
"Haha, anggota Keluarga Miller tidak bisa memegang omongannya. Aku tidak percaya ucapanmu."
"Jangan banyak omong kosong. Kamu mau membandingkan batu jelekmu dengan lukisan bunga peony?"
"Iya, kalau batu jelekmu itu memang sangat mahal dan berharga, Paman Keempat akan bersulang untukmu."
"Kalau batu jelekmu itu hanya sampah, kamu harus bersulang kepada seluruh anggota Keluarga Miller sambil berlutut, lalu bercerai dengan Elena."
Melihat Jansen yang berani berbicara keras, anggota Keluarga Miller juga marah. Semakin melihat Jansen, mereka semakin tidak suka.
Jessica tersenyum senang. Dia tahu, Jansen bukanlah orang miskin, tapi juga bukan berarti kaya dan rela mengeluarkan uang. Itu adalah tiga hal yang berbeda. Jansen sangat bodoh, di Keluarga Miller, harusnya dia mendekati Nenek untuk mendapatkan dukungan. Alhasil, dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk menyanjung Nenek. Mungkin tidak sampai setengah tahun, dia akan segera diusir.
Melihat kejadian ini, Nenek mengerutkan kening. Akhirnya, Nenek tidak tahan dan menyela.
Sebelumnya, Jansen berpura-pura kaya dan meninggalkan kesan yang buruk di benaknya. Sekarang, dia melihat Jansen berdebat dengan Keluarga Miller tanpa henti. Tiba-tiba, dia merasa Jansen bukanlah orang yang rendah hati.
Mengenai perjanjian setengah tahun, tampaknya dia berpikir terlalu banyak.
Disela oleh Nenek, semua orang malas meladeni Jansen. Mereka lanjut menemani nenek mengobrol.
Naomi menatap Jansen dari samping. Dia menghela napas, kekecewaannya sudah memuncak.
"Dari begitu banyak hadiah, hadiahmu yang paling berbeda!"
Jansen minum anggur sambil bergumam, "Jenis kaca, tingkat transparansi, kalau transparan seperti kaca, jernih dan berkilau, bisa dikatakan sebagai giok yang paling bagus di antara jenisnya."
"Kamu juga mengerti giok?"
Naomi terkejut, rasa ingin tahunya pun meningkat.
"Hanya sedikit."
Jansen menjawab dengan datar. Saat di Kota Asmenia, dia pernah mewakili Marcus mengecek barang dari Tuan Muda Nico. Dia tahu sedikit mengenai jenis batu giok.
"Berapa harga kamu membeli gelang giok ini?"
"Lebih dari dua juta yuan"
"Terlalu mahal. Harusnya hanya berkisar satu juta. Jenis giok gelang ini cukup bagus, tapi distribusi warnanya kurang seragam. Mungkin penjual melihatmu masih muda, jadi dia memberikan harga lebih mahal."
Mendengar ucapan Jansen, Naomi tercengang. Sepertinya, tidak ada yang pecundang ini tidak tahu. Bahkan dia bisa menjelaskan giok dengan mengesankan.
Tanpa disadari, dia sudah tidak begitu kecewa terhadap Jansen. Setidaknya, masih ada sedikit kelebihan yang pantas bersanding dengan Kak Elena.
Sedangkan Jasper, awalnya dia sangat senang melihat orang-orang yang menertawai Jansen. Namun, dia menyadari bahwa Jansen tidak terpengaruh. Sebaliknya, dia malah mengobrol dengan Naomi.
Hal ini membuatnya semakin marah. Tebal juga wajah pecundang ini, masih tidak mau pergi juga.
Selama ini, dia menyukai Naomi. Alhasil, wanita yang disukainya malah mengobrol dengan Jansen?
__ADS_1
"Nenek, sebenarnya kedatanganku hari ini, aku ingin meminta satu hal."
Tiba-tiba, Jasper berteriak, "Aku berbicara mewakili Keluarga Woodley. Pertunangan Kak Elena dan kakakku, tolong segera dilangsungkan."
Dia siap mempertaruhkan semuanya. Dia langsung meminta Keluarga Miller untuk cepat mengusir Jansen.
Tentu saja, dia tahu keputusan ada di tangan Nenek. Maka dari itu, dia memberikan hadiah yang mewah, lalu mengajukan permintaan.
"Bagus, akhirnya datang juga."
Renata dan Jessica saling memandang, mereka sangat senang.
Hari ini, Jasper memenangkan hati Nenek. Dengan mengajukan permintaan ini, mungkin saja Nenek menarik kembali perintahnya.
Alhasil, Nenek mengerutkan keningnya. Dulu, dia sangat optimis dengan Jansen, tapi sekarang, dia sedikit kecewa. Dia berpikir, apakah janji setengah tahun ini agak semborno?
"Aku keberatan."
Suara Jansen dan Elena terdengar hampir secara bersamaan.
"Apa hakmu membantah? Jangan lupa, kamu adalah hama bagi Keluarga Miller. Kamu makan dan menggunakan semua fasilitas Keluarga Miller. Seharusnya kamu bersyukur Keluarga Miller tidak memperhitungkannya denganmu." Renata maju dan memarahinya, lalu berbicara kepada Nenek, "Bu, ide Jasper sangat bagus. Lihat, Keluarga Woodley begitu tulus. Masalah Elena sudah menyebar di seluruh kota, tapi Keluarga Woodley tidak peduli dengannya. Mereka justru memberikan hadiah yang tulus. Sedangkan Jansen? Memberikan barang palsu. Dia sama sekali tidak menghormatimu."
"Benar. Lagi pula, cepat atau lambat mereka akan bercerai, jadi sebaiknya dilakukan secepat mungkin."
Jessica memprovokasi.
Akhirnya, Nenek mempertimbangkannya secara serius. Dia tidak merasa Jansen akan berubah dalam setengah tahun ke depan. Kalau seperti itu, lebih baik perceraian dipercepat.
Nenek berbicara perlahan.
"Nenek, kamu tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku dan Jansen tidak akan bercerai. Hari ini adalah hari bahagiamu. Aku tidak mau berbicara kepadamu. Kalian, Keluarga Miller, tidak menyambut kami, jadi kami akan pergi."
Elena langsung menyela, dia menarik tangan Jansen dan pergi.
"Tidak tahu sopan santun."
Paman Kedua langsung memarahinya.
"Jansen yang memberikannya pengaruh buruk. Pergi, pergi, pergi! Tanpa kalian, hati kami tidak risih. Intinya, kalian tidak akan bisa kabur dari perceraian."
"Enyalah, pecundang!"
Semua anggota Keluarga Miller berteriak marah, tapi hati mereka tertawa terbahak-bahak.
Semua terjadi seperti yang mereka harapkan.
Asalkan Jansen membuat Nenek marah, di Keluarga Miller, siapa lagi yang akan mendukung Jansen?
Benar saja, wajah Nenek terlihat sangat muram. Dia merasa Jansen tidak sopan.
__ADS_1
Saat ini, seorang pria paruh baya berjalan masuk dengan membawa sekretarisnya. Dia menghentikan langkah kakinya, lalu menatap segel yang terjatuh di depan pintu. Dia memungut segel tersebut dan memeriksanya dengan teliti. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Wah, Tuan Wildan sudah datang."
Melihat ada yang datang, Renata langsung menyambutnya.
Renata mengenalinya. Sebelumnya, Pria paruh baya ini pernah datang ke rumah Keluarga Miller mewakili Grup Aliansi Bintang.
"Tuan Wildan, Anda sudah datang."
Nenek juga menyapanya. Mereka pernah bertemu di tempat Gracia.
"Apa kabar Nenek Miller?"
Pria paruh baya ini memberikan hormat kepada Nenek, lalu tersenyum, "Nenek, ramai sekali."
Dia berpakaian sangat elegan dan memilik etika yang sangat bagus.
Nenek tidak berbicara. Bagaimanapun, ini adalah aib Keluarga Miller, dia tidak bisa mengatakannya.
"Apa lagi kalau bukan pecundang itu?"
Namun, Renata malah membuka mulutnya dengan menghina, "Dia tidak mau melepaskan Elena. Hari ini Nenek mengundang kita semua, tapi dia malah datang membawa barang palsu. Ditambah, dia juga merendahkan lukisan bunga peony yang dibawa Jasper. Dia tidak menghargai Nenek, tidak tahu menghormati orang tua!"
Tuan Wildan menatap mengikuti arah mata Renata. Dia bergidik saat melihat Jansen. Bukankah ini adalah Tuan Jansen?
Dia tahu, Nona Gracia pernah mengeluarkan pemberitahuan di aliansi Bintang. Sekarang, Jansen adalah Wakil Presdir di Grup Aliansi Bintang. Meskipun dia tidak mengetahui maksud Gracia, Gracia adalah orang yang bijaksana. Keputusan yang dibuatnya tidak pernah salah.
Dia pasti ada alasan kenapa melakukan ini,
"Barang palsu? Segel yang ada di tanganku ini?"
Tuan Wildan melihat lukisan bunga peony yang ada di atas meja, "Pasti ini adalah lukisan bunga peony pemberian Tuan Muda Kedua Keluarga Woodley, 'kan?"
"Benar, benar, benar. Tuan Wildan, coba Anda nilai, pecundang itu memberikan barang palsu dan menertawakan lukisan bunga peony pemberian Jasper. Apakah tindakan seperti itu benar?" Renata sengaja membesar-besarkan masalah kecil agar Nenek semakin keberatan dengan Jansen.
"Omong kosong!"
Tiba-tiba, Wildan membentak. Sikapnya yang Elegan seperti di awal sudah tidak terlihat.
Semua orang di aula dimarahi sampai tercengang. Mereka terdiam di tempat.
Renata juga tertegun. Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Tuan Wildan, mak... maksudmu aku?"
"Omong kosong!"
Wildan marah sambil menunjuk wajah Renata. Meskipun identitas Renata sangat tinggi, dia juga tidak tahan.
"Apakah kamu tahu benda apa batu kuning ini?"
__ADS_1
Wildan mengangkat segel di tangannya dan berkata, "Ini adalah segel Hongli yang juga merupakan segel istana Raja Ganlong. Bagian atasnya diukir dengan harta kesayangan Raja Ganlong. Raja Ganlong secara khusus menggunakan segel ini untuk menghargai nilai lukisan dan kaligrafi. Harganya tidak ternilai!"
Para hadirin gempar!