
Di permukaan, kemampuan dia hanya berada di tingkat Bumi, tetapi sebenarnya telah mencapai tingkat surgawi menengah.
Meskipun Jansen adalah kandidat pertama Raja Prajurit, atau mungkin juga dia memiliki kemampuan tingkat surgawi awal, tetapi jelas ia tidak cemas akan dirinya!
Plak!
Kedua telapak tangan bertemu, dan kekuatan Energi Qi mengeluarkan percikan api yang besar.
Paman Bonnie merasakan kekuatan besar yang datang hingga tubuhnya tidak bisa mengendalikan dan membuat tubuhnya terlempar terbang. Dia menghantam tanah dan
memuntahkan darah.
"Kamu, bukan peringkat Surgawi awal!"
Dia terkejut!
Pertemuan sebelumnya membuat dia merasa bahwa Jansen mungkin telah mencapai tingkat langit tinggi!
Karena energi Qi nya terasa tidak ada apa-apanya ketika menghadapi Jansen.
Saat ini, dia mendadak mempercayai perkataan Jansen.
Mungkin keempat belas orang yang ada dalam daftar memang telah mati di tangan Jansen!
Jansen memiliki kemampuan seperti itu!
Sepertinya Jansen mengetahui kode rahasia tersebut, semua karena keempat belas orang tersebut.
"Tunggu, Jansen, aku tidak membunuh Kakek Miller. Aku benar-benar tidak tahu tentang ini!"
"Kemungkinan Danial tidak mati!"
"Kalau kamu melepaskanku, aku akan menjelaskan semuanya pada Keluarga Miller. Aku akan membuktikan kalau kamu tidak bersalah!"
Paman Bonnie masih mencoba membela diri, tubuhnya terus bergerak mundur.
Tetapi di tempat seperti ini tidak akan ada yang bisa membantunya sama sekali. Yang paling mengerikan adalah Jansen tidak berniat mencari bukti apa pun. Dia hanya ingin membunuh sang pelaku!
Ini merepotkan sekali!
Brak!
Di waktu yang bersamaan, pintu kuil ditendang oleh seseorang, kemudian cahaya dari lampu senter mengenai tubuh Jansen.
"Jansen, angkat tanganmu, kamu ditahan!"
Suara itu mengejutkan Jansen dan Paman Bonnie, karena suara itu milik Elena!
Elena mengarahkan senjatanya pada Jansen, tatapannya seperti baru pertama kali melihat Jansen.
Pria di depannya ini tidak lagi seperti saat di Kota Asmenia dulu. Dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja lulus dari universitas. Tetapi sudah lama menginjak dunia yang mendalam dan
berpengalaman, mata lelaki itu sangat dalam dan banyak perubahan serta dingin.
Jansen yang seperti ini membuat Elena merasa semakin asing!
Bahkan, setelah Kimberly meninggal, dia juga memeriksa latar belakang Kimberly dan menemukan bahwa semua itu terkait dengan Jianghu. Dia teringat lagi pada Jansen, sehingga dia mengikuti Jansen secara diam-diam.
Karena dia gagal dalam mengikuti, kali ini dia merubah cara yang lain.
__ADS_1
Hasilnya adalah dia melihat kejadian di hadapannya.
"Nona Ketiga, akhirnya kamu datang ke sini. Jansen ingin membunuh untuk melenyapkan bukti!"
Teriak Paman Bonnie seperti melihat sang penyelamat.
"Jansen mengatakan bahwa aku satu-satunya saksi, jadi dia mau membunuhku!"
"Apalagi Darwin, mantan anak buahnya Kakek sudah meninggal semua. Jansen juga yang membunuh mereka!."
"Jansen pasti orang yang membunuh Kakek!"
Setiap kali dia mengucapkan sesuatu, wajah Elena akan ikut berubah. Dia menatap Jansen dingin dan berkata, "Jansen, kamu masih berani bilang kalau kamu tidak bersalah?!"
Jansen benar-benar tidak menyangka Elena akan datang. Dia mengabaikan perempuan itu dan berencana membunuh Paman Bonnie terlebih dahulu.
"Berhenti!"
Melihat Jansen mulai bergerak, Elena langsung berseru dingin, "Aku akan menembak kalau kamu bergerak lagi!"
"Elena, kamu mau membunuhku?"
Suara Jansen terdengar sangat berat.
Meskipun dia tahu bahwa Elena sedang melakukan perlawan, dia tidak menyangka Elena akan menodongkan pistol padanya!
Semua yang terjadi di Kota Asmenia dan Ibu kota, saat ini terpatri dalam hati.
Apakah pasangan ini harus sampai pada titik saling bertengkar?
Mendengar suara Jansen, muncul pergulatan di wajah Elena.
"Nona Ketiga, jangan dengarkan omong kosongnya. Kamu tidak memikirkan ayah dan kakek mu? Lihat juga bagaimana keadaan Keluarga Miller yang sekarang karena ulahnya!"
Jansen sudah tahu jika dia adalah pembunuhnya, dia ingin sekali Jansen terbunuh.
Tentu saja, dia juga punya keinginan di dalam hatinya.
Pertama kali melihat lelaki ini saat di Kota Asmenia. Ketika itu, dia mengikuti Jessica yang mau membawa Elena. Tetapi dihentikan oleh pria ini. Kekuatannya sangat rendah hingga tidak untuk layak dibahas!
Tapi setengah tahun kemudian, pria ini sudah berdiri di posisi yang begitu tinggi!
Yang lebih menakutkan adalah apa yang dilihatnya hanyalah sedikit saja. Pria ini menyembunyikan banyak kemampuan dan keterampilan yang tidak bisa dia lihat!
"Jansen, menyerahlah. Di belakangmu sudah jurang!"
Elena mengertakkan gigi dan berseru lagi.
Jansen berhenti berjalan dan berkata dengan suara yang rendah, "Sampai saat ini kamu masih mengira aku adalah pembunuhnya?"
"Bukankah memang benar?"
Elena bertanya dengan dingin, "Lalu mengapa kamu mau membunuh Paman Bonnie di tengah malam? Apakah kamu juga yang membunuh Kimberly?"
"Aku melakukan sesuatu yang bisa diterima oleh hati nuraniku!"
Jansen berseru dengan dingin, "Malam itu, karena keraguanku, aku tidak berjanji pada Kakek Miller dan menyebabkan beliau meninggal. Aku merasa bersalah, jadi aku mau membalaskan dendamnya sebagai bentuk rasa keadilan dan berterima kasih padanya karena sudah menghargai dan percaya padaku!"
"Kamu masih ingin berpura-pura!"
__ADS_1
Elena sama sekali tidak percaya. Ia malah semakin merasa tidak bisa menebak Jansen.
Jansen juga ikut campur dalam urusan Jianghu!
Calon utama Raja Prajurit juga diketahui oleh Elena setelahnya!
Selain itu, ada banyak sekali dokter jenius yang kerap disebut oleh Kakek Miller, Keluarga Carson dan Keluarga Palmer!
Hanya bisa menunjukkan bahwa Jansen telah menyembunyikannya terlalu rapat.
"Aku tidak berpura-pura. Hanya saja kamu tidak percaya dengan semua yang aku katakan. Sebaliknya, kamu malah mendengar kan semua ucapan orang lain!" kata Jansen dengan datar.
"Kalau begitu katakan padaku. Hari ini, aku akan
mendengarkan penjelasanmu!"
Lagipula Elena tidak ingin Jansen berada di jalan yang salah. Dia ingin memperjuangkan kesempatan terakhir untuk Jansen!
Jansen berbalik melihat dan berkata dengan
sungguh-sungguh, "Baik, aku akan bilang. Malam itu Kakek Miller mencariku karena ingin menyerahkan Keluarga Miller padaku. Sedangkan Kimberly adalah salah satu pembunuh yang membunuh Kakek Miller begitu pun Paman Bonnie, oleh karena itu aku ingin membalaskan dendam beliau!"
"Jansen, aku memintamu untuk menjelaskan, bukan untuk mendengarkan kata-kata omong kosongmu!"
Elena tidak bisa menahan diri untuk tidak menyela, "Bagaimana mungkin Kakek Miller menyerahkan Keluarga Miller kepada mu!"
"Selain itu, memangnya Kimberly dan Kakek Miller
kemungkinan ada hubungan apa? Dia bahkan tidak mengenal Kakek."
"Ini adalah penjelasan kamu. Jangan katakan itu semua mengada-ada, keterlaluan sekali!"
Pantas saja dia tidak percaya. Bagaimanapun, ini adalah dua garis paralel, dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk saling berhubungan.
"Sudah kubilang, aku sudah menjelaskan. Kamu tidak akan bisa percaya!"
Jansen terlihat kecewa. Dia ingin mengeluarkan kalung itu untuk membuktikannya, tapi setelah dipikirkan kembali, dia memutuskan untuk membiarkannya. Kalung itu memiliki harta Karun Kultivasi, Paman Bonnie tidak boleh mengetahuinya. Meskipun sudah dikeluarkan, kemungkinan Elena tidak akan mempercayainya, dia juga tidak akan menyangka kalau kalung itu ada hubungannya dengan ramuan gen!
"Daripada menjelaskan, lebih baik melakukan sesuatu yang lebih pasti!"
Jansen menatap Paman Bonnie lagi. Sebuah jarum perak muncul di tangan kanannya dan dilemparkan keluar!
Sret!
Jarum perak mendarat di tubuh Paman Bonnie dan dia menjerit histeris.
Bruk!
Tetapi suara tembakan terdengar dan mengenai bahu Jansen, menyebabkan pupil mata Jansen mengembun.
Jansen bisa menghindari tembakan tersebut, tapi dia tidak menghindarinya!
Karena dia tahu Elena yang menembakkan pistolnya!
Elena adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang bisa menembaknya.
Darah terus menetes. Jansen perlahan berbalik dan melihatnya. Matanya terlihat dingin.
Elena memegang pistol, matanya tampak bergetar. Dia tidak tahu mengapa dia menarik pelatuk, tapi dia tidak bisa melihat Paman Bonnie terbunuh.
__ADS_1
Dengan hatinya yang sedikit kacau, Elena berteriak, "Jansen, jangan memaksaku. Aku tidak ingin membunuhmu. Pergi dan serahkan dirimu!"
Jansen terdiam dan hanya menatap Elena.