
Elena tidak menyangka bahwa Jansen memakai cara seperti itu. Elena pun tiba-tiba merasa cemas.
Paman Randy adalah paman kandung dari Elena. Entah bagaimana reaksi Paman Randy saat bertemu dengan keponakannya sendiri.
Ketika Danial mencampakkan ibu Elena, Paman Randy sepertinya sangat membenci Danial dan juga Elena.
"Mari kita bicarakan lagi setelah bertemu dengannya nanti!"
Jansen pun menghibur Elena yang merasa gugup dengan berkata demikian.
Tak lama berselang, sebuah mobil Volkswagen datang. Saat jendela kaca mobil diturunkan, seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak lesu pun muncul sambil tersenyum dengan terpaksa, "Anda ini Tuan Jansen? Namaku Randy, pelat nomor mobil 611. Kalian ingin pergi ke Mall Grace, kan?"
"Benar!"
Jansen menarik Elena masuk ke dalam mobil.
Elena terus mengamati pria paruh baya itu karena ingin mencari kesamaan antara wajah ibu kandungnya dengan wajah pria paruh baya itu.
"Kalian berdua sepertinya bukan warga lokal? Apakah kalian datang untuk berwisata?"
Setelah mereka berdua naik ke dalam mobil, pria paruh baya itu mengajak mereka berdua berbicara dengan penuh semangat.
Padahal, pekerjaannya sebagai seorang sopir Taksi juga tidak mudah. Demi mendapatkan ulasan positif dari penumpang, dia harus memberikan pelayanan terbaik dan mencapai angka penilaian tertentu agar dapat menerima pesanan lebih banyak lagi.
"Paman memang pandai mengamati orang!"
Jansen mengangguk sambil tersenyum dan bertanya, "Apakah bekerja menjadi sopir Taksi sekarang ini mudah?"
"Tidak begitu mudah lagi, beberapa tahun lalu masih ada banyak insentif, tetapi sekarang insentif itu sudah dibatalkan. Jika kami berkendara selama delapan sampai sembilan jam sehari, penghasilan kami selama sebulan hanya sekitar 6000 sampai 7000 yuan!" Paman Randy menjawab.
"Apakah Paman membawa penumpang seharian penuh?"
Paman Randy menggelengkan kepalanya. "Tidak, dulu aku membuka pabrik gula. Setiap hari raya, omset usahaku sangat bagus. Sekarang, di kawasan industri sana sudah dibuka pabrik yang lebih besar. Pabrik kecil seperti pabrik kami kehilangan banyak pesanan. Karena itu, aku pun terpaksa menjadi sopir Taksi."
Setelah diam sejenak, Paman Randy lanjut berkata, "Dik, kamu ini belajar kedokteran, ya?"
"Bagaimana Paman bisa tahu?" Jansen terkejut.
"Hehe, waktu kamu baru masuk ke dalam mobil, aku lihat kamu membawa tas akupunktur. Kamu pasti belajar pengobatan tradisional. Sudah tidak banyak lagi orang yang mempelajari pengobatan tradisional sekarang!"
"Itu hanya hobi kecilku!"
Jansen mengobrol dengan Paman Randy dan mendapati bahwa terdapat sesuatu di dahi Paman Randy yang merupakan pertanda aura negatif.
Jansen langsung bertanya tentang kondisi keluarga Paman Randy dan diberitahu bahwa istri Paman Randy sedang terbaring sakit di rumah sakit. Selain itu, Paman Randy hanya memiliki seorang anak perempuan dan tidak ada orang lain lagi di rumahnya.
Elena terus diam di samping sambil mengatupkan kedua tangannya dengan erat saking merasa gugup. Apakah orang ini adalah paman kandung Elena?
"Paman Randy, apakah paman adalah anak satu-satunya di dalam keluarga?" Jansen kembali bertanya.
"Bukan!"
Paman Randy menggelengkan kepalanya. "Dulu aku ada seorang adik perempuan. Sayangnya, adik perempuanku memiliki kehidupan yang sulit. Dia bertemu dengan seorang pria bajingan yang menduakan cintanya. Aku ingin sekali menghabisi bajingan itu. Sudahlah, aku malas mengungkitnya lagi!"
Mendengar ucapan ini, tubuh Elena sontak gemetar. Meskipun masalah ini tidak ada kaitannya dengan Elena, Elena masih merasa bersalah terhadap ibu kandungnya sendiri.
"Kak Randy, anak perempuanmu sedang terkena masalah di Griya Refleksi Kaki Golden!"
__ADS_1
Saat ini, sebuah kabar datang dari radio komunikasi di dalam mobil.
"Mohon maaf, terjadi sesuatu dengan anak
perempuanku. Aku terpaksa tidak bisa mengantarkan kalian sampai tujuan!"
Paman Randy menoleh dan menatap Jansen.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak sedang buru-buru. Kita pergi ke tempat putri Paman dulu untuk melihat kondisinya sekarang!"
"Tapi... baiklah, terima kasih!"
Paman Randy segera berbalik arah dan bergegas menuju Griya Refleksi Kaki Golden. Dia hampir saja menerobos lampu merah.
Griya Refleksi Kaki Golden sangat terkenal di kota itu. Di dalamnya terdapat pemandian air panas dan sauna. Gaji para gadis pekerja di tempat ini juga lumayan tinggi.
Pada saat ini, di ruang utama Griya Refleksi Kaki Golden, beberapa pria yang hanya memakai handuk mandi sedang mengerumuni seorang gadis berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. Tubuh gadis itu sangat tinggi dan wajahnya pun sangat cantik. Rambutnya dicat warna merah, di telinganya juga terdapat beberapa tindakan.
"Mau tambah waktu? Kalian hanya memberi uang tambahan tak seberapa. Aku tak ingin melayani kalian lagi!"
Gadis itu tidak takut sedikit pun terhadap para pria ini. Dia berteriak sambil bertolak pinggang.
"Sialan, berani-beraninya kamu melawan. Panggil manajer kemari!"
Seorang pria botak dengan tubuh bertato mengumpat.
Manajer pun datang dengan cepat. Setelah melihat pria botak itu, raut wajah manajer langsung berubah.
Orang-orang ini adalah para preman setempat. Mereka sering datang ke Griya Refleksi Kaki Golden untuk mendapatkan pelayanan gratis. Pemilik griya juga telah berulang kali mengeluh tentang kelakuan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki pelindung yang merupakan orang berkuasa. Karena itu pula, pemilik griya hanya bisa bersabar.
Manajer diam-diam menatap gadis yang bernama Monica itu karena manajer tahu bahwa mereka sedang mengincar Monica.
Pria botak itu menatap manajer dengan tatapan bengis.
"Tambah kepalamu! Kamu terus melecehkanku dengan meraba-raba tubuhku!" Gadis itu memarahi dengan suara keras.
"Gadis Sialan! Kamu berani melawan? Kamu seharusnya merasa beruntung karena kak Yoksa menyukaimu!"
Pria di belakang si kepala botak itu hampir menghajar gadis tersebut.
"Kamu pulang saja urus ibumu! Ini adalah hari pertama aku kerja!" Gadis itu sama sekali tidak merasa takut.
Manajer pun pusing menghadapi masalah ini. Apalagi, Yoksa adalah orang yang menakutkan. Namun, Monica sendiri juga berkelakuan nakal. Usia Monica masih sangat muda. Dia gemar merokok dan berkelahi. Ini semua adalah hal biasa bagi dirinya.
"Kak Yoksa, ayo kita kasih dia pelajaran! Dia belum tahu siapa kak Yoksa ini!"
Para preman itu sudah tidak sabar lagi ingin menghajar Monica.
Akan tetapi, pria botak bernama Yoksa itu sama sekali tidak bertindak apa pun. Yoksa malah terus memandang Monica dengan penuh nafsu. Awalnya, Yoksa merasa kesal dengan sikap Monica yang berani melawan dirinya, tetapi Yoksa pun mulai menyukai Monica.
"Gadis Kecil, kamu biasanya nongkrong di mana? Bagaimana kalau kamu ikut denganku saja?"
Yoksa berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Asalkan kamu bersedia menjadi wanitaku, kamu boleh berjalan sesuka hatimu di seluruh Kota Sion. Jika ada yang berani menindasmu, sebut saja namaku, orang-orang ini akan memanggilmu sebagai kakak ipar mereka!"
"Keluar! Jangan paksa aku menendangmu!"
Monica sama sekali tidak tertipu dengan ucapan mereka.
__ADS_1
"Ayo tendang! Aku ingin sekali ditendang mati dengan kakimu yang putih dan panjang itu!"
Yoksa berkata demikian sambil memandang kaki Monica.
"Dasar gila!"
Monica pun malas menghiraukan mereka dan langsung berbalik badan lalu pergi melalui lorong.
"Kamu mau pergi? Tidak ada seorang wanita pun yang bisa lepas dari genggamanku jika aku, Yoksa benar-benar menyukai wanita itu!"
Yoksa tertawa sinis lalu menarik tangan Monica yang terus meronta. Seragam Monica langsung robek karena ditarik dengan sangat kuat oleh Yoksa
"Kamu cari mati?"
Monica yang diliputi kemarahan sontak berbalik badan lalu menendang ************ Yoksa.
"Ah!"
Yoksa tidak menyangka bahwa Monica begitu galak. Tendangan ini hampir membuat alat vital Yoksa pecah.
"Kak Yoksa!"
Raut wajah para preman itu berubah drastis.
Mata manajer itu pun melotot. Dia tahu bahwa masalah besar telah terjadi. Dia lantas memarahi Monica, "Siapa yang menyuruhmu memukul orang?"
"Apa kamu buta? Dia membuat pakaianku robek. Aku langsung saja tendang dia!"
Monica sebenarnya sedang merasa panik.
"Tangkap dia dan bawa dia pulang!"
Yoksa yang terduduk di lantai berkata demikian sambil memegang ************ yang terasa sakit.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan mendekat!"
Monica pun mundur ke belakang. Dia tahu bahwa ini adalah masalah besar.
"Dasar wanita murahan! Kamu berani kurang ajar!"
Seorang preman langsung menampar wajah Monica lalu memegang kedua tangannya.
Meskipun Monica punya tenaga yang kuat, dia baru berusia lima belas tahun. Dia bukan lawan sepadan bagi orang-orang ini. Dalam waktu sekejap, dia akhirnya ditangkap mereka lalu dibawa pergi.
Namun, tidak ada seorang pun yang berani menolong Monica saat ini. Manajer itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan penuh rasa penyesalan. Manajer itu menduga bahwa kak Yoksa akan menjual Monica ke tempat pelacuran setelah bosan menikmati kemolekan tubuh Monica.
Saat ini, sebuah mobil Volkswagen berhenti di depan pintu. Paman Randy dengan cepat berlari masuk ke dalam tempat itu.
"Ayah!"
Ketika Monica melihat ayahnya datang, Monica langsung berteriak sekuat tenaga.
"Monica!"
Raut wajah Elena langsung berubah. Elena pun segera meminta Yoksa untuk melepaskan Monica.
"Kamu mau aku melepaskan dia? Putrimu ini memukulku. Bagaimana caranya kamu bertanggung jawab atas perbuatan putrimu?"
__ADS_1
Yoksa merasa bahwa Paman Randy hanyalah orang biasa. Dia sama sekali tidak menghargai Paman Randy.