Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1438. Mencari Masalah


__ADS_3

"Aku tidak percaya kamu berani membunuhku. Sebagai orang dari Ibu kota, bahkan jika kamu terkenal atau kaya, ini tetaplah wilayah selatan!"


Ghalinus menanggapinya dengan suara dingin.


Jansen sedikit terkejut, "Sepertinya, kamu benar-benar tahu siapa aku, ya. Menarik sekali. Kamu masih berani memprovokasi ku meskipun kamu sendiri sudah tahu siapa aku? Itu idemu sendiri, atau ada orang lain yang menyuruhmu melakukan ini?"


"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Aku tahu namamu adalah Jansen. Kamu memiliki banyak koneksi di Ibu kota, tetapi apakah itu berguna bagiku?"


Ghalinus tiba-tiba tersenyum kaku, seolah-olah sedang merasa puas dengan situasi sekarang, "Aku tidak percaya kamu berani membunuhku. Kamu hanya sedang menggertak saja!"


Jansen tiba-tiba menekan Ghalinus ke bawah. Seluruh tubuhnya terbang keluar dari atap. Jansen langsung kembali meraih kerah Ghalinus.


Dahi Ghalinus berkeringat dingin, tetapi cibirannya tetap tidak berubah. "Lepaskan, lepaskan saja kalau kamu memang begitu hebat!"


"Tiba-tiba, aku berubah pikiran. Aku penasaran siapa yang ada di belakangmu. Katakan padaku!" tanya Jansen.


"Apa menurutmu berguna untuk mengancamku? Kalau kamu memiliki kemampuan, biarkan aku pergi. Selama aku tidak mati hari ini, kamu dan teman-temanmu pasti akan menderita!"


Melihat Jansen tidak membiarkannya pergi, Ghalinus makin yakin bahwa Jansen tidak berani membunuhnya. Ini semua hanya untuk menakutinya!


Sedari kecil, Ghalinus sudah tidak takut dengan apa-apa!


"Kamu terlalu menganggap dirimu itu penting. Tak usah sebut soal wilayah selatan, bahkan di seluruh Huaxia pun, keberadaan mu tak lebih dari cecunguk kecil saja. Sebut saja Empat Raja Surgawi dari Ibu kota, Master Dunia Jianghu, mereka semua bisa menelanmu bulat-bulat. Aku jadi merasa iba padamu, orang-orang pesuruh mu itu bahkan tidak tahu orang semacam apa yang telah mereka singgung!" Jansen menggelengkan kepalanya.


"Hahaha!"


Ghalinus tertawa keras dan memuntahkan darah dari mulutnya, "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu katakan, tetapi orang di belakangku itu, mereka benar-benar sangat berkuasa. Cukuplah. Kamu memang sangat hebat, tapi wilayah selatan ini hanya kaki tangan mereka saja. Tidak ada apa-apanya. Jangan lupa kalau kita adalah masyarakat hukum, kalau kamu sampai membunuhku, kamu yang merasakan sendiri akibatnya!"


"Biar aku ingatkan lagi. Selama aku tidak mati, keluargamu pasti akan menderita. Besok, aku akan mengirim seseorang ke rumahmu untuk menyipratkan darah anjing. Lusa, aku akan diam-diam menangkap temanmu dan menjualnya ke Asia Tenggara untuk 'ditunggangi' oleh orang!"


"Hahaha!"


"Ayo, bunuh aku!"


Tatapan Jansen makin taja. Dia merasa sedikit terkejut.


Dia berpikir bahwa Ghalinus hanyalah seorang bos gengter. Ternyata dia adalah seorang pesuruh yang dipercayakan oleh seseorang untuk mencari masalah dengan Jansen. Jansen masih tak menyangka bahwa Ghalinus akan setangguh ini!


"Sangat bagus. Aku, Jansen, telah mengalahkan para penguasa di Ibu kota. Kemampuan beladiri nya juga tak kalah hebatnya. Kamu adalah orang awam pertama yang berhasil mengejutkanku!" Jansen mengangguk-anggukkan kepalanya, "Bagaimana ini, mari kita bertaruh apakah aku bisa melepaskanmu atau tidak. Apa kamu berani?"


"Baiklah, aku akan mempertaruhkan nyawaku. Kalau aku kalah, hidup ku akan menjadi milikmu. Tapi kalau kamu kalah, keluargamu akan sial!"


Ghalinus mengeluarkan senyuman pilu, tetapi terlihat tatapan mata yang penuh akan kegilaan.


Begitu mengatakannya, Jansen langsung melepaskannya. Kali ini benar-benar melepaskan Ghalinus!


Tubuh gemuk Ghalinus terjatuh dan dia masih memasang senyum menyeramkan di wajahnya.


Ia benar-benar tidak menyangka Jansen akan melepaskannya!

__ADS_1


Lagi pula, ini sama saja dengan pembunuhan!


Jansen baru saja membiarkannya terjatuh. Hal terakhir yang Ghalinus lihat adalah Jansen yang sedang memandang padanya dan mencibir dari atas atap itu.


"Kamu sudah kalah taruhan!"


Meski tidak mendengar suara Jansen, Ghalinus masih melihat mulut yang terdiam itu dengan jelas.


Gubrak!


Tubuh gemuk itu menghantam lantai dasar dari ketinggian 18 lantai. Darahnya langsung berhamburan ke mana-mana. Yang mati, takkan lagi bisa mati.


Di lantai bawah itu terdapat banyak sekali bar. Sekali tubuh Ghalinus jatuh ke tanah, seluruh pejalan pun terkejut.


Beberapa orang masih berada di atap, seketika gemetaran melihatnya.


Mati!


Bos mereka, Bos Ghalinus, sudah mati!


Jansen melirik dan mengabaikan mereka. Ia menuruni tangga dan pergi dari atap sana. Dalam perjalanan, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "Panah, terus periksa orang yang bernama Ghalinus itu untukku. Kurasa ada sesuatu yang salah!"


Awalnya, Jansen mengira gangster ini yang membuat masalah dan Jansen ingin membujuk gangster ini untuk melakukan sesuatu untuknya!


Namun, sekarang Jansen merasa bahwa semuanya pasti sudah direncanakan sebelumnya.


"Tuan Jansen, menurut informasi yang aku periksa pagi ini, Ghalinus adalah penjahat buronan kelas A dengan nama resmi Rayson. Meskipun dia telah dibersihkan, catatan kriminalnya masih ada!"


Jansen mengangguk, "Periksa perusahaannya untukku dan lihat sumber dana dan orang di baliknya!"


Setelah panggilan telepon diakhiri, Jansen pun turun ke bawah. Ia melihat ada kepanikan di sini. Orang-orang berkumpul di kejauhan untuk mengambil foto dan mengunggahnya ke internet.


Para murid milik Ghalinus berkumpul di sebelah dan berteriak memanggil ambulans.


Jansen berjalan mendekat dan menendang salah satu dari mereka, "Apa kalian punya mobil? Antarkan aku pulang!"


"Pergi dari sini! Tidakkah kamu melihat Bos Ghalinus sudah mati?"


Pria itu kembali berbalik dan memarahi Jansen, namun setelah melihat Jansen dengan jelas, jiwa ketakutannya meledak.


Bagaimana Bos Ghalinus bisa mati? Meskipun dia tidak menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, pasti ini semua ada kaitannya dengan pemuda ini.


Yang menakutkannya lagi, biasanya setelah membunuh, sang pembunuh pastinya akan lari jauh-jauh. Pria ini justru berjalan mendekati mereka dan meminta agar mereka mengantarkannya pulang. Berani sekali mengatakan hal seperti itu di depan sesosok jasad.


"Apa yang kamu lamunkan? Jawab pertanyaanku!"


Jansen sudah tak sabaran melihat orang itu tidak menjawabnya.


"Iya, bisa!"

__ADS_1


Pria itu mengangguk ketakutan.


"Tidak!"


Seseorang di sampingnya berteriak dengan marah, "Dia membunuh Bos Ghalinus, panggil polisi dan tangkap dia!"


"Kamu mau antarkan aku pulang atau tidak?!"


Jansen menatap lurus ke arah pria yang berbicara.


Pria itu merasa bimbang di hatinya. Tanpa sadar, dia kembali menundukkan kepalanya dan tidak berani berbicara lagi.


Tak lama kemudian, sebuah BMW melaju dan pintu dibuka untuk Jansen masuk ke dalam mobil.


Setelah BMW pergi, murid Ghalinus masih terdiam di sana. Orang macam apa dia itu?


Tidak lama kemudian, polisi datang dan mulai menanyakan kasus ini.


Semua murid Ghalinus langsung menunjuk Jansen dan memberi tahu alamat Jansen..


"Dari penyelidikan awal, ini adalah kasus pembunuhan. Alamat pembunuhnya juga sudah ada. Segera tangkap dia!"


Polisi meninggalkan beberapa orang untuk melindungi tempat kejadian dan mengendarai mobil polisi ke Rumah Istana.


Setelah Jansen sampai di rumah, dia memasuki ruang tamu dan melihat semua orang Keluarga Miller ada di sana. Elena juga sedang bersama mereka menonton TV.


"Jansen, bagaimana keadaannya?"


Elena berbalik untuk bertanya. Dia tampak tidak khawatir sama sekali.


"Ada beberapa masalah. Orang itu dibunuh olehku!"


Jansen tersenyum dan berkata, "Tapi itu bukan masalah besar. Aku kira itu akan diselesaikan dalam beberapa hari!"


"Kamu membunuhnya? Tapi mereka bukan orang dari Dunia Jianghu!"


Elena mulai benar-benar merasa sedikit gugup sekarang.


Ada aturan di Dunia Jianghu. Jika dia terbunuh, tidak ada yang akan memanggil polisi untuk menanganinya. Namun, Ghalinus adalah orang dunia sekuler. Setelah kematiannya, dia pasti akan memiliki tangannya dan berakhir. Selain itu, Ghalinus memiliki banyak kontak di Yanba dan banyak orang membela dia.


"Jansen, kenapa kamu tidak meninggalkan Kota Yanba terlebih dahulu!"


Danial pun berkata dengan gugup.


"Jangan khawatir, aku sudah meminta seseorang untuk menyelesaikannya, dan kurasa ini adalah sebuah konspirasi. Seseorang dengan sengaja mengincarku!" Jansen masih tampak cuek dengan hal ini.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Jansen, semua orang merasa lega. Lagi pula, menantu mereka bukan orang biasa.


Pada saat yang sama, suara mobil polisi datang, dan seseorang mengetuk pintu.

__ADS_1


Jansen berjalan keluar bersama semua orang dan melihat seorang polisi berdiri di luar gerbang. Ia berkata dengan samar, "Bolehkah aku bertanya? Apakah namamu Jansen? Apa kamu pergi ke gedung Klub Nyanyi Ria malam ini? Seseorang menyaksikan kamu mendorong seorang pria bernama Rayson Costa dari lantai 18. Kasus ini telah diklasifikasikan sebagai kasus pembunuhan oleh petugas kami. Orang yang bernama Jansen adalah tersangka utamanya. Kami ingin membawanya untuk membantu penyelidikan!"


__ADS_2