
"Sebenarnya, tidak ada lokasi terbaik untuk makam. Memang seharusnya makam yang baik terletak di atas urat naga, tapi polanya berubah-ubah dan menjadikan makam bernasib
buruk karena pencemaran lingkungan, penebangan hutan, dan lain sebagainya. Itu sebabnya lokasinya jadi tidak seaman gua yang biasa-biasa saja!" kata Jansen sambil berjalan.
"Ucapan Master Jansen memang benar!"
Setelah kejadian hari ini, penatua Yiwon percaya penuh pada perkataan Jansen.
Hal ini adalah sesuatu yang wajar bagi generasi yang lebih tua yang selalu percaya pada nasib.
Jansen diam-diam tersenyum dengan getir. Meskipun dia memiliki ilmu metafisika, dia tidak terlalu memercayainya karena merasa ilmu itu membuat manusia seakan bersikap seperti Tuhan!
Bagaimanapun juga, sejak zaman dahulu, siapa yang bisa menghitung dengan tepat umur seseorang, tidak peduli seberapa kuat ilmu metafisika yang dimiliki? Siapa yang bisa
lolos dari hukum Surga dan bumi?
Jadi, memang sebaiknya membiarkan semuanya terjadi secara natural.
Beberapa saat kemudian, mereka semua pun keluar dari pegunungan dan kembai ke tempat pertama kali mereka datang. Penatua Yiwon mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya pada Jansen dengan kedua tangannya, "Master Jansen, kartu ini untukmu. Ini pasti akan membantumu!"
"Kartu apa ini?"
Jansen sedikit mengerutkan keningnya. Sampai sekarang pun, dia masih belum mengetahui identitas Keluarga Yiwon.
"Kartu penatua Sekte Kuil Arhat dari Empat Aliansi Seni Bela Diri. Kartu ini berfungsi sebagai penanda bagi tamu Sekte Kuil Arhat!" jawab Penatua Yiwon sambil tersenyum.
Jansen tersentak dengan hadiah yang sedemikian penting ini.
"Ambillah. Master Jansen adalah orang yang unik. Ke depannya, Keluarga Yiwon pasti akan meminta bantuanmu lagi!" sahut Penatua Yiwon.
Harry dan Cindy tersentak. Hanya ada dua kartu seperti itu di seluruh Huaxia dan kartu itu yang mewakili status pemimpin Aliansi Seni Bela Diri. Mereka tidak menyangka kakek mereka akan memberikan barang berharga seperti itu kepada Jansen.
"Cindy, antarkanlah Master Jansen!"
Penatua Yiwon berkata kepada Cindy, lalu berpamitan dengan sopan kepada Jansen dan pergi menggunakan mobil.
"Dokter Jansen, tidak kusangka ternyata ilmu metafisika mu juga begitu hebat!"
Tepat pada saat itu, pria tua yang dipanggil Master itu datang dan mengulurkan tangannya pada Jansen, "Aku harap kita bisa belajar keterampilan medis di kesempatan lainnya!"
Jansen menyambut jabat tangan pria tua itu, "Dengan senang hati!"
"Oh ya, aku adalah Master Azura dari Akademi Lembah Hantu!"
Orang tua itu tersenyum dan berkata lagi, "Muridku, Luciano, memang memiliki kemampuan medis yang tidak sebaik orang lain dan kalah di tanganmu. Dia sudah memiliki keyakinan akan kalah. Selain itu, Akademi Lembah Hantu sudah tiga kali kalah darimu. Demi gelar pemimpin pengobatan tradisional, kuharap lain kali kita bisa bertarung secara pribadi untuk melihat siapa di antara kita yang lebih layak menjadi pemimpin di pengobatan tradisional!"
Ekspresi Jansen berubah, tapi dia mendengus dingin dan mengangguk, "Dengan senang hati!"
"Keterampilan medismu memang sangat luas, tapi belum cukup cakap. Aku harap kamu akan belajar dengan giat selama periode waktu ini!"
Sorot mata pria tua itu penuh dengan hawa permusuhan. Dia bahkan sebenarnya sudah mengincar Jansen begitu mendengar namanya.
"Akademi Lembah Hantu memiliki kebiasaan mengambil langkah awal yang tidak biasa sekali. Jangan lupa, ilmu pengobatan adalah jalan yang benar. Cepat atau lambat, kalin pasti akan mendapatkan balasannya!" balas Jansen.
__ADS_1
Pria tua itu hanya balas mencibir dan akhirnya berjalan pergi.
Dia tahu Jansen sedang membicarakan Luciano. Pria itu mati karena mengambil langkah awal yang salah dan ikut campur dalam masalah Ramuan gen!
Melihat pria tua itu pergi, Jansen jadi menyadari bahwa dia telah bertemu lawan sungguhannya dalam pengobatan!
Namun, dia yakin bisa menang melawan Master Azura!
Master Azura adalah pemimpin empat sekte pengobatan tradisional, sekaligus pemimpin Pengobatan Tradisional. Seandainya tidak ada masalah, tentu Jansen akan menghormatinya dan bersikap lebih rendah hati!
Namun, ilmu pengobatan adalah jalan yang benar. Bagaimana orang dengan pikiran yang salah bisa menjadi pemimpin? Sudah pasti tidak cocok untuk pengembangan Dokter Pengobatan Tradisional.
Dalam perjalanan kembali dengan pesawat, Jansen masih memikirkan Master Azura.
Dia tidak tahu apakah Master Azura memiliki keterlibatan dalam ramuan gen juga seperti Luciano. Kalau memang begitu, berarti Jansen harus melenyapkannya. Bagaimanapun juga, Master Azura
adalah seorang dokter dan sampah seperti itu harus dibasmi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Jansen? Kenapa sedari tadi kamu diam saja?"
Suara Cindy tiba-tiba datang dari samping, tangannya memegang dua botol minuman.
"Aku tidak haus, kamu saja yang minum!"
Jansen terus memikirkan masalah Master Azura.
"Ini, minumlah. Dari tadi kulihat kamu tenggelam dalam pikiranmu saja!"
Cindy pun duduk di samping Jansen, "Pokoknya kamu harus minum satu botol. Pilihlah mana yang kamu mau!"
"Aku suka rasa jeruk!"
Cindy tiba-tiba menyela, "Tapi sepertinya aku juga sudah lama tidak minum itu!"
Jansen langsung memutar bola matanya, "Bukankah kamu tadi bilang aku bisa memilih semau ku antara rasa jeruk dan sprite?"
Cindy tertawa pelan dan akhirnya memberikan sprite kepada Jansen.
Jansen tidak punya pilihan selain mengambil sprite itu. Dia merasa wanita itu tidak pernah bicara masuk akal.
"Jansen, ternyata Teknik Xuan mu hebat sekali, ya! Padahal kita ini teman, tapi kenapa kamu menyembunyikannya dariku!"
Sepertinya Cindy sangat bosan, jadi dia mengajak Jansen untuk mengobrol. Kakinya yang mengenakan sepatu bot cokelat disilangkan, postur duduknya terlihat malas.
Jansen meliriknya. Oh, stoking hitam? Dia tertawa dan berkata, "Bukankah kamu juga menyembunyikan fakta bahwa kamu adalah anggota Keluarga Yiwon dariku!"
"Itu..."
Cindy berkedip dan melengkungkan bibirnya, "Kamu kan tidak bertanya padaku!"
"Kalau begitu kamu juga tidak bertanya padaku!"
Jansen mengedikkan bahu.
__ADS_1
Ekspresi Cindy tampak seperti orang yang kalah. Setelah itu, mereka berdua pun mengobrol dengan santai.
Jansen menyadari bahwa meskipun Cindy berasal dari keluarga yang kaya raya, gadis itu memiliki pembawaan yang ceria dan ramah. Kepribadiannya bertolak belakang sekali dari Alexa.
Beberapa saat kemudian, pesawat mendarat di bandara Ibu Kota. Jansen, Charlie, serta yang lainnya turun dari pesawat dengan hati yang gembira.
"Dokter Jansen, terima kasih banyak untuk hari ini!"
Charlie tersenyum dan melirik Cindy. Dia memutuskan untuk tidak mengganggu mereka berdua dan berjalan pergi.
Saat hendak berjalan pergi, Charlie menatap Jansen penuh arti.
"Apa-apaan maksud lirikanmu itu!"
Jansen menegur sambil tertawa, dia terlalu malas untuk meladeni Charlie. Dia pun bertanya pada Cindy, "Aku mau pulang, Bagaimana denganmu?"
"Kamu sudah berbaikan dengan istrimu, ya?"
Cindy yang mengikuti gosip yang beredar pun bertanya.
"Tentu saja!"
Jansen mengangguk, "Oh ya, kenapa kamu menjadi wartawan di saat keluargamu kaya raya? Apa kamu tidak punya pacar yang memerhatikanmu? Lain kali akan kukenalkan!"
"Baiklah!"
Cindy langsung setuju, "Apa hubungannya keluargaku yang kaya dengan menjadi wartawan? Kakek saja tidak peduli padaku, jadi untuk apa kamu peduli?"
"Kamu itu terlalu liar. Kakekmu pasti tidak akan
membiarkanmu jadi wartawan seandainya dia tahu kamu sudah beberapa kali dalam bahaya!" sahut Jansen sambil tertawa.
"Jangan mengadukanku, ya! Kalau tidak, aku tidak mau jadi temanmu lagi!"
Cindy berpura-pura terlihat marah.
"Jangan khawatir, aku bukan tipe orang yang suka mengadu. Akhirnya aku tahu kenapa kamu belum punya pacar. Kurasa kamu takut dikendalikan oleh pacarmu!"
"Enak saja! Aku bukannya tidak suka, tahu! Tergantung tipe orang seperti apa juga kekasihku itu!"
"Jangan khawatir, aku kenal dengan banyak pemuda yang tampan dan kaya raya. Aku pasti akan mengenalkan satu yang sesuai kriteriamu. Oh ya, bagaimana dengan Tuan Muda Charlie? Menurutku, dia boleh juga!"
"Pergi saja sana!"
Keduanya mengobrol tentang segala hal sepele, seperti persoalan pacar. Pada akhirnya, Cindy memberitahu Jansen kapan kerabatnya akan datang.
Jansen diam-diam tidak bisa berkata-kata. Dia merasa Cindy sedang memperlakukannya seperti kekasihnya!
Keduanya terus berbincang di dalam taksi, tapi mobil itu tidak melaju menuju tujuan Jansen.
Awalnya Jansen tidak menyadarinya, tapi lambat laun dia tahu ada yang tidak beres. Matanya menjadi dingin dan dia berbisik, "Cindy, sesuatu mungkin saja akan terjadi nanti. Jangan pergi dari sisiku!"
Tanpa menunggu respons dari Cindy, mobil sudah berhenti dan berhenti di depan sebuah bangunan yang belum selesai dibangun di pinggiran kota.
__ADS_1
Sang sopir membuka pintu dan berlari pergi, dia dengan cepat menghilang di kejauhan.