
"Kebetulan sekali, aku juga kenal dengan polisi!" Jansen lanjut berkata sambil tertawa.
Bos Mikel sontak merasa ketakutan. Sebelumnya, Jansen mengatakan bahwa dirinya punya senjata dan Jansen memang punya senjata. Kini, Jansen juga mengatakan bahwa
dirinya kenal dengan polisi. Apakah Jansen juga benar-benar kenal dengan polisi?
"Kalian... kalian ini sebenarnya siapa?"
Bos Mikel yang mampu mengendalikan seluruh Kota Sion tentu bukanlah orang bodoh.
"Tentara!"
Elena pun mengeluarkan kartu anggota kemiliteran.
Bos Mikel yang melihat kartu keanggotaan militer ini langsung terkejut dan terduduk di tanah. Pada kartu keanggotaan militer, tertulis bahwa Elena adalah seorang anggota pasukan khusus.
Sialan!
Dia benar-benar sial karena telah memintai uang keamanan kepada anggota pasukan khusus.
"Pak, Bu, aku pergi dulu. Mohon... mohon maaf, aku telah bersikap sok hebat!"
Bos Mikel merangkak lalu bersujud kepada Jansen dan Elena.
Anak buah yang berada di belakang Bos Mikel juga langsung berlutut satu per satu.
Jack Pirang berlutut sambil melotot seolah tak percaya bahwa mereka berdua adalah anggota pasukan khusus. Masalah kali ini bakal menjadi masalah besar.
"Kalau semua bisa diselesaikan dengan kata maaf, untuk apa lagi ada polisi?"
Jansen berkata sambil menyipitkan mata.
"Aku... aku mengerti!"
Bos Mikel langsung berdiri, mengeluarkan pistol dan menembak kepala Jack Pirang.
Dorrr
"Pak, Bu, aku sudah menebus kesalahanku kepada kalian berdua!"
Setelah itu, Bos Mikel terus menatap Jansen dengan hati gelisah.
"Menebus kesalahan?"
Jansen menghampiri Bos Mikel, merebut pistolnya dan langsung menembak kakinya. "Mari kita lupakan kejadian hari ini. Jangan sampai aku dengar bahwa kamu berani
menindas rakyat kecil lagi. Kalau kamu berani melakukannya, aku pasti akan menghabisimu!"
Bos Mikel duduk di tanah dan terus menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berani, aku tidak berani, aku tidak berani lagi."
Elena mengerutkan kening saat melihat bahwa Jack Pirang sudah mati. Meskipun Jack Pirang sangat keji, dia tidak sepatutnya mati. Elena menggelengkan kepala sambil menatap Jansen yang merasa bahwa ini adalah hal biasa.
"Apa ada mobil?"
Jansen bertanya.
"Ada, mobil ini!"
Bos Mikel menyerahkan kunci salah satu mobil Ferrari kepada Jansen.
Jansen mengambil kunci itu dan menghampiri mobil Ferrari. Sambil berjalan, Jansen pun berkata, "Aku akan pergi ke Kota Sion dengan mengendarai mobil ini. Kamu sendiri ambil
kembali mobil ini nanti!"
"Tidak masalah, mobil ini untuk Anda saja."
Bos Mikel tak berani menginginkan kembali mobil itu. Dia pun sudah tak sabar menunggu kedua orang sialan ini pergi.
"Aku suruh kamu datang mengambil kembali mobil ini nanti! Kamu turuti saja!"
__ADS_1
Jansen berpesan demikian lalu menyalakan mobil dan langsung pergi menuju Kota Sion.
Di dalam mobil, Elena mengerutkan kening sambil menatap Jansen yang sedang mengemudi, "Jansen, meskipun Jack
Pirang melanggar hukum, kita harus menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara, bukan membiarkan Bos Mikel
membunuhnya. Lagi pula, orang seperti Bos Mikel juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya di depan hukum!"
Jansen menggelengkan kepalanya dengan pasrah, "Bos Mikel yang membunuh Jack Pirang, bukan aku. Selain itu, Jack Pirang sepertinya juga telah banyak melakukan
kejahatan anggap saja dibunuh bos Mikel adalah hukuman setimpal bagi dirinya. Jika kamu merasa tidak puas terhadap Bos Mikel, pulanglah lalu laporkan ke pihak berwajib.
Jebloskan saja dia ke penjara!"
"Aku tahu. Hanya saja, aku melihat kamu tidak peduli sama sekali saat Jack Pirang dibunuh. Bukankah kamu seorang dokter?"
"Elena, bagi orang biasa, aku memang seorang dokter, tetapi untuk menghadapi orang-orang jahat ini, aku lebih memilih memerangi kejahatan mereka dengan tindakan tegas!"
Jansen terpaksa menjelaskan.
Elena menggelengkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Meskipun Jansen telah berubah, sejak Jansen keluar dari pasukan, Jansen tidak mungkin kembali lagi menjadi Jansen yang dulu seperti saat tinggal di Kota Asmenia.
Ketika mereka tiba di Kota Sion, hari sudah malam.
Jansen bertanya tentang alamat lalu pergi menuju rumah tua ibu kandung Elena. Ketika mereka tiba di rumah tua itu, terdapat sebuah pekarangan. Pintu pagar pekarangan ini
digembok. Berbagai mesin yang ada di pekarangan ini sepertinya digunakan untuk pembuatan gula.
Kondisi rumah tua itu sangat gelap dan tertutup.
"Sepertinya tidak ada orang di rumah!"
Jansen mengerutkan keningnya. Pada saat ini, muncul sorotan lampu senter dan beberapa orang datang ke luar dengan cepat.
"Siapa itu?"
"Ah, kenapa jadi kamu?"
Nelly dan seorang pria paruh baya juga sangat terkejut. 'Bukankah sebelumnya Jansen sudah turun dari bus? Mengapa mereka berdua masih datang ke Kota Sion?
Mereka malah mengira Jansen dan Elena sudah mati.
"Rupanya kamu!"
Elena pun terkejut lalu bertanya, "Kami datang mencari Paman Randy pemilik pabrik gula."
"Kalian siapanya dia?"
Pria paruh baya itu mengerutkan kening dan bertanya.
"Aku, aku kerabatnya!"
Elena berkata dengan ragu-ragu.
Raut wajah Nelly tiba-tiba berubah. "Apakah kamu kerabat Paman Randy?"
Nelly merasa sangat kecewa. Nelly mengira yang datang adalah anak orang kaya, tetapi ternyata yang datang malah kerabat mereka. Nelly pun menduga bahwa mereka berdua datang
demi merebut lahan pabrik gula tersebut.
"Paman Randy sedang tidak ada di rumah sekarang. Dia pergi mencari penumpang Taksi, sepertinya agak malam baru pulang ke rumah!"
Nelly berbicara dengan acuh tak acuh.
Sebelumnya, mereka berdua bahkan tidak bersedia memberikan uang keamanan sebesar 500 Yuan saat melintasi jalan, ditambah lagi mereka berdua ternyata datang untuk mencari Paman Randy, sehingga Nelly pun langsung menduga bahwa Jansen bukan berasal dari keluarga kaya.
Jansen mungkin malah sangat miskin.
__ADS_1
Pria paruh baya itu juga tampak kecewa. Dia sepertinya salah menilai Jansen sebagai orang kaya.
"Kalau begitu, apakah kami boleh tunggu dia di sini saja?" Elena pun bertanya. Elena tentu merasa gugup karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kerabat ibu kandungnya sendiri.
Jansen bertanya, "Nelly, apakah kamu juga tinggal di sini? Apakah kami boleh menunggu di rumahmu?"
"Jansen, kami juga kerabatnya Paman Randy. Tetapi, kalian sebaiknya tidak menunggu di rumah kami. Kalian lebih baik pergi saja dari sini!" Nelly berkata dengan sinis.
Jansen langsung mengerutkan keningnya. Wanita ini sebelumnya bersikap sangat sopan, tetapi kenapa dia sekarang malah bersikap kasar terhadap mereka berdua?
"Nelly, bukankah kita adalah teman? Bukankah kamu pernah bilang ingin menjadi pemandu wisata bagi kami berdua?"
Elena juga merasa ada yang tidak beres.
Nelly mencibir, "Teman? Kamu bahkan tidak rela
mengeluarkan uang 500 yuan, apa kalian pantas berteman denganku? Aku beritahu kalian, kalau kalian memang orang hebat, kita boleh berteman. Kalian lebih baik pergi dari sini sekarang. Aku tidak sudi berteman dengan
kalian berdua!"
Nelly jelas merasa kecewa. Karena itu pula, Nelly membenci Jansen.
Wajah Jansen dan Elena terlihat kesal mendengar ucapan Nelly yang tergolong kasar.
"Ayo kita pergi!"
Jansen pun malas meminta tolong kepada Nelly karena ini bukanlah masalah penting.
"Kalian ini miskin, tetapi berpura-pura kaya. Aku memang sudah buta!"
Melihat Jansen dan Elena pergi, Nelly langsung berkata dengan perasaan jijik, "Mereka pasti datang untuk merebut tanah milik Paman Randy, benar-benar memalukan! Kenapa Paman Randy bisa punya kerabat seperti mereka berdua?"
"Nelly, ucapanmu terlalu kasar. Kita bukan datang untuk merebut tanah milik Paman Randy!"
Elena tiba-tiba berhenti dan berkata dengan wajah kesal.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku? Kalau begitu, untuk apa kalian datang kemari?"
Nelly memainkan kukunya, wajahnya pun penuh dengan rasa jijik.
Nelly sebenarnya juga ingin menguasai tanah milik Paman Randy. Ketika pemerintah ingin membebaskan tanah tersebut dan meminta mereka pindah dengan memberikan ganti rugi,
Paman Randy bersikukuh tidak ingin menjual tanahnya. Hal ini membuat Nelly dan pria paruh baya itu merasa sangat cemas.
Mendengar ada ganti rugi pembebasan lahan, para kerabat jauh Paman Randy juga datang ke tempatnya untuk mendapatkan sedikit uang. Bagi mereka, Ini sungguh memalukan.
"Kami ingin...!"
Elena awalnya ingin mengatakan bahwa maksud kedatangan mereka berdua adalah untuk mencari ibu kandungnya sendiri,
tetapi Elena akhirnya mengurungkan niat untuk berterus terang.
Jansen tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Nelly. Jansen pun menarik tangan Elena lalu pergi.
Nelly mengira bahwa mereka berdua mungkin adalah orang kaya, sehingga Nelly sebelumnya terus bersikap baik kepada mereka berdua. Namun, sikap Nelly langsung berubah drastis
setelah mengetahui bahwa mereka berdua ternyata adalah kerabat miskin dari Paman Randy.
Jansen sendiri pun merasa heran mengapa Nelly bisa menganggap Jansen sebagai orang kaya.
"Sikap Nelly benar-benar berubah dengan cepat!"
Setelah keluar dari pekarangan itu, Elena pun masih merasa sangat kesal.
"Lupakan saja, kita memang tidak akrab dengan dirinya!"
Namun, Jansen tidak ambil pusing sedikit pun. Jansen langsung menelepon Panah. Setelah bertanya dengan jelas, Jansen memesan jemputan mobil Taksi.
"Paman Randy, kami ingin pergi ke Mall Grace, Mohon datang kemari menjemput kami!"
__ADS_1
Setelah menghubungi sopir Taksi, Jansen akhirnya memiliki nomor telepon Paman Randy.