
Mendengar apa yang dikatakan Roger, yang lainnya tidak mengatakan apa pun, namun tatapan Jansen penuh dengan keanehan. Jika pergi ke kasino untuk bermain, dia pasti akan menjadi jutawan dalam hitungan menit!
Belajar pengobatan tradisional juga bisa jadi ahli judi?
Tentu saja, mereka segera merasa lega. Kasino memiliki aturan. Tidak mungkin Jansen menang begitu banyak. Mereka hanya bisa bertaruh kecil-kecilan.
"Kak Aldi, mari kita bermain sesuatu yang lain!"
Ada anak orang kaya yang menyarankan ini, alasan utamanya adalah karena mereka benar-benar sudah tidak punya uang untuk bermain. Memikirkannya buat mereka ingin meneteskan air mata.
Aldi merasa sangat malu, apalagi ada banyak teman perempuan sekelasnya yang menonton, membuatnya makin merasa terhina. Dia menggertakkan gigi dan berteriak, "Minum, bawa alkohol terkuat. Kita habiskan. Siapa pun yang tidak bisa meminumnya akan kalah. Pak Jansen, kalau kamu seorang pria, kamu akan ikut adu minum ini. Apakah kamu berani?"
"Tidak menarik!"
Jansen menggelengkan kepalanya.
"Kamu!"
Aldi berkata dengan marah, "Kalau kamu tidak berani, maka jangan pernah mendekati Widya. Berani atau tidak!"
Wajah Jansen berubah dingin, "Widya bukan milik siapa-siapa. Dia bebas untuk berteman dengan siapa pun yang dia inginkan."
"Hentikan omong kosongmu, berani atau tidak!"
Roger juga berbicara saat ini. Ketika dia memikirkan masalah Widya, dia merasa dipermalukan.
"Baik, bagaimana kalau kalian kalah?"
Jansen berencana untuk memberi mereka beberapa pelajaran lagi.
"Kami tidak mungkin kalah!"
Roger tidak bisa lagi mempertahankan sikapnya. Dia menggertakkan gigi dan berkata, "Kalau kami kalah, kamu dapat meminta kami melakukan apa pun yang kamu inginkan!"
"Kalian yang mengatakannya!"
Jansen mengangguk.
Melihat Jansen setuju, Aldi kembali berteriak, "Pelayan, bawakan kami bir terkuat!"
Pelayan dengan cepat berlari, "Tamu, bir terkuat di hotel kami dibuat oleh Perusahaan Bir Skotlandia. Ini disebut Penghancuran Kapal Bismarck. Kadar alkoholnya 41 persen!"
"Bawakan aku semuanya!"
Aldi menatap Jansen dingin setelah selesai berbicara. Jansen adalah seorang dosen, jadi dia pasti jarang minum alkohol. Sedangkan dirinya sering sekali minum. Sudah seperti minum air.
"Kalau berani adu minum dengan Tuan Muda Roger dan yang lainnya, Pak Jansen cari mati namanya!"
Semua orang bersorak, berharap melihat Jansen minum sampai pingsan, atau bersikap aneh saat mabuk, maka akan ada pertunjukan yang bagus.
Bagaimana kalau kalah?
Aldi tidak bicara lagi, keluarga Roger membuka bar, sering minum, bahkan pernah membual bahwa bahkan bangsa petarung kalah saat adu minum dengannya.
"Jangan minum anggur ini secangkir demi secangkir, langsung tenggak botolnya!"
__ADS_1
Setelah menunggu pelayan membawakan kotak-kotak alkohol, Aldi meraih sebuah botol, membuka tutupnya, dan meminumnya.
"Wow, kadar alkoholnya 'kan sampai 40 derajat!"
Beberapa murid laki-laki sangat mengaguminya. Siapa yang bisa melakukannya seperti itu?
Bang!
Setelah Aldi selesai minum, dia menyeka mulutnya dan menunjukkan ekspresi angkuh.
Selanjutnya, Roger juga menghabiskan botol di tangannya. Keduanya menatap Jansen sambil mencibir, "Giliran kamu!"
Kemudian semua orang memandang Jansen, minum seteguk alkohol dengan kadar 40 persen bahkan secangkir, Pak Jansen mungkin bisa melakukannya, tapi menghabiskan satu botol sekali teguk, Pak Jansen mungkin tak bisa.
Jansen tersenyum dan mengambil botol alkohol lalu menenggaknya. Berhasil meminumnya hingga habis.
Aldi dan Roger terkejut melihatnya. Seorang guru juga begitu pandai minum?
"Boleh juga, lanjutkan!"
Aldi mencibir, mengambil botol kedua dan meminumnya.
Satu menit berlalu, botol kosong itu diletakkan di atas meja, namun wajah Aldi mulai sedikit merah.
Dua botol anggur dengan kadar 40 persen diminum dua kali berturut-turut, kuat minum pun tidak akan ada yang bisa.
Sedangkan Roger, wajahnya masih tampak tenang.
Jansen menatap ke arah mereka dan tidak berbicara. Dia mengambil botol kedua dan meminumnya. Setelah selesai, wajahnya tidak berubah.
Aldi dan Roger saling menatap lagi. Mereka tahu telah meremehkan Jansen, lalu mereka mengambil botol ketiga dan mulai meminumnya.
Namun, botol ketiga ini tidak semulus sebelumnya. Aldi, khususnya, merasa pusing. Alkohol mulai melumpuhkan otaknya.
"Sudah habis!"
Sementara Jansen sudah selesai minum lebih cepat dari mereka berdua. Dia menatap mereka remeh.
Semua orang gempar dan tahu bahwa Pak Jansen juga seorang pemabuk. Sangat sulit untuk mengatakan siapa yang akan mabuk dan tak sadarkan diri lebih dulu.
"Belum seberapa, jangan berhenti, lanjutkan!"
Di antara mereka bertiga, Aldi yang paling lambat selesai minum. Wajahnya memerah dan sangat bersemangat.
Namun, orang-orang yang sering minum tahu bahwa saat ini Aldi sudah tidak sanggup minum lagi, sikapnya itu akibat dari alkohol.
Roger masih baik-baik saja, tetapi wajahnya juga mulai memerah.
Jansen terlihat acuh tak acuh. Kali ini, dia tidak menunggu Aldi minum dulu. Dia mengambil botol alkohol di atas meja. dan minum tiga botol berturut-turut. Setelah menghabiskannya sekaligus, dia menatap Aldi dan Roger dengan senyum ringan.
Keduanya membelalakkan mata. Apakah orang ini begitu pandai minum?
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Jika tidak lanjut meminumnya, yang lain akan menertawakannya.
"Ayo!"
__ADS_1
Aldi berteriak marah, meraih botol dan meminumnya, tapi dia mulai tersedak. Sudah tidak bisa minum lagi.
Gluk, gluk!
Kurang dari setengah botol anggur mengalir masuk ke mulutnya, kakinya sudah agak tidak stabil.
Sebenarnya dia juga sangat pandai minum. Dia tidak masalah. menghabiskan empat botol alkohol berkadar 40 persen. Itu sudah cukup tak terkalahkan.
Tapi dia bertemu dengan Jansen, monster yang meminum enam botol tanpa masalah.
"Wah!"
Pada botol kelima, Aldi akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak muntah.
Semua orang mulai heboh. Mereka semua tahu, jika Aldi minum lagi, dia bisa terkapar.
Wajah Roger juga memerah. Meskipun tidak muntah, dia jelas sudah mencapai batasnya.
Sebenarnya sejak kecil dia sudah belajar bela diri, tubuhnya sehat, jadi bisa minum lebih banyak dari orang biasa, tapi dia tetap tidak bisa mengalahkan Jansen.
"Ada satu botol lagi. Aku akan melawanmu setelah kembali dari toilet!"
Aldi berhasil meminum botol kelima dan dengan cepat berlari ke toilet. Melihat jalannya yang sudah sempoyongan, semua orang takut dia akan jatuh sebelum dia sampai di toilet.
"Pak Jansen hebat sekali. Dia memenangkan pertandingan basket melawan Roger dan yang lainnya. Dia juga memenangkan permainan dadu. Dia bahkan memenangkan adu minum!"
Semua orang mulai berbisik-bisik.
Beberapa menit kemudian, Aldi kembali berlari keluar. Dia tampaknya sudah mencuci muka dan jauh lebih segar.
"Kamu kalah!"
Jansen meliriknya dan berkata ringan, "Kamu masuk ke toilet untuk muntah, 'kan!"
"Tidak, jangan menuduh!"
Wajah Aldi tiba-tiba terlihat cemas dan canggung.
Dia menyebut dirinya mampu minum-minum, tetapi dia diam-diam memuntahkannya saat beradu dengan orang lain. Sangat memalukan untuk mengatakannya.
"Benar atau tidak, kamu yang tahu, tapi itu tidak penting. Meski terus minum, kamu tetap akan kalah."
Jansen juga tidak terlalu peduli. Qi-nya sangat kuat, semua alkohol yang masuk ke perutnya sudah menguap. Minum sebanyak apa pun tidak akan jadi masalah.
"Baiklah, Aldi, kita kalah!"
Saat ini, Roger tiba-tiba menyela dengan dingin.
"Kak Roger, aku masih bisa minum!"
Aldi menatap Roger dengan tidak rela
"Kalaupun kita masih bisa minum lagi, berapa banyak yang kita bisa minum? Satu botol, tiga botol? Kita tetap akan kalah!"
Roger masih bersikap dingin, kemudian menatap Jansen dan berkata, "Pak Jansen, aku sudah meremehkanmu. Katakan, apa yang kamu ingin kami lakukan!"
__ADS_1