Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 469. Master Sejati!


__ADS_3

Swish!


Tuan Hilton tidak menghiraukan perkataan Kenzo dan langsung mengeluarkan senjata lalu berkata kepada Jansen, "Aku sudah lama sabar denganmu. Aku sebenarnya juga sudah memberimu satu kali kesempatan, tapi kamu sendiri yang pergi dengan kecewa. Modusmu sekarang sudah semakin hebat, sebentar kucing, sebentar bakar uang kertas. Kamu bisa membohongi Kenzo, tapi kamu tidak bisa membohongiku! Keponakanku jelas sedang sakit, tapi kamu bilang rohnya kabur. Sekarang rohnya apa sudah pulang kembali? Orangnya apa sudah siuman?"


"Jadi, kamu anggap omonganku ini hanya gurauan?"


Sambil berkata demikian, tuan Hilton memegang senjatanya.


"Ayah, Paman Hilton, apa yang sedang kalian lakukan di sini?"


Tiba-tiba terdengar suara lembut dari gadis di dalam mobil yang baru siuman.


Semua orang terdiam kebingungan.


Tangan tuan Hilton yang sedang memegang senjata terus gemetar.


Gadis itu benar-benar siuman.


"Harusnya ini cuma kebetulan!"


Tuan Hilton yang berbicara sendiri merasa tak percaya.


"Lho? Kakak, kamu masih di sini. Terima kasih karena tadi telah membawa Mia menemukan kucing itu. Di sini lebih hangat daripada di dalam hutan!"


Gadis di dalam mobil itu berteriak lagi sambil tersenyum manis.


Tadi?


Di dalam hutan?


Semua orang akhirnya paham apa maksudnya.


Jansen tadi baru saja keluar dari dalam hutan. Lantas apakah Jansen benar-benar membawa kembali roh Mia?


Selain itu, Mia baru pertama kali berjumpa dengan Jansen dan tak mungkin langsung bisa mengenali Jansen seketika dirinya siuman.


Tuan Hilton yang awalnya merasa was-was lalu menyimpan kembali senjatanya diam-diam.


"Terima kasih, Saudara Jansen!"


Kenzo memeluk putrinya dan berterima kasih kepada Jansen dengan penuh hormat.


"Antar putrimu pulang, tubuhnya sangat lemah, dia tidak cocok berada di sini!" melihat Mia yang polos ini kembali sadarkan diri, Jansen pun merasa sangat senang.


Kenzo berterima kasih lagi kepada Jansen dan menyuruh sopir segera mengantar Mia pulang.


"Saudara Jansen, boleh bicara sebentar?"


Tuan Hilton tiba-tiba menghentikan Jansen.


Kenzo ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi mengatakannya. Kenzo tahu kalau Hilton pasti akan buat perhitungan dengan Jansen karena telah menyelamatkan Mia.


Jansen melirik Hilton dari belakang dan berjalan perlahan mengikutinya.


Hilton berjalan di depan sambil merokok diikuti oleh dua orang pengawal yang merupakan ahli bela diri.


"Saudara Jansen, aku mau minta maaf karena telah bersikap lancang tadi!"


Tuan Hilton menghentikan langkah dan berdiri di samping sebuah batu besar sambil merokok lalu berkata dengan sinis, "Namun, aku tak peduli kamu ini punya keahlian atau tidak. Kenzo ini adalah saudaraku sehidup semati. Aku tak akan biarkan siapa pun itu bisa menipunya!"

__ADS_1


Tuan Hilton beranggapan Jansen adalah seorang pecundang yang ingin mendekati Kenzo dengan maksud tertentu.


"Apa kamu sedang mengancamku?"


Jansen tersenyum sinis setelah paham maksud perkataan Hilton.


"Ini bukan ancaman, hanya mengingatkan karena aku lihat kamu ini punya kemampuan menjadi seorang penipu ulung. Namun, kemampuanmu itu tidak akan cukup bila harus menipu kami yang sudah kenyang pengalaman ini!"


Tuan Hilton berkata dengan nada datar, "Di dunia ini yang paling hebat itu pukulan tinju, bukan hal-hal mistis seperti ini yang tidak ada gunanya!"


Setelah berkata demikian, Hilton menganggukkan kepala kepada dua orang pengawalnya. Salah seorang pengawal langsung menembak Hilton.


Orang biasa tentu tidak bisa menghindar dari tembakan dari jarak yang sangat dekat ini. Namun, Hilton tidak terluka meskipun telah ditembak dan tetap berdiri di tempat sambil mengisap rokok.


Hilton bergerak sedikit saat peluru tadi melesat dan berhasil menghindar.


"Kamu tidak akan paham dengan orang seperti kami ini!"


Hilton tampak baik-baik saja karena sudah terbiasa dengan tembakan peluru. Setelah berkata demikian, dia meninju batu besar yang ada di belakangnya.


Krek, krek, krek!


Muncul retakan pada batu besar itu. Bekas tinjuan Hilton bahkan berukuran lebih besar dibandingkan kawah bekas ledakan.


Hilton sengaja menunjukkan kehebatan tinjunya ini untuk memperingatkan Jansen agar jangan pernah mencoba mencelakakan Kenzo.


Raut wajah Jansen tetap tenang dan malah tertawa geli, "Cuma segini? Kamu sedang bermain sirkus?"


Hilton sontak marah karena merasa telah memperingatkan Jansen yang masih acuh tak acuh. Dia merasa Jansen hanyalah orang biasa yang belum tahu kemampuan menghindari peluru yang dimilikinya.


"Apakah itu senjata palsu?"


Kedua pengawal Hilton itu juga marah. Orang-orang biasanya akan berlutut dan tunduk setelah melihat kemampuan Hilton yang seorang ahli seni beladiri ini. Namun, Jansen malah acuh tak acuh.


"Coba saja, nanti kamu juga tahu seperti apa!"


Pengawal itu mengarahkan pistol ke Jansen.


"Coba tembak!"


Jansen melihatnya sekilas dan berkata perlahan.


"Kamu!"


Pengawal itu hanya ingin menakuti Jansen karena dia tidak berani menembak.


"Coba tembak!"


Suara Jansen semakin keras dan wibawanya pun muncul.


Kedua pengawal itu terkejut, tangan mereka bergetar dan mereka benar-benar menembak.


Dor, dor!


Dua tembakan dari jarak yang sangat dekat menerjang ke arah Jansen. Jangankan Jansen, Hilton sendiri pun akan sulit menangkap peluru ini. Apalagi, Hilton tadi hanya menghindar dari tembakan.


Jansen mengangkat tangan dan muncul energi yang berputar-putar di udara.


Setelah itu, Hilton baru sadar dan berteriak, "Siapa suruh kalian tembak, kalian sudah gila!"

__ADS_1


Hilton menatap Jansen dan melihat kepulan asap di tangan Jansen jatuh ke tanah.


Jansen masih berdiri di tempat dan baik-baik saja. Tidak ada peluru di tubuhnya.


Namun, Hilton tidak sempat melihat Jansen menghindar dari peluru.


Apa yang terjadi?'


Tiba-tiba, Hilton melihat ke batu besar di belakangnya dan menemukan dua kawah yang baru muncul. Akan tetapi, yang membuatnya terkejut ternyata di tengah peluru muncul kilau cahaya yang berasal dari dua buah jarum perak yang menembus peluru itu.


Duarr!


Tuan Hilton terkejut hingga tak berkutik.


Orang seperti Hilton yang kaya pengalaman dan percaya diri serta tangguh ini akhirnya ditundukkan juga.


Dia tahu bahwa Jansen menggunakan jarum perak untuk menembus peluru dan mengubah jalur lintasan peluru, menyebabkan peluru kosong dan jatuh di atas batu besar.


Dibutuhkan penglihatan tajam dan tenaga dalam yang kuat untuk bisa melakukan ini.


Hanya seorang seni beladiri kuno yang bisa menangkap peluru.


Namun, orang yang bisa menembus peluru adalah seni beladiri kuno.


Kemampuan Hilton menghindar dari peluru masih tidak ada apa-apanya.


"Kalau aku benar-benar ingin menyerang Kenzo, tentu tuan Hilton juga tidak akan mampu melindungi Kenzo hanya dengan kemampuan seperti ini!"


Setelah berkata demikian, Jansen perlahan berjalan pergi.


Di bawah langit mendung, bayangan Jansen perlahan menghilang dari pandangan mata.


Hilton dan kedua pengawalnya sangat tercengang. Mereka bertiga lantas melihat batu besar itu dan menemukan masih ada kepulan asap peluru. Peluru itu tertancap dalam dan sulit untuk dikeluarkan dari dalam batu.


"Jansen ini memang seorang master sejati!"


Hilton akhirnya percaya dengan kehebatan Jansen. Pada kenyataannya, Hilton memang akan sulit melindungi Kenzo bila Jansen benar-benar menyerangnya.


Di pinggir Jalan Loesen, mobil Kenzo masih belum beranjak pergi. Setelah melihat Jansen datang, Kenzo akhirnya merasa lega.


Kenzo sangat khawatir mendengar suara tembakan tadi.


Kenzo tahu karakter Hilton yang kejam dan protektif. Selama Hilton tidak percaya dengan Jansen, tak peduli apa pun yang dilakukan Jansen itu tidak ada gunanya.


"Saudara Jansen, kamu baik-baik saja?"


Kenzo lanjut bertanya.


Jansen tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja!"


Kenzo pun tidak bersuara dan setelah melirik sekilas, dia melihat Hilton dan kedua pengawal sedang berjalan ke arah mobil di tengah rintik hujan gerimis. Namun, Hilton tidak lagi garang seperti sebelumnya, tetapi malah berubah seperti manusia biasa.


Selain itu, Hilton juga langsung menaiki mobil Kenzo dan pulang menuju Ibu Kota.


"Saudara Jansen, maaf aku sudah lancang tadi!"


Hilton berkata demikian kepada Jansen di dalam mobil.


Jansen tidak bersuara.

__ADS_1


Hilton yang merasa malu lalu menatap Kenzo lalu berkata, "Kenzo, dari mana kamu kenal saudara Jansen ini. Beliau memang Master sejati!"


__ADS_2