Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1433. Pergi Ke Rumah Baru


__ADS_3

" Jansen, apa kamu bertengkar dengan Elena? Aku lihat suasana hati Elena sepertinya sangat buruk!" Danial berkata.


Jansen hanya bisa mengangguk, "Dia ada sedikit salah paham, jadi dia marah!"


"Jangan salahkan dia juga. Belakangan ini dia kurang sehat dan sering pergi ke Aula Xinglin untuk memeriksakan kesehatannya. Ditambah kamu juga tidak ada di sini, jadi dia merasa marah!"


"Apa ada yang salah dengan tubuhnya? Kenapa dia tidak meneleponku?"


"Aku rasa kamu memiliki sifat yang keras. Pergi dan bujuk dia, sekalian lihat apa yang salah dengan tubuhnya!"


Dengan cepat Jansen berlari menuju kamar. Awalnya dia ingin mendorong pintu itu, tetapi dia menemukan kalau pintu itu dikunci dari dalam.


" Elena, ini aku!"


Jansen tidak punya pilihan selain berbicara, tapi setelah berteriak beberapa kali Elena mengabaikannya.


Jansen menghela napas dan terus berteriak di depan pintu. Butuh waktu setengah jam sebelum pintu itu terbuka. Sepertinya Elena sudah sedikit tenang.


Setelah Jansen masuk, dia buru-buru bertanya pada Elena ada apa dengan tubuhnya.


Elena berkata dengan dingin, "Bibi Sofia sudah memeriksaku, dia bilang ada tanda-tanda ancaman keguguran. Ada bercak darah di bawah, lalu dia meresepkan obat penguat kandungan untukku!"


"Ancaman Keguguran?"


Jansen mengerutkan keningnya dan dengan cepat memeriksa denyut nadi Elena.


Secara logika, janin Elena sudah hampir berusia tiga bulan. Seharusnya sudah berakar di rahim dan plasentanya juga stabil. Sebagian besar tidak ada tanda-tanda keguguran.


Tapi setelah memeriksa denyut nadinya, Jansen menemukan itu benar. Alasannya masih sama seperti yang terakhir kali, tubuh Elena terlalu bagus dan kemampuan penolakannya sangat kuat, itu membuat plasentanya sulit untuk berakar di rahimnya.


"Situasi ini memang agak merepotkan, tapi jangan khawatir, aku akan mencari solusinya!"


Jansen juga tidak menyembunyikan kondisinya.


Terlihat ada kekhawatiran di wajah Elena dan dia memikirkan di saat yang paling kritis Jansen tidak ada bersamanya. Dia kesal dan berkata, " Jansen kamu keluar dulu. Aku ingin menenangkan diri!"


"Oke, oke!"


Jansen sebenarnya ingin menemani Elena, tapi dia takut Elena akan marah, jadi dia hanya bisa pergi.


Setelah keluar Jansen menemukan kamar dan duduk di dalam untuk bermeditasi.


Karena kondisi Elena sangat istimewa dan bukan sesuatu yang bisa dimiliki orang biasa, saat ini Jansen belum memiliki solusinya.


Dia terus membolak-balik ingatan leluhurnya, ingin mencari resep obat penguat kandungan yang paling cocok untuk Elena.


Malam itu berlalu dengan tenang. Keesokan harinya semua orang di Keluarga Miller bangun pagi dan berkumpul untuk sarapan.


" Elena, Jansen mana?"


Renata melirik sekeliling dan bertanya.

__ADS_1


"Dia kembali ke rumah komunitas!"


Hari ini Elena merasa bersemangat.


"Sepertinya tidak, setelah Jansen keluar dari kamarmu kemarin dia tidak pergi. Kukira setelah itu dia kembali ke kamar!" Renata mengerutkan keningnya, lalu meminta Naomi untuk mencarinya di kamar lainnya.


Naomi segera berlari pergi dan berseru, "Kakak Ipar, kamu masih di sini. Kamu berada di sini dari kemarin sore, kamu duduk semalaman, 'kan?"


Di ruang tamu, hati Elena berdebar kencang. Apa Jansen duduk semalaman?


Tanpa sadar, dia merasa sedikit bersalah.


Karena dia terancam keguguran, dia merasa sangat khawatir. Di tambah Jansen tidak ada bersamanya. Tanpa sadar dia marah pada Jansen dan tidak membiarkan Jansen untuk masuk ke kamarnya. Tapi dia tidak menyangka Jansen akan duduk di kamar lain semalaman.


Saat ini Jansen juga berjalan keluar, dia terlihat sedikit lesu. Selama beberapa waktu ini dia sibuk mengurusi masalah dekorasi dan dia kembali mengkhawatirkan anaknya ketika dia kembali, mentalnya sangat terkuras.


" Jansen, apa yang kamu pikirkan di dalam kamar?"


Danial menuangkan segelas susu dan memberikannya kepada Jansen.


"Aku sedang memikirkan masalah ancaman keguguran Elena!" kata Jansen sambil tersenyum.


Ketika Elena mendengar ini, hatinya bahkan makin sedih. Dia selalu merasa Jansen tidak bertanggung jawab, tapi dia tidak mengira diam-diam Jansen akan bekerja keras memikirkannya.


"kamu tidak perlu memikirkannya sepanjang malam!"


Danial mengerutkan keningnya, "Apa kamu sudah makan malam kemarin?"


Jansen tertawa kering.


"Kamu adalah seorang dokter. Kamu harus tahu kalau manusia butuh makan!"


Danial dengan cepat mengambil beberapa roti untuk Jansen.


Jansen mengetahui keadaan tubuhnya sendiri, kesehatannya sangat baik. Bukan masalah besar kalau dia tidak makan satu atau dua kali. Dia berkata, "Oh ya, aku sudah mengurus rumah di selatan, kita bisa pindah kapan saja. Dan untuk perusahaan, aku sudah meminta Kak Natasha untuk bersiap-siap!"


Sebenarnya kemarin, dia sudah meminta Dragon Hall untuk pergi terlebih dahulu.


Selama Dragon Hall ada di sana, masalah lainnya akan jauh lebih mudah.


Meski keluarga Jansen besar, sebenarnya tidak perlu membawa banyak barang. Hanya perlu membawa keluarganya ke sana dan membeli barang-barang yang mereka butuhkan.


"Cepat sekali!"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi melihatnya siang ini!"


"Boleh juga, kebetulan tidak ada urusan di perusahaan hari ini!"


Naomi dan yang lainnya juga merasa tertarik.


"Biarkan Jansen yang menentukan!" Danial berkata.

__ADS_1


Jansen mengangguk dan memanggil Panah untuk mengatur pesawat pribadi. Selesai makan, Jansen pergi menjemput kakek dan bibinya.


Jam sepuluh pagi, semua orang masuk ke dalam pesawat. Seluruh pesawat itu penuh dengan orang dari keluarga mereka sendiri. Semua orang menyapa mereka dengan sopan dan itu sangat ramai.


" Jansen sangat hebat, bahkan semua Keluarga Miller bisa tinggal di selatan!"


"Kakek Herman, kudengar Jansen membeli rumah istana yang sangat cocok untuk ditinggali bersama oleh kedua keluarga kita!"


"Apa dua keluarga? Kita adalah satu keluarga!"


Orang dengan senioritas tertinggi yang hadir itu adalah kakek Herman. Dia dikelilingi oleh semua orang yang membuatnya tidak bisa berhenti tertawa.


Orang tua suka keramaian, apalagi suasana seperti ini seperti keluarga besar.


Dan Ayah dan Ibu Elena juga ada di sana. Mereka lebih akrab dengan Kakek Herman, jadi mereka menemani Kakek Herman mengobrol.


"Kakak ipar, kali ini aku akan pergi dengan tangan kosong. Kamu harus membelikan barang-barang untukku ketika kita sampai!"


kata Diana sambil memeluk lengan Jansen.


Naomi yang berada di sebelahnya tidak mau kalah dan ikut memeluk lengan Jansen yang lainnya, "Aku juga mau, aku cuma bawa satu stel baju. Aku tidak punya pakaian untuk dipakai!"


"Oke, semuanya boleh beli apa pun!"


Kebetulan Jansen mempunyai tiga ratus juta di tangan Keluarga Vindes, dia memberikannya kepada Patricia dan Cindy dua ratus juta. Sisanya seratus juta cukup untuk membeli semua barang.


Setelah mengatakan itu Jansen menatap Elena, dia menyadari meskipun Elena sedang berbicara dan tertawa dengan keluarganya, tapi pikirannya tidak fokus. Ini membuat Jansen diam-diam merasa tertekan.


Tampaknya Elena masih marah!


Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Baiyun. Armada mobil mewah sudah menunggu untuk membawa Jansen dan yang lainnya ke rumah istana.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di Rumah Istana Lilong!


Semua orang turun dari mobil dan menatap mansion klasik yang terlihat mewah dan indah, satu per satu semuanya terkejut.


"Mansion ini bahkan lebih indah dari rumah kita!"


"Benar, aku sangat suka pada pandangan pertama. Pasti sangat nyaman tinggal di sini!"


"Cepat masuk dan lihatlah!"


Renata dan yang lainnya sangat bersemangat.


Sebenarnya perasaan pribadi sangat penting untuk sebuah tempat tinggal, ini juga yang orang katakan seperti, langsung suka, pasti akan sangat nyaman untuk ditinggali.


Setelah masuk, sekali lagi mereka merasa tertarik dengan dekorasi rumah itu, klasik dan juga modern, cantik dan juga sederhana. Terutama bangunan melingkar di danau kecil di kejauhan, singkatnya itu hanya menyempurnakan seluruh bangunan rumah itu.


"Semuanya silakan lihat-lihat dan pilih kamar yang kamu sukai. Ruang tamunya tepat di depan kita!"


Melihat semua orang sangat menyukainya, Jansen juga merasa sukses di dalam hatinya. Tak sia-sia waktu setengah bulan baginya untuk mendekor rumah itu.

__ADS_1


Saat ini Elena juga tercengang. Dia tidak menyangka Jansen begitu perhatian pada keluarganya!


__ADS_2