
"Omong-omong, besok Grup Aliansi Senlena mengadakan konferensi pers, yang juga merupakan konferensi pers untuk penjualan produk di dalam negeri. Apakah kamu mau menghadirinya untuk mewakili kami?" Natasha bertanya.
"Kalau begitu, lihat-lihat terlebih dahulu apakah aku punya waktu untuk itu!"
Jansen mengangguk.
Sejak berdirinya Grup Aliansi Senlena, dia sudah mengambil inisiatif untuk mengambil alih, jadi dia tidak keberatan muncul di depan media.
"Hmmm?"
Tiba-tiba, ponsel Jansen bergetar. Melihat pesan masuk, senyum muncul di mulutnya.
Benar saja, mangsa mengambil umpan dan Justin kembali!
Justin, seperti Aidan, adalah kekhawatiran besar di hatinya. Sehari saja dia tidak menyingkirkannya, hatinya menjadi tidak tenang.
Hanya dengan mengangkat tumor ini, Natasha dan yang lainnya bisa hidup aman.
"Reimar, apa kabar?"
Saat ini, suara yang akrab terdengar dari depan. Seorang pria berusia tiga puluhan sedang memapah seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi dan berbau alkohol.
Jansen merasa suara itu begitu familier, seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
Akhirnya dia mengingatnya!
Bukankah ini dosen universitasnya, Dosen Romi?
Saat itu, Pak Romi baru saja lulus dan ditugaskan untuk mengajar di universitas. Karena dia masih muda, jadi dengan cepat dia berbaur dengan murid di kelasnya.
Saat masa kuliah Jansen orang yang cukup pendiam, tapi Pak Romi sering mengambil inisiatif untuk mengobrol dengannya dan mengajaknya bermain. Aku tidak menyangka akan melihatnya di sini.
Jansen menghela napas dan merasa waktu berlalu begitu cepat!
"Reimar, kenapa kamu minum begitu banyak!"
Romi memapah wanita itu dengan wajah khawatir.
"Aku baru saja berhasil menandatangani kontrak besar di rapat perusahaan dan aku minum karena senang!"
Wanita itu berkata sambil tersenyum.
"Biarkan aku mengantarmu pulang!" ucap Romi.
"Tidak perlu, aku sudah telepon taksi online, kamu bantu aku telepon supirnya saja!" Wanita itu berbaring di bahu Romi dan berkata.
Romi mengambil tasnya untuk mencari ponsel, tapi saat ingin membuka kata sandinya, dia tidak bisa membukanya.
Jansen langsung tahu jika mereka bukanlah suami istri, melainkan seperti pacaran. Jika tidak, Pak Romi tidak perlu mengantar wanita ini pulang. Lagi pula, tidak ada pasangan suami istri yang tidak tinggal serumah.
"Reimar, kata sandi ini!"
Romi mengerutkan kening dan bertanya.
"Bodoh, bisanya kamu lupa hari ulang tahunmu sendiri. Ulang tahunmu 25 Juli 1982. Aldy, kamu benar-benar bodoh!" Wanita itu berkata sambil tersenyum.
Tangan Romi yang memegang ponsel tersentak, dan wajahnya sedikit suram. Dia bertanya, "Apa nomor teleponku?"
__ADS_1
"13145295561!"
Tanpa sadar wanita itu berkata.
Romi mencari buku alamat sesuai dengan nomor, dan nama sayang muncul, yang membuat rasa sakit di wajahnya terungkap tanpa penyamaran.
Karena nomor ini bukan miliknya!
Melihat hal itu, Jansen juga mengerti apa yang sedang terjadi dan menghela napas.
Pak Romi mencintai wanita ini, tapi sayang, wanita itu tidak mencintainya dan tidak mengakuinya.
"Pria ini sangat menyedihkan. Hal ini pasti sudah disembunyikan sejak lama darinya!"
Natasha juga mengerti dan entah kenapa mengumpat pria itu.
"Memang beginilah cinta. Orang luar sangat sulit untuk ikut campur dan tidak ada alasan untuk melakukan itu. Dia adalah dosen universitasku. Dia orang yang sangat baik!" Jansen menghela napas ringan.
Ini adalah cinta bertepuk sebelah tangan.
Terlihat Romi ragu dan menghubungi nomor 'Sayang' itu.
"Reimar, ada apa?"
Suara yang sangat memikat terdengar dari orang yang menerima panggilan itu.
"Halo, aku teman Reimar. Dia sedang mabuk. Lokasinya di Jalan Hamehameha no 212. Datang dan jemput dia!"
Romi dengan sopan berkata, lalu menutup telepon, memasukkan kembali ponsel ke dalam tas wanita itu, dan kemudian membantu wanita itu duduk di kursi di pinggir jalan.
Setelah menyelesaikan semuanya, dia pergi tanpa menoleh ke belakang.
Dia tidak berani melihat ke belakang karena takut dia tidak akan menyerah!
Dia bahkan tidak berani menegur wanita itu karena dia takut kehilangannya!
Ia tidak mempermasalahkan masa lalu seperti apa yang dimiliki wanita itu. Yang dia pikirkan adalah masa lalu wanita itu belum juga berakhir.
"Haaahh!"
Melihat kepergian Romi yang begitu terpaksa, Jansen kembali menghela napas. Dia bisa merasakan bahwa seharusnya Pak Romi meneteskan air mata.
"Dia sangat baik!"
Natasha juga terharu.
Pria normal sudah lama marah besar saat menghadapi situasi seperti ini. Mereka tidak akan peduli dengan hidup wanita ini, apalagi berinisiatif untuk membantu menelepon untuknya.
Lagi pula, panggilan telepon ini setara dengan memberikan orang yang paling kamu cintai kepada orang lain dengan tangan kamu sendiri.
"Kakak Natasha, kamu kembali dulu saja!"
Jansen terdiam sejenak.
"Kembalilah lebih awal!"
Natasha tidak bertanya kenapa, karena dia tahu apa yang ingin dilakukan Jansen.
__ADS_1
Jansen menyusul Romi dan berteriak dari jauh, "Pak Romi!"
Romi yang berjalan di depan dan mendengar suara yang familier. Dia tiba-tiba menoleh, "Kamu siapa?"
Lagi pula, dia sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Selain itu, Jansen telah banyak berubah, jadi dia tidak bisa mengenalinya untuk sementara waktu
"Ini aku, Jansen!"
Jansen berjalan mendekat sambil tersenyum.
Romi mengingatnya dan senyum, "Jansen, haha, perubahannya terlalu besar, aku hampir tidak bisa mengenalinya!"
Ia menatap Jansen dari atas ke bawah lagi. Melihat Jansen mengenakan setelan jas, terlihat jelas harganya mahal. Dia langsung tahu jika Jansen sudah sukses.
"Bocah, luar biasa, kamu sangat pendiam saat kuliah, tapi sekarang kamu menjanjikan!" Suasana hati Romi menjadi jauh lebih baik.
"Tidak bisa dianggap menjanjikan, aku hanya mencari nafkah saja seadanya!"
Jansen masih cukup sopan kepada para dosen universitas.
Jika orang dari dunia Jianghu dan orang dari sekte Yuhua ada di sini, pasti akan berpikir telah salah mengenali seseorang.
Ini masih Jansen yang menakutkan? Dia seperti orang biasa!
Dan ini juga karakter Jansen. Dia bisa menjadi orang yang sangat dingin, tapi dia juga bisa menjalani kehidupan normal!
Kuncinya adalah itu tergantung pada siapa yang dia hadapi.
"Apa kamu sudah bertemu teman kuliahmu Omong-omong, aku belum pernah melihatmu sejak kalian lulus!" ucap Romi.
"Tahun lalu aku bertemu dengan mereka sekali. Aku menghadiri reuni kelas!"
Berbicara tentang reuni kelas, Jansen merasa risi. Tidak peduli di Kota Asmenia atau Ibu kota, reuni kelas sudah berubah.
"Sigh, sebelumnya saat kuliah aku merasa bebas. Tapi ketika aku terjun ke masyarakat, segala macam tekanan datang. Menjadi orang dewasa itu tidak mudah!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya dia menghela napas, "Ayo kita cari tempat untuk minum!"
Romi baru saja mengalami hal yang menyakitkan. Melihat ekspresi Jansen, hatinya tersentuh.
Ini juga pertimbangan Jansen. Jika dia langsung mengatakan apa yang terjadi kepada Pak Romi sebelumnya, itu pasti akan melukai harga dirinya.
Sebaliknya, dia mengatakan bahwa hidupnya tidak memuaskan dan Pak Romi akan merasa jika Jansen lebih akrab.
"Ayo kita pergi!"
Benar saja, Pak Romi berinisiatif mengajak Jansen untuk minum.
Di sebuah warung makan, keduanya memesan sate dan bir lalu meminumnya.
Romi ingin mabuk dan tidak ingin memikirkan masalah itu, jadi dia banyak minum.
Sebaliknya, Jansen hanya menemaninya saja, tapi laki-laki memang seperti itu. Bahkan jika mereka sudah lama tidak bertemu, setelah sedikit minum, hubungan mereka akan kembali seperti di masa lalu.
"Huh, beberapa tahun setelah kamu lulus, aku menikah, tapi karena aku orangnya bodoh, jadi tidak bisa mempertahankan rumah tangganya, jadi sudah bercerai!"
"Belakangan, aku dipindahkan bekerja di ibu kota dan bertemu dengan seorang gadis dan karena kita masing-masing sudah pernah menikah, ditambah suaminya dulu sering memakai narkoba dan KDRT lalu bercerai. Kami memiliki percakapan yang bagus!"
__ADS_1