Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 30. Pengemis


__ADS_3

Elena dapat menikahi Jansen karena kakeknya memintanya menikah sebagai syarat agar ia bisa menjadi polisi dan batasnya sampai dua tahun . Setelah dua tahun , jika ia dan Jansen masih belum bisa bersama , maka kakeknya tidak bisa menentang perceraian mereka .


Bagaimanapun juga pada akhirnya keluarga Lawrence adalah keluarga terpelajar . Mereka selalu menentang Elena untuk menjadi polisi , jadi satu - satunya yang bisa maju adalah sang kakek .


Setelah menikahi Jansen yang seperti orang bodoh , sering linglung , dan membuat Elena merasa seperti janda tua , ditambah lagi dengan gosip buruk dari teman dan saudara dekat , makin lama ia makin tidak puas dengan Jansen . Sampai ingatan Jansen kembali pulih , secara bertahap rasa jijik ini menghilang .


Kini masih ada satu tahun lagi dari perjanjian . Perkiraan di waktu yang tersisa ini Jansen akan dianiaya .


" Jansen, maaf . "


Memikirkan hal ini , Elena merasa sedikit bersalah . Ia merasa ia memanfaatkan Jansen .


" Kenapa ? "


Jansen sedang makan dengan kepala penuh keringat .


" Kamu pasti sangat bosan bersamaku . Meskipun kita menikah , tapi aku tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai istri . Sebenarnya , kamu benar - benar tidak perlu mempertahankan pernikahan ini untukku , "


kata Elena. Jansen pun terkejut . Gadis ini benar - benar memikirkan tentang hal ini . Ia menggeleng dan berkata ,


" Elena , saat aku menikahimu , aku sudah lupa ingatan . Pernikahan ini diatur oleh ayahku . Untuk perjanjian antara ayahku dengan kakekmu , aku tidak tahu . Akan tetapi , yang aku tahu setelah ingatanku kembali adalah aku berutang nyawa denganmu . "


" Maksudmu tentang kecelakaan mobil ? "


Mata Elena berbinar .


" Jika kamu ingin membalas budi , kamu bisa menggunakan cara lain . Kamu tidak perlu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri . Aku tidak sengaja menyelamatkanmu . Saat itu jika ada orang lain di sana , aku juga akan menyelamatkan dia . "


" Ini semua tidaklah penting . Yang penting adalah kamu menyelamatkanku . Aku harus membalas budi . "


Jansen tersenyum seraya berkata ,


" Karena apa yang kamu selamatkan bukanlah hidupku , tapi mungkin jutaan nyawa juga . "


Jansen adalah seorang dokter . Ia wajib menyelamatkan banyak orang . Jika Elena menyelamatkan satu nyawanya , itu juga berarti menyelamatkan banyak orang .


"Uh"


Elena tahu Jansen keras kepala . Ia juga tidak bisa membujuknya lagi . Ia pun bertanya ,


" Kenapa kamu tidak tanya padaku ? Kenapa kamu bermasalah ? "


" Ini pasti tentang pekerjaan . Namun , saat kamu ingin mengatakannya , aku pasti akan membicarakannya , "

__ADS_1


ucap Jansen seraya tersenyum . Elena tercengang . Di hatinya muncul pikiran yang rumit .


" Sebelumnya kamu bilang kamu bosan bersamaku . Sebenarnya bosan itu bagus . Penelitian psikologi di luar negeri mengatakan kalau pasangan yang sejati 90 % merasa sangat bosan . Ini karena hubungan mereka terasa hambar , seolah - olah kamu sudah terbiasa melihat tangan kanan dan kirimu yang biasa digunakan setiap hari . Sebaliknya , jika kamu 50 % merasa tidak bosan di sepanjang pernikahan ini , itu artinya cinta seperti ini tidak akan bertahan lama , "


ucap Jansen yang tiba - tiba tertawa .


" Benarkah ? "


Elena menjadi tertarik . Jansen mengangguk dengan sungguh - sungguh . Di dalam hatinya ia bergumam ,


" Sebenarnya aku mengarang . "


Bagaimanapun juga berbicara santai dengan Jansen membuat suasana hati Elena menjadi lebih baik .


Setelah mereka kenyang , mereka berjalan dengan santai di Indah Plaza . Meskipun suasana hati Elena membaik , tapi Jansen tidak tahu apakah itu karena karakternya atau benar - benar waspada dengan Jansen . Elena jarang membuka hatinya .


" Elena , kamu seharusnya punya bayangan pria lain di hatimu , kan . "


Jansen bahkan memiliki intuisinya sendiri .


Jansen tidak berharap Elena bisa menyukainya . Itu karena ia ingin membantu Elena , karena rasa penaklukannya itu , atau karena ia ingin memiliki hati yang bersih .


Saat ini tiba - tiba ada duak sosok yang menghentikan langkah kaki Jansen dan Elena.


Di hadapan Jansen ada seorang wanita dan seorang anak kecil . Wanita itu tampak mengenakan pakaian lusuh dan rambut yang kotor sekali . Ia menatap sambil memohon pada Jansen dan Elena .


Adapun untuk anak itu , perawakannya seperti usia delapan sembilan tahun . Ia jelas kekurangan gizi . Di tangannya ia memegang jeruk yang berjamur . Jansen bisa melihat kalau kaki anak itu jelas terluka .


Kedua orang itu jelas adalah pengemis . Bisa dibilang setiap kota yang makmur selalu ada sosok orang seperti mereka . Semakin banyak pengemis seperti mereka berarti semakin berkembangnya kota yang makmur itu .


Faktanya , sebelum Jansen turun dari mobil , ia sudah melihat dua pengemis ini . Ia tidak menyangka kalau mereka belum pergi .


" Kakak . "


Anak itu memandang Elena dengan pandangan menyedihkan . Meskipun Elena berkepribadian yang kuat , tapi ia adalah orang yang baik hati . Ia buru - buru mencari uang 1 Yuan dari tubuhnya dan meletakkannya di tangan anak itu .


" Terima kasih nona cantik . Namun , tolong beri kami beberapa lagi . Kami sudah tidak makan beberapa hari . Kami dari pegunungan untuk mencari ayah anak ini , tapi kami tersesat di kota sebesar ini . Kami tidak tahu harus tinggal di mana malam ini . "


Wanita itu mengambil uang dari tangan anak itu dan menatap Elena lagi .


Hari ini Elena datang untuk berjalan - jalan santai . Jadi , ia tidak bawa banyak uang . Ia ingin mengatakan sesuatu , tapi saat itu Jansen sudah berkata dengan dingin ,


" Cukup , kalian jangan serakah . "

__ADS_1


" Kamu , kenapa kamu begitu galak ? "


Wanita itu terkejut dan matanya memancarkan cahaya yang dingin . Ia berkata pada Elena ,


" Dia lelakimu ? Pelit sekali dan tidak punya rasa simpati . Sayang sekali , padahal kamu begitu baik dan cantik , tapi kamu menikahi pria yang sekejam ini . "'


" Kamu belum selesai berbicara ? "


Suara Jansen berangsung dingin . Wajah Elena pun berubah . Ia telah menikahi Jansen selama satu tahun , tapi baru kali ini ia melihat Jansen sekejam ini . Itu membuatnya takut .


" Lihatlah , aku baru bilang begitu tapi dia sudah mau memukul orang . Duh , benar apa kata para leluhur , butuh waktu untuk bisa mengetahui sifat orang itu . Saat beberapa pria mengejarmu , mereka berlaku sangat baik , tapi setelah sekian lama menghabiskan waktu bersama , sifat aslinya akan muncul . Nona , suamimu ini menyembunyikan sifatnya . Kamu harus berhati - hati . "


Wanita itu terus memprovokasi Elena.


" Dia , dia bukan orang yang seperti itu . "


Elena menggeleng , tapi hatinya agak terguncang . Bagaimanapun ia tidak akrab dengan Jansen saat SMA dulu . Setelah menikah , Jansen amnesia , dan sekarang ingatannya kembali , jadi mungkin ini adalah sifat aslinya .


Tanpa sadar Elena mengubah pandangannya tentang Jansen Scott . Menurutnya , Jansen yang dulu lebih banyak menyembunyikan sifatnya .


" Aku beri kamu waktu tiga detik untuk segera pergi . "


Suara Jansen makin lama makin dingin .


" Apa yang kamu ingin lakukan ? Aku tidak takut padamu . Ini adalah masyarakat berhukum . "


Wanita itu berkata dengan kejam . Hanya anak yang berdiri di sampingnya yang memasang wajah ketakutan . Entah ia takut dengan Jansen atau wanita itu .


Brak !


Jansen menendang perut wanita itu hingga membuatnya terbang sejauh lima meter . Tendangan Jansen kali ini jelas sekali menggunakan tenaga dalam yang tidak bisa ditahan oleh wanita itu .


Bwuah !


Setelah wanita itu mengenai tanah , ia muntah darah . Kemudian wanita itu berteriak ,


" Aku dipukul . Aku dipukul . Orang ini tidak memiliki hati nurani . Semuanya , tolong aku ! "


" Jansen, apa yang kamu lakukan ? "


Elena tiba - tiba mendorong Jansen dan berlari menuju wanita itu . Kemudian ia melihat wanita itu yang terluka parah . Ia memandang Jansen dengan kecewa .


" Jansen , tidak disangka kamu orang yang seperti ini . Kamu benar - benar menyembunyikannya dengan baik . "

__ADS_1


Jansen membuka mulutnya dan menghela napas . Pada akhirnya ia tidak mengatakan apa - apa .


__ADS_2