan energi yang luar biasa.
Aura kuat Trancedent sangat ganas, bagaikan gelombang di aliran sungai yang deras.
"Aku kagum dengan nyalimu ini, berani menyerangku tanpa memastikan terlebih dulu siapa aku sebenarnya!"
Jansen meletakkan sendok makannya. Aura kuat pun bergejolak dan kemudian mengangkat 1 tangannya untuk menangkis serangan.
__ADS_1
"Pemula tanpa nama, apa yang perlu dikhawatirkan!"
Serangan telapak tangan pria itu begitu ganas. Jika hanya untuk mengalahkan pemula seperti Jansen, sebenarnya kekuatan yang dikeluarkannya ini terlalu berlebihan. Satu serangan saja, sudah mampu membunuh cecunguk tak tahu diri ini!
Bum!
Dua serangan dahsyat bertabrakan di aula. Angin bertiup. kencang, tidak sedikit orang yang terpental terkena serangan itu.
Setelah melihat pemandangan ini, wajah mereka dipenuhi dengan ketakutan!
Apa ini yang dinamakan praktisi seni bela diri kuno?
Setiap gerakan yang dikeluarkan persis seperti kereta cepat yang melaju dengan kecepatan penuh. Benar-benar mengerikan!
Pantas saja keluarga Crush mampu berdiri dengan kokohnya. Siapa yang berani berurusan dengan mereka jika memiliki back up seperti ini!?
Kemudian... tanpa menunggu komentar dari mereka semua, sebuah sosok tiba-tiba terlihat bergerak mundur. Setiap langkah yang dibuatnya, lantai seolah bergetar persis seperti sedang terjadi gempa bumi.
Dan ternyata... sosok itu tidak lain adalah pria tua itu, kakak dari kakek Crush.
Setelah pria tua itu menghentikan langkahnya, darah menyembur keluar dari dalam mulutnya.
Suasana di aula mendadak menjadi hening. Mata semua orang terbelalak menyaksikan pemandangan ini.
Bukankah pria tua itu adalah master bela diri yang baru pulang berlatih dari Gunung Alahan!?
Ternyata kondisinya tidak jauh berbeda dengan kakek Crush, memuntahkan darah hanya dengan sekali serang saja!
Saat ini, entah berapa pasang mata yang tanpa sadar menatap Jansen dengan terkejut!
Seluruh anggota keluarga Crush, termasuk Roger dan kakek Crush, juga tercengang melihat pemandangan ini. Hal yang sama juga dirasakan oleh Widya dan juga Kakek Devon. Mereka menatap Jansen seolah tak percaya.
Jantung mereka terus berdetak kencang seolah-olah akan melompat keluar dari dalam tubuh.
Suasananya tampak hening tak terdengar suara sedikit pun.
Semua orang terdiam dan terpaku di tempat, seakan ada seseorang yang sengaja menghentikan waktu.
Satu-satunya deru napas yang terdengar saat ini bersumber dari pria tua itu. Matanya terus melotot dan berkedip sepanjang waktu.
Sebelumnya, dia mengira serangan telapak tangannya itu akan mampu menewaskan cecunguk itu. Tapi ternyata, yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan tenaga dalam cecunguk kecil itu diibaratkan seperti laut yang luas.
Asal tahu saja... dalam Daftar Peringkat Awan Badai Dunia Jianghu, dirinya merupakan master bela diri yang berada di urutan ke-45.
Sosok pria yang Paling Bersinar di dunia Jianghu.
Tiap akademi, sekte dan keluarga yang menganut paham bela diri, tidak ada yang berani berseteru dengannya!
Dia menatap Jansen dalam-dalam, memeras tenggorokannya berusaha untuk mengatakan sesuatu, "Siapa kamu sebenarnya!"
Sebelumnya, dia bahkan tidak memedulikan siapa nama Jansen. Karena memang tidak perlu mengetahui hal itu.
Tapi sekarang... terpaksa dia menanyakannya. Energi Qi Jansen jauh besar jika dibandingkan miliknya. Hanya saja, di dunia Jianghu tidak ada yang mengenalnya.
"Orang-orang memanggilku dengan sebutan dokter!"
__ADS_1
Jansen mengatakannya dengan cukup lembut. Kalimat itu memang terdengar begitu tenang, tapi entah kenapa memberikan efek suara guntur saat masuk ke dalam telinga orang-orang yang ada di lokasi.
Semua orang dibuat terkejut sekaligus merinding. Mereka melihat sosok Jansen layaknya seseorang yang baru keluar dari gunung mayat dan lautan darah. Di tangannya terdapat darah dan nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Namanya bahkan dihormati di pasar gelap internasional!