Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 447. Tuan Muda Keluarga Palmer!


__ADS_3

Jansen kembali menatap kaki putih yang jenjang, dia tidak tahan, membuka pintu dan masuk. Dia duduk di samping tempat tidur sambil menepuk-nepuk kaki yang dilapisi stoking itu, lalu berkata sambil tersenyum "Elena, selesaikan urusannya satu per satu, jangan buru-buru."


"Aku tahu."


Elena masih sedang membaca buku.


Plak!


Tangan Jansen kembali menepuk, "Tenang saja, masih ada waktu setengah tahun. Jangan terlalu memaksakan diri."


"Aku tahu."


Plak!


Jansen menepuk lagi.


"Jansen, kamu tidak ada habis-habisnya, ya? Aku tahu apa yang kamu ingin lakukan. Maka cepatlah!"


Amarah Elena menyulut. Dia melemparkan bukunya, lalu inisiatif mendekat dan menindih tubuh Jansen.


Jansen terkejut, dia hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Siapa yang sangka, ternyata istrinya lebih bersemangat daripada dia.


Sejak mereka meninggalkan Kota Asmenia, mereka tidak pernah berhubungan suami istri lagi. Hari ini adalah pertama kalinya.


Di kamar lain, Natasha sedang sibuk di depan komputernya. Tiba-tiba, dia mendengar ada suara. Tanpa sadar, wajahnya memerah.


Keesokan pagi, Jansen membawa Elena keluar. Elena melototi Jansen sambil mengeluh. Bisa-bisanya orang ini berbuat semalaman penuh, keterlaluan!


"Sudah bangun? Ayo, sarapan. Aku sudah masak."


Natasha mengenakan pakaian rumah. Dia meletakkan bubur dan pangsit ke atas meja makan.


Jansen dan Elena menyadari kantong mata Natasha tampak hitam.


"Kak Natasha, apakah kamu tidak beristirahat dengan nyenyak tadi malam?" tanya Jansen. Namun, setelah bertanya, Elena mencubit pinggang Jansen dengan keras. Bukankah ini namanya sengaja bertanya?


Natasha tersenyum canggung, "Aku sibuk mengerjakan urusan kantor. Aku membuat proposal semalaman."


Dia bergumam dalam hati, "Tadi malam kalian sangat berisik. Justru aneh kalau bisa tidur!'


"Begini saja, lain kali Kakak Natasha juga ikut bersama-sama!"


Elena ragu untuk sejenak. Tiba-tiba, dia berkata dengan suara kecil


Suasana langsung terasa canggung.


Semua orang tahu apa maksud kata bersama-sama. Hanya saja, tidak disangka bahwa Elena begitu murah hati dan inisiatif mengajaknya.


"Kakak Natasha, tidak perlu tidak enak hati. Kita semua adalah keluarga, ditambah, orang ini terlalu bersemangat. Aku tidak sanggup menghadapinya sendirian," kata Elena dengan wajah merah dan sambil memegang tangan Natasha.


Natasha menjawab dengan suara sekecil nyamuk, "Em."


Jansen merasa canggung sekaligus bahagia. Elena adalah orang yang frontal. Ucapan seperti ini pun berani dikatakan.


Namun, ajakan ini sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Bayangkan, ada dua wanita cantik hadir pada saat bersamaan. Jansen merasakan dorongan lagi.


Setelah sarapan, Jansen berencana untuk berterima kasih kepada Gracia. Dia pergi ke Grup Aliansi Bintang dengan menggunakan taksi.


Saat di pesta perjamuan Keluarga Miller, Gracia telah membantunya dan menunjukkan ketulusannya. Jansen sadar dengan tugasnya, yaitu menyelamatkan nyawa Gracia.


Meskipun Gracia telah melakukan upaya besar, seperti mendapatkan segel Raja Ganlong dan menyerahkan kerja sama Keluarga Miller kepada Jansen.


Namun, Jansen tahu alasannya, yaitu, hidup Gracia tidak bisa dibandingkan dengan uang.


Grup Aliansi Bintang terletak di jalan kawasan perkantoran Ibu Kota. Daerah di sekitar adalah perusahaan-perusahaan asing terkenal. Setelah tiba, Jansen dikejutkan oleh bangunan-bangunan pencakar langit.


Grup Aliansi Bintang juga merupakan gedung tertinggi di dekat situ. Terdapat banyak pengawal yang keluar dari pintu utama dan mencegat para karyawan yang memasuki gedung perkantoran untuk bekerja.


Sebuah mobil Rolls Royce berhenti. Gracia yang mengenakan gaun biru, turun dari mobil tersebut.


Dia sangat berkharisma dan keren!


Orang-orang di sekitar menatapnya dengan kagum. Hanya saja, mereka hanya berani melihat, tidak berani mendekat.


Dia adalah konglomerat Huaxia. Siapa pun pria yang bisa mendapatkan wanita secantik ini, hidupnya pasti serasa di surga.


Sayangnya, hal ini lebih sulit daripada menggapai langit.


"Kebetulan sekali!"


Jansen segera melangkah menghampiri.


Boom!


Yang membuat Jansen bingung, pengawal yang mendorongnya bukanlah orang Gracia, tetapi orang yang berada di samping. Dia melihat sebuah Lamborghini edisi terbatas berhenti, lalu seorang pria muda berjas putih berjalan keluar.


Menakjubkan!


Kaya dan mahal.


Jelas-jelas ini adalah gedung Grup Aliansi Bintang. Berani datang ke gedung ini, tampaknya pria ini bukanlah orang biasa.


Jansen mengerutkan keningnya dan berbicara di dalam hati, 'Orang ini tidak sopan!"


"Masih tidak mau minggir? Kamu menghalangi jalan Tuan Jordie."


Melihat Jansen tidak pergi, pengawal itu kembali mendorong Jansen. Tentu, dia tidak kuat mendorong Jansen.


"Tempat ini adalah perusahaan Grup Aliansi Bintang, bukan wilayah pribadi kalian. Apa hak kalian mengusirku?" tanya Jansen.


"Beraninya kamu menjawab?"


Pengawal itu sedikit kesal. Anak muda ini terlihat hanyalah orang biasa. Apakah dia tidak tahu, semua orang harus memberikan Tuan Jordie jalan!


"Beri dia pelajaran!"


Pengawal ini melambaikan tangan ke belakang. Beberapa pengawal langsung berlari menghampirinya.


Jansen mengerutkan keningnya. Orang-orang ini terlalu arogan. Kalau tidak bisa jawab, ya main tangan.

__ADS_1


"Sebentar, sebentar! Yang kamu katakan memang benar. Tempat ini adalah perusahaan Grup Aliansi Bintang, bukan wilayah Keluarga Palmer."


Pada saat ini, terdengar sebuah suara yang elegan. Tampak seorang pria muda yang mengenakan jas, perlahan berjalan mendekat. Namun, Jansen menatapnya dengan tatapan mencemooh.


Tentu saja dia merasa konyol.


Dia adalah tuan muda Keluarga Palmer yang terhormat. Berani-beraninya ada orang yang menghalangi jalannya.


"Bocah, kamu yakin mau menghalangi jalanku?"


Jordie berjalan ke hadapan Jansen, tatapannya sangat merendahkan orang.


"Aku tidak menghalangi jalanmu. Pengawalmu yang mendorongku. Lagi pula, jalan ini begitu besar, kanan kiri adalah jalan," kata Jansen.


"Haha."


Jordie tertawa sambil menggelengkan kepalanya dengan menghina, "Sepertinya kamu benar-benar tidak tahu siapa aku. Katakan padanya!"


Para pengawal di sekitar juga memandang Jansen dengan sinis.


Bahkan, orang-orang yang menonton dari kejauhan pun sama.


Mana mungkin mereka tidak mengenal Jordie, tuan muda yang sering datang ke Grup Aliansi Bintang. Di Ibu Kota, dia adalah orang yang sangat dihormati dan berpengaruh.


"Dengarkan baik-baik, Tuan Jordie adalah tuan muda Keluarga Palmer yang berasal dari Ibu Kota, mengerti?" Seorang pengawal menunjuk hidung Jansen dan memarahi. Setelah itu, dia tersenyum pada Jordie seperti meminta pujian, "Tuan Jordie, jangan khawatir, bocah ini akan segera angkat kaki."


Keluarga Palmer yang berasal dari Ibu Kota adalah salah satu delapan keluarga elit Ibu Kota. Siapa yang tidak mengenalnya?


Sedangkan Jordie, dia berbeda dengan keluarga elit yang lain. Dia sangat angkuh, semua hal harus dilakukan dengan mewah.


Oleh karena itu, di mana dia berjalan, orang lain harus memberi jalan. Belum lagi, sekarang dia akan bertemu dengan Gracia. Dia semakin harus menunjukkan kekuasaan Keluarga Palmer.


"Oh, ternyata Tuan Jordie."


Jansen mengangguk. Dia tidak bermaksud memberikan jalan. Dia membalikkan badan dan lanjut jalan.


Jordie langsung tercengang.


Pupil para pengawal juga melotot besar!


Apakah orang ini bodoh?


Mereka sudah mengatakan bahwa Jordie adalah Keluarga Palmer yang berasal dari Ibu Kota. Semua orang yang pintar pasti akan memberikannya muka.


"Tuan Jordie, jangan marah. Kami akan memberikannya pelajaran." Para pengawal langsung berteriak.


"Jangan buru-buru, jangan buru-buru."


Jordie tidak terlihat marah, tapi sebenarnya dia sangat marah. Untuk pertama kalinya, dia melihat ada orang yang tidak memberinya muka.


Kalau tidak salah ingat, satu tahun lalu pernah ada orang seperti ini yang muncul. Sekarang, kaki orang itu lumpuh dan dipenjara.


Jordie mengejarnya dengan cepat, lalu berkata sambil tertawa, "Buru-buru sekali, mau cari siapa? Aku kenal orang di Grup Aliansi Bintang. Siapa tahu aku bisa membantumu."


Dia mengira Jansen tidak mengenal Keluarga Palmer, jadi dia berpikir untuk mempermainkan Jansen. Setelah Jansen mengetahui identitasnya, mungkin Jansen akan menangis dan berlutut memohon ampun.

__ADS_1


"Tidak mudah menemui orang di Grup Aliansi Bintang. Aturan di sini sangat ketat. Selain urusan bisnis, kamu harus meminta bantuan orang." Jordie ingin menyombongkan koneksinya di Grup Aliansi Bintang.


__ADS_2