
"Baiklah kalau begitu."
Jansen tidak enak untuk menolak mereka. Jadi, Jansen pun membawa beberapa orang ini masuk ke dalam Aula Xinglin.
"Jansen sudah pulang?"
Kakek Herman beranjak keluar dengan gembira. Namun, dia terkejut saat melihat Ernest Alfie beserta yang lainnya.
“Kakek, mereka datang untuk belajar. Nanti, kalau ada masalah di Aula Xinglin, biarkan mereka yang menyelesaikannya," kata Jansen.
Kakek Herman mengetahui status Ernest Alfie beserta yang lainnya. Melihat kehadiran Dokter Ernest Alfie dan yang lainnya, Kakek Herman merasa tegang.
Begitu melihat kakek, Jansen tahu apa yang sedang dipikirkannya. Jansen pun berkata sambil tersenyum, "Mereka tulus ingin belajar. Mereka ingin belajar dari dasar. Jadi, jangan mengecewakan mereka!"
Kakek Herman hanya bisa menganggukkan kepala.
"Ayah, apakah tanaman poria sudah selesai dijemur? Masih ada codonopsis yang harus dipotong."
Suara Sofia terdengar dari dalam.
"Aku saja."
"Aku saja!"
Dokter Ernest Alfie dan dokter Alfred berebut untuk mengerjakan tugas ini.
"Aku juga mau."
Dokter Timothy juga tidak mau kalah.
"Apakah ini Aula Xinglin?"
Di saat bersamaan, suara yang keras terdengar dari luar. Kemudian, beberapa pria yang mengenakan jas hitam tampak berjalan masuk
"Minggir!"
Semua pasien yang sedang mengantri, diusir oleh mereka.
Seorang wanita yang mengenakan jaket merah dan dandanan tebal berjalan masuk.
Wanita itu membawa tas Chanel dan mengenakan jam tangan terkenal. Semua yang dikenakannya terlihat mahal.
"Siapa bosnya di sini?"
Dia berkata dengan datar. Nada bicaranya terdengar sedikit sombong.
"Apakah kamu datang untuk berobat? Silakan antri!"
Mulin menghampiri wanita itu sambil mengerutkan kening.
"Siapa bilang aku datang untuk berobat? Justru aku datang untuk mengobati kalian sekeluarga."
Wanita itu menegur Mulin. Umurnya tidak tua, tapi dia terlihat sangat bermartabat, "Aku tanya, apakah Aula Xinglin yang membuat Anggur Baimo?"
"Benar, Aula Xinglin yang membuatnya." Mulin mengerutkan kening.
“Kalau begitu benar. Kakekku memerintahkan untuk membawa seratus botol Anggur Baimo. Sekarang, cepat keluarkan!” Wanita itu menganggukkan kepala.
"Kamu sudah gila? Apakah kamu tahu Anggur Baimo terbuat dari obat obat herbal apa? Ditambah, anggur itu juga sangat laris di pasaran. Kamu mau seratus botol?" Mulin memelototi wanita tersebut.
__ADS_1
Wanita itu mendengus dingin, "Kalau anggur itu adalah anggur biasa, apakah aku masih perlu mencarimu? Cepat, keluar! Aku mau 100 botol."
Mulin marah sampai gemetaran. Mereka tidak punya stok sampai seratus botol.
"Cepat! Jangan malah bergumam di sana!"
Melihat Mulin yang tidak bergerak, wanita itu mendorong Mulin sampai jatuh ke lantai.
"Siapa orang itu? Angkuh sekali!"
Dokter Ernest Alfie tidak tahan melihat sikap wanita itu. Mereka juga tahu, bahkan kalangan atas saja, sulit membeli Anggur Baimo. Kabar ini telah tersebar luas dan sekarang orang ini malah mau membeli seratus botol? Memang dia kira anggur itu seperti sayuran di pasar?
Apalagi, wanita itu sampai main tangan. Tidak tahu aturan!
"Aku adalah Ernest Alfie, Kepala Pengobatan tradisional Nasional."
Dokter Ernest Alfie berkata dengan dingin, "Tolong segera pergi dari sini, atau kami akan memanggil polisi!"
"Ternyata dokter Ernest Alfie."
Begitu mendengar nama dokter Ernest Alfie, wanita ini tetap bersikap meremehkan, "Kamu cuma seorang dokter. Tidak perlu berlagak seperti ini! Kalau masih omong kosong, kamu pun akan aku bereskan."
Chris dan adik seperguruan langsung beranjak keluar. Mereka berdua terlihat muram dan berencana untuk maju, tapi Jansen menghentikan mereka.
"Kami berasal dari salah satu Vajra Agung, orangnya Tuan Dean. Kalau tidak mau mati, dengarkan perintahku dengan patuh. Kalau tidak, aku akan membunuh kalian. Lihat saja siapa yang berani menolong kalian."
Wanita itu terus mencibir. Dia istri Tuan Dean. Setelah mengetahui identitas wanita ini, mereka baru tahu kenapa dia bersikap begitu angkuh.
Dokter Ernest Alfie dan Aula Xinglin memang memiliki keterampilan medis yang hebat, tapi mereka tidak cukup hebat dan kaya.
Raut wajah semua orang langsung berubah. Di Ibu kota, siapa yang tidak mengenal Vajra Agung?
"Kamu yakin mau anggur itu? Apakah kamu tahu siapa yang memesan anggur itu?”
Saat ini, perlahan-lahan, Jansen berjalan keluar.
"Aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang memesannya. Aku mau 100 botol, Tuan Dean mau minum." Wanita itu memelototi Jansen yang berjalan mendekat, "Kamu bos di sini? Masih tidak mau mengambil anggurnya? Kalau Tuan Dean senang, aku jamin bisnismu akan mulus. Kalau kamu berani menolak, kamu tidak akan bisa bertahan di Ibu kota."
"Pertama kalinya aku mendengar seseorang berbicara seperti ini kepadaku."
Jansen menghela napas dan menggelengkan kepalanya, "Boleh saja kalau kamu mau anggur itu. Katakan, kamu gunakan untuk apa?”
"Tuan Dean menderita rematik. Aku dengar, anggur itu bisa menyembuhkan penyakit rematik. Apakah itu benar?"
"Benar, anggur itu memang bagus untuk rematik."
Wanita itu segera menganggukkan kepalanya dengan acuh, "Baguslah. Kamu membuat anggur itu memang khusus digunakan untuk menyembuhkan rematik. Tuan Dean sedang rematik, dia harus meminum anggur yang kamu buat. Cepat, keluarkan!"
Jansen tidak bisa berkata-kata. Pertama kalinya Jansen mendengar ada yang berbicara se arogan ini kepadanya.
"Boleh saja. Harganya disesuaikan dengan harga pasar."
"Itu mudah, aku akan membayar 10 kali lipat dari harga pasar."
Wanita itu melambaikan tangan kepada orang di belakangnya, lalu mengeluarkan selembar cek, "satu juta apakah itu cukup?"
"Satu juta! Kamu sudah gila?"
Mulin melotot, "Satu botol saja puluhan ribu yuan. Bagaimana mungkin?"
__ADS_1
"Kamu berani memarahiku?"
Wajah wanita itu berubah menjadi dingin. Dia menendang Mulin dengan menggunakan satu kaki, lalu berkata, “Tuan Dean menyukai anggur kalian. Dibayar saja sudah bagus, beraninya kalian masih mengeluh. Jangan lupa, setelah kalian menjual anggur itu kepadaku, Tuan Dean akan melindungi kalian. Perlindungan itu sangat mahal!"
"Sudah dua kali kamu memukul orang di Aula Xinglin."
Jansen mengerutkan kening.
"Apa yang salah dengan memukul orang? Ckckck.
"
Wanita itu berdecak sambil tertawa, seolah sedang menertawakan kebodohan Jansen. Sudah bagus Tuan Dean tidak mmebunuh orang. Setelah puas tertawa, wanita itu kembali berbicara dengan dingin, "Memangnya aku tidak bisa memukulmu juga? Kalau masih omong kosong, aku akan menghancurkan tempatmu ini!"
"Aku rasa, kamu tidak bisa memukulku."
Kemarahan Jansen sudah menyulut. Dia langsung menendang wanita itu keluar.
Dang!
Tendangan Jansen melayang ke perut wanita tersebut. Wanita itu langsung terhempas dan menghantam tembok. Beberapa tulangnya sampai patah.
"Kamu berani memukulku? Apakah kamu tahu siapa aku?"
Wanita itu menghantam tembok, lalu berteriak, "Hajar dia! Bunuh dia! Aku yang akan tanggung jawab."
Raut wajah pria berjas hitam terlihat sangat dingin dan diselimuti dengan kemarahan. Orang-orang ini terlihat bukan orang baik. Mereka pasti pernah membunuh orang.
Semua pasien ketakutan melihat pria berjas hitam. Semua pasien langsung berbondong-bondong keluar dari Aula Xinglin.
“Aku peringatkan, kakimu itu harus membayar harga yang sangat mahal!"
"Meskipun kamu berlutut dan memohon ampun, itu juga tergantung apakah aku mau berbelas kasihan kepadamu."
"Kamu tidak melihat pentingnya masalah ini? Tanpa sadar, kamu sudah membuat masalah yang besar!"
Wanita itu terus marah-marah.
Jansen memindahkan sebuah kursi dan duduk, lalu berkata dengan tenang, "Aula Xinglin dibuka untuk kepentingan rakyat. Aula Xinglin bukan kilang anggur. Terlebih, tempat ini bukanlah tempat yang bisa menerima orang berbuat semena-mena. Kamu membuat keributan di sini, sama saja dengan mengganggu pengobatan pasien. Oleh karena itu, meskipun membuat masalah besar, aku juga tidak takut."
"Oh iya, masalah Tuan Dean bukanlah masalah yang paling besar."
"Chris, patahkan kaki dan tangan orang-orang itu, lalu buang keluar. Jangan sentuh wanita ini, biarkan Tuan Dean yang datang menjemputnya."
Ketika wanita itu mendengarnya, dia pun berteriak, "Kamu berani?"
Chris dan adik seperguruan keluar dan menyerang pria berjas hitam.
Kemampuan pria berjas hitam tidaklah buruk. Sayangnya, mereka bertemu dengan ahli bela diri.
Hasilnya tidak perlu diragukan lagi. Dengan banyak pasang mata yang terkejut, kaki dan tangan pria berjas hitam patah serta dibuang keluar dari Aula Xinglin.
"Bagus!"
Semua orang bersorak di luar Aula Xinglin.
Dokter Ernest Alfie dan beberapa guru lainnya juga tersenyum. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Wajah mereka kembali terlihat cemberut.
Mereka pernah mendengar tentang Tuan Dean. Dengar-dengar, orang yang berada di balik Tuan Dean sangat kuat. Ada orang berkuasa yang menyokongnya.
__ADS_1
Tentu saja, mereka hanya dengar-dengar. Bisa saja semua itu hanya rumor.