
"Sangat bagus, sangat bagus, jangan kira aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kalian jika kalian benar-benar ingin membantu Jansen!" ungkap Jessica sambil tersenyum kesal.
Meskipun dia ingin meraih kesuksesan bisnis di Kota Asmenia dan tentu saja butuh bantuan dari bos-bos besar Kota Asmenia ini, tetapi bagaimanapun juga dia sendiri adalah anak dari Keluarga Miller yang terpandang, dia tidak mungkin mengalah kepada seorang dokter kecil.
Jessica berkata dengan garang, "Jangan paksa aku bertindak, atau aku akan bunuh kalian semua yang ada di sini, saat itu aku bisa saja bilang kalau ini hanya latihan militer biasa!"
Jessica mengambil resiko dengan bicara blak-blakan, karena karakternya yang seperti ini belum pernah ada orang yang berani menentangnya, apalagi sampai menggagalkan rencananya.
Jessica adalah tipe orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan tersebut.
Srek, srek, srek!
Semua petugas keamanan seakan langsung mengerti dan segera mengangkat senjata mereka, menunggu perintah dari Jessica.
Tidak ada yang mengira Jessica bisa begitu gila, benar-benar gila tak terkendalikan.
Wajah bos-bos besar di Kota Asmenia ini berubah menjadi tegang.
Elena juga ikut cemas dan tak ingin masalah ini sampai melibatkan begitu banyak orang, tetapi dia juga tidak ingin lagi mengecewakan Jansen.
"Nona Jessica, dengan cara kerjamu yang seperti ini, meskipun kamu berhasil membuat prestasi apa pun demi Keluarga Miller, masyarakat tetap tidak akan menghargaimu!"
Tiba-tiba, terdengar suara yang datar, dan berjalan masuk seorang pria berpakaian tradisional dengan langkah perlahan.
Masuknya pria ini seakan langsung memecah kebuntuan.
" Tuan Damian Palmer!"
Melihat tamu yang datang ini, raut wajah Jessica akhirnya berubah drastis, karena tamu ini adalah Damian Palmer, tokoh papan atas yang dulu datang mencari perawatan medis di Kota Asmenia.
Latar belakang orang ini tidak lebih lemah dari Keluarga Miller, yang juga merupakan salah satu dari delapan keluarga elit Ibu Kota, dan bahkan prestise dan pengaruh keluarganya Damian ini lebih tinggi daripada Keluarga Miller.
Faktanya, Jessica juga tahu bahwa Jansen telah menyembuhkan Nyonya Palmer dan Damian pun berhutang budi pada Jansen, tetapi dia tidak menyangka Damian akan ikut campur dalam urusan keluarga Miller demi membantu Jansen.
"Tuan Damian pun sudah bersuara, kalau begitu sementara waktu ini mari kita kesampingkan dulu masalah ini!"
Setelah berkata demikian, wajah tegang Jessica dengan cepat langsung berubah menjadi lebih santai.
"Hehe, terima kasih Nona Jessica karena telah memberiku muka, kalau ada waktu, aku pasti akan berkata hal-hal baik tentangmu di depan ayahmu!" ucap Damian sambil tertawa.
"Terima kasih, Tuan Damian!"
__ADS_1
Jessica juga berterima kasih padanya, karena telah membuat dirinya tenang kembali seakan Damian ini adalah orang yang mudah diajak dikompromi
Jansen menyipitkan mata ke arah Jessica, dan semakin merasa bahwa wanita ini benar-benar menakutkan. Apalagi, hari ini Jessica telah dipermalukan di depan banyak orang, jika itu adalah anak dari keluarga elit lain, mungkin saja orang itu sudah tidak bisa menahan emosinya, tetapi Jessica benar-benar bisa menahan emosinya. Ini menandakan kecerdasan emosional Jessica yang sangat tinggi.
Kemudian, Jansen juga merasa harus berterima kasih kepada Penatua Jack, karena atas saran Penatua Jack, Jansen bisa membangun hubungan persahabatan dengan Damian, dan jika bukan demikian maka masalah hari ini belum tentu bisa terselesaikan.
"Baiklah, semua mundur!"
Jessica sekali lagi menyuruh semua petugas keamanan untuk pergi terlebih dahulu. Jessica menatap Osmond dan berkata, "Kakek Osmond, hari ini adalah hari ulang tahunmu, aku datang khusus dari Ibu Kota untuk merayakan ulang tahunmu!"
Karena mendengar Jessica tidak mengungkit lagi masalah sebelumnya, Elena pun perlahan tenang dan menatap wajah Jansen dengan penuh keharuan. Elena tahu bahwa Jansen telah melakukan banyak persiapan untuk momen hari ini.
Jansen benar-benar adalah suaminya, yang demi menjaga Elena telah menggerakkan seluruh koneksi tokoh-tokoh penting yang dia kenal di Kota Asmenia, dan sama sekali tidak takut mati demi dirinya.
"Jansen, aku telah meremehkanmu, kemampuanmu sangat hebat, kamu pantas disandingkan dengan adikku. Apalagi, aku selalu beranggapan bahwa yang namanya pria tidak dapat diandalkan, tetapi aku tak menyangka saat kamu dipermalukan seperti ini, kamu masih tidak goyah untuk mencintai adikku dengan tulus, kamu memang pria sejati!"
Setelah Jessica beramah-tamah dengan para hadirin, dia berkata demikian kepada Jansen sambil tersenyum.
Jansen tidak bersuara dan hanya menatap Jessica dengan dingin.
"Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu!"
Jessica menundukkan kepala kepada Jansen dan mengalah, lalu menambahkan, "Apakah kamu ada waktu luang untuk berbincang-bincang denganku?"
Jansen berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk setuju juga. Jansen tahu temperamen Jessica yang tentunya tidak akan begitu mudah menyerah.
Mereka berjalan santai keluar halaman rumah. Jessica berjalan di depan Jansen dan raut wajahnya terlihat sangat tenang.
Sebenarnya, Jessica boleh dibilang memiliki wajah yang cantik terutama saat dia tidak menunjukkan sikap ambisius, bahkan dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan Elena.
"Jansen, aku telah membuat dirimu tersinggung sebelumnya. Aku harap kamu bisa memaafkanku, lagi pula, aku juga tidak bisa mengendalikan diri dengan baik!" ucap Jessica sambil tertawa.
Jansen tidak berbicara.
Jessica terus berbicara, seakan hanya dengan dirinya sendiri, "Kamu seharusnya tahu bahwa kesampingkan masalah sementara waktu, yang aku maksud tadi itu, bukan berarti Elena tidak akan kembali ke rumah Keluarga Miller. Sebagai anak Keluarga Miller, dia tetap harus kembali ke rumah, karena ini adalah perintah ayahku yang wajib aku lakukan!"
"Bagaimana jika Elena tidak kembali?" tanya Jansen.
Jessica tidak menjawab, tetapi hanya tertawa dan berkata, "Sebenarnya, kamu tidak perlu khawatir, tidak akan terjadi apa-apa dengan Elena setelah dia kembali ke rumah Keluarga Miller, kami malah akan menjaganya dengan lebih baik. Namun, jika Elena masih tinggal di sini, yakinlah dengan cara kerja Keluarga Miller, kami bisa saja membunuhnya! Karena bisa saja keluarga elit lain memanfaatkan Elena untuk mengancam keluarga Miller, maka lebih baik dibunuh daripada menjadi masalah."
Langkah Jansen terhenti seketika, dan matanya menatap Jessica seakan tak percaya, "Keluarga Miller akan membunuh Elena?"
__ADS_1
Jansen benar-benar tidak percaya. Bagaimanapun juga, Elena adalah darah daging Keluarga Miller.
"Kehidupan keluarga elit sangatlah rumit, kebanyakan waktu keluarga elit seperti kami ini tidak punya yang namanya sifat kekeluargaan, di mata kami hanya ada keuntungan dan kepentingan keluarga kami. Dengan cara seperti ini, keluarga elit kami bisa terus bertahan sampai generasi berikutnya, bahkan tetap berjaya hingga ratusan tahun!" kata Jessica dengan nada datar, "Kamu adalah rakyat biasa, kamu tidak tahu betapa kejamnya kehidupan kami anak-anak keluarga elit, maka dari itu, jika kamu benar-benar ingin berkorban untuk Elena, kamu seharusnya membiarkan Elena pulang ke rumahnya. Anggap saja aku tunduk dan memohon bantuan kamu kali ini."
Tubuh Jansen gemetar dan tertunduk melihat ke tanah. Dia melihat seekor semut sedang mencoba merangkak naik, tetapi semut itu tidak bisa keluar dari lingkaran aneh itu.
Jansen merasa dirinya telah berjuang mati-matian demi Elena, tetapi tiba-tiba saja Jansen sadar seberapa hebat pun pencapaian yang dia capai, itu semua hanyalah pada tingkatan di Kota Asmenia ini saja.
Jansen hanya sebesar butiran pasir dan batu kecil di tengah luasnya negara Huaxia ini.
"Bagaimana pertimbangan kamu?"
Jessica tiba-tiba bertanya kepada Jansen yang terlihat diam membisu.
"Aku menyetujui permintaanmu."
Jansen perlahan mengangkat kepalanya, matanya penuh dengan keengganan, tetapi apa daya, dia tidak bisa berbuat banyak.
Dia bisa menghadang Organisasi Pembunuhan Malam, tetapi bisakah dia menghadang Keluarga Miller?
Keluarga Miller mendatangkan petugas keamanan, mengarahkan belasan senapan ke arah Jansen, dengan jaminan Jansen harus mati!
Namun dalam hal seni bela diri, Paman Bonnie, pria tua tadi memang jauh lebih kuat dibandingkan Jansen.
"Terima kasih!"
Jessica membetulkan kain sutra hijau di dahi ke belakang telinga sambil tertawa, "Aku jamin ketika Elena kembali ke Keluarga Miller, dia tidak akan pernah mengalami ketidakadilan. Sebaliknya, di sana dia akan terdidik dengan baik. Selain itu, jika kamu langsung meminta Elena pergi, dia mungkin tidak akan setuju, jadi kamu hanya perlu menyuruhnya untuk pulang sementara waktu, dengan begitu kalian berdua pun tidak perlu bercerai."
"Aku paham!"
Jansen menjawab dengan nada datar.
Jessica juga tidak mengganggu Jansen lagi dan langsung pulang sendirian.
Setelah berselang cukup lama, Jansen kembali ke halaman rumah dan melihat semua orang sudah pergi. Kemudian, Jansen memberi tahu Elena apa yang dia pikirkan.
Awalnya, Elena tentu saja keberatan, tetapi karena mendengar itu hanya sementara, akhirnya Elena pun setuju.
Dan setelah Jansen mengatakan itu, dia sendiri juga pergi keluar. Jansen takut bila dia tetap tinggal di rumah ini, dia tidak akan bisa merelakan kepergian Elena dan bahkan bisa jadi berubah pikiran.
Kabar kepergian Elena ke Ibu Kota, dengan cepat sampai ke telinga Zachary. Meskipun mereka tidak rela, tetapi setelah keputusan Jansen mereka semua juga akhirnya mendukung.
__ADS_1
Malam itu, Elena pergi dengan Jessica, mereka bergerak sangat cepat.