
Jansen terus berjalan dan sengaja menginjak sepatu baru Jordie
"Manajer! Di mana manajer kalian?"
Jordie berteriak di depan restoran, "Pelayan kalian sangat keterlaluan. Dia mengotori sepatu baruku, cepat suruh manajer kalian kemari!"
Banyak orang yang datang melihat saat Jordie berteriak. Orang-orang menatap Jansen yang memang berpenampilan sederhana layaknya seorang pelayan.
"Habis sudah pelayan ini. Dia mengotori sepatu baru tuan muda itu, dia harus bayar ganti rugi yang jumlahnya lumayan besar!"
Banyak orang diam-diam merasa kasihan dengan Jansen.
Manajer restoran dengan cepat berlari keluar dan membungkuk untuk meminta maaf kepada Jordie. Manajer itu tahu bahwa ada orang penting yang hadir di Restoran hari ini sehingga tidak boleh membuat mereka tidak puas.
"Kamu manajer nya? Pelayan kamu mengotori sepatu kulitku. Kamu cepat suruh dia berlutut dan menjilat sepatuku sampai bersih!"
Jordie marah sambil menatap Jansen. Dia sengaja berkata demikian untuk memperingatkan Jansen tentang perbedaan
status di antara mereka berdua.
"Kamu kenapa ceroboh sekali, cepat bersihkan sepatu kulit Tuan Muda ini sampai bersih!"
Manajer restoran langsung memarahi Jansen.
Meskipun tidak mengenal Jansen, manajer itu tetap mengira Jansen adalah pelayan di Restoran.
Jansen masih sabar dan ingin melihat kelanjutan cerita. Setelah dimarahi manajer restoran, Jansen tersenyum dan berkata, "Kamu memerintah aku?"
"Kalau bukan kamu, siapa lagi yang aku perintah? Cepat bersihkan!"
Manajer aula lanjut memarahi Jansen dan menganggapnya bodoh karena telah berani membuat Tuan Muda Jordie marah.
"Kamu mau dipecat?"
Jansen kembali tersenyum.
Manajer itu sontak emosi besar dan berteriak, "Harusnya aku yang berkata seperti itu kepada kamu!"
Saat ini, datang sebuah mobil Maybach. Sebelum mobil berhenti, kaca jendela mobil sudah diturunkan. Seorang pria paruh baya berteriak marah dari jendela mobil, "Aku lihat
kamu yang minta dipecat. Berani-beraninya kamu menyuruh Tuan Jansen membersihkan sepatu!"
Manajer restoran langsung ketakutan dan wajahnya pucat setelah melihat pria paruh baya turun dari mobil Maybach itu.
Pria paruh baya itu menghampiri manajer restoran dan menamparnya, "Berani-beraninya kamu menyinggung perasaan Tuan Jansen!"
Jansen tidak kenal dengan orang yang datang membelanya ini.
Namun, Jansen menduga bahwa orang ini mungkin adalah orang dari Grup Aliansi Bintang ataupun Tuan Hilton karena telah memperlakukan dirinya dengan sangat hormat.
"Tuan Jansen, anak buah aku ini telah berbuat salah, mohon maaf sebesar-besarnya!"
Pria paruh baya itu berkata dengan sopan kepada Jansen.
Orang-orang di sekitarnya sontak kaget. Pemuda yang mereka anggap pelayan karena hanya memakai pakaian olahraga ini bisa membuat seorang bos besar yang naik mobil Maybach, meminta maaf langsung kepada dirinya.
Wajah manajer restoran itu bahkan lebih pucat lagi. Dia tidak sadar bahwa dirinya sudah salah menghina orang. Sambil menundukkan kepala, dia terpaksa berlutut dan menangis, "Saya salah, saya benar-benar tidak tahu Anda ini Tuan Jansen!"
Meskipun demikian, dia sebenarnya memang masih tidak tahu siapa Jansen ini.
"Tuan Muda ini bilang sepatunya kotor diinjak. Karena itu, aku pikir Tuan Jansen adalah seorang pelayan!" Manajer restoran berkata sambil menangis.
__ADS_1
"Jadi kalau orang ini bilang seperti itu, maka kamu tidak banyak berpikir langsung ikuti saja perintahnya begitu?"
Pria paruh baya itu menendang dada manajer restoran, "Pergi temui bagian keuangan dan ambil gajimu. Mulai besok kamu. tidak perlu datang bekerja lagi!"
"Ah!"
Mulut manajer restoran menganga lebar. Dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Jansen yang bertanya apakah dirinya mau dipecat.
Sekarang, dia benar-benar dipecat.
Dia pergi dengan senyum masam karena merasa tidak rela kehilangan pekerjaan.
Manajer restoran terkena getah akibat pertikaian antara Jansen dan Jordie. Pengamatan manajer restoran memang sangat lemah.
"Tuan Jansen? Tuan Jansen apanya?"
Jordie ingin melihat Jansen kehilangan muka, tapi hasilnya tidak sesuai keinginannya. Jordie pun memasuki Restoran dengan penuh kekesalan.
Jansen berjalan di belakang Jordie sambil menggelengkan kepalanya, "Kamu memang benar, aku tidak pantas dipanggil dengan sapaan "Tuan"!"
Jordie berhenti sejenak karena tak tahan melihat Jansen.
"Tuan Jansen, silakan!"
Pria paruh baya itu mempersilakan Jansen masuk.
Orang-orang di sekitar menjadi lebih penasaran. Siapakah pemuda ini? Kenapa dia begitu dihormati?
Saat sampai di lantai enam, suasana sudah sangat ramai. Semua tokoh-tokoh penting di Ibu kota juga datang menghadiri acara ini. Mereka sedang memberi ucapan selamat kepada Leimin.
Leimin sangat bahagia karena hari ini dia resmi naik jabatan menjadi Rektor Universitas Amerta.
"Kakak Ipar, akhirnya kamu datang juga!"
Naomi melihat Jansen datang dan berlari menemuinya.
"Panggil aku Tuan atau Guru!"
Jansen berkata dengan acuh tak acuh.
"Tidak bisa, ada banyak orang Keluarga Miller di sini!"
Naomi takut ditertawakan oleh anggota Keluarga Miller jika mereka tahu bahwa dia sudah berguru kepada orang yang mereka anggap pecundang.
"Kalau kamu tidak mau panggil aku Guru, besok kamu tidak perlu datang ke Aula Xinglin lagi!"
Jansen menuangkan segelas minuman untuk dirinya sendiri.
"Gu... Guru!"
Suara Naomi sangat kecil.
Orang-orang Keluarga Miller bingung ketika mendengar Naomi memanggil Jansen sebagai gurunya. Mereka pasti kecewa jika tahu Naomi benar-benar berguru kepada Jansen.
Semua tamu yang hadir berbondong-bondong menyerahkan hadiah kepada Leimin. Mereka semua benar-benar memberinya muka.
Hadiah-hadiah ini sangat berharga, ada batu giok, ornamen antik, dan perlengkapan kaligrafi yang langka.
Leimin adalah seorang intelektual yang menyukai seni kaligrafi dan lukisan. Semua orang tahu hal ini.
"Leimin, karena kamu hari ini naik jabatan, aku siapkan hadiah khusus untukmu!"
__ADS_1
Darius tiba-tiba berteriak, menarik perhatian seluruh tamu yang hadir. Darius memiliki hubungan yang paling akrab dengan Leimin dibandingkan dengan anggota Keluarga Miller lainnya.
Apalagi keduanya memiliki hubungan kerja sama.
Darius ingin membantu Leimin menjadi pemimpin keluarga berikutnya, begitu pula sebaliknya dengan Leimin.
Tentu saja, Darius juga sudah berubah pikiran sekarang. Darius beranggapan bahwa Jessica lebih cocok memimpin Keluarga Miller, tetapi dia masih belum berani berterus terang kepada Leimin.
Darius tetap berharap dukungan dari Keluarga Miller agar dirinya bisa menjadi pemimpin Keluarga Palmer kelak.
Anggota Keluarga Miller lainnya ikut merasa bangga melihat Darius berbicara karena bagaimanapun juga, Darius adalah orang penting dari Keluarga Palmer. Sebelumnya, Darius sangat jarang menghadiri acara seperti ini.
Ricky, cucu laki laki tunggal Keluarga Miller menatap Jansen dengan arogan.
Leimin tersenyum sopan dan berkata, "Darius, aku sudah bersahabat lama denganmu, kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan hadiah istimewa ini!"
"Tidak masalah, aku ingat tiga tahun lalu kita pernah jalan-jalan bersama ke Ciangshan. Saat itu, kamu pernah bilang kalau seandainya kamu bisa mendapatkan Karya Master Harvey, maka kamu akan mati tanpa penyesalan!"
Darius berkata demikian sambil diam-diam tertawa.
Sekujur tubuh Leimin gemetar. Orang yang paling dia kagum sepanjang hidupnya adalah Master Harvey. Dia bahkan mengidolakannya dengan membabi buta.
Namun, Master Harvey memiliki karakter eksentrik sehingga Karyanya pun sulit didapat dan sangat langka Saking langkanya, Karya Master bahkan tidak bisa didapatkan
dengan uang dan kekuasaan.
"Bagaimana? Hadiah saya lumayan, kan? Aku punya dua hadiah untukmu, ini aku kasih lihat yang satunya lagi!"
Darius terlihat percaya diri. Selama dia memenuhi keinginan Leimin, maka Leimin pasti akan mendukung dirinya saat pemilihan pemimpin Keluarga Palmer.
"Jordie!"
Darius berteriak memanggil putranya.
Jordie tersenyum datar dan membuka sebuah lukisan.
Ini adalah lukisan tinta, dan gaya lukisannya sederhana. Di dalam lukisan, terlihat seorang pemuda sedang memainkan pedang Hal yang paling menarik dari lukisan ini adalah konsep ilmu bela diri yang tercermin nyata dalam setiap goresan tinta lukisan ini.
Dilihat dari dekat, lukisan ini sangat megah.
Dilihat dari jauh, lukisan ini sangat elegan
"Ini adalah Karya Master Harvey. Astaga, Karya maestro seperti beliau ini sudah sangat langka. Di acara lelang internasional, lukisan Karyanya pernah terjual dengan harga ratusan juta yuan!"
"Selain itu, kemahiran Master Harvey juga sudah meningkat. Lukisan ini berbeda dengan lukisan yang beredar di pasaran karena telah ditambah unsur-unsur yang unik di dalamnya!"
"Itu adalah konsep artistik. Coba lihat pemuda yang berlatih pedang ini, ada kesan yang aneh dari lukisan ini!"
Orang-orang di sekitar ikut berkomentar.
Leimin terus mengamati lukisan ini dan memperlakukannya dengan hati-hati karena khawatir mengotori lukisan ini.
"Lukisan yang ajaib!"
Naomi juga paham tentang lukisan yang luar biasa ini.
Jansen menyesap minuman dan menggelengkan kepalanya, "Biasa-biasa saja!"
Jansen merasa terkejut karena pemuda di dalam lukisan ini adalah dirinya sendiri. Master Harvey melukisnya saat Jansen sedang berlatih pedang di tempat Master Harvey
Jansen bahkan menambahkan beberapa goresan pada lukisan ini.
__ADS_1